Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#49 Caca Kembali


__ADS_3

"Dari mana saja kau?"


Biru yang baru datang pun menoleh pada Langit yang menatap tajam kearahnya. "Ak-Aku di pukul seseorang dan saat sadar, aku sudah ada di jalanan," jelas Biru yang membuat Langit terkekeh kecil.


"Lo kira gue percaya? nih lihat!" bentak Langit memperlihatkan sebuah foto yang dikirim oleh seseorang padanya, entah siapa yang mengirimnya.


"I-ini gak ben-"


Plak!


Langit menampar kuat Biru sehingga wanita itu kesakitan sekali, sedangkan Nyonya Reva merekam video tersebut supaya Caca melihatnya.


"Kau membiarkan putra gue bebas seperti tadi! kalau dia tertabrak gimana, hah?! kau malah asik berduaan dengan pria itu, kau lupa kalau disurat perjanjian tak memperbolehkan memiliki pasangan, walau ini cuman pernikahan kontrak!" bentak Langit menarik rambut Biru dengan kasar.


"Hiks aku minta maaf hiks, aku gak ada hubungan apa-apa dengan pria itu hiks," isak Biru kesakitan sekali.


"Gue gak bakalan memaafkan lo yang gak becus jagain anak gue!" bentak Langit mendorong Biru lalu pergi dari sana, Biru memegangi perutnya yang hampir saja mengenai meja.


Biru meremas perutnya yang mendadak sakit, ia takut anaknya kenapa-napa dan ia harus melakukan tujuannya lalu pergi dari kandang singa ini.


"Mamma!"


Biru menoleh pada Afgan yang merangkak kearahnya, membuat Biru menoleh pada anak kecil itu yang mendekat. Tatapannya teralih pada seseorang wanita berpakaian serba hitam mengendong Afgan, membuat Afgan menatap bingung.


"Ini belum seberapa," sinis wanita itu membawa Afgan menuju kamar mertuanya.


"Mamma?" lirih Afgan menyentuh wajah Caca saat wanita itu membuka maskernya. "Anak Mama udah tampan saja," kekeh Caca memeluk tubuh anaknya itu, membuat Afgan tertawa memeluk Mamanya tersebut. "Caca, kenapa kau kesini? nanti Langit menemukan kamu!" jelas Nyonya Reva membuat Caca menoleh.


"Hari ini adalah ulang tahun Daddy, Caca pengen peluk Daddy dan jelasin semuanya. Caca udah gak sanggup menahan sakit saat mendengar Daddy selalu menangis," jelas Caca jujur sehingga Mama mengangguk pelan.


"Sana temui Dikta, dia pasti bahagia sama kamu dan jelaskan baik-baik padanya,"


"Baik, Ma. titip Afgan ya,"


"Baiklah, kasih Mama cucu lagi ya! Harus perempuan!"


"Afgan masih kecil," tawa Caca bergegas pergi dan tidak melihat wanita yang merupakan wanita yang berani-beraninya memiliki pria dicintai oleh Caca. Caca mendekati pintu kamar Langit di lantai atas, ia membukanya pelan dan masuk, Caca tersenyum melihat orang yang ia cintai sedang asik menatap keluar melihat suasana sore hari.


Drep!


Langit tersentak kaget saat seseorang memeluknya dan tak lupa menutup matanya. "Siapa kau? lepaskan saya!" bentak Langit memberontak tapi Caca sengaja membuat Langit tak bisa memberontak lagi. Ia langsung mencium pipi Langit membuat Langit langsung mendorong orang itu hingga Caca jatuh.


"Kau siapa? dan kenapa menciumku?!" bentak Langit tajam sehingga Caca perlahan mengangkat wajahnya membuat Langit bungkam beberapa saat


"Hai, Daddy! Daddy makin tampan aja saat marah," senyum Caca sedangkan Langit mengusap kedua matanya untuk memastikan ia tak salah lihat, sedangkan Caca bergegas bersembunyi membuat Langit tak melihat Caca lagi.


"Ck, gue halu kek nya. mana ada orang yang meninggal hidup kembali," kesal Langit sedangkan Caca yang bersembunyi di balik gorden hanya menahan tawanya. Caca langsung mendekati Langit dan mencubit pipi Langit sehingga pria itu kembali menoleh. "Kalau kau cuman halusinasi aku, mendingan kau menghilang!" kesal Langit.

__ADS_1


Plak!


Langit sontak memegangi pipinya yang ditampar oleh Caca, membuat ia menoleh pada Caca yang tersenyum padanya. "Itu tamparan buat kamu yang gak berhalusinasi, sekaligus karena berani menikah lagi," senyum Caca membuat Langit mengulurkan tangannya buat menyentuh pipi Caca.


"Ca-Caca," lirih Langit yang masih kebingungan saat ini, ia masih belum yakin dengan apa yang ia lihat saat ini.


Cup!


Langit bungkam saat wanita itu menciumnya dengan lembut, tiba-tiba air matanya mengalir yang membuat Caca melepaskan ciumannya dan menatap Langit. "Caca masih hidup kok, Daddy. maafin Caca yang buat Daddy menangis, Caca lakuin ini karena ingin menyelamatkan nyawa Daddy maupun anak kita," jelas Caca sambil mengusap air mata prianya itu.


Brukh!


Pria itu terduduk, perasaanya saat ini bercampur aduk antara senang, sedih, marah dan perasaan lainnya. Caca berjongkok dihadapan Langit yang bersandar di dinding balkon.


"Daddy, selamat ulang tahun ya!"


Langit mengatur nafas dan debaran di dadanya, ia tak bisa berkata-kata lagi saat ini. Caca tersenyum lalu memeluk Langit erat, membuat Langit ragu buat membalas pelukan wanita yang ia rindukan tersebut.


"Caca merindukan Daddy keras kepala miliknya Caca seorang," jelas Caca mengusap pipi Langit yang masih terdiam dengan pikiran yang kacau.


Tiba-tiba, Caca merasakan beban yang berat.


"Astaga," kaget Caca saat menyadari Langit yang sudah pingsan di pelukannya.


*


Perlahan Langit membuka matanya sehingga Caca menoleh. "Ututu, udah sadar ya," tawa Caca mencium bibir Langit sekilas, membuat Langit menoleh pada Caca yang berada diatas tubuhnya.


"Caca hiks, kau wanita bodoh dan jahat!" tangis Langit membuat Caca tertawa pelan.


"Tapi, Daddy cinta kan?"


"Hiks iya," isak Langit memeluk Caca erat dan tak ingin melepaskan wanita itu. "Kau jangan bohongin aku lagi hiks, kau gak boleh kemana-mana sekarang,".


"Daddy, besok Caca harus menemui pria yang mengintai Daddy. Caca juga harus drama jadi kekasihnya," jelas Caca lembut sedangkan Langit menyentuh wajah Caca yang sedikit rusak.


"Wajah kamu kenapa?"


"Kena siram minuman keras karena ketauan sama istri pria itu dan ini bakalan sembuh kok,"


"Hiks jangan bertindak jauh hiks, aku gak ingin kamu kenapa-napa!"


"Caca gak papa kok Dad, bukan Caca saja yang melakukan misi ini tapi ada Bang Suga, Bang Tio dan Kak Angel," jelas Caca lembut.


"Hiks jadi semuanya sudah tau kalau kamu gak meninggal?"


"Iya,"

__ADS_1


"Semuanya br3ngs3k!" umpat Langit kesal sehingga Caca langsung menutup mulut Langit, sehingga pria itu menoleh. "Gak boleh ngomong seperti itu, mau Caca tinggalin lagi?" ancam Caca sehingga Langit menggeleng tak mau, sehingga Caca tersenyum dan mencium pipi Langit.


"I love you,"


Langit tersenyum manis menatap Caca. "I love you too," balas Langit dan langsung menyambar bibir Caca. keduanya tampak melepaskan rindu masing-masing tanpa diganggu oleh orang lain, hanya suasana sunyi dan hanya dihiasi suara pasangan tersebut.


***


Keesokan Paginya, Langit tampak bahagia sambil berjalan santai menuju ruang makan. sedangkan Caca, wanita itu sudah pergi setelah melewati malam bersamanya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri, lancar hadiahnya?" goda Nyonya Reva membuat wajah Langit memerah menahan malu. "Argh, Mama!" kesal Langit membuat Nyonya Reva tertawa pelan.


"Owh iya, buat kamu Biru. gue bakalan ceraikan lo hari ini dan gue bakalan bayar semuanya," jelas Langit dengan entengnya, membuat Biru menoleh.


"Ta-Tapi, aku mencintai kamu," jelas Biru membuat Langit menoleh lalu terkekeh pelan.


"Saya sudah bilang kalau pernikahan ini tak boleh membawa perasaan, kau hanya merawat putra saya saya dan gak ada menaruh perasaan sama saya," jelas Langit penuh penekanan yang membuat Biru terdiam.


"Tuan, semuanya sudah selesai!"


"Makasih, Bi,"


Maid itu mengangguk lalu pergi dari sana. "Semua barang-barang kamu sudah disiapkan oleh Bibi dan soal uang, saya sudah meletakkan uang sebanyak 1 miliar didalam koper. setelah kau sarapan, pergilah dari sini dan gunakan uang itu untuk kandungan lo,".


Deg!


Biru yang mendengar itu sontak kaget. "Gue tau niat lo, Aldara. gue sudah berbaik hati menyuruh lo pergi dan gue masih punya hati untuk tidak membunuh lo hari ini. Soal tunangan lo, itu adalah perbuatan kekasih lo yang mengambil mobil gue," jelas Langit jujur, karena sempat mendengar penjelasan Marcell tadi subuh.


"Maafin aku, Ta-Tapi bolehkah aku bertemu dengan Afgan? aku sangat menyukai Afgan,"


"Kau boleh menemui Afgan kapanpun, setelah ini kau pergilah!"


"Baiklah," balas Biru tersenyum, ia benar-benar merasa bersalah terhadap Langit karena kesalahpahaman ini. Ia juga akan melaporkan kekasihnya itu ke kantor polisi setelah pergi dari sini.


Disisi lain, Caca tak henti-hentinya tersenyum mengingat wajah Langit yang begitu tampan sekali. ditambah suara seraknya yang menyebut namanya, membuat jantungnya tak baik-baik saja.


"Udah minum obat?"


Caca menoleh pada Suga yang mendekatinya. "Obat Caca udah habis, makanya Caca tersenyum terus," ketus Caca dingin membuat Suga memutar mata malas.


"Kau lakuin nya?"


"Owh tentu saja iya, ada yang salah?"


"Kau itu belum nikah dengannya dan kalau kau berisi, gimana? Nih, minum obat biar ponakan gue gak jadi Abang mendadak," ketus Suga, walau terkenal dingin. dia tetap menjaga adik tirinya tersebut dengan baik.


"Kalau soal menikah, kami bakalan tetap menikah dan udah direstui oleh Mamanya Daddy," senang Caca setelah minum obat pencegah hamil tersebut. 'Bukan adek gue yang kek ulat cabe gini,' batin Suga melihat Caca berguling-guling kesenangan di tempat tidur. Ia lebih memilih keluar dari kamar sebelum tertular gila adiknya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2