KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 17


__ADS_3

Masih dalam penanganan dokter alat menempel di tubuh ringkih wanita paruh baya itu. Automated external defibrillator mengangkat tubuh ringkih itu, memberikan kejutan agar denyut jantung kembali berpacu.


Aqila duduk di ruang tunggu, matanya tak dapat menyembunyikan air mata lagi, air asin itu terus saja berlomba berjatuhan tanpa jeda, beberapa kali ia mengusap bulir bening yang tak dapat ia kontrol.


"Kamu harus kuat," kata Juna, tangannya mengusap punggung tangan Aqila, gadis itu hanya diam tanpa bisa berkata-kata, tengorokannya seakan ada batu besar yang mengganjal.


"Berdoa agar semua baik-baik saja." Hibur Juna, walaupun laki-laki itu pernah merasakan hal yang sama seperti Aqila rasakan saat ini.


Kehilangan orang yang kita cintai sangat berat, bahkan butuh waktu bertahun-tahun untuk hilang dari ingatan.


Beberapa belas menit menunggu akhirnya dokter keluar dari ruangan yang dalam bayangan Aqila seperti dalam neraka. Aqila tak sanggup berdiri lututnya terasa begitu lemah dan otot-otot tubuhnya terasa kaku.


Juna mendekat kearah dokter.


"Bagaimana keadaan pasien, Dok?" Tanya Juna lemah.


"Saya sebagai dokter sudah berusaha semampu saya tapi Allah lebih menyanyi hambanya. Bersabarlah, Pak," jelas dokter dengan raut muka sedih. Juna tak kalah teriris hatinya, ini kali kedua dirinya berhadapan dengan dokter dan kenyataan hidup. Betapa dirinya kini menyadari hidup dan mati hambanya ada di tangan sang maha cinta bukan di tangan manusia.


Tubuh mungil Aqila tergugu, mendengar ucapan dokter yang begitu menyayat hatinya. Juna mendekat dan mengusap kepala yang ditutupi pasmina itu lembut.


"Saya akan urus kepulangan jenazah ibu kamu. Juga membayar administrasi, kamu bisa langsung ke mobil saya," jelas Juna berharap yang dilihatnya saat ini bukan Aqila yang lemah. Wajah cantik itu mendongak menatap Juna yang berdiri di hadapannya.


"Maaf jika kehadiran saya merepotkan Bapak," ucap Aqila disela tangisnya.


"Saya tak pernah merasa repot sama sekali. Segera ke mobil saya atau perlu saya panggilkan suster untuk mengantarkan kamu?" Tangan Juna membantu Aqila untuk bangkit dari duduknya. Gadis itu memaksa senyumnya dan berlalu menuju mobil Juna.


Niat hati Aqila ingin naik ambulance saja, tapi menyadari ada beberapa petugas medis semuanya laki-laki jadi dirinya memutuskan untuk naik mobil Juna dengan rasa sedikit terpaksa, karena gadis itu sangat ingin menemani ibunya.


Dalam perjalanan pulang ambulance terus saja mengikuti mobil Juna yang ada di depan, sementara Aqila masih dalam balutan air mata yang tak kunjung usai.


"Pak," celetuk Aqila tiba-tiba membuat Juna memegang dadanya karena kaget.


"Ya. Ada apa?" Tanya Juna tanpa menoleh, dirinya fokus menyetir.


"Allah terlalu sayang pada ibu, tapi saya juga sayang pada ibu, apa mungkin Allah menghukum saya atau Kakak saya," terangnya.


"Allah begitu menyayangi hambanya. Berpikir positif pada apa yang telah Allah kehendaki, mungkin nanti masa depan kamu akan lebih indah setelah melalui ini semua," jawab Juna tenang.

__ADS_1


Bukankah selama ini dirinya jug mengeluh tentang apa yang telah Allah tetapkan, tentang apa yang telah Allah kehendaki. Laki-laki itu baru menyadarinya setelah pertemuannya dengan bayang-bayang Mora yang kini tepat di hadapannya.


Terkadang manusia begitu mudah menasehati insan manusia lainnya, namun begitu lemah menasehati diri sendir, itu sebabnya manusia diciptakan untuk saling melengkapi bukan saling menjatuhkan.


Dua puluh menit perjalanan akhirnya mobil Juna dan ambulance tiba di halaman rumah Aqila, beberapa warga berhamburan ke halaman karena mendengar sirene ambulance, sementara Juna memapah tubuh Aqila yang lemah tanpa tenaga.


Yuli-- kakak Aqila baru pulang dari tongkrongan dengan kondisi mabuk berjalan tak menentu arah membuat beberapa warga memandang kearahnya dengan tatapan tidak suka.


"Heran sama kelakuan kamu Li. Ibu kamu udah meninggal aja kamu ga tau, dasar anak ga tau diuntung," hardik Leni, tetangganya yang begitu peduli bahkan terkadang mengantarkan makanan untuk Aqila saat Aqila sakit, sedangkan Yuli pergi entah kemana saat Aqila tak bisa menghasilkan pundi rupiah untuk Yuli.


Plak....


Yuli melayangkan tamparan ke wajah Leni sambil menatap nyalang kearahnya beberapa warga melerai mereka dan menyayangkan perbuatan Yuli yang tak pernah mengerti lingkungannya.


Gadis dengan tatapan sayu dan baju yang kurang bahan itu masuk lalu menjatuhkan tubuhnya di samping jenazah ibunya.


"Bagus kau mati wanita ******," pekik Yuli, warga yang sedang membaca Yasin sontak memandang, sebagian dari mereka menyeret Yuli untuk keluarg dari rumah. Aqila yang mendengarkan ucapan sang kakak hatinya tambah teriris, bagaimana bisa seorang anak dendam terhadap ibunya, apa mungkin kesalahan ibunya begitu besar? Tanpa Aqila sadari sang kakak dalam pengaruh minuman yang memabukkan.


___


Di panti asuhan Rani menunggu Juna dengan raut kesal, beberapa kali dirinya menghubungi anaknya itu tapi tetap saja nomornya tidak aktif.


Pasalnya mereka berjanji untuk memberikan donasi pada anak yatim-piatu yang ada di panti asuhan KASIH BUNDA. Juna juga akan memperkenalkan seseorang yang akan membuat ibundanya terpesona begitu kata Juna.


Hari sudah mulai gelap orang yang dinanti tak kunjung datang, wanita modis itu segera meninggalkan panti asuhan yang sudah ia donasikan, walau hatinya kacau dirinya akan berusaha tegar. Doanya semoga Juna baik-baik saja.


Hujan rintik-rintik membasahi jalanan, juga membuat pandangan sedikit buram. Rani tersentak saat seseorang menyebrangi jalan bukan di zebra cross, tubuh yang ia tabrak ambruk di jalanan basah. Rani meraba dadanya, jantungnya hampir lompat dari tempatnya.


Tergesa wanita modis itu turun dari dalam mobil dan melihat siapa yang ia tabrak tadi, Rani berteriak agar warga dapat menolong wanita itu di masukkan kedalam mobilnya dan ia bawa kerumah sakit.


"Semoga ga parah," lirih Rani menatap pada gadis yang berpakaian kurang bahan tersebut.


"Bawa kerumah sakit, Mbak. Jangan di buang di sungai," ucap orang yang membantu menaikkan gadis itu kedalam mobil Rani, wanita modis itu mengernyit heran, merasa dirinya bukan pemb*nuh.


"Jangan sok polos gitu, Mbak. Jaman sekarang banyak yang pura-pura baik, aslinya munafik," jawab yang lainnya. Mereka tahu betul perkotaan yang kejam dimana penguasa dapat semena-mena.


Rani tak menghiraukan perkataan mereka, menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Beberapa saat tubuh wanita yang ada di jok belakang kemudi tersadar sambil memegang kepanya.

__ADS_1


"Aw...." Desisnya membuat Rani seketika menoleh.


"Are you oke?" Tanya Rani pada wanita yang berpakaian kurang bahan tersebut.


"Pusing," keluhnya. Jelas pusing karena pengaruh alkohol yang sebelumnya ia minum. Rani berpikir karena benturan gadis itu merasa pusing.


"Mau kerumah sakit?" Tanya Rani lagi sambil fokus menyetir.


"Saya tidak mau, Tante." Gadis itu menatap kosong.


"Saya antar kamu pulang?" Rani memposisikan dirinya agar tak salah dipikirkan gadis itu.


"Saya yatim piatu. Saya tak punya siapa-siapa," ucapnya. Isaknya terdengar pilu.


"Kalau begitu kerumah saya, nanti kamu bisa istirahat di sana dan nanti kita bicarakan untuk kemana kamu akan pergi selanjutnya," jelas Rani. Wanita itu tak mudah percaya pada orang baru, terlebih di perkotaan seperti ini, banyak kasus penipuan yang mengatasnamakan segalanya agar aksinya sukses dan berjalan dengan sempurna, sementara gadis yang memakai pakaian kurang bahan tersebut hanya mengangguk setuju sambil memeluk tubuhnya yang mengigil.


Sepertinya ada aksi terselubung yang akan ia jalankan, lumayan berkenalan dengan orang kaya, membuatnya iba lalu menjalankan misi untuk membuatnya menjadi orang kaya dan di segani pula.


Berkutat dengan gerimis beberapa menit membuat tubuh Rani menggigil, wanita cantik nan modis itu meraih mantel bulu kesayangannya yang terletak di jok samping kemudi. Mata gadis itu memandangi mantel bulu milik Rani tanpa kedip seolah ia begitu menginginkannya.


"Kamu mau jacket atau mantel juga?" Tanya Rani tanpa menoleh, wajah gadis itu terlihat jelas dari kaca spion tegah atau center mirron. Gadis yang memakai pakaian kurang bahan tersebut hanya mengangguk, Rani meraih tas dan ngambil jacket miliknya yang ia tinggalkan kemarin karena lupa lalu memberikan pada gadis itu.


"Mama kamu siapa, Nak? Maaf saya panggil nak karena kamu seumuran dengan anak saya sepertinya." Tutur Rani lembut.


"Nama saya ...." Gadis itu menjeda ucapannya seolah ada rasa ragu di hatinya.


"Iya nama kamu," ucap Rani membenarkan perkataan gadis itu.


"Nama saya Yasna." Gadis itu berdusta. Nama yang indah harusnya untuk orang yang indah budi pekertinya. Rani hanya menganggukkan kepalanya, beberapa saat mobil Rani menepi di depan rumahnya dan membunyikan klakson beberapa kali, terlihat bik Inah tergopoh-gopoh membuka pagar sambil sedikit mengangkat dasternya.


Rani segera memasukkan mobilnya kegarasi dan menyuruh Yasna turun lalu mengikuti Rani.


"Bik. Tolong antarkan Yasna ke kamar tamu," ujar Rani menatap bik Inah lalu beralih menatap gadis berpakaian kurang bahan tersebut.


"Baik, Nyah. Saya buatkan susu juga?" Tanya bik Inah pada Rani yang hendak melangkah menuju kamarnya.


"Ya. Tolong kasih baju lama saya yang ada di lemari bawah untuk Yasna pakai sementara waktu," jelas Rani, hati Rani begitu baik.

__ADS_1


Rasa ibanya pada makhluk Tuhan yang terlunta-lunta membuat dirinya memikirkan masa lalunya yang dulu juga terbilang susah.


Bersambung....


__ADS_2