Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#39 Mencurigai Caca


__ADS_3

"Daddy!"


Caca bergegas mendekati Langit yang sudah tersungkur di pintu kamar, wanita itu benar-benar khawatir karena melihat darah di kening Langit.


"Kenapa Daddy disini dan kenapa berdarah keningnya?" tanya Caca mengusap darah di kening Langit mengunakan bajunya, membuat pria itu menoleh.


"Pengen belajar berjalan eh malah pintu itu malah halangin aku jalan," kesal Langit berusaha duduk yang dibantu oleh Caca.


"Daddy kalau mau belajar berjalan harus sama aku, jangan sendiri kek gini," kesal Caca bergegas ke kamar untuk mengambil kotak obat sedangkan Langit hanya diam mencoba mengerakkan kakinya yang sudah gak kaku lagi.


ia teringat kedua bocah yang memeluk kakinya sehingga sekarang kakinya sudah mulai bisa ia gerakkan sedikit.


Tak lama, Caca mendekat dan langsung mengobati luka di kening Langit. "Aku mau belajar berjalan lagi, harus temani," pinta Langit sehingga Caca mengangguk yang membuat Langit senang.


Pemuda itu langsung memegangi bahu Caca sehingga Caca langsung membantu Langit buat berdiri, sedangkan pria itu sedikit meringis saat kakinya menginjak lantai.


"Daddy gak papa?" tanya Caca sehingga Langit tersenyum. "Gak papa kok, cuman ngilu saja," jelas Langit jujur yang membuat Caca paham.


Brukh!


Langit langsung memeluk tubuh Caca yang membuat wanita itu hampir saja kehilangan keseimbangan. "Kaki aku sakit," lirih Langit jujur.


"Kalau sakit, Daddy harus istirahat dulu," jelas Caca lalu membantu suaminya itu memasuki kamar dan membaringkannya sehingga Langit menghela nafas kesal, ia benar-benar ingin sekali belajar berjalan. tapi, ia juga tak bisa menahan sakit di kedua kakinya saat ini.


Benar-benar menyebalkan!


"Aku mau buatin Daddy jus, Daddy gak boleh kemana-mana!" peringat Caca langsung bergegas untuk mengambil jeruk-jeruk yang berserakan di lantai.


Disisi lain, Langit begitu kesal karena Marcell belum muncul sejak pamit waktu itu. Ia merasa kesepian karena tak ada teman buat mengobrol seperti biasa.


Pria itu berusaha buat duduk dan menurunkan kedua kakinya, ia ingin belajar berjalan dan tak ingin menyerah begitu saja.


Brukh!


Lagi-lagi ia terjatuh membuatnya kesal sekali, ia kembali berusaha berdiri sambil memegangi sebuah kursi. "Gue harus cari sesuatu untuk menopang tubuh gue," gumam Langit mencari benda yang bakalan ia pakai buat berjalan. tapi, ia tak menemukan apapun yang bisa membantunya.

__ADS_1


Terpaksa ia belajar berjalan tanpa bantuan, Langit menghela nafas lalu berusaha melangkahkan kakinya. Baru saja dua langkah, Langit kembali jatuh yang membuatnya mendengus kesal sekali.


Langit kembali berusaha duduk sambil meluruskan kakinya yang benar-benar pegal sekali.


Tak lama, Langit menoleh pada Caca yang membawakannya sebuah jus jeruk dingin. "Astaga, Daddy! Daddy kalau mau belajar berjalan harus ditemani oleh aku," kesal Caca membuat Langit terkekeh kecil. Caca lalu beranjak duduk sambil memberikan segelas jus jeruk, sehingga Langit meminumnya hingga kandas.


"Jus nya segar sekali,"


"Tentulah, Caca yang bikin."


"Terserah kamu saja," pasrah Langit meletakkan gelas tersebut di sampingnya. "Caca, aku ngantuk dan tanganku juga berdarah," jelasnya dengan nada tak bersalah. "Astaga, infusnya kenapa bisa lepas?" kaget Caca baru menyadari kalau tangan Langit tak dipasang infus.


"Terlepas," jawabnya enteng.


Disisi lain.


Tuan Bambang tak henti-hentinya mencari keberadaan putranya yang hilang entah kemana, ia harus menyelamatkan Langit yang diculik dan istrinya juga tiba-tiba sakit setelah menerima telpon dari anak mereka.


{Caca gak mungkin ke sana sendiri, putri saya terlalu lugu buat kesana dan bukannya kamu melarang putri saya buat mendekati Dikta?}


{Caca berada di rumah sepupunya buat tinggal disana, Caca juga gak memiliki uang yang banyak buat membeli tiket penerbangan, wanita itu juga masih trauma dengan pesawat,}


Tuan Bambang hanya bisa menghela nafas panjang lalu memutuskan panggilan tersebut. entah kenapa, ia merasa kalau dalang dari penculikan ini adalah mantan istri putranya yang terkenal nekat.


Dret!


Tuan Bambang menatap sebuah panggilan video dari seseorang sehingga ia langsung mengangkatnya dan.


Deg!


"Dikta, kau dimana sekarang?" tanya Tuan Bambang saat melihat wajah putranya tersebut.


{Dikta gak bisa bilang, Pa! Dikta menelpon Papa karena Dikta khawatir sama kalian! Dikta disini juga baik-baik saja,}


"Kamu harus bilang kamu dimana sekarang?! apa mantan istrimu yang menculik kamu?"

__ADS_1


Ia menatap putranya yang terdiam lalu menggeleng kecil.


{Bukan, Pa. orang itu memakai topeng dan mereka tak ada yang menyakiti aku,}


"Kamu harus bertahan, kami ingin kamu kembali lagi,"


{Iya, Pa. Dikta bakalan kabur dari sini setelah sehat, Papa tenang saja dan Dikta titip salam buat Mama supaya jangan banyak pikiran,}


Tut!


Panggilan terputus secara sepihak oleh putranya yang membuatnya khawatir sekali, ia berharap putranya gak kenapa-napa disana. "Pa, gimana? Papa sudah menemukan keberadaan Dikta?" tanya Tio mendekat karena tadi pagi pria itu datang bersama Angel yang sedang hamil besar.


"Papa gak menemukan Dikta. tapi, Dikta tadi menelpon Papa dan bilang kalau dia baik-baik saja, dia juga gak bisa bilang dimana keberadaannya," jelas Tuan Bambang yang membuat Tio kebingungan sekali.


"Tio yakin kalau ada yang menginginkan Dikta, sehingga Dikta diculik. Kalau Caca gak mungkin, dia gak tau kalau Papa membawa Dikta kesini. Apalagi Dikta itu punya segalanya dan seorang mafia. sudah pasti ada yang ingin memiliki Langit yang sekarang lumpuh,*


Tuan Bambang terdiam karena ucapan anaknya itu benar sekali, tak mungkin mantan istri putranya mengetahui keberadaan anaknya yang dirawat disini. Apalagi, mereka pergi mendadak dan diam-diam.


***


21:12


Langit mengusap kedua matanya yang perih, sesekali ia menggeliat kecil untuk meregangkan otot tubuhnya yang kaku. Pria itu lalu menoleh pada Caca yang tengah memeluknya saat ini.


Perlahan, ia langsung memeluk Caca gemes dan juga menyembunyikan wajahnya di dada wanita itu yang membuat Caca membuka matanya.


"Daddy ngapain?"


Langit lalu menoleh pada Caca sambil tersenyum. "Aku lapar," jelas Langit sehingga Caca menoleh kearah jam dan kaget melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. "Astaga, aku ketiduran. Daddy sarapan nasi goreng aja ya, aku belum memasak," tutur Caca bangun sehingga pria tersebut menoleh pada Caca yang mengikat rambut.


"Baiklah, jangan lupa sosisnya!"


"Iya-iya," Caca langsung berlari keluar kamar untuk membuatkan nasi goreng, wanita itu benar-benar ketiduran karena lelah akibat aktivitas membersihkan rumah, mengangkat jemuran dan menyetrikanya, ditambah ia juga membantu Langit buat belajar berjalan.


Benar-benar hari yang melelahkan bagi Caca.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2