
Langit membaringkan tubuhnya ke kasur, ia berharap nanti malam hujan, mati lampu dan ... bentar! Langit menarik kata-katanya lagi karena tak ingin malam ini hujan.
pemuda itu mengeluarkan ponselnya dan melihat foto Vika yang sudah tak bernyawa karena ulahnya bersama Bima tadi.
Entah kenapa, ia pengen sekali membunvh orang seperti dulu lagi. masa-masa sebelum ia menikah dulu, dimana ia begitu puas membunvh orang tanpa rasa iba sedikitpun. Ia lalu menoleh pada jam yang menunjukkan pukul lima sore.
Perlahan ia menghela nafas panjang dan kembali beranjak duduk sambil melempar ponselnya. Ia benar-benar kesepian karena tak di peluk oleh istri kecilnya. mungkin, ia sudah terbiasa di peluk oleh Caca yang membuatnya kesepian.
Ia harus bersabar supaya Caca datang sendiri tanpa ia bujuk, ia tak boleh jadi pria cemen yang mendatangi Caca duluan. lagian, sebentar lagi bakalan malam yang membuatnya tak sabar menunggu mati lampu.
Ia yakin kalau Istrinya bakalan teriak-teriak karena ketakutan. terlebih-lebih, wanita itu sangat takut dengan hal-hal gelap seperti mati lampu.
Langit sontak tersenyum saat mengingat istrinya yang asik nyanyi di kamar mandi saat cuci wajah, saat itu mati lampu yang membuat Caca berteriak tanpa berniat mencuci wajah terlebih dahulu.
Benar-benar istri yang penakut!
Langit beranjak menuju jendela dan melihat cuaca yang mendadak gelap, membuatnya mengumpat kesal. padahal, ia sudah menarik kata-katanya dan malah hujan bakalan turun deras nanti.
Tatapannya terhenti melihat seseorang yang duduk di atas pohon sambil mengayunkan kedua kakinya, sosok itu tampak bersenandung kecil sambil menyisir rambut mengunakan jari-jarinya.
Sebenarnya ia sudah bosan melihat makhluk-makhluk astral seperti sosok itu ataupun sosok pocong.
Ia juga penasaran selama ia membunvh orang, ia tak pernah melihat arwah yang balas dendam padanya. Tiba-tiba, Langit merasakan ada sebuah tangan menyentuh bahunya.
Pemuda itu perlahan berbalik dan ...,
Gubrak!
Langit sontak terjatuh karena syok dengan kedatangan sosok yang memiliki mata melotot hampir keluar, ditambah wajah pucat dengan senyuman yang menyeramkan.
"Penakut amat sih, lu!"
Langit mengusap wajahnya kasar tanpa berniat beranjak dari posisinya, kakinya masih berada di lengan sofa. "Bisa kagak, kalau muncul itu pakai permisi?!" kesal Langit membuat sosok itu tertawa kecil.
"Siapa suruh melamun lihatin tuh Kunti, naksir ya?"
"Gue jahit juga tuh mulut!" kesal Langit menurunkan kedua kakinya lalu beranjak duduk.
"Galak amat sih lo jadi manusia!"
"Heleh!" sinis Langit menatap ketus pada sahabat hantunya dari sejak kecil tersebut. namanya adalah Marcell. sosok hantu Amerika yang pernah ia temui saat di Amerika dulu, ia sudah meminta sosok itu tak mengikutinya dan tetap saja hantu itu keras kepala.
"Istri lo cantik juga, buat gue ya!'
"Mau gue bikin lo mati yang kedua kalinya, ha?"
"Canda, nyaman juga di kamar ini. gak kayak gudang biasa tempat gue tidur!"
"Jangan mikir buat tinggal disini, nanti gue tendang juga lo lama-lama," ancam Langit membuat Marcell menatap sinis.
__ADS_1
"Emang bisa nendang gue?"
"Bisa, mau coba?"
"Coba!"
Langit mengambil ancang-ancang buat menendang sahabatnya itu.
Bugh!
"Awh!"
Ia tertawa puas karena bisa menendang hantu tengil tersebut hingga bertabrakan dengan lemari.
"Enak?"
"Enak pant/tat Lo! sakit!" ringis Marcell mengusap jidatnya yang membentur lemari. "Tapi, perasaan gue hantu. tapi, kenapa gue bisa di tendang sama merasakan sakit ya?".
"Makanya jangan lawan-lawan gue,"
"Mendingan gue kabur saja deh, daripada benjol-benjol gue," Marcell langsung menghilang karena takut kena tendang oleh Langit lagi.
"Apa lihat-lihat?" tanya Langit pada sosok yang mengintip di jendela, sontak sosok itu menghilang karena sosok itu yakin gak bakalan ada harga dirinya kalau sudah bertemu dengan Langit.
Langit lalu mengusap boko/ng nya yang sakit akibat jatuh dari sofa tadi. semuanya gara-gara Marcell yang muncul dengan wujud menyeramkan.
Ia bukan takut, hanya saja ia kaget.
*
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba yang membuat Langit gak sabar buat menunggu istrinya buat datang menemuinya.
"Mau gue bantu gak?"
Langit menoleh pada Marcell. "Ide bagus tuh! lo hidup-matiin lampu kamar istri gue terus lo jatuhin benda! awas saja lo muncul di hadapannya dengan wajah setan Lo," ancam Langit sehingga Marcell menghilang.
Tak lama.
"DADDY BUKA PINTU NYA WOI!
DUGH!
DUGH!
DUGH!
"DADDY! HELP ME! HUWAAAA!!!"
DUGH!
__ADS_1
DUGH!
Langit tertawa pelan karena rencananya berhasil, ia juga berterima kasih pada sahabat hantunya. Ia menoleh kearah pintu yang di tendang oleh istrinya yang tengah ketakutan sekali.
"DADDY! HELP ME! MY JANTUNG IS DEATH! DADDY BUKA PINTUNYA, ISTRIMU INI KETAKUTAN WOI!"
Langit yang iba lalu membuka pintu dan ...,
Gubrak!
"Sayang, kamu ngapain tiduran di lantai?" tawa Langit yang membuat Caca kesal sekali. "Caca lagi cari udang," ketusnya menjawab asal. Langit lalu membantu istrinya itu berdiri.
"Kamu ngapain teriak-teriak kek gitu, kasihan anak Abang kamu yang masih bayi," jelas Langit merapikan rambut istrinya yang acak-acakan. "Daddy, di kamar Caca lampunya lagi disco terus kaca lemari bunyi-bunyi sendiri. Caca mau tidur bareng Daddy aja," tangis Caca memeluk Langit erat.
"Tadi ngusir saya dan sekarang malah kesini," sinis Langit membuat Caca menoleh.
"Hiks maafin Caca, sini Caca cium!"
Langit sontak membeku saat wanita itu mencium seluruh wajahnya khususnya bibir, ia menoleh pada Caca lalu membalas ciuman itu. Marcell hanya geleng-geleng kepala lalu menghilang daripada ganggu aktivitas pasangan itu.
Langit mengunci pintu tanpa menghentikan ciumannya dan lalu membawa istrinya menuju tempat tidur. Akal sehatnya tak bisa di ajak kerja sama saat ini.
Jeddar!
Kelk!
Bersamaan suara petir yang begitu kuat dan cahaya yang begitu terang, lampu di kamar itu mendadak mati sehingga membuat pasangan itu tak akan canggung melakukan aktivitas halal mereka.
***
Pagi harinya, keduanya lalu keluar kamar dengan Caca yang berada di gendongan Langit.
"Caca, ngapain semalam nendang pintu terus teriak-teriak?"
Langit menurunkan istrinya itu sehingga Caca duduk di samping Papanya. "Semalam lampu kamar Caca mati-hidup, kan seram banget! mana kaca lemari bunyi-bunyi," curhat Caca jujur. Abigail lalu menoleh pada Langit yang menahan tawa sejak tadi.
"Ekhem!"
Langit menoleh pada Abigail yang menatap tajam, membuat Langit tak bisa menahan tawanya. "Daddy kenapa ketawa?" bingung Caca menoleh sehingga Langit menoleh lalu menggeleng pelan. "Gak papa, Sayang." jelas Langit menoleh dengan wajah memerah karena menahan tawanya.
Ia tak henti-hentinya mengingat wajah istrinya yang ketakutan karena semalam. "Ihh! Daddy kenapa ketawa, sih?" kesal Caca cemberut.
"Wa-Wajah kamu lucu semalam hahaha," tawa Langit membuat semuanya menatap bingung pada Langit yang tertawa.
"Menyebalkan!"
Langit langsung memeluk istrinya karena berusaha menahan tawanya. "Jangan lepaskan pelukan kamu, saya cuman butuh pelukan bentar," lirih Langit sehingga Caca mengangguk pelan.
"Makasih yang tadi malam," bisik Langit lalu mencium leher istrinya sekilas. Sontak wajah Caca memerah mendengar perkataan suaminya itu, benar-benar memalukan sekali.
__ADS_1
Help Me!
Bersambung ...,