
Langit membaringkan istri kecilnya yang sudah tertidur pulas di pangkuannya tadi, wanita itu begitu kelelahan bermain dengan bayi kecil. Ia lalu ikut berbaring di sebelah Caca dan memeluk wanita itu erat.
"Kau memang mengemaskan sekali dan aku benar-benar minta maaf sudah melakukan hal yang seharusnya dilakukan saat kamu tamat," lirih Langit mengusap lembut pipi Caca yang membuat wanita itu menggeliat kecil.
Tin!
Langit mengambil ponsel milik Caca yang diletakkan di atas meja tadi, ia melihat nomor asing yang selalu meneror istri kecilnya, membuatnya benar-benar kesal sekali.
Tin!
Ia lalu menoleh pada pesan yang dikirim oleh Bima yang membuatnya penasaran, langsung saja ia membacanya.
Caca, kau Berhati-hatilah! gue denger, fika ingin merebut suami lo dan juga ingin buat lo dipermalukan di sekolah. gue ngk bisa jagain lo buat beberapa hari ini karena gue mau ketempat nyokap gue. ingat pesan gue!
Langit langsung membalas pesan dari sahabat istrinya itu, ia juga senang karena Bima selalu menjaga istrinya dengan baik dan ia juga dengar, kalau Bima menjaga Caca karena menganggap Caca adalah adik kandung Bima.
Ia menoleh pada Caca yang tertidur di pelukannya. "Aku pergi bentar ya, jangan nangis nanti," senyum Langit mencium kening istri kecilnya itu dan beranjak meninggalkan kamar.
"Mau kemana?"
Langit menoleh pada Abigail yang mengendong bayi mungil itu. "Mau ngurus tikus perusuh rumah tangga gue, jagain Caca. dia suka nangis kalau gue tinggalin bentar," jelas Langit lalu pergi sehingga Abigail menggeleng kepala dengan tingkah sepupunya itu.
"Abigail, bisakah kamu buatkan saya minum?" tanya Suga mendekat sambil mengayuh kursi rodanya, pemuda itu benar-benar lemah kalau dipaksa jalan karena beberapa sandinya masih kaku akibat terlalu lama tidur.
"Yaudah, gendong Alno dulu,"
Suga hanya mengangguk dan menerima putra kecilnya yang belum tidur tersebut. "Anak Papa ganteng banget," kekeh Suga mencubit pipi Alno karena gemes sekali.
Bayi kecil itu hanya meresponnya dengan senyuman tipis, membuat Suga senang melihatnya.
"HUWA! DADDY KU MANA?!"
Suga menoleh ke lantai atas dan melihat Caca yang menangis karena tak menemukan Daddy Langit nya. awalnya wanita itu ingin memeluk Langit eh malah peluk guling yang membuatnya benar-benar kesal sekali.
"Daddy kamu pergi, Ca!" balas Abigail sambil membawakan teh manis buat Suga, Suga lalu menerimanya karena haus sekali.
Caca lalu duduk di tangga karena benar-benar kesal karena di tinggal oleh Sugar Daddy nya itu. "Awas aja dia pulang, gak bakalan Caca ijinin tidur bareng Caca," kesal Caca kembali berdiri lalu menuju kamarnya dan tak lupa mengunci pintu kamar nya. yang membuat Abigail geleng kepala dengan tingkah Caca tersebut.
Disisi lain, Langit melajukan mobilnya menuju sebuah halte untuk menemui Bima dan ia melihat Bima yang tengah menunggunya yang membuat Langit menghentikan laju mobilnya di hadapan Bima. "Kau benar-benar ingin ikut membunvhnya?" tanya Langit saat Bima masuk.
__ADS_1
"Iya, Pak. saya juga sakit hati dengan wanita itu! ingin sekali saya menyiksanya," jawab Bima sehingga Langit melajukan mobilnya. ia lalu mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Bima, membuat Bima kebingungan.
"Kirim dia pesan untuk menemui saya di ujung jalan dan jangan bilang kalau kamu ikut,"
"Baik, Pak!"
Bima langsung mengotak-atik ponsel milik gurunya itu untuk mengajak Vika ketemuan dan benar saja, wanita itu langsung membaca pesan darinya.
Vika: beneran ini Pak Langit?
Anda : Iya, bisakah kita ketemu di jalan ***? saya ingin membicarakan hal penting.
Vika: Baik, Pak. saya kesana.
"Gimana?" tanya Langit saat Bima meletakkan ponselnya di depan. "Dia mau, Pak. dan sekarang, dia mau berangkat," jawab Bima sehingga Langit tersenyum miring, karena setelah melenyapkan wanita itu. tak ada lagi yang akan menganggu rumah tangganya.
Bima langsung bersembunyi di bangku belakang saat melihat Vika, Langit menoleh pada Vika uang duduk di sampingnya. "Bapak mau ngomong apa?" tanya Vika penasaran sehingga Langit menoleh sekilas. "Sebaiknya kita cari tempat yang bagus buat bicara," senyum Langit sehingga Vika mengangguk pelan.
Bugh!
Vika ambruk saat Bima memukul kiat bahu Vika, sehingga Langit terkekeh kecil saat mangsanya sudah gak sadarkan diri akibat pukulan Bima tadi.
*
"Byur!"
Vika sontak terbangun dari pingsannya akibat guyuran dari seseorang. "Kenapa gue diikat gini?" bingungnya berusaha membuka ikatan ditubuhnya.
"Udah Bangun, Vika?"
Vika menoleh dan kaget melihat Bima maupun Langit mendekat. "Lepasin aku, kenapa aku diikat gini?" tanya Vika memohon yang membuat Langit tertawa pelan.
"Saya tak akan melepaskan tikus yang akan merusak rumah tangga saya," tawa Langit yang membuat Vika terdiam, ia terus saja berusaha melepaskan ikatan tersebut dari tubuhnya. "Wanita licik seperti lo, gak pantas hidup di dunia ini," sambung Bima sinis, membuat Vika menoleh.
"Bima, gue lagi hamil anak lo ya! jangan apa-apakan gue!"
__ADS_1
Langit sontak menoleh pada Bima yang terlihat santai sedari tadi.
"Vika dengar! gue bukan tipe pria yang nodai cewe dulu sebelum halal. gue juga gak pernah nodai lo! sekedar cium tangan lo saja gue gak pernah!" sinis Bima lalu mengeluarkan ponselnya. "Ini buktinya kalau bukan gue pemilik janin itu!"
Langit menoleh kearah ponsel Bima dan melihat Vika dengan penampilan menjijikkan, ia sontak langsung mengusap wajahnya kasar karena gak ingin lihat begituan. cukup saja ia sudah melihat tubuh istrinya dan ia juga tak berniat melihat aurat wanita lain.
"It-Itu ...,"
"Itu apaan? mau ngelak lagi?" sinis Bima yang membuat Vika terdiam karena semuanya sudah terbongkar.
"Vika, saya sempat melihat pesan yang kau kirimkan pada istri saya dan kau harus tau, akibat mau memasuki kehidupan kami. saya tak segan-segan membunvh orang yang berani memasuki rumah tangga saya dan Caca," peringat Langit yang membuat Vika takut sekali.
"Waktunya di mulai, Avika!"
Langit dan Bima langsung mengambil alat-alat yang membuat Vika ketakutan sambil memohon untuk tidak membunvh nya. tapi, kedua pria itu tak menghiraukan perkataan Vika yang menangis tersebut.
***
Caca tampak uring-uringan karena bosan sekali di kamar, ia menoleh kearah jam karena sudah hampir 1 jam suaminya tak kunjung datang. "Awas saja nanti, aku gak bakalan peluk Daddy saat capek lagi," cemberut Caca kesal sekali.
Tok!
Tok!
"Caca, buka pintunya!"
Caca cepat-cepat membuka pintu dan melihat Langit yang tersenyum padanya. "Daddy hari ini tidur di kamar sebelah! gak boleh tidur bareng Caca!" kesal Caca yang membuat Langit kebingungan.
"Sayang, kenapa kamu usir saya?"
"Karena Daddy ninggalin Caca! sana tidur peluk guling," ketus Caca menutup pintu yang membuat Langit menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Caca, Daddy minta maaf! buka pintu nya!"
"GAK MAU! DADDY TIDUR DI KAMAR SEBELAH!"
'Moga aja nanti malam mati lampu,' batin Langit lalu menuju kamar sebelah.
Bersambung...
__ADS_1