
Caca menatap manik hitam indah milik Langit, gitu itu tampak tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi yang membuatnya penasaran sekali.
"Bapak mau ngomong apaan?"
Langit menoleh pada Caca yang juga menatapnya, entah kenapa dadanya kembali berdebar tak karuan saat menatap mata indah milik muridnya itu. "Say-Saya ingin kau menolak perjodohan itu!" jelas Langit membuat Caca kaget.
"Wah, Bapak nakal ya! dengarin orang telponan," goda Caca yang membuat wajah Langit memerah menahan malu sekali. ia seakan menjadi kelinci kalau sudah berhadapan dengan Caca. entah kemana sikap killernya.
"Caca gak bisa menolak permintaan Papa. lagian, kenapa Bapak menyuruh saya menolak perjodohan itu? Bapak bukan siapa-siapa saya, bukan?"
'Kenapa gue cegah dia ya? Argh! kenapa gue mendadak stres gini, sih?' batin Langit. 'Tapi, gue juga sakit mendengar ucapan Caca,'.
"Kar-Karena sa-say ...,"
"Pak Langit! Bapak dipanggil Buk Abigail," lapor Vika yang memotong perkataan Langit, yang membuat keduanya menoleh pada Vika. "Guru itu lagi, guru itu lagi!" cemberut Caca dengan suara pelannya dan dapat di dengar oleh Langit dengan jelas.
"Baiklah, say....,"
Drep!
Langit hampir saja menimpa Caca. "Jangan pergi dulu, Caca pengen ditemani sama Bapak dan Caca gak bisa benci sama Bapak," lirih Caca membuat Vika kaget dengan tindakan nekat sahabatnya itu yang tiba-tiba menarik Pak Langit.
"Caca jaga sikap! saya guru kamu!" tekan Langit melepaskan pelukan Caca, membuat Caca menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Bapak bukan guru aku! Bapak adalah jodoh aku!" jelas Caca menangis yang membuat Langit kembali bungkam, ia tak tau kenapa, ia tak suka melihat wanita itu menangis seperti itu.
langsung saja ia pergi karena tak bisa menatap Caca yang menangis, Langit begitu bingung dengan perasaannya yang sering berubah-ubah. Ia kembali menghentikan langkahnya karena pikirannya benar-benar kacau, ia langsung bergegas ke UKS dan melihat Vika yang bergegas pergi sehingga Caca sendirian di UKS.
Langit menatap Caca yang masih terisak pelan dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Caca!"
Caca tak menghiraukannya dan masih menangis di dalam selimut, membuat Langit benar-benar sesak mendengar suara tangisan Caca. Dengan tanpa permisi, Langit langsung memeluk Caca membuat wanita itu menghentikan tangisnya, Langit mulai membuka penutup wajah Caca dan melihat wajah gadis itu sudah memerah.
"Saya minta maaf karena sudah membuatmu menangis," lirih Langit mengusap air mata Caca, membuat wajah Caca makin memerah dengan perlakuan manis guru yang terkenal killer tersebut.
__ADS_1
"Caca saya ..., menyukaimu!"
Deg!
JANTUNGKU!
MANA JANTUNG BARU BUAT GUE, HIKS!
Caca begitu kaget mendengar peryataan Langit yang tiba-tiba, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Saya memang pria yang tak peka dengan kode dari wanita, aku juga sesak melihat kamu bersama murid baru itu dan Abigail adalah sepupu saya, dia juga sudah memiliki tunangan," ungkap Langit jujur, membuat Caca lega karena Langit tak mempunyai hubungan apa-apa dengan Buk Abigail.
pantesan saja, guru itu berani mengurungnya sekaligus menyuruh Langit buat mengantarnya ke UKS.
"Bapak, benar-benar suka sama aku? demi apa?"
"Demi kamu,"
"Bapak jangan bicara kek gitu, kalau Caca gagal jantung gimana?"
"Kalau gagal jantung, jantung aku saja penggantinya,"
"Bapak garing!"
"Kau menyukaiku?"
Caca menoleh pada Langit lalu mengangguk. "Sekarang kamu adalah kekasihku dan aku gak suka penolakan. sekarang kalau kita berdua panggil aku dengan sebutan Abang," peringat Langit membuat Caca tersenyum lalu mengangguk pelan. "Hubungan kita harus private,".
Langit melepaskan pelukannya dan bersamaan dengan itu, tiba-tiba pintu UKS terbuka oleh seseorang.
"Langit! Papa eh, maksudku Pak kepsek mau ngomong sama kamu!" kesal Abigail sehingga Langit mengangguk lalu pergi dari sana. "Kenapa wajah kamu memerah, Caca? apa, Langit menyakitimu? saya akan menghukumnya,".
"Saya gak papa kok, Buk. saya cuman gak enak badan saya," bohongnya karena tak ingin bilang kalau ia sudah diterima oleh Langit.
__ADS_1
Disisi lain.
"Pa, Langit gak mau di jodohin dengan anak teman Papa! Langit tau, Papa pasti menjodohkan Langit dengan Anita! Langit tau persis kalau anak teman Papa cuman Anita saja," tolak Langit.
"Langit, turuti permintaan Papa kali ini saja atau kamu mau, Papa gak bernyawa di hadapanmu sekarang?!" tanya Kepsek itu dengan nada penuh penekanan.
"Pa, Langit mau cari pendamping hidup Langit sendiri. Langit gak mau dijodoh-jodohkan dengan Anita!"
"Papa gak mau tau, 1 minggu lagi kamu pulang dan ikut Papa kerumah calon istri kamu!"
"Langit gak ma ...,"
"Sekarang keluar dari ruangan Papa!"
Langit terpaksa keluar dari kantor kepsek tersebut.
***
Caca memasuki kelasnya karena kondisi tubuhnya baik-baik saja. "Napa kau senyum-senyum gitu?" selidik Suga penasaran yang membuat Caca langsung memeluk Suga.
"Caca senang banget hari ini, nanti pulang sekolah Caca tratir Suga sepuasnya!" jelas Caca melepaskan pelukannya sehingga Suga bingung. "Kau kenapa aneh gini? Tumben banget traktiran gue?" tanya Suga menyentuh kening Caca yang masih panas.
"Silahkan duduk semuanya, karena jam Pak Arga kosong. saya diminta buat mengajar kimia buat kalian,"
Semuanya menoleh pada Langit, begitupun Langit yang menatap sekilas pada Caca yang berdiri di hadapan Suga.
Brukh!
Caca langsung mendorong keras tubuh Suga sehingga pemuda itu terjatuh akibat serangan Caca yang tiba-tiba. "Caca! kenapa kau mendorong gue!" kesal Suga membuat semuanya menoleh pada Caca yang baru sadar atas tindakannya.
"Maafin, Caca! Caca gak sengaja," kekeh Caca membuat Suga menatap tajam kearah saudara tirinya itu. Suga tak menghiraukannya karena b o k o n g nya masih sakit gara-gara mencium lantai keramik. "Nanti pulang sekolah ikut gue kerumah sakit, Mama yang nyuruh," ketusnya dingin.
"Baiklah-baiklah," pasrah Caca duduk di samping Suga karena ia tau ini adalah jadwalnya pemeriksaan. padahal, ia masih aman karena tak pernah disentuh siapa-siapa. mungkin, Tante-Mama nya itu tak mau ia terkena pergaulan bebas terlebih ia anak perempuan.
__ADS_1
Bersambung...