KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 10


__ADS_3

Masih dengan perjuangan yang berat EKG masih dengan irama normal, istri dari Juna Andara masih tak bergerak sama sekali. Rani masih melihat dari luar saat dokter pagi ini memeriksanya.


"Dok, apa ada tanda-tanda ia akan segera sadar?" Tanya Rani saat dokter keluar dari ruangan di mana Mora di rawat.


"Belum. Sebaiknya banyak berdoa untuk kesembuhannya. Kondisinya semakin melemah," ujar dokter.


"Baik, Dok. Terimakasih."


"Sama-sama, Bu." Dokter itu berlalu meninggalkannya. Mata Rani menatap nanar kearah menantunya. Mendekat lalu mengelus rambut Mora pelan.


"Mora ga kangen sama Mama? Mama kangen sama Mora. Mama mau mendengarkan kisah hidup Mora. Mama janji apa pun yang terjadi Mama ga akan meninggalkan Mora. Sekarang Mora anak Mama," lirihnya sambil terisak. Dipegangnya tangan Mora lalu mengecupnya pelan.


"Mama tau Juna orang ga baik. Mama mau kamu yang merubah sikapnya yang keras. Selama ini Mora banyak membawa perubahan positif untuk Juna."


"Jangan tinggalin Mama dan Juna. Kalian belum bulan madu. Mama akan siapkan tiket untuk kalian ke Eropa atau Korea, Mama janji, jadi cepatlah sadar."


Wanita cantik nan modis itu terus saja bermonolog sendiri, berharap wanita yang sudah jadi menantunya segera tersadar.


Setelah mendengar pengakuan anaknya beberapa hari yang lalu ia menyadari betapa dirinya gagal mendidik sang anak. Juna terang-terangan mengaku telah memp*rkosa Mora dan banyak melakukan aksi pembunuh*n, mengatakan pada Rani untuk merahasiakan ini semua dari Mora.


"Buk, jangan terlalu lama di sini. Bisa mengganggu pasien," perawat menyentuh bahu Rani pelan hingga membuyarkan lamunannya.


"Baik, Sus. Saya akan keluar. Tolong jangan lalai untuk memantau dia," jelas Rani, matanya berkaca-kaca.


Rani keluar dari ruangan, Juna yang baru saja sampai menatap sendu kearah wanita yang melahirkannya itu.


Sekuat apa pun kita pertahankan jika memang tak berjodoh maka Allah akan memisahkan dengan caranya juga.


"Mora kondisinya melemah," celetuk Rani saat mendaratkan bokongnya di tempat duduk bersebelahan dengan putranya. Tak ada respon apa pun dari Juna, dia membisu. Kepalanya ia tundukkan , matanya menatap lantai rumah sakit.


Ujian ini belum seberapa untuk hambanya yang benar-benar sudah bertaubat. Allah juga tak akan menguji hambanya melebihi batas mampunya.

__ADS_1


Tubuh Juna bergetar menahan tangis, setelah bangkit dari duduk. Berjalan mencari musholla untuk menumpahkan isi hatinya. Dari dakwah dan ceramah yang ia dengar tempat mengadu yang lebih baik adalah pada sang maha pencipta, karena hidup dan matinya atas kehendak Allah bahkan napas yang saat ini juga atas kehendaknya.


Setelah berwudhu, Juna melaksanakan salat duha dua rakaat setelahnya berzikir sebentar, lalu doa ia panjatkan untuk kesembuhan istri tercinta.


Tubuhnya tergugu, menyentuh dadanya yang terasa begitu nyeri.


"Ya-Allah. Jika permintaan hamba selama ini tidak pantas, maka pantaskanlah doa yang bukan untuk hamba. Dia tak pernah berbuat dosa." Isaknya lirih. Juna sadar akan siapa dirinya, ia tak lebih dari pendosa yang hanya memikirkan nafsu duniawi saja.


Beringsut dari sajadah. 'Ya-Allah, hamba janji jika dia tersadar maka hamba akan melakukan apa pun yang bisa membuatnya bahagia,' lirihnya.


____


Hari terus berganti bulan, keadaan Juna semakin membaik, luka di wajah dan tangannya juga sudah mengering namun wanita yang masih sah menjadi istrinya masih terbaring koma, tubuh itu semakin ringkih. Dokter menyarankan untuk mencabut alat yang menempel di tubuh Mora, karena kemungkinan ia sadar hanya lima belas persen, tapi Juna menolak dengan tegas, ia yakin istrinya akan membaik. Laki-laki itu masih bertahan dengan keras kepalanya yang masih ia pertahankan.


"Juna, turuti aja kata dokter. Mama lelah jika harus gantian jagain Mora," ucap Rani di sela-sela makan siang mereka. Tadi bik Inah masuk ke ruangan Mora, wanita paruh baya itu rindu sosok anaknya.


"Enggak, Ma. Mora pasti sadar," sahutnya. Memasukkan kembali makanan kedalam mulutnya dengan paksa. Beberapa bulan terakhir Juna tak berselera makan, ia akan memaksakan makan agar tubuhnya tetap sehat agar bisa menjaga Mora. Bagaimana ia bisa makan lahap sedangkan istrinya terbaring seperti mayat hidup bahkan tubuhnya semakin ringkih.


Juna diam sejenak, mencerna perkataan wanita yang telah melahirkannya itu. Tak lama panggilan masuk ke gawai Juna.


"Aden kesini. Neng Mora sudah ada kemajuan, sudah menggerakkan tangannya," ujar bik Inah dari sebrang sana.


"Baik, Bik. Aku segera kesana."


Panggilan ia akhiri, lalu segera mengajak Rani menemui bik Inah, Juna tak menjelaskan apa pun pada wanita yang telah melahirkannya itu, ada sedikit rasa kecewa atas ucapan ibundanya tadi. Bik Inah yang menjelaskan segalanya pada Rani hingga wanita itu menggeleng tak percaya.


"Kamu mendengarkan aku?" Lirih Juna pelan, tangannya menggenggam erat jemari sang istri. Tak ada jawaban hanya jarinya yang bergerak beberapa kali dan EKG berbunyi begitu nyaring tanda denyut nadi pasien berhenti.


Juna panik dan segera memanggil perawat untuk memeriksa keadaan istrinya dan dokter memeriksa keadaannya juga, Juna di perintahkan keluar. Tak lama dokter keluar dari ruangan dengan mengusap wajahnya dan membuang napas kasar.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" Tanya Juna dengan wajah panik.

__ADS_1


"Maafkan kami. Kami para medis sudah berusaha sekuat tenaga, namun kami gagal. Mungkin Allah lebih menyanyinya," jelas dokter sambil menepuk bahu Juna pelan. "Bersabarlah," lanjutnya.


Juna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia sungguh tak ingin terlihat lemah di depan banyak orang. Mundur beberapa langkah lalu duduk di kursi tunggu, Rani mengusap punggung anaknya itu pelan.


"Ini hukuman darimu untukku kah Ya-Allah," teriaknya, beberapa orang menoleh kearahnya dan menatap sinis.


"Jangan berisik Mas, ini rumah sakit," ujar salah satu orang yang duduk lebih jauh dari Juna.


Begini sakitnya kehilangan orang yang sudah bertahta dalam hati, dulu ia begitu tega menyiksa perlahan bahkan membunuh orang-orang yang membayar jasanya. Tanpa memikirkan perasaan orang yang mencintai korbannya.


Sementara Rosan mengurus adminisitrasi dan jasad Mora akan di pulangkan dan rencana akan di makamkan di TPU dekat dengan rumah mereka.


Hati yang rapuh itu kini sudah terpatahkan, berganti dengan nestapa tiada akhir.


Suasana duka begitu menyelimuti hati, merasa Tuhan tak adil. Beginilah perasaan Mora saat ia merasa bahwa Tuhan tak adil dalam hidupnya, kini tuhan menunjukkan keadilannya untuk Mora, wanita itu kini merasakan bahagianya menjadi Bidadari surga.


Proses pemakaman telah usai, namun Juna masih memandang nisan. Ada penyesalan terdalam dalam hidupnya, bahkan mereka belum sempat mereguk manisnya madu dalam satu ikatan pernikahan.


___


Bulan berlalu, tahun berganti. Raga dan jiwa masih terpaut pada pemilik hati yang sama. Walau kaki-laki bertubuh atletis itu tak lagi terlihat gejolak lara namun masih tersisa rasa sesak di dada saat teringat kejadian yang merenggut kesucian secara paksa, tuhan mengabulkan keinginan Juna, laki-laki itu berharap istrinya tak pernah tahu jika ia yang telah memp*rkosa, namun di sini yang berbeda tuhan mengabulkan keinginan Mora agar bertemu dengan laki-laki yang telah menodainya. Kelak keduanya akan bertemu di akhirat sebagai sepasang suami istri seperti yang telah Allah janjikan.


Menikmati secangkir kopi sambil duduk di balkon, tangannya menyeka sudut mata yang basah. Beralih menatap gawainya yang berkedip manja.


"Ya ada apa?"


"Ada job. Cuma tikus kantor kantor yang serakah. Kita main cantik aja," sahut di sebrang sana.


"Tidak bisa, aku udah ga suka seperti itu lagi. Aku ga butuh uang haram lagi," jawabnya. Namun di sebrang sana hanya terdengar kekehan tak lama setelahnya ponsel ia matikan.


Bangkit lalu masuk kedalam kamar, menarik laci lalu mengambil dan membuka kotak usang yang beberapa tahun ini tidak ia pakai. Benda ilegal yang telah banyak merenggut nyawa orang. Juna berniat menjualnya saja, tapi jika menjual maka korban lain akan ada melalui tangan orang lain pula. Ia berniat menguburkan saja, agar dunia akhiratnya aman. Begitu pikirnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2