Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#9 Setuju


__ADS_3

"Lo harus menerima perjodohan itu,"


Langit menoleh pada abangnya yang menyetir mobil karena pria itu akan ikut mengajar di tempat ia mengajar. "Aku gak mau, Bang!" tolak Langit menggeleng pelan.


"Langit Dikta Asshaka, kau harus menerima perjodohan itu! kamu mau kalau Mama nekat? mendingan lo ikuti Mama dan Papa buat ke rumah calon istrimu itu," jelas Tio dengan penuh penekanan yang membuat Langit kembali bungkam.


Tin!


Langit mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan dari sang Mama untuk menyuruhnya ke tempat wanita yang akan menjadi calon istrinya itu. "Bang, kita ke tempat Mama," pinta Langit memberikan ponselnya pada Tio sehingga pria itu menoleh pada alamat yang tertera, Tio lalu langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Selama perjalanan, Langit tampak bingung karena arah perjalanan mereka sama dengan arah tempat tinggal kekasihnya.


Langit kembali mengecek alamat yang tertera di ponselnya. 'ini bukannya alamatnya Caca?' batin Langit bingung sekali. Tak lama, keduanya sampai di sebuah rumah yang membuat kaget Langit bertambah.


"Ayo keluar!" ajak Tio sehingga Langit menurut dan mengikuti abangnya buat masuk kedalam rumah.


"Loh? Pak Langit?" kaget Suga yang juga baru sampai, karena disuruh Mamanya buat pulang. sedangkan Langit makin bingung dengan situasi sekarang dan ia mencoba mencari Caca tapi wanita itu tak ada.


"Ini putra saya, Dikta!" jelas Reva menarik tangan Langit untuk duduk di samping nya.


"Bang Langit!"


Langit menoleh pada Caca yang cantik mengunakan dress putih dengan motif mawar.


"Bentar, kalian semua ingin menjodohkan aku dengan Caca?" tanya Langit sehingga semuanya mengangguk, Caca yang mendengar itu benar-benar senang.


"Kami setuju!"


Semuanya melongo saat Caca dan Langit serempak menyebut setuju. "Kalian sudah saling kenal?" tanya Rianti bingung apalagi yang lain.

__ADS_1


Wajah Langit sontak memerah karena reflek mengatakan kata setuju, begitu juga dengan Caca.


"Aku muridnya Bang Langit dan aku ...,"


"Kekasihnya Dikta," potong Langit yang Suga benar-benar kaget sekali.


"Caca yang ditolak beribu kali sekarang dah pacaran sama gurunya sendiri, benar-benar mengejutkan!" kaget Suga heboh, pemuda itu seakan melupakan jati dirinya yang terkenal dingin.


"Kalau begitu, kalian ngobrol saja dan Caca mah jalan-jalan sama Bang Dikta," kekeh Caca menarik tangan Langit. "Panggil saya Langit, bukan Dikta!" kesal Langit yang membuat semuanya tertawa kecil.


Keduanya langsung memasuki mobil milik Langit. "Caca gak nyangka kalau Abang yang akan jadi calon suaminya Caca," kekeh Caca senang sekali. "Saya juga gitu, saya kira kalau yang jadi calon saya adalah Anita, saya gak sudi!" jelas Langit membuat Caca menoleh.


"Anita yang mana? atau, cewe yang peluk Abang itu?"


"Iya, dia itu mantan saya dan saya juga risi di kejar-kejar wanita itu terus,"


"Awas saja Abang kecentol sama dia,"


"Eng-Enggak kok," gagap Caca mengalihkan pandangannya kesamping.


'Ternyata dia mengemaskan juga, syukurlah!' batin Langit lega karena ia begitu bersyukur kalau bukan Anita yang dijodohkan dengannya. ia bakalan tak sudi kalau Anita sebagai istrinya, kalau ia sampai menikah dengan Anita, sudah dipastikan ia akan memilih jarang di rumah daripada satu atap dengan Anita.


"Mau kencan dimana, nih?"


"Kencan?" beo Caca sehingga Langit mengangguk.


"Tentu, terus ngapain kita jalan-jalan mendadak?"


"Iy-Iya juga sih, nanti kalau ketauan sama yang lain, gimana?" tanya Caca penasaran sehingga Langit memikirkan sesuatu lalu tersenyum.

__ADS_1


"Saya ada kacamata sekaligus masker buat kamu,"


"Udah kek detektif aja," gerutu Caca yang membuat Langit tertawa kecil.


***


Keduanya sampai di sebuah restoran buat sarapan. ia benar-benar lapar karena semalam tak sempat makan karena memikirkan cara mengagalkan perjodohan ini. ternyata, ia senang karena bukan Anita yang menjadi jodohnya melainkan Caca. kekasihnya sendiri.


Caca memakai masker sekaligus kacamata nya, mereka lalu memasuki restauran.


"Langit!"


Keduanya menoleh pada Anita yang mendekat dengan tatapan tertuju pada Caca yang berada di sebelah Langit.


"Dia siapa?" tanya Anita lagi membuat Langit menggenggam tangan Caca.


"Calon istri saya!"


Deg!


"Aku gak terima, yang berhak jadi calon istrimu itu adalah aku! bukan wanita m u r a h a n itu!"


Plak!


Langit menoleh pada Caca yang menampar kuat pipi Anita. "Aku bukan m u r a h a n!" bentak Caca mendorong wanita itu hingga jatuh. "Ayo, kita kesana!" ajak Langit menarik Caca meninggalkan Anita yang kesakitan.


"Siapa wanita itu? gue harus menyingkirkan nya," gumam Anita lalu pergi dari sana.


"Kau jangan takut melawannya, dia itu takut sama kecoa," jelas Langit sehingga Caca mengangguk paham. "Caca bakalan kerjain dia, apalagi dia mau ngajar di sekolah,"

__ADS_1


"Ide bagus," kekeh Langit setuju sekali.


Bersambung ...


__ADS_2