Kesayangan Guru Killer

Kesayangan Guru Killer
#31 Sikap Yang Berubah-Ubah


__ADS_3

Langit melajukan kursi rodanya menuju pintu utama. tapi, tindakannya terhenti saat seseorang menahan kursi rodanya.


"Tuan jangan kemana-mana!" peringat pria itu sehingga Langit memegangi kepalanya yang sakit. "Tuan kenapa?"


"Saya ingin berjemur!" pinta Langit sehingga bodyguard itu membantu Langit keluar untuk berjemur di cuaca panas di pagi ini.


Langit lalu menatap langit yang biru tanpa ada awan sedikitpun. pemuda itu menoleh pada wanita yang amat ia kenal sekali.


"Caca!" lirih Langit yang kesulitan bicara karena tenggorokan nya sakit sekali, ia hanya menatap nanar pada Caca yang sudah pergi mengunakan motor entah milik siapa. yang pasti, ia melihat istrinya itu bersama seorang pria yang tak begitu jelas wajahnya.


"Gue gak pantas dengannya lagi, gue cacat!" lirih Langit menundukkan kepalanya. ia menatap sekelilingnya dan tak melihat bodyguard tadi sehingga ia mengerakkan kedua rodanya itu.


Ia harus mencari istrinya itu, untuk menjelaskan semuanya. ia juga ikhlas kalau istrinya itu minta pisah dengannya.


"Tuan!"


Langit melajukan kursi rodanya cepat tapi di tahan oleh pria itu, membuat Langit benar-benar kesal sekali. Langit berusaha melepaskan tangan pria itu supaya tak menahannya.


Ia sontak meringis kesakitan saat pria itu menyuntikkan cairan ke lengannya, mendadak Langit melemah dan tak sadarkan diri. Bodyguard itu langsung membawa Langit ke masion lagi, supaya pria itu tak kabur lagi.


"Kenapa Dikta kek gitu?"


"Tuan saya bius, Nyonya. Tuan Dikta hendak kabur," jelas bodyguard itu sehingga wanita hamil itu mengangguk. "Kau bawa ke kamar tamu, biar dia bisa istirahat," suruh wanita tersebut sehingga bodyguard itu membawa Langit menuju kamar tamu.


Tak lama, Tio pun datang membawakan martabak. pria itu bingung karena tak melihat adiknya.


"Sayang, mana Dikta?"


"Dikta tadi di bius lalu di antar ke kamar tamu," senyum Angel menerima kotak martabak tersebut.


"Kenapa dibius?"


"Dia kabur tadi Mas setelah dorong aku,"


"Astaga," panik Tio bergegas ke kamar tamu.


"Padahal aku yang kena dorong gak di cemaskan," cemberutnya, walau dia tau kalau adik suaminya itu lagi sakit. lagian, buat apaan ia cemburu dengan seorang pria.


Tio menatap adiknya yang tertidur lelap akibat bius, ia juga menatap cairan bening yang mengalir di pipi sang adik. "Pasti dia melihat sesuatu sehingga dia kabur dan ..., dia menangis kenapa?" gumam Tio mengusap air mata adiknya.


"Mas! Papa dan Mama datang!"


Deg!


Tio sontak menoleh pada Angel yang juga terlihat panik sekali. "Sekarang gimana?" panik Tio yang tak tau bicara apa pada orang tuanya.


"Tio, kenapa Dikta gak pernah bicara sama Mama?"

__ADS_1


Deg!


Tio sontak bungkam melihat Mamanya yang masuk bersama Papa. "An-Anu," gagap Tio bingung mau menjelaskan pada orang tuanya tentang kondisi sang adik.


"Ini kursi roda siapa?"


"Itu kursi roda ..., Dikta."


Pasangan itu tersentak kaget mendengarnya. "Mak-Maksud kamu?" kaget Reva lalu menoleh pada Dikta yang terbaring.


"Dikta tertabrak saat mencari Caca dan karena tabrakan itu, Dikta lumpuh dan mengalami kerusakan saraf otak sehingga Dikta kurang bisa mengontrol tindakannya," ungkap Tio yang membuat Reva menangis mendengar perkataan Tio, sedangkan suami Reva bungkam.


"Tuan Gevan sudah keterlaluan, ini hanya salah paham dan bukannya ngomong baik-baik, dia malah membawa Caca pergi. sekarang, rahasiakan keberadaan Dikta, biar mereka menyesal," jelas Papa sehingga semuanya mengangguk. "Jangan biarkan adik kamu keluar dari masion ini buat bertemu dengan keluarga istrinya,".


Tio mengangguk mendengar perkataan Papanya tersebut, ia juga tak ingin melihat adiknya tersiksa seperti ini.


Disisi lain, Bella berjalan mendekati seorang wanita yang asik makan icecream bersama seorang pria yang tak ia kenal.


"Permisi, apa kau yang bernama Caca?"


"Iya, ada apa?" tanya Caca penasaran yang membuat Bella senang, ia juga bingung melihat wanita hamil mencarinya.


"Kenalkan saya Bella dan saya minta tolong sama kamu, kembalilah sama suami kamu! dia pasti membutuhkan kamu saat ini,"


"Kenapa kakak tau kalau aku bersuami?"


Deg!


Caca yang mendengar itu benar-benar kaget sekali. "Jadi, Daddynya Caca gak selingkuh?" gagap Caca sehingga Bella menggeleng.


"Temui suami kamu sekarang, dia kecelakaan saat mencari kamu. dia benar-benar putus asa, sekarang ..., dia lumpuh dan mengalami kerusakan syaraf otak!"


Deg!


Caca yang mendengar itu begitu syok sekali.


"Dad-Daddy lumpuh?"


"Iya, kamu harus menemuinya!"


"Dia dimana sekarang?"


"Aku gak tau karena saat kerumah sakit, Dikta sudah gak ada. mungkin, dia ada dirumah orangtuanya,"


"Ayo, temani Kakak ke tempat Daddy!" panik Caca menarik tangan sepupunya itu buat pergi dari sana.


"Syukurlah, gue lega kalau beban gue berkurang," senyum Bella mengusap air matanya pelan yang mengalir.

__ADS_1


***


Prang!


Reva begitu kaget saat Langit melempar piring padanya, untung saja ia sempat menghindar.


"Dikta, ini Mama hiks! Mama baik kok," isak Reva berusaha mendekati putranya yang duduk di kursi roda.


Ingatan putranya itu hilang timbul membuat Langit kebingungan. Apalagi, sikapnya yang suka berubah-ubah.


"Mama?" lirih Langit sehingga Reva langsung memeluk putra bungsunya itu. "Maafkan Langit yang melupakan Mama," lirih Langit yang kesulitan sekali bicara.


"Gak papa, kamu bakalan sembuh dan gak bakalan lupain Mama lagi," senyum Reva mengusap air mata putranya.


"Ada apa ini?"


Langit menoleh pada Papanya yang mendekat.


"Om siapa?"


"Nih anak, 1 menit ingat dan satu menit lupa! Papa sendiri dibilang Om. menyedihkan sekali," gerutu pria itu kesal.


"Ah, Maafkan Langit yang suka lupa," senyum Langit sehingga pria itu pasrah.


***


Langit lalu memakan makan malamnya bersama yang lain, pemuda itu kadang lupa ingat sama keluarganya, membuatnya kesulitan buat minta tolong.


"Om, tolong itu!"


Semuanya sontak tertawa saat Langit panggil Om pada Papanya sendiri. Sedangkan pria itu menatap kesal pada anaknya sendiri, ia merasa di lupakan sekali oleh sang anak. Ia lalu memberikan soup daging pada Langit.


"Untung sabar," gumam Papa sehingga Mama tertawa kecil.


"Langit beban ya, Pa?" tanya Langit sehingga semuanya menoleh.


"Bukan beban kok, Papa maklumi keadaan kamu," jelas Papa menepuk pundak Langit.


"Kalau beban, Langit diantar saja kerumah sakit," lirih Langit sedih.


"Jangan ngomong gitu, kami semua gak merasakan keberatan menjaga kamu hingga sembuh! Abang kamu pasti mau menjaga kamu," jelas Mama membuat Langit terdiam.


"Lo pasti sembuh, kami ada yang dukung kamu buat sembuh," senyum Tio sehingga Langit menoleh pada Tio yang menyentuh pundaknya.


"Jangan menyentuh saya!" kesal Langit mendorong tangan Tio kasar, semuanya hanya harus bisa terbiasa dengan tingkah Langit yang selalu berubah-ubah.


"Yasudah, lanjutkan makan kamu!" suruh Mama sehingga Langit tak membalasnya, melainkan kembali melanjutkan makannya lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2