Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#47 Caca Masih Hidup


__ADS_3

"Daddy, kemarilah!"


Deg!


Langit perlahan bangun lalu bergegas keluar dari kamar itu mencari asal suara, ia menghentikan langkahnya saat melihat sosok wanita nya berada di bawah tangga sambil menatap kearahnya.


"Daddy, jatuhlah dan ikuti aku!"


"Caca hiks itu kamu," isak Langit menangis sedangkan sosok itu menyuruhnya buat jatuh.


"LANGIT HENTIKAN!" teriak Marcell menarik tangan Langit kasar, membuat Langit terjatuh ke belakang. "Lo jangan bodoh gini! itu hanyalah sosok jin peniru! dia bukan Caca, Caca sudah tenang!" bentak Marcell yang membuat Langit memberontak.


"Langit, kau kenapa?"


Marcell menoleh pada wanita yang mendekati mereka. Biru menoleh kebawah tangga dan melihat sosok berbadan besar tengah berdiri disana. "Kau bisa melihat gue?" selidik Marcell pelan sehingga Biru menoleh lalu mengangguk. "Tolong jaga Langit, jangan sampai dia nekat bunuh diri," peringat Marcell lalu menghilang bersamaan dengan sosok hitam tersebut.


"Langit, kau harus ingat Afgan!"


"Lepasin gue dan jangan berani menyentuh gue!" bentak Langit mendorong Biru.


"Tapi, kau jangan mudah terpengaruh seperti itu. kamu jangan kosongkan pikiran sehingga sosok jahat bisa mengelabui kamu!"


Langit yang mendengarnya hanya diam tak bersuara, pria itu malah memilih meninggalkan Biru sendiri. Biru lalu berjalan menuju kamar tadi dan melihat Langit yang sudah tertidur memeluk Afgan.


Biru terpaksa tidur di sofa karena Afgan sudah tidur sehingga ia tak harus tidur bersama kedua orang itu.


Keesokan Paginya, Biru membuka pintu utama dan melihat seorang pria yang datang sambil menatap tajam kearah nya. "Kau siapa?" tanya Suga membuat Biru terdiam.


"Ak-Aku..,"


"Ada apa datang kemari?"


Semuanya menoleh pada Langit yang mendekat dan memberikan Afgan pada Biru. "Siapa dia?" selidik Suga menunjuk kearah Biru, membuat Langit menghela nafas pendek. "Istri kontrak saya untuk mengurus Afgan," jawab Langit jujur yang membuat Suga kaget dan menoleh kearah Biru yang menunduk.


Suga memberikan paper bag dan pergi begitu saja yang membuat Langit bingung sekali. Suga memasuki mobil sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang.


"Dia punya istri lagi dan pernikahan mereka kontrak!"


{Jangan bercanda, siapa wanita itu? pantau wanita itu dan kalau perlu teror hingga mereka pisah!}


"Baiklah, kau tenang saja. aku akan mengirim sesuatu,"

__ADS_1


Tut!


Suga lalu mengetik sesuatu lalu mengirim sesuatu pada seseorang disebrang sana. Setelah itu, Suga melajukan mobilnya meninggalkan masion tersebut.


Disisi lain, Biru tampak asik bermain sama Afgan yang berusaha berjalan dengan hati-hati sedangkan Langit hanya diam sambil memantau putranya itu dari lantai atas.


Tin!


Wanita itu mengeluarkan ponsel dan melihat pesan yang sama sekali tak ia kenal, langsung saja ia melihatnya. Biru yang membaca itu begitu bingung sekali dan memilih membiarkan saja pesan tersebut, karena sudah dihapus mendadak oleh si pengirim.


"Mamma!" pekik Afgan tertawa senang saat sudah mulai berjalan beberapa langkah sebelum jatuh.


Langit yang memantau anaknya hanya tersenyum bahagia, ia sebenarnya ingin sekali Caca yang menemani putranya belajar berjalan dari pada bersama wanita asing.


Pria tersebut menghela nafas lalu memasuki kamar, ia begitu suka berada di kamar daripada menatap wanita asing tersebut yang membuatnya begitu risi. Langit memegangi kakinya yang kembali ngilu karena belum pulih seratus persen, ditambah ia juga mengalami gejala asma yang bangkit tiba-tiba. Membuatnya susah beraktivitas di dunia malam lagi.


Tin!


Langit mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan masuk.


' tetaplah tersenyum jangan banyak menangis, nanti gantengnya hilang! '


Langit yang membaca itu mendadak bingung lalu menatap nomor asing.


' I Love you banyak-banyak! '


Lagi-lagi Langit mendadak bingung membaca pesan tersebut, entah siapa yang mengirim pesan begituan padanya. "Mungkin pesan kesasar lagi," gumam Langit yang masih mengingat kejadian tahun lalu, mengakibatkan nya kehilangan semuanya.


*


"S i a l, aku akan membuat wanita itu menderita setelah mendekati milikku,"


Prang!


Suga yang duduk tak jauh dari wanita itu sedikit kaget lalu menoleh. "Kalau kau ngamuk gak jelas, mendingan kau pikirkan misi ini! Kau juga ngapain ngirim pesan gituan sama dia? kalau dia penasaran, bisa bikin misi kita gagal!" peringat Suga kesal.


"Tapi ...,"


"Singkirkan segala perasaan, kita ini menyelamatkan 2 nyawa sekaligus. kau mau karena kecerobohan kamu membuat mereka kehilangan nyawa?!" tekan Suga membuat wanita yang wajahnya di tutupi perban itu terdiam.


"Ta-Tapi, cewek itu!"

__ADS_1


"CACA!" bentak Suga yang membuat wanita itu menundukkan kepalanya.


Ya, dia adalah Caca yang harus berpura-pura meninggal untuk menyelamatkan nyawa Langit dan putra kecilnya. ini semua ia lakukan supaya orang yang ia cintai selamat, semuanya sudah tau rencana nya kecuali Langit yang masih dipantau oleh Papanya sekaligus Tuan Bambang.


Tak hanya itu, tanpa sepengetahuan Langit. banyak suruhan Langit, Tuan Bambang dan Tuan Gevan buat menjaga Langit setiap keluar dari masionnya.


Kalau ia jujur pada Langit, sudah pasti pria itu tak akan memperolehnya nya menyelesaikan misi ini bersama Suga dan Bang Tio- Abang nya Langit.


"Gimana? ada pergerakan dari lawan?"


Suga dan Caca menoleh pada Tio yang mendekat bersama Angel yang mengendong balita mungil. "Sudah, Bang. Caca juga sudah mendekatinya dan sekarang berstatus kekasihnya," jawab Caca dengan entengnya.


"Baguslah, kau dekati dia terus dan jangan sampai dia curiga. Apa luka bakar kamu sudah kering?" tanya Tio karena wajah Caca terkena minuman keras akibat kepergok sama istri pria yang diincar, untung saja lukanya tak terlalu parah.


"Susah baikan kok, Bang," jawab Caca sambil tersenyum manis.


"Sebaiknya kau antar Caca ke rumah sakit sebelum pria itu curiga," suruh Tio sehingga Suga mengangguk setuju dan membawa Caca pergi dari sana.


***


"Daddyh!"


Langit yang menuruni tangga pun menoleh pada Afgan yang mendekat sambil berjalan dan dipegangi oleh Biru. "Ayo kesini!" senyum Langit membuat bocah itu tertawa dan berjalan cepat mendekati Langit.


Langsung saja Langit mengendong Afgan membuat Afgan tertawa senang sambil menyembunyikan wajahnya di leher Daddy nya itu.


"Siapkan sarapan," ketus Langit sehingga Biru bergegas pergi dari sana. "Ayo belajar berjalan sama Daddy," ajak Langit tersenyum membuat Afgan menoleh dengan tatapan polosnya itu, membuat Langit benar-benar gemes sekali.


Langit lalu menurunkan Afgan dan memegangi kedua tangan putra kecilnya, membuat Afgan tertawa sambil melangkah mengikuti Daddynya.


Perlahan Langit melepaskan genggamannya yang membuat Afgan berdiri dengan tubuh yang bergerak hendak jatuh, tapi bocah itu berusaha melangkah dan terjatuh. Langit tertawa sehingga Afgan menoleh dengan tatapan bingungnya. Tapi, bocah itu mendadak tersenyum dan berusaha berdiri sendiri tanpa dibantu oleh siapapun.


Langit hanya memantau Afgan supaya bocah itu tak jatuh saat berdiri.


"Dapat!"


Afgan tertawa saat Langit menangkap tubuhnya yang hampir jatuh. "Malah ketawa," ejek Langit mencium gemes pipi chubby putranya itu.


Plak!


Plak!

__ADS_1


Langit tetap saja mencium pipi putranya itu, membuat Afgan menampar pipi Daddynya itu kesal. "Daddyh!" kesal Afgan memberontak. "Siapa suruh nampar Daddy," jelas Langit mencubit pelan hidung mancung putranya itu.


Bersambung...


__ADS_2