
***
Gini ya, awal saya bikin cerita ini memang bikin pemeran utamanya 3 orang, dibuku juga pemerannya tetap 3 orang. kalau gak suka skip aja, gak maksa.
-
Setelah sarapan, Langit menoleh pada Caca yang menarik tangan Biru sambil menuruni tangga. "Kalian mau kemana, rapi banget?" tanya Langit bingung.
"Caca mau antar Kak Biru buat kemoterapi, biar Kak Biru cepat sembuh! Caca pamit!"
Langit hanya tersenyum dengan Caca yang mau menerima Biru, ia juga mulai mencintai Biru dengan tulus dan sekarang, ia mencintai kedua wanita itu dan sama sekali ia tak membeda-bedakan kedua orang itu. Langit sama sekali tak ingin membeda-bedakan kedua istrinya itu.
Dan soal kandungan Biru, ia dan Caca sudah sepakat menganggap janin yang dikandung Biru adalah anak kandungnya. mereka tak ingin membedakan anak saat anak Biru lahir nantinya.
"Daddy!"
Langit menoleh pada putranya yang mendekat sambil berjalan tertatih-tatih, bocah itu sudah mulai bisa berjalan yang membuat Langit senang sekali. "Ayo kesini!" ajak Langit yang membuat bocah itu tertawa kesenangan sekali.
Hap!
Afgan tertawa saat Langit mengendongnya dan mengangkat tubuhnya tinggi, Langit tak lupa mencium pipi putranya tersebut lembut. "Anak Daddy udah chubby aja pipinya, kebanyakan makan sih," tawa Langit membuat Afgan menatap bingung dengan perkataan Daddynya itu, ia hanya memilih memainkan pipi Langit.
Disisi lain,
"Caca, aku baik-baik saja dan kita gak usah kemo," pinta Buru sehingga Caca menoleh.
"Kak, tadi Kakak muntah darah! lebih baik kakak di periksa supaya Kakak cepat sembuh. Kakak pasti ingin melihat anak kakak nantinya tumbuh, bukan?" tanya Caca yang membuat Biru terdiam lalu mengangguk pelan. "Kalau Kakak sembuh, kita kerjain Daddy siang dan malam,".
"Caca, harusnya kamu dendam sama aku karena juga istri Langit,"
Caca menoleh. "Caca awalnya memang dendam dan benci sama Kakak. tapi, Daddy udah jelasin semuanya karena itu Caca menerima Kakak. Caca seakan punya Kakak kandung," senyum Caca memeluk Biru sehingga Biru terkekeh kecil.
'Kau benar-benar wanita baik, Caca. aku akan menganggap kamu sebagai adik kandungku dan aku akan melindungi kamu,' batin Biru tersenyum tipis.
Tak lama, keduanya sampai di rumah sakit sehingga Caca membawa Biru menemui salah satu Dokter yang ahli dalam bidang kemoterapi untuk menyembuhkan Biru. Caca ingin Biru cepat sembuh supaya mereka bisa melihat pertumbuhan anak masing-masing.
__ADS_1
Saat Biru diperiksa oleh Dokter, Caca hanya memilih diam diluar sambil memainkan ponselnya untuk mengusir rasa bosannya tersebut. Disaat asik bermain ponsel, ia melirik Dokter yang pernah menemui Langit dulu.
"Dokter tunggu!"
Dokter itu menoleh. "Ada apa, Nona?" tanya Dokter itu sehingga Caca langsung menarik tangan Dokter itu ketempat sepi supaya tak ditemukan oleh Biru. "Dokter, Dokter ingatkan pasien yang tertembak bernama Biru?" tanya Caca sehingga Dokter itu memikirkan sesuatu.
"Iya, kenapa?"
"Apa dia benar-benar kanker? yang bisa berujung nyawa?"
"Iya, pasien bernama Biru itu mengalami kanker otak dan saya punya hasil pemeriksaanya," tutur Dokter itu mencari sesuatu di sebuah buku yang berisi tumpukan kertas, ia lalu memberikannya kepada Caca. Caca menerimanya dan langsung melihat hasil itu.
"Kenapa Nona menanyakan ini?"
"Aku takut dia berbohong supaya suamiku tidak menceraikannya,"
"Owh, suami Biru waktu itu. saya pernah lihat pria itu menangis di rooftop dan selalu mengucapkan kata maaf. Waktu saya tawarkan diri buat mendengar keluh kesahnya, dia bilang kalau ia berada diambang kesulitan. Dia ingin bersama anda karena sudah melakukan hal berbahaya untuk menyelamatkan dirinya. dilain sisi, ia juga harus menolong Biru yang juga menyelamatkan dirinya..,"
"Dia terus memikirkan cara supaya anda mengerti posisinya sekarang, walau dia bersikap dingin pada anda, dalam hatinya dia benar-benar rapuh dan dia juga pernah hampir bunuh diri karena keberadaannya membuat kalian mempertaruhkan nyawa. Sebelum Biru dirawat karena tembakan, wanita itu juga pernah dirawat ditemani Langit, saat itu langit juga dalam keadaan demam juga," jelas Dokter itu jujur.
"Berarti, Biru benar-benar sakit?"
Caca mengangguk pelan sehingga Dokter itu pergi meninggalkannya. "Aku harus buat Kak Biru bahagia, kalau Kak Biru gak selamatin Daddy. Daddy sudah tak ada sekarang," gumam Caca tersenyum lalu menuju ruangan tunggu supaya Biru tak bingung mencari keberadaannya.
15 menit kemudian...
"Ayo kita pergi, Caca!"
Caca menoleh pada Biru yang sudah berada di hadapannya. "Gimana, Kak?" tanya Caca sehingga Biru tersenyum. "Kata Dokternya kalau aku sering kemoterapi, aku bakalan sembuh kok," jelas Biru yang membuat Caca senang.
"Caca bakalan bawa Kakak tiap hari buat kemoterapi dan gak ada penolakan setelah ini," jelas Caca lalu menggandeng tangan Biru buat pergi dari sana, keduanya begitu akrab seperti saudara kembar.
Padahal, keduanya bukan saudara kandung melainkan sama-sama berstatus istri Langit. "Kayaknya kita ke mall dulu deh, aku pengen banget beli baju couple sama Kakak, ayo!" ajak Biru menarik tangan Biru menuju mall yang tak jauh dari rumah sakit tersebut.
***
__ADS_1
5 tahun berlalu...
"DADDY!" teriak Samuel berlari kearah Langit yang asik bermain ponsel, ia menoleh pada bocah yang hampir 4 tahun itu berlari kearahnya sedangkan Afgan berjalan santai sambil memakan cemilannya. Langit langsung mengendong Samuel, anak dari Biru.
"Gendong juga," pinta Afgan sehingga Langit juga mengendong Afgan, membuat kedua anak itu tersenyum senang.
Langit menoleh kearah dua wanita hamil yang mendekat. "Gimana? kalian sudah puas belanjanya?" tanya Langit lalu menurunkan kedua bocah itu. "Puas banget kan, Kak!" senyum Caca sehingga Biru mengangguk.
Karena paksaan dari Caca, kini Biru sudah sembuh dari penyakit ganas nya dan walau udah sembuh pun, Langit selalu menyuruh Biru buat pemeriksaan setiap hari Rabu supaya baik-baik saja.
"Berapa total belanja kalian?"
"Caca 50 juta sedangkan Kak Biru 30 juga, uang mu milik kami," balas Caca dengan entengnya yang membuat Langit melongo dengan penuturan istrinya itu.
"Astaga, kalian harus hemat buat biaya persalinan kalian masing-masing," ringis Langit karena kemarin kedua istrinya sudah menghabiskan uangnya sebanyak 100 juta, benar-benar bumil meresahkan.
"Daddy, usia kandungan kami sama-sama masih 4 bulan dan masih lama," jelas Caca menarik tangan Biru menuju ruang tamu.
Langit hanya bisa mengusap dada dengan tingkah mereka. 'Gini amat punya istri dua, mana hamil keduanya. gak papa deh, yang penting berhasil bikin hamil istri,' batin Langit lalu mengikuti kedua istrinya yang asik membuka paperbag.
Langit hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedua wanita itu mengeluarkan beberapa perhiasan yang cukup manis buat mereka.
"Daddy lihat! kalung kami sama bukan?" senyum Caca sehingga Langit hanya mengangguk.
Kedua istrinya itu seperti anak kembar, semua belanjaan mereka selalu sama sekaligus barang-barang pribadi.
Langit lalu menoleh pada kedua putranya yang tampak akur memakan snack yang ada ditangan Afgan. anak sama emaknya sama-sama akur sekali, membuat Langit senang.
"Daddy, kalau kami lahiran kamu mau anak cewe apa cowo?" tanya Biru sehingga Langit menoleh sambil tersenyum. "Aku hanya ingin kalian lahiran dengan selamat dan kalian sekaligus calon anakku sehat," senyum Langit.
"Cayang Daddy banyak-banyak!" senang Caca sehingga keduanya langsung memeluk Langit, membuat pria itu kehilangan keseimbangan saat di peluk oleh kedua istrinya itu sedangkan Samuel sama Afgan hanya menatap bingung pada orang tuanya itu.
"Lepaskan pelukan kalian dulu, aku keberatan!" panik Langit kesal.
Keduanya langsung menghindar sehingga Langit menatap kesal pada kedua wanita itu, wanita itu hanya nyengir santai saja yang membuat Langit mendengus kesal karena ulah keduanya itu.
__ADS_1
Walau ia kesal kepada istri-istrinya itu, tetap saja ia mencintai keduanya. Ia tak menyangka kalau ia ditakdirkan memiliki dua istri yang baik dan penurut seperti mereka. Langit berharap, keluarganya akan seperti ini hingga anak mereka tumbuh dewasa.
TAMAT!!!!