
Setelah jam istirahat berbunyi, semuanya langsung berhamburan keluar kelas karena perut masing-masing sudah kelaparan. begitu juga dengan Caca yang membereskan buku-buku pelajarannya kedalam tas.
"Caca, siapa pria yang duduk di sampingmu?"
Caca menoleh pada Langit yang berdiri tak jauh darinya, untung saja keadaan kelas benar-benar sepi sehingga tak ada yang tau kalau mereka berdua sudah dekat.
"Suga adalah saudara tiriku, Bang. Abang cemburu ya?"
"Enggak, cuman nanya saja!" jelas Langit membereskan tugas-tugas muridnya. "Saya harap, kau gak terlalu dekat dengannya. apalagi kalian saudara tiri,".
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Langit pergi meninggalkan kelas yang membuat Caca senang. ia tak menyangka kalau hari ini ia bakalan jadi kekasih seorang guru killer tampan yang diidolakan banyak siswa maupun gu ..., Bentar! ia pasti punya banyak saingan seperti guru-guru centil.
Langkahnya terhenti saat melihat Langit yang dipeluk seseorang, membuatnya benar-benar cemburu sekali.
Ia langsung berjalan melewati pasangan itu yang membuat Langit kaget melihat Caca yang melewatinya. "Lepasin gue, Anita! gue gak suka dipeluk sama lo! kita itu gak ada hubungan apa-apa lagi!" kesal Langit melepaskan pelukan wanita itu.
"Kenapa? kita itu dijodohin, Langit! harusnya kamu senang kalau kita kembali direstui!" kesal Anita membuat Langit frustasi.
"Sekarang lo jauhi gue, gue juga gak mau di dekati oleh lo!" kesal Langit lalu bergegas pergi untuk mencari keberadaan Caca yang entah kemana.
"Gue bakalan dapatkan kamu lagi, Langit!" gumam Anita tersenyum miring.
Langit menoleh pada Caca yang duduk di sebuah pohon sambil bermain ponsel. Ia langsung saja mendekati Caca sehingga wanita itu menoleh padanya.
"Yang tadi siapa, Pak Langit?"
Langit mendengus kesal saat Caca memanggilnya dengan sebutan Pak lagi. ia tau kalau wanita itu sudah marah padanya.
"Bukan siapa-siapa lagi, kamu jangan salah paham!" jelas Langit membuat Caca terkekeh kecil.
"Tenanglah, Caca gak bakalan salah paham. cuman Caca gak suka kalau Bang Langit di peluk wanita lain yang boleh peluk Ab...,"
"Caca!"
Caca menoleh pada Vika yang mendekat dengan nafas memburu. "Ada apa?" tanya Caca penasaran sekali dengan melihat wajah panik sahabatnya itu.
"Lihat Mading, Ca! semua heboh lihat foto lo pakai baju gak senonoh!"
Caca yang mendengar itu langsung menuju Mading dan melihat banyak sekali siswa yang menatap foto yabg di tempel di dinding. "Suga, siapa yang pasang foto kek gini?" tanya Caca melihat beberapa foto dirinya menggandeng tangan om-om botak dan juga berada di sebuah hotel.
'Ini pasti ulah Dewi,' batin Suga menahan marahnya, ia langsung mengambil semua foto tersebut dan merobeknya, ia tak terima saudaranya dipermalukan seperti ini. "Kamu disini saja, jangan kemana-mana!" jelas Suga bergegas pergi.
"Dasar simpanan om-om!" ejek salah satu siswi, membuat Caca menoleh.
"Caca bukan wanita simpanan! jangan asal fitnah!" kesal Caca mendorong wanita itu kuat.
__ADS_1
Brukh!
Langit yang mendekat pun langsung menangkap tubuh Caca yang hampir jatuh. "Jangan mendorong teman kamu seperti itu!" bentak Langit membuat beberapa siswi takut dengan guru killer tersebut. "Ada apa ini?".
"Ada yang pasang foto Caca dengan om-om, Pak! Caca gak pernah diizinkan keluar rumah sama Mama tiri Caca, Caca difitnah!" jelas Caca jujur, membuat Langit menoleh pada Caca. "Ada fotonya? biar saya cari itu editan atau asli," jelas Langit sehingga Caca menyodorkan sebuah foto yang sempat ia ambil.
Langit yang melihatnya sontak kaget, bagaimana tidak! foto yang disodorkan Caca adalah foto Caca tidur dengan seorang pria, dengan bahu polos yang terlihat. "Jangan mikir aneh-aneh!" kesal Caca yang melihat Langit menatap foto tersebut.
Pria itu kembali menoleh pada Caca. "Saya akan memberikannya kalau yang aslinya sudah ketemu," jelas Langit lalu pergi.
Disisi lain, Suga mendatangi Dewi yang asik duduk di kelas bersama beberapa siswi lainnya dan seorang guru yang tengah sibuk mengecek daftar hadir beberapa siswa.
"Ini kelakuan lo, bukan? Lo yang pasang foto ini di Mading?!" bentak Suga sehingga Dewi menoleh.
"Bukan aku," elaknya membuat Suga tak bisa menahan sabarnya, ia langsung mencengkram kuat leher Dewi membuat semua kaget.
"Hendra, hentikan!" panik Abigail menahan tangan Suga.
"Saya gak bakalan berhenti kalau wanita ini jujur, Buk! dia membuat fitnah tentang Caca," jelas Suga mendorong kuat Dewi, membuat wanita itu tersungkur.
"Fitnah? Fitnah kenapa?"
"Dia pasang foto ini di mading sekolah, saya gak terima!" jelas Suga memberikan foto yang membuat Abigail kaget. "Mama saya menjaga ketat Caca, gak mungkin Caca bebas keluar malam dan berkelakuan buruk kek gini! Caca itu orang baik,".
"Jawab s i a l a n! mau gue bun*h lo sekarang!" bentak Suga kembali menarik kasar rambut wanita itu, Abigail tak bisa melakukan apa-apa karena ia juga marah saat calon adik iparnya di fitnah seperti ini. moga Caca jadi adik iparnya, pikirnya.
"Buk-Bukan, gu-gue!" lirih Dewi kesakitan sekali.
Bugh!
Suga tak segan-segan membenturkan kepala Dewi ke dinding yang membuat Abigail kaget sekali. "Jawab atau gue b u n u h sekarang?!" bentak Suga yang membuat Dewi ketakutan apalagi kepalanya sudah berdarah akibat dinding kelas yang tak rata tersebut.
"Iy-Iya, aku yang pasang dan bukan aku yang ambil fotonya," ungkapnya jujur.
Suga melepaskan jambakannya sehingga Dewi terduduk memegangi kepalanya yang pusing sekali. "Sekarang kamu ikut sama saya keruangan BK," suruh Abigail sehingga Dewi pasrah mengikuti Abigail, guru BK tersebut.
Di ruang BK,
"Apa yang kau lihat itu, Langit?"
Langit sontak menyembunyikan foto tersebut. "Bukan apa-apa, kenapa kau membawa dia?" tanya Langit penasaran sekali.
"Dia yang pasang foto-foto tersebut,"
"Kenapa kau memasang foto itu, Dewi?" tanya Langit penasaran karena tak suka kalau kekasih privatnya di fitnah seperti itu. Dewi hanya diam karena tak bisa berkata apa-apa kalau sudah berhadapan dengan guru killer seperti Langit.
__ADS_1
***
Tin!
Caca mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah pesan dari Langit yang membuatnya tersebut.
kau pulang sama siapa? Mau pulang bareng?
kalau iya saya tunggu di gang tempat asrama.
Caca langsung membalasnya lalu bergegas mengambil tas nya dan bergegas menuju lokasi yang dibilang oleh Langit tadi.
"Caca, sini!"
Caca menoleh pada Langit yang berdiri di dekat mobil, langsung saja keduanya masuk kedalam mobil. "Tumben, Bang Langit mau antar aku pulang?" tanya Caca penasaran saat Langit melajukan mobilnya itu.
"Pengen saja, sekaligus pengen tau dimana rumah mu,"
"Owh gitu,"
Drett!
Caca membulatkan mata melihat nomor Suga.
"Ada apa?"
{CACA, KAU KEMANA HAH? HARI INI KAU KERUMAH SAKIT!}
Caca gak sengaja mengeraskan volume panggilan sehingga Langit menoleh.
"Na-Nanti aja,"
Caca memutuskan panggilannya. "Ke rumah sakit? ngapain?" selidik Langit penasaran sambil fokus melajukan mobilnya. "Caca disuruh Mama tiri buat periksa tentang kegadisan Caca setiap 1 kali sebulan," ungkap Caca jujur. "Berarti, Mama tiri mu itu sangat menyayangi kamu?" tanya Langit.
"Iya, Tante-Mama orangnya baik banget gak kayak cerita di whatpadd yang kebanyakan Mama tirinya jahat," jelas Caca yang membuat Langit tertawa pelan.
"Panggilan macam apa itu? Tante-Mama haha," tawa Langit.
"Biarin saja, itu panggilan Caca buat Mama tiri!"
Langit hanya pasrah dengan wanita disampingnya, benar-benar wanita mengemaskan sekali.
Bersambung...,
__ADS_1