
Keesokan paginya, Suga membuka matanya dan melihat Abigail yang sudah rapi dengan pakaian gurunya. "Kenapa pakai baju itu?" tanya Suga membuat Abigail menoleh pada Suga yang beranjak duduk sambil menarik selimut menutupi bawahannya. "Mau ngajar," ketus Abigail membuat Suga bingung dengan sikap aneh istrinya itu.
Semalam manja dan Agresif. sekarang? wanita itu mendadak dingin padanya.
"Abigail, jangan buat saya marah lagi!"
"Aku mau ke sekolah buat mengajar!" kesal Abigail sehingga Suga bangkit lalu menarik kasar wanita itu hingga jatuh ke kasur. Ia kembali mencengkram kuat leher Abigail yang membuat wanita itu sesak sekali. "Masih mau melawan perintah gue?" tekan Suga makin mempererat cengkeramannya sehingga wajah Abigail memerah.
"Le-Lepas!" lirih Abigail begitu sesak sehingga Suga melepaskan cekikan nya yang membuat Abigail benar-benar lega sekali. "Hiks aku mau mengajar, kenapa kau melarang hiks!".
Suga tak memperdulikannya dan memilih mengambil handuk buat menutupi pinggangnya. "Jangan berniat kabur dari sini," ketus Suga lalu berjalan menuju kamar mandi, Abigail hanya bisa menangis karena takut sekali.
Tok!
Tok!
Abigail mengusap air matanya lalu berjalan menuju pintu dan melihat seorang wanita cantik menatapnya bingung. "Kau siapa? kenapa ada di apartemen kekasih saya?" tanya wanita itu menatap sinis pada Abigail. 'Kekasih?' batin Abigail bingung sekali.
Brukh!
"Sana pergi! jangan dekati kekasih gue lagi!"
Abigail memegangi perutnya yang kembali kram, ia bangkit lalu pergi dari sana saat wanita itu menutup pintu apartemen milik Suga. ia tak peduli dengan wanita itu, yang terpenting ia harus bebas dari Suga yang terkenal kejam tersebut.
Lagi-lagi Abigail terduduk di jalan memegangi perutnya yang benar-benar sakit sekali, walau ia membenci janin yang ada diperutnya. tetap saja itu adalah anak kandungnya sendiri, ia harus bisa kabur dari sini sebelum suaminya itu sadar kalau ia sudah kabur.
"Abigail!"
Abigail menoleh pada seorang pria yang mendekatinya. "Bawa aku pergi jauh dari sini hiks, bawa aku pergi!" tangis Abigail yang membuat pria itu bingung. "Kamu kenapa?" tanya Kevin penasaran terhadap sahabatnya itu. "Hiks bawa aku pergi hiks, nyawa aku terancam kalau masih disini!" tangis Abigail sehingga Kevin mengangguk lalu membawa wanita itu pergi dari sana.
Disisi lain, Suga keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya. pemuda itu bingung karena tak menemukan istrinya kecuali seorang wanita yang membelakanginya sambil mengotak-atik ponsel.
"Kau siapa?"
__ADS_1
Wanita itu berbalik yang membuat Suga menatap dingin kearah wanita itu. "Sayang, aku kangen!" senang wanita itu hendak memeluk Suga tapi pemuda itu menghindari nya. "Kemana wanita yang ada di kamar ini?" tanya Suga dengan dinginnya yang membuat wanita itu bingung sambil memikirkan sesuatu.
"Owh, wanita berpakaian guru tadi. udah aku usir paksa tadi,"
Plak!
Suga menampar kuat wanita itu hingga jatuh. "Ke-Kenapa menamparku?" ringis Aurel sambil memegangi pipi yang di tampar kuat oleh Suga barusan, pemuda itu langsung mencengkram kuat rahang Aurel membuat wanita itu kesakitan sekali. "Punya hak apa kau mengusir Abigail, hah?! wanita itu lagi hamil anak gue!" bentak Suga tajam.
"Aku gak suka kamu di dekati wanita lai...,"
Plak!
Plak!
Suga menampar Aurel secara bertubi-tubi, pemuda itu menarik tangan Aurel meninggal kan Apartemen nya. "Kau harus menerima hukuman dari gue, Aurel!" tekan Suga mendorong wanita itu menuju mobil milik nya yang selalu terparkir di samping apartemen. Ia langsung memasuki mobil menuju bangku kemudi yang membuat Aurel ketakutan sekali.
"Waktunya 10 menit dari sekarang," smirk Suga memakai maskernya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia juga sengaja tidak memakai plat mobil supaya tak ada yang melacak mobilnya.
Suga tak menghiraukan permintaan wanita itu, sesekali Suga melirik arlojinya untuk melihat jam. tak lama, ia pun sampai di sebuah jembatan yang sepi, pemuda itu langsung keluar dan bergegas menarik Aurel sebelum wanita itu kabur.
"Hiks lepasin aku!"
Suga tetap tak menghiraukannya dan mengambil tali untuk mengikat wanita itu, ia langsung membawa Aurel menuju rel kereta api.
Bruk!
Suga langsung mengikat tubuh Aurel di tengah rel, membuat Aurel memberontak tapi tenaga wanita itu tak sekuat Suga sehingga ia tak mampu. pemuda itu melirik kearah kirinya saat mendengar suara kereta api, membuat Aurel ketakutan sekali. "Waktu yang pas," kekeh Suga menghindar dari sana.
"HENDRA! LEPASIN GUE!" teriak Aurel ketakutan sedangkan Suga melakukan live di akun fake nya. baru saja mulai live, sudah banyak sekali yang menonton dan semua penonton begitu kaget melihat seorang wanita terikat di tengah Rel.
"Nikmati pertunjukan ini, teman!" tawa Suga dengan bahasa Inggrisnya.
Bruak!
__ADS_1
Cittt!
Tubuh Aurel terlindas oleh kereta api, membuat suara decitan akibat darah ataupun daging-daging yang tergiling. Suga menoleh kearah live chatnya dan melihat komentar yang menyebutnya kejam dan bruntal. "Ini belum seberapa, kalian akan melihat yang lebih menyeramkan dari ini," jelas Suga lalu mematikan ponselnya, ia lalu bergegas dari sana untuk mencari keberadaan istrinya yang entah kemana.
***
"Kau sebenarnya kenapa? siapa yang menyakiti kau?"
Abigail yang kini berada di mobil milik Kevin pun menoleh. "Ak-Aku gak bisa jawab. tapi, Tolong bawa aku pergi jauh dari sini," isaknya menangis yang membuat Kevin bingung sekali. "Aku takut dengan pria kasar itu hiks, dia kejam sekali,".
"Siapa?"
"Hiks pokoknya bawa aku pergi dari sini!"
"Baiklah, kalau nyawa kamu terancam. aku akan membawa kamu ke Itali karena aku juga akan kesana,"
"Aku harus ikut kamu dan aku bisa bebas disana,"
"Tapi, kau kenapa memegangi perut terus? kau hamil?" selidik Kevin sehingga Abigail memegangi perutnya. "Iya, karena itu aku harus kabur sebelum ayah dari anak ini mencariku. dia benar-benar kejam sekali," isak Abigail yang membuat Kevin kaget.
"Kapan kau menikah dan kenapa gak ngundang aku?"
"Aku menikah secara siri karena permintaan bapak dari janin ini,"
"Benar-benar tuh orang, bisanya nyakitin cewe saja," gumam Kevin kesal, walau ia tak kenal siapa suami sahabatnya itu. tetap saja ia tak terima kalau seorang wanita di kasari seperti ini.
"Mau ku telpon sepupumu itu? dia kan Mafia,".
"Jangan! kalau kau menelponnya, orang itu bakalan mudah menanyakannya pada Langit."
"Baiklah kalau begitu," pasrah Kevin melajukan mobilnya menuju Bandara.
Bersambung ...,
__ADS_1