
"Kau sebenarnya siapa, hah?"
Caca yang baru keluar dari toilet pun menoleh pada Anita yang menghadangnya jalan. Caca sontak mundur saat Anita menodongkan pisau padanya yang membuat Caca benar-benar ketakutan sekali.
"Maaf, Mbak! anda sepertinya salah orang? saya gak kenal Mbak," tutur Caca dengan suara yang di sengaja dibuat berat.
"Benarkah? tunjukkan wajah kamu?!"
Caca membuka masker dan kaca matanya. "Mbak punya masalah apa dengan saya? dan, jauhkan pisau itu dari saya," peringat Caca yang ketakutan sekali. "Kau wanita yang bersama dengan Langit tadi, bukan?" tanya Anita menatap tajam.
"Langit? owh, maksud Mbak. Pak Langit, Mbak ngehayal kah? Pak Langit itu dingin dan pemarah di sekolah, mana mau saya dekati," kekeh Caca berusaha menahan kegugupannya karena takut wanita itu melukainya. "Saya permisi dulu, Mbak. saya pulang dulu takutnya dicariin Mama saya,"
Caca bergegas pergi dari sana yang di intai oleh Anita, Caca hanya pasrah melewati Langit yang tengah kebingungan dan langsung saja pemuda itu memanggil pelayan untuk membayar makanan mereka.
Tin!
Langit mengeluarkan ponselnya dan melihat notip dari Caca yang membuatnya penasaran sekali.
Abang ,Caca tunggu di mobil!
Setelah membayar makanannya, Langit lalu keluar dari restauran itu dan bergegas memasuki mobilnya. "Kenapa langsung ke mobil?" tanya Langit setelah menutup pintu mobil yang membuat Caca menoleh.
"Mantan Abang benar-benar g i l a, Caca takut!"
"Maksudmu?"
"Masa tadi dia todong Caca pakai pisau, untung saja Caca pura-pura gak dekat sama Abang," jelas Caca yang membuat Langit kaget.
"Tapi, kau gak terluka, kan?"
"Disini," jelas Caca menunjuk kearah belakang lehernya sehingga Langit mendekat untuk melihat yang ditunjukkan oleh Caca.
__ADS_1
Cup!
Langit sontak menoleh pada Caca yang berani mencium pipinya. "Abang khawatir banget ya, Caca gak papa kok," senyum Caca yang membuat wajah Langit memerah, ia begitu tak sanggup kalau sudah berhadapan dengan Caca yang agresif seperti ini. walau hanya ciuman di pipi saja, udah membuatnya berhenti bernafas beberapa detik. Apalagi saat mereka sudah sah, sudah tewas di tempat dirinya.
Langit menatap Caca tajam yang membuat wanita itu memucat, ia benar-benar takut kalau sudah ditatap tajam oleh kekasihnya. Tatapan yang membuatnya merinding sekali.
Cup!
Caca membulatkan mata saat Langit mengecup sekilas bibirnya, sedangkan pemuda itu menatap Caca yang sudah tak ada reaksi terhadapnya. ia langsung melakukan aktivitas cium*m nya lagi. 'fristkiss aku!' batin Caca menjerit. 'Argh! kenapa gue mencium dia dulu, mana cium*n pertama gue lagi,' batin Langit lalu menghentikan aktivitas nya.
"Ma-Maaf, saya gak sengaja," gagap Langit menjauhkan dirinya dari tubuh Caca.
"Caca mau pulang!"
Langit menjalankan mobilnya, ia merasa kalau wanita itu marah karena ia begitu lancang sekali.
"Kau marah sama saya?"
Hening.
"Kenapa gue harus cium dia, sih? sekarang, dia marah!" kesal Langit mengacak rambutnya kesal, ia juga tak pandai membujuk wanita. saat bersama mantannya, ia tak peduli wanita itu ngambek padanya. Langit hanya memberikan benda mahal sehingga wanita itu luluh tapi, ia tak tau apa yang bisa membuat Caca luluh padanya lagi.
Langit tak ingin hubungan mereka renggang seperti ini karena kecerobohan nya sendiri.
Disisi lain, Caca berteriak histeris karena malu sekali. Ia tak peduli suaranya parau akibat berteriak. lagian, tak akan yang mendengar teriakannya dari dalam.
"BANG LANGIT ORANGNYA LEMBUT BANGET! CACA MAKIN CINTA BANG LANGIT!" teriaknya kesenangan sambil lompat-lompat di atas tempat tidur, tanpa memperdulikan seprai yang kusut karena ulahnya.
"ARGH! CACA MAKIN SAY...,"
Cklek!
__ADS_1
Suga menatap bingung pada Caca yang melompat di atas kasur. "Lo ngapain lompat kek monyet gitu?" tanya Suga penasaran sekali sehingga wajah Caca kembali memerah karena ketauan oleh abangnya. "Eng-Enggak kok, ad-ada apa ya, Bang?" tanya Caca gugup sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Lo pacaran dengan Pak Langit, kenapa gak bilang sama gue?"
"Karma disuruh privat sama yayang," kekeh Caca yang membuat Suga jijik. "Gak usah imut-imut gitu," ketus Suga lalu pergi dari sana yang membuat Caca bingung dengan tingkah Abangnya itu.
's i a l, kenapa gue sesak saat mengetahui mereka dijodohkan,' batin Suga sambil berjalan menuju kamarnya, ia lalu membaringkan tubuhnya di kasur. 'Apa gue rela melepaskan Caca,' batinnya lagi sambil mengusap kasar wajahnya.
***
Keesokan paginya, Caca bingung karena Suga sudah pergi duluan ke sekolah yang membuatnya penasaran sekali dengan sikap saudara tirinya itu.
Terpaksa, Caca mencari angkot untuk sampai di sekolah supaya bisa menemui Abangnya itu.
Sesampai di sekolah, Caca langsung berlari kearah Suga tanpa menghiraukan tatapan Langit yang turun dari mobil.
"Suga, Caca mau bicara!"
Suga menoleh pada Caca yang menarik tangannya. "Abang kenapa berubah gini? Caca salah apa, kalau Caca salah! Abang ngomong saja," jelas Caca yang membuat Suga menggeleng pelan.
"Gue gak papa, cuman gak enak badan saja,"
"Abang bohong! Caca gak mau bermusuhan sama Abang kek gini, Caca harus menyelesaikan masalah dulu!"
"Abang ..., menyukaimu! Abang awalnya gak anggap kamu sebagai adik, Abang anggap kamu lebih dari adik!"
Deg!
Langit yang hendak mendekati pasangan itu bungkam, ia tak menyangka kalau Suga juga menyukai Caca.
"Abang, Caca udah anggap Abang sebagai Abang kandung aku sendiri. Abang tau kan, kalau Caca mencintai Bang Langit. Caca gak mau karena masalah rasa, Abang sakit hati dan jauhi Caca." isak Caca yang membuat Suga langsung memeluk adik tirinya itu.
__ADS_1
"Maafin Abang, Abang bak...," Suga menghentikan perkataan nya saat melihat sosok yang berjalan menjauhinya. 'Pak Langit?' batin Suga yang menyadari kalau Langit sudah menjauhi mereka.
Bersambung...