
Suga dan Caca sampai di kantin, beberapa siswi tampak kagum melihat kearah Suga yang benar-benar cool sekali. "Kamu mau pesan apaan?" tanya Caca pada Suga yang duduk dihadapannya.
"Terserah kamu saja, yang pasti aku yang bakalan bayar," kesal Suga sehingga Caca tertawa pelan, walau ia lagi patah hati akibat kejadian tadi. ia tak boleh berlarut dalam kesedihan gara-gara cinta. "Baru cantik kalau sudah tertawa, jangan nangis kek tadi," kekeh Suga mengusap air mata Caca.
"Yasudah, Caca nangis lagi biar jelek terus," cemberutnya yang membuat Suga tertawa kecil.
"Kau mengemaskan sekali," kekeh Suga mencubit pipi Caca membuat wanita itu tersenyum.
Disisi lain, seorang pria berpakaian seragam guru itu tampak menghentikan langkahnya, saat melihat kedekatan Caca dengan murid baru yang tak ia kenal sama sekali. 'Kenapa gue gak terima? harusnya gue bersyukur gak di dekati Caca,' batinnya mengepalkan tangannya kuat.
"Langit, kenapa berhenti?"
Ya, dia adalah Langit yang awalnya ingin meminta maaf pada Caca. "Eh, kau juga ke kantin?" kaget Langit sehingga Abigail mengangguk sambil tersenyum.
"Ayo masuk,"
"Ak-Aku kayaknya gak bisa, kau duluan saja karena saya baru ingat kalau tugas siswa kelas 3 belum di periksa," tolak Langit lalu berbalik pergi sehingga Abigail bingung dengan perubahan Langit yang tiba-tiba.
wanita itu lalu langsung mengikuti Langit yang menuju ruangan guru. wanita itu ingin tau kenapa pria itu mendadak murung.
"Kau kenapa, Langit?"
Langit tak menggubrisnya melainkan sibuk membolak-balikkan lembaran demi lembaran buku tugas muridnya. Abigail yang kesal pun menarik kuping Langit sehingga pemuda itu menoleh dengan tatapan dinginnya.
"Kau kalau punya telinga dipasang! kau itu kenapa? masalah hati?"
"Iya, aku gak tau entah kenapa perasaan aku sesak sama siswa aku sendiri. padahal, harusnya aku senang saat dia menjauh dan menyerah," jelas Langit sehingga Abigail cepat-cepat mengambil kursi lalu duduk di depan Langit.
"Mungkin kau mencintai murid kamu sendiri, siapa dia? atau, siswi yang menyapa kamu tadi pagi saat sampai?" selidik Abigail penasaran sekali sehingga Langit terdiam. "Iya," balas Langit jujur.
"Hei, kamu sini!"
Langit menoleh pada Abigail yang memanggil salah satu siswi. "Panggil siswi bernama Caca ke ruangan ini dan bilang kalau ini penting," jelas Abigail membuat siswi itu mengangguk dan bergegas pergi.
"Kenapa kau memanggilnya? kau ingin macam-macam?"
"Tenanglah, santai saja!" kekeh Abigail yang membuat Langit bingung sekali.
Tak lama, keduanya menoleh pada Caca yang datang. "Ada apa panggil saya, Buk?" tanya Caca penasaran, walau ia masih saja tak suka melihat kedua orang yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
"Bentar ya," senyum Abigail menarik tangan Langit dan mendorong pria itu memasuki sebuah kamar tempat biasa Langit istirahat. Abigail lalu mendekati Caca lalu menarik lembut tangan siswi itu untuk masuk keruangan.
Abigail membuka pintu dan langsung mendorong Caca untuk masuk, sehingga Langit yang hendak mengetuk pintu kaget dan memeluk Caca yang hampir jatuh akibat didorong oleh Abigail. Abigail langsung mengunci pintu sambil tersenyum puas sekali.
Didalam kamar, Caca langsung menjauh dari pelukan Langit. keduanya tampak canggung di kunci dalam satu ruangan oleh Abigail.
"Abigail! buka pintunya!" kesal Langit menggedor-gedor pintu kamar tersebut. 'Caca, lo gak boleh tersenyum sedikitpun. kau jangan pedulikan guru itu lagi,' batin Caca lalu menatap sekelilingnya untuk berusaha kabur dari kamar tersebut.
Langit benar-benar kesal karena dikunci oleh wanita itu, sedangkan Abigail tersenyum puas lalu mengunci pintu ruangan khusus Langit. ia juga meminta satpam sekolah untuk tidak membukakan pintu ruangan Langit, ataupun mengeluarkan Langit dari kamar.
"Buk, Caca mana?"
Abigail menoleh pada Suga yang mendekat. "Kau siapanya Caca?" selidik Abigail penasaran sekali. "Pokoknya Caca dimana, Buk?" tanya Suga lagi, ia tak suka di tanyakan seperti ini.
"Caca ada di suatu tempat, Caca aman kok buat sehari ini dan kamu, tolong beritahu Mamanya Caca kalau Caca bersama saya," senyum Abigail lalu pergi dari sana.
"Kalau Caca baik-baik saja, gue gak khawatir banget," lirih Suga lalu pergi dari sana.
Waktu berlalu...
Langit benar-benar kesal karena sudah satu jam ia dikurung oleh Abigail, ditambah perutnya yang sudah lapar sekali.
"Kau ...,"
"Nih sarapan, bye tampan!" tawa Abigail kembali mengunci pintu setelah meletakkan banyak sekali sarapan. "S i a l a n!" umpat Langit kesal, sedangkan Caca hanya diam duduk di tempat tidur karena takut sekali.
Langit menghela nafas panjang lalu mengambil sarapan tersebut. "Makanlah," suruh Langit memberikan sebuah kotak nasi goreng pada Caca.
"Gak mau," ketus Caca tanpa menatap Langit, yang membuat pria itu merasa bersalah sekali.
"Maafkan saya,"
Deg!
Caca kaget saat mendengar pria itu minta maaf padanya.
Apa ia salah dengar?
Apa guru yang terkenal killer itu kerasukan?
__ADS_1
"Kenapa kau diam? kau gak mau memaafkan saya?" tanya Langit lagi.
"Saya gak akan memaafkan bapak," ketus Caca dingin tanpa menatap Langit.
"Saya tau, saya tak akan dimaafkan. yang harus kau tau, saya tak ada niat mengatakan kamu wanita m u r a h a n."
"Saya memang wanita m u r a h a n, buat apaan minta maaf."
"Kau bukan wanita m u r a h a n!" bentak Langit yang membuat Caca kaget. "Ma-Maaf," lirih Langit yang tersadar kalau ia membentak wanita itu.
Caca hanya diam tak membalas perkataan guru itu, ia paling gak suka di bentak oleh orang lain.
"Caca, maafin saya. kau jangan diamkan saya seperti ini," lirih Langit berjongkok di hadapan Caca membuat wanita itu menoleh sekilas lalu mengalihkan pandangannya lagi.
'Rasain, emang enak di diamkan,' batin Caca senang.
"Caca, kau makan ini ya. kalau kau gak mau maafin saya gak papa tapi, kau harus sarapan," jelas Langit meletakkan kotak tersebut di pangkuan Caca, pemuda itu kembali beranjak berdiri untuk memikirkan cara supaya bisa keluar dari ruangan ini.
*
Malam harinya, keduanya terpaksa tidur di ruangan tersebut. karena, Abigail tak membukakan pintu buat mereka.
Caca mendengus kesal karena tak bisa tidur tanpa memeluk guling, ia lalu menoleh ke lantai dan melihat Langit yang tertidur lelap tanpa selimut dan bantal. ia lalu melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Wanita itu beranjak turun dari ranjang hati-hati lalu mendekati Langit yang tertidur. 'Caca tidur bareng Pak Langit, gak papa kan? Caca gak bisa tidur,' batin Caca berbaring lalu ber-bantal di lengan Langit tanpa diketahui oleh pemuda itu, Caca lalu memejamkan mata untuk tidur.
***
Deg!
Langit sontak kaget melihat Caca yang tertidur pulas memeluk tubuhnya, seketika wajah nya memerah karena tak pernah di peluk wanita selama ini kecuali Abigail dan...., Lupakan!
Langit menoleh pada jam yang menunjukkan pukul setengah enam pagi. ia langsung berusaha menghindarkan tangan Caca dari tubuhnya tapi, wanita itu malah makin mempererat pelukannya.
"Ca-Caca, lepaskan saya!" gagap Langit yang benar-benar tak bisa bergerak saat Caca memeluknya seperti guling.
"Ih, jangan berisik!"
Langit benar-benar risi dengan posisi sekarang, ditambah wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus. 'Ini semua gara-gara Abigail, awas saja wanita itu!' batin Langit kesal sekali.
__ADS_1
Bersambung ...