Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#51 Langit Sakit


__ADS_3

Cklek!


"Tuan kenapa?" panik Randi karena ia mendapat panggilan darurat dari Langit, membuatnya cepat-cepat kesini.


"Ke-Kepala saya sakit sekali," ringis Langit meremas kepalanya yang begitu sakit sekali. Randi lalu membantu Langit buat berbaring di kasur supaya atasannya itu bisa beristirahat, sedangkan Afgan sudah tertidur lelap tanpa merasa terganggu sedikitpun.


Randi juga mengeluarkan ponselnya untuk menelpon kenalannya yang bekerja sebagai Dokter. namun, nomor itu sama sekali tak aktif yang membuat Randi makin khawatir saat melihat Langit yang sudah menangis karena tak tahan dengan sakit yang melanda kepalanya.


Ia langsung menelpon Biru karena adiknya itu lulusan kedokteran, wanita itu bakalan bisa merawat Langit hingga sembuh. apalagi, ia ingat kalau adiknya kerumah Bibi di kota ini sehingga Biru bisa cepat sampai disini.


Tak lama,


Cklek!


"Langit kenapa, Bang?"


"Cepat periksa Tuan, dia kesakitan sekali!" suruh Randi sehingga Biru mendekat dan langsung memeriksa kesehatan Langit. setelah memeriksa, Langit mulai membaik sambil memegangi kepalanya yang masih pusing.


"Kamu jangan banyak pikiran lagi, kalau kamu ada masalah bicara sama aku," tawar Biru membuat Langit menoleh lalu menggeleng lemah.


"Tuan, kau bicara saja sama Biru dan lagian kalian belum cerai. saya keluar dulu supaya Tuan bisa leluasa bicara," jelas Randi lalu pergi.


"Langit, bicaralah! aku akan mendengar dengan baik supaya beban kamu berkurang,"


"Saya begitu sakit hati melihat mantan istri saya mendekati pria lain, walau saya tau dia hanya berpura-pura. tetap saja saya tak bisa menahan rasa sakit hati saya," jelas Langit membuat Biru terdiam.


"Aku tak tau harus ngomong apa, yang terpenting kamu gak usah memikirkan tentang wanita itu dulu. Lebih baik kamu nenangin diri dulu buat kondisi kamu baik-baik saja," jelas Biru membuat Langit menoleh.


"Makasih, Kau wanita baik dan setelah kita sah bercerai, kau mendapatkan suami yang mau menerima kekurangan kamu,"


"Semoga terkabul, sekarang kamu tidurlah biar aku yang jaga,"


"Harusnya kau yang lagi hamil tidur, tidurlah disamping Afgan," suruh Langit berusaha menarik putranya pelan. "Eng-Enggak usah," tolak Biru membuat Langit menoleh. "Kita masih suami istri dan kau tidurlah di samping putra saya!" suruh Langit sehingga Biru pasrah dan menuju sisi ranjang lainnya.


"Besok saya mau ke kantor beberapa minggu ini karena ada kendala, kau bisa menjaga putra saya selama saya bekerja?"


"Bisa kok,"


"Baiklah, setelah semua pekerjaan saya selesai. saya akan menceraikan kamu," jelas Langit jujur sehingga Biru mengangguk pelan. Ia mencintai Langit tapi ia sadar, karena ia sama sekali tak mendapatkan satu persen pun perasaan Langit padanya. melihat Langit bahagia dengan wanita yang dicintai Langit pun, ia juga ikut bahagia.

__ADS_1


Ia berharap, setelah bercerai nantinya ia akan mendapatkan jodoh seperti Langit. yang mau menerimanya apa adanya, orang yang sangat setia dengannya.


*


Pagi harinya, Biru tampak bersenandung sambil memasang pakaian Afgan yang membuat balita itu tertawa senang. sedangkan Langit sudah berangkat bersama Randi sejak subuh tadi.


Saat Biru ingin menyisir rambut tebal Afgan, bocah itu langsung merangkak mengindari Biru. "Jangan bandel ya!" omel Biru bergegas menghadang Afgan membuat Afgan tertawa lalu merangkak menghindari Biru lagi.


Wanita itu langsung mengendong tubuh Afgan yang membuat bocah itu tertawa karena ditangkap oleh Biru.


"Dasar bandel!" omel Biru mencubit gemes pipi balita itu sehingga Afgan langsung menahan tangan Biru untuk tidak mencubit pipinya.


Biru lalu duduk dan menyisir rambut Afgan sehingga Afgan hanya diam sambil menghisap jempolnya tersebut. setelah siap, Biru langsung membawa Afgan keluar untuk membeli sarapan yang membuat Afgan senang sambil mengerakkan kedua tangan mungilnya.


Disisi lain, Langit tampak sibuk menyelesaikan beberapa berkas kantornya dan sesekali ia memijat keningnya yang pusing karena kantornya hampir bangkrut saat ini, terpaksa ia harus bekerja lebih giat supaya tak sampai bangkrut. ini adalah perusahaannya yang pertama, perusahaan yang ia beli dengan uang sendiri tanpa bantuan Mama dan Papanya.


Karena itu ia tak ingin kantor ini bangkrut, karena tak diurus olehnya.


Cklek!


"Permisi, Tuan. ini beberapa berkas yang harus di tanda tangani," tutur Randi sehingga Langit menerimanya dan memeriksa berkas tersebut dengan teliti sebelum ia menandatangani berkas-berkasnya tersebut.


Ia menghela nafas panjang sambil beranjak menuju balkon ruangannya, ia menatap jalanan yang begitu ramai sekali dan ia sontak melihat seorang wanita yang amat ia kenali tengah berjalan bersama seorang pria yang kemarin ia lihat. Ia langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Caca, ia sudah tak bisa menahan rasa sesak ini lagi.


Langit menoleh kearah jalan dan melihat Caca yang menerima panggilannya.


{Ada apa, Dad?}


"Jauhi pria itu sekarang!"


Langit menatap Caca yang sedikit menjauhi pria itu.


{Daddy dimana sekarang?}


"Pokoknya jauhi pria itu!"


{Daddy, Caca dekatinya demi misi dan demi keselamatan Daddy.}


"Caca, saya sakit hati melihat kau bersama pria lain! apa kau gak bisa merasakan sakit di dada saya?. kalau kau tak mau jauhi pria itu... silahkan! Tapi ingat!, jangan pernah temui saya lagi ataupun mendekati putra saya!"

__ADS_1


Langit memutuskan panggilan tersebut dan menghempaskan ponselnya ke lantai, ia menoleh pada wanita itu yang berusaha menelponnya. "Saya benar-benar tak bisa menahan sesak ini," lirih Langit terduduk dilantai, sambil memegangi dadanya yang begitu sesak. Ia seakan kehabisan oksigen yang membuatnya kesulitan buat bernafas.


Ia mengusap air matanya dan beranjak meninggalkan balkon tersebut menuju kursinya. "Saya tak akan main-main dengan perkataan saya, Caca," lirih Langit sambil menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan tugas kantornya supaya ia bisa cepat pulang untuk beristirahat.


***


Siang harinya, Langit memasuki kamar dan melihat putranya yang asik bermain bersama Biru.


Brukh!


"Astaga, Langit!" panik Biru mendekat dan wanita itu sontak kaget saat merasakan panas di kening suaminya itu dan tak hanya itu, ia juga mencium bau alkohol yang sangat kuat. Biru langsung memapah Langit menuju tempat tidur supaya pria itu bisa beristirahat.


"Kau jahat Caca," lirih Langit yang terus meracau yang membuat Biru bingung dengan Langit. 'Langit kenapa? kenapa bilang Caca jahat?' batin Biru kebingungan, ia lalu melonggarkan dasi suaminya itu dan membuka sepatu yang dipakai oleh Langit.


"Daddyh!"


Biru menoleh pada Afgan yang mulai melangkah yang membuat Biru senang, Biru lalu mengambil handuk kecil karena berniat untuk mengompres kening Langit, supaya panasnya cepat turun.


Cklek!


Biru yang baru keluar dari kamar mandi pun menoleh pada abangnya yang mendekat dengan tubuh yang penuh keringat. "Abang kenapa keringatan kek gitu?" tanya Biru bingung.


"Abang sejak tadi cari Langit dan mobil juga dibawa oleh Langit," ungkap Randi sambil mengatur nafas nya karena tadi ia berlarian dari kantor hingga kesini.


Ia bisa saja memesan taksi tapi ia takut kalau atasannya itu nyangkut di salah satu pedagang ataupun taman kota. makanya ia harus berjalan sejauh ini.


"Langit baru datang dalam keadaan mabuk berat, Bang. Badannya juga panas banget sekaligus selalu bicara kalau Caca jahat,".


"Astaga sampai segitunya, selama ini Tuan gak pernah mabuk sejak sebelum nikah dengan Caca," jelas Randi membuat Biru menoleh pada suaminya yang sudah mulai tenang sedangkan Afgan berada disamping Langit yang sudah terlelap.


"Bang, sebaiknya Langit gak usah kerja dulu dan jauhi dia dengan Caca dulu. kalau Langit kerja dan ujung-ujungnya bertemu dengan Caca, Langit bisa kayak gini lagi. lebih baik Langit di jauhin dulu sampai misi Caca selesai," usul Biru sehingga Randi mengangguk setuju dengan usulan adiknya itu.


Dengan menjauhi Langit dengan Caca, kondisi Langit bakalan membaik dan tak akan memikirkan apapun yang membuat kesehatan Langit drop.


"Kamu jagain dia dulu, Abang mau mandi dulu," jelas Randi bergegas pergi dari kamar tersebut.


"Afgan bobo siang dulu ya," bujuk Biru mengendong Afgan sehingga Afgan memeluk Biru sambil menguap kecil, Afgan sudah mengantuk sekali setelah puas makan maupun bermain tadi, Biru mengusap pelan kepala Afgan supaya balita itu tertidur.


Dan benar saja, bocah itu mulai memejamkan mata di gendongan Biru. 'Semoga calon anakku mengemaskan seperti Afgan,' batin Biru tersenyum manis.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2