Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#2 Tante-Mama


__ADS_3

Caca membaringkan tubuhnya di kasur bermotif hello Kitty tersebut, wanita itu benar-benar kelelahan sehabis sekolah ditambah ia berjalan kaki dari sekolah sampai dirumahnya.


ia lalu mengambil ponselnya untuk melihat balasan dari pria yang ia incar. namun, kontaknya malah di blokir tanpa membalasnya sedikitpun. benar-benar menyedihkan sekali.


Drett!


Caca sontak beranjak duduk saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. langsung saja ia mengangkat panggilan Video tersebut, Caca menatap seorang pria putih bersih tengah menoleh kearah kiri lalu menoleh kearahnya.


"Hai, Cantik! gimana kabarnya?" sapa pemuda itu sambil tersenyum manis, menampilkan lesung pipi yang mengemaskan sekali.


"Aku baik-baik saja kok, kapan pulang?"


"Kau merindukan aku? atau, pengen ditraktir terus?" kekeh pria itu sambil meletakkan ponsel keatas sesuatu sehingga menampilkan kamar yang bernuansa hitam dan putih. pemuda itu terlihat habis mandi karena terlihat jelas dari rambutnya yang sudah basah.


"Dua-duanya, soalnya gak ada teman buat tidur bareng terus gak asik nonton film horor sendirian," jelas Caca sambil memanyunkan bibirnya membuat Suga tertawa kecil.


"Kau ini, kita ini sudah dewasa bukan bocah SMP lagi yang tidur bareng. kalau aku khilaf, gimana? tapi, gak papa juga. kita otw dinikahkan haha," tawa Suga yang membuat wajah Caca memerah, walau ia sedikit polos tapi ia tau sedikit maksud pria itu.


Suga tampak beranjak dari kasur buat mengambil sesuatu yang tak dimengerti oleh Caca.


"Suga!" panggil Caca tapi tak ada balasan dari seberang sana yang membuatnya kesal dengan pria bernama Suhendra Gading tersebut, panggilan Suga adalah panggilan sayangnya buat pria itu dan selain itu, orang-orang akan memanggil Suga dengan sebutan Hendra.


"Ada apa, Sayang? kangen ya? padahal aku mau ambil buku tugasku," kekeh Suga kembali duduk di tepi ranjang sambil meletakkan beberapa buku.


"Aku mau curhat dikit, apa aku jelek ya? sampai ditolak terus sama pria yang aku cintai," lirih Caca membuat Suga menatap kearahnya.


"Caca, kau masih kecil dan gak usah suka-suka sama pria dulu. kau harus tamat sekolah terus kerja barulah menyukai pria," jelas Suga lalu mengerjakan beberapa tugas bahasa Inggris.


"Het staat boven op de kast," (Ada diatas lemari,)


"Siapa itu?" tanya Caca penasaran, membuat Suga menoleh pada Caca.


"Erick, dia nanya bukunya yang aku pinjam," kekeh Suga membuat Caca mengangguk paham.


Tok!


Tok!


"Caca, kamu harus sarapan!"


"Iya, nanti Caca kebawah!" balas Caca saat mendengar suara Rianti.

__ADS_1


"Suara Mama?" tanya Suga penasaran.


"Iya, Tante-Mama suruh aku sarapan dulu,"


Suga tertawa mendengar panggilan yang disebutkan Caca barusan.


"Caca, kalau kamu panggil satu-satu saja. Tante atau Mama," tawa Suga.


"Caca suka panggil Tante-Mama, Caca matiin dulu ya. mau tukar seragam dulu,"


"Baiklah, makan yang banyak biar tambah chubby."


"Siap, Bos!"


Tut!


Caca langsung mencanger ponselnya yang tinggal 20 persen, ia juga gak tega menganggu Suga yang tengah belajar. Walau bukan dia yang menelpon. tetap saja ia kasihan, terlebih di Belanda sudah dini hari.


Tak lama,


Caca menuruni tangga dan melihat Rianti yang tengah menghidangkan sarapan yang dibantu oleh beberapa maid. "Sekarang sarapan lah, Mama bikin makanan kesukaan kamu," senyum Rianti lembut.


Caca mengangguk lalu bergegas menyantap makanannya, yang benar-benar enak sekali. "Tante-Mama pandai memasak, rasanya benar-benar mirip sama Bunda Caca," senyum Caca yang membuat Rianti tersenyum.


#Flashback_On.


"Caca gak mau punya Mama baru, Pa! Caca gak mau!"


Semuanya menoleh pada Caca yang masih berseragam SMP itu tak terima kalau posisi Bunda nya di ganti. "Caca, Papa pengen kamu punya Mama. Papa yakin, kamu pasti suka dengan calon Mama tiri kamu," bujuk Tuan Gevan sehingga Caca menoleh pada wanita muda satu tahun dari papanya itu.


"Caca gak mau pokoknya!" isak Caca berlari ke kamar yang membuat Tuan Gevan frustasi.


"Mas, biarkan dia tenang dulu. mungkin, dia belum bisa melupakan Bunda kandungnya," jelas Rianti jujur, membuat Tuan Gevan mengangguk pelan. "Aku akan ngomong sama dia,".


Tuan Gevan menoleh pada wanita yang akan menjadi calon istrinya itu berjalan menuju kamar anaknya. Ia berharap, Caca mau menerima Rianti sebagai Mama sambungnya.


Tok!


Tok!


"Caca, boleh Tante ngomong sebentar!"

__ADS_1


Cklek!


Rianti menoleh pada Caca yang menangis dengan mata merah. "Tante mau jelasin sesuatu sama kamu," senyum Rianti lalu mengajak Caca untuk duduk di tempat tidur.


"Kenapa kamu gak mau, Tante jadi Mama sambung kamu? jelasin saja, biar Tante bisa menjadi calon Mama yang baik sama kamu," senyum Rianti mengusap air mata Caca pelan.


"Hiks Caca takut kalau Tante orang jahat hiks, kaya Mama tirinya Dini yang jahat. Caca gak mau Tante ngambil papa terus usir Caca dari sini," isak Caca yang membuat Rianti tertawa.


"Dengarin Tante dulu, okey! gak semua Mama sambung itu jahat, contohnya Tante yang baik dan cantik. kamu gak nyesal ketemu Tante yang baik loh," kekeh Rianti sehingga Caca menoleh. "Tante jelek, Bundanya Caca yang cantik," isak Caca menangis.


"Iya, Tante cantik setelah Bunda kamu. Tante pasrah," jelas Rianti membuat Caca menoleh. "Gimana, kalau 1 bulan ini Tante ajak kamu jalan-jalan sekaligus Tante punya anak sehingga dia bisa akrab sama kamu,".


"Apa dia jahat?"


"Dia gak jahat kok, cuman suka diam kayak kulkas seribu pintu,"


Caca yang mendengar itu tertawa pelan. "Emangnya ada ya, kulkas seribu pintu?" tanya Caca penasaran sekali. "Tante gak tau juga, ayo tanya sama Papa kamu," ajak Rianti menarik tangan Caca keluar kamar.


"Papa!"


Tuan Gevan menoleh lalu tersenyum saat putri tunggalnya sudah mulai akrab dengan calon Mama sambungnya. "Papa, kata Tante anaknya kayak kulkas seribu pintu. emangnya ada ya, kulkas seribu pintu?" tanya Caca penasaran sehingga Tuan Gevan menoleh pada Rianti yang tertawa pelan.


"Gak ada kulkas seribu pintu,"


"Terus, yang dibilang Tante?"


"Maksudnya itu, anaknya itu dingin banget dan sulit ngomong. suka diam dan gak suka tertawa ataupun tersenyum," jelas Tuan Gevan mengusap air mata putrinya itu.


"Aneh," gumam Caca sehingga pasangan itu tertawa. "Udah mau nerima Tante itu jadi Mama kedua kamu?" tanya Tuan Gevan penasaran sehingga Caca menoleh pada Rianti yang tersenyum padanya.


"Mau kok,"


#Flashback_Off.


***


"Tante-Mama, Tante-Mama kenapa melamun?"


Rianti sontak menoleh pada Caca yang menyentuh lengannya. "Mama teringat saja waktu kamu nolak Mama buat jadi ibu sambung kamu," jelas Rianti jujur sehingga Caca terdiam memikirkan kejadian saat dia kelas 2 SMP dulu.


"Owh iya, kapan Suga pulang, Ma? Caca pengen minta traktiran ama Suga terus," senyum Caca sehingga Rianti terkekeh kecil. "Hendra bakalan pulang, kamu tunggu saja," senyum Rianti mengusap lembut kepala anak tirinya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2