Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#18 Aneh


__ADS_3

Abigail menatap jalanan untuk mencari angkot ataupun ojek yang bisa membawanya kabur dari sini, ia tak ingin bertemu dengan Suga. karena tak ada waktu, wanita itu berlari meninggalkan lokasi perumahan itu sebelum Suga benar-benar datang. Ia sesekali berdoa supaya pria itu tak menemukannya.


"Buk Abigail?"


Abigail menoleh pada salah satu muridnya yang menatapnya penuh kebingungan. "Buk Abigail kenapa kayak ketakutan gitu?" tanya gadis itu penasaran. "Hiks bantu saya, saya gak mau ditangkap," isak Abigail memohon yang membuat siswi itu kebingungan sekali.


"Yasudah, ayo ke rumah aku aja, Buk!"


Abigail hanya mengangguk daripada ia harus bertemu dengan Suga, pria muda yang berstatus sebagai suaminya itu. Ia berharap kalau tak bertemu dengan pria itu mulai sekarang, kalau bisa selamanya.


"Tangan Ibuk kenapa di perban gini?"


"Cuman terluka saat kabur," bohongnya karena tak mungkin ia bilang kalau tangannya di sayat oleh Suga dengan sadist nya. Tak lama, keduanya sampai di sebuah rumah yang membuat Abigail bingung karena ia merasa pernah kesini, tapi kapan?


Ia berusaha mengingat sesuatu tapi tak ada satupun yang ia ingat. Entah kenapa otaknya sedikit lemot dari biasanya, sehingga Abigail hanya bisa menuruti muridnya itu. nanti, ia bakalan tau juga wkwk...


"Abang, ada Gurunya Tania!"


Deg!


Tania? bentar, Abigail teringat mantan kekasihnya yang mempunyai adik bernama Tania.


"Say-Saya pamit saja ya, gak mau cari masalah," pamit Abigail berlari pergi membuat Tania bingung. Wanita itu terus saja berjalan menulusuri jalan, tanpa menghiraukan kemana ia pergi.


"Gue kemana lagi? sebaiknya gue ke tempat Mama dan Papa untuk menyelamatkan mereka," gumam Abigail langsung mencari angkot.


Disisi lain, Suga menghentikan laju motornya dan menoleh kearah jendela kamar yang ditempati oleh Abigail. ia lalu berjalan hati-hati kesana sambil membawakan martabak, ia tau kalau wanita itu pasti menyukai martabak pemberiannya.


Saat memasuki kamar, pemuda itu bingung karena tak menemukan sang istri baik di ruang ganti maupun kamar mandi. "Berani sekali wanita itu kabur," gerutu Suga menghempaskan kotak martabak tersebut, ia langsung keluar dari kamar yang membuat Langit bingung.


"Kenapa kau berada di kamar sepupu saya?" tanya Langit membuat Suga menoleh.


"Abang tau dimana Buk Abigail? saya tadi disuruh buat temui dia tapi dia gak ada," bohongnya supaya ia tak dicurigai oleh Langit. "Saya gak tau, tadi dia pamit dan pergi tergesa-gesa," ungkap Langit jujur sehingga Suga langsung pergi buat mencari istrinya itu, ia tak akan membiarkan wanita itu pergi dengan calon anaknya.


"Dia pasti menuju rumah keluarganya, gue harus kesana lebih cepat," gumam Suga melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, ia tak ingin wanita itu ngomong apa-apa pada orang tuanya sehingga ia bakalan kesulitan membawa Abigail.

__ADS_1


tak lama, ia pun sampai di sebuah rumah elit. bersamaan dengan itu, ia melihat Abigail turun dari sebuah angkot yang membuatnya tersenyum tipis.


"Enak ya, kabur begitu saja,"


Deg!


Abigail menoleh pada Suga yang mendekat, membuat wanita itu membulatkan mata kaget. "Hen-Hendra," gagap Abigail membuat Suga tersenyum lalu mengusap pipi tirus istrinya itu. "Kemanapun kau pergi, kau bakalan saya dapatkan," senyum Suga yang membuat Abigail ketakutan setengah mati, ia tak bisa apa-apa lagi.


"Ikut gue pulang!" jelas Suga menarik kasar tangan istrinya itu.


"Hiks lepasin saya hiks, saya gak mau pulang!" tangis Abigail memberontak, membuat Suga menoleh pada wanita itu. "Lo mau gue main kasar, ha?" bentak Suga sehingga Abigail menggeleng.


"Kalau lo menurut semua perkataan gue, gue gak bakalan nyakitin lo, naiklah!"


Abigail hanya menurut daripada di sakiti oleh suaminya itu. Wanita itu menaiki motor dan memeluk tubuh Suga sehingga pemuda itu tersenyum tipis, ia lalu melajukan motornya meninggalkan tempat itu menuju apartemennya karena disana tempat aman. istrinya juga tak akan bisa kabur dari pengawasannya.


Sesampai di apartemen, keduanya langsung masuk kedalam. "Kau duduklah, saya mau keluar sebentar," jelas Suga sehingga Abigail mengangguk pelan, Suga langsung pergi dari sana untuk membelikan sesuatu buat istrinya.


"Haus," lirih Abigail menatap kotak susu hamil yang dibelikan oleh suaminya tadi, membuat wanita itu tersenyum lalu mengambilnya. "Buat susu dingin aja deh," senyumnya lalu bergegas menuju dapur untuk membuat susu coklat kesukaannya tersebut.


Tak lama, Suga memasuki apartemen sambil membawa beberapa makanan. pemuda itu lagi-lagi tak menemukan istrinya itu.


Prang!


Ia menoleh ke asal suara dan bergegas mendekat, ia lega karena wanita itu menurut padanya. "Jangan sentuh pecahan kaca!" pinta Suga sehingga Abigail menoleh pada Suga. Pemuda itu langsung mengendong Abigail dan mendudukkan wanita itu di atas meja, langsung saja segera ia membersihkan pecahan gelas tersebut membuat Abigail bingung dengan sikap Suga.


Setelah semuanya selesai, Suga berdiri dan menatap wanitanya itu membuat Abigail menunduk. "Maaf," lirih Abigail membuat Suga mengusap kepala Abigail lembut.


"Jangan seenaknya menyentuh pecahan kaca, kalau kau terluka gimana?"


Deg!


Abigail menoleh pada Suga yang mendadak berbicara lembut padanya. padahal, pemuda itu galak seperti singa yang buas sekali. "Makanlah ini, saya belikan buat kamu,"


Wanita itu menoleh pada beberapa kotak makanan yang ada di atas meja, ia lalu kembali menoleh pada Suga dan menyentuh kening pria itu. "Gak panas, kenapa mendadak aneh gini?" gumam Abigail membuat Suga menoleh. "Kau ingin saya bersikap kasar?" tanya Suga membuat Abigail menggeleng tak mau. "Sekarang makanlah dan setelah itu tidur,"

__ADS_1


Abigail hanya mengangguk daripada ia disakiti oleh Suga lagi.


"Sudah minum susu?"


"Udah," balas Abigail sambil memakan kue yang sangat enak tersebut, ia tak menyangka kalau pria di dekatnya itu sangat mengetahui makanan kesukaannya.


Setelah Abigail siap makan kue itu, Suga langsung mengendong Abigail yang membuat wanita itu benar-benar kaget. ia ingin menolak tapi takut di kasari oleh Suga lagi.


Suga lalu membaringkan Abigail dan menyelimutinya, pemuda itu juga ikut berbaring di sebelah nya dan tak lupa memeluk tubuhnya. "Sekarang tidurlah," bujuk Suga sehingga Abigail berbalik dan dengan hati-hati memeluk pria itu sehingga Suga tersenyum lalu mencium kening sang istri. "Karena usia kandungan kamu masih muda, aku gak bisa meminta hak aku," kekeh Suga sedangkan Abigail tak memperdulikannya karena benar-benar mengantuk sekali.


***


Pagi harinya, Abigail terbangun dari tidurnya dan melihat Suga yang masih tidur memeluknya. wanita itu langsung menin/dih suaminya itu sehingga Suga terganggu. Pemuda itu memeluk tubuh Abigail dan mulai membuka matanya.


"Ada apa lagi? ini masih pagi," kesal Suga sambil mengusap matanya membuat Abigail menoleh pada Suga.


"Belikan rujak mangga muda sama bengkuang,"


"Nanti saja ya, aku masih ngantuk sekali,"


"Pokoknya belikan sekarang!" kesal Abigail menarik rambut Suga membuat pemuda itu meringis kesakitan sekali. wanita itu mendadak berani pada Suga karena efek kehamilannya saja.


"Jangan tarik rambutku! sakit!" ringis Suga membuat Abigail menghentikan jambakannya.


"Belikan sekarang!"


"Baiklah-baiklah," pasrah Suga sambil beranjak dari kasur setelah Abigail turun dari tubuhnya. Pemuda itu bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. "Jangan berani-berani kabur!".


"Kalau gak khilaf,"


"Abigail!"


"Berjanda kok, sana pergi dan awas gak ketemu rujaknya! aku bakalan kabur lagi,"


"Iya-iya," kesal Suga beranjak pergi dengan nyawa belum sepenuhnya terkumpul karena masih mengantuk sekali.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2