
Tiga hari berlalu Juna telah di izinkan pulang kerumah dengan syarat rajin cek kedokter. Pihak mini bus telah meminta maaf ada Juna dan keluarganya karena menyetir dalam keadaan mabuk, Juna yang menyadari remnya tidak berfungsi dengan semestinya menerima permintaan maaf supir mini bus itu dengan ikhlas. Ini hanya musibah kayanya.
Jika seandainya Juna tahu penyebab kecelakaan adalah Yasna maka tak ada yang tahu apa yang akan Juna lakukan pada wanita berbibir tebal itu setelahnya.
Rosan mengemasi beberapa pakaian Juna lalu membawanya ke mobil, sementara Rani dan suaminya telah pulang terlebih dahulu karena merasa lelah menjaga Juna.
Saat Rosan di luar membayar administrasi Juna menggoda istri cantiknya.
"Sayang. Nanti malam apa bisa kita indehoy?" Juna mengulum senyum melihat aksi Mora mencubit lengannya pelan.
"Belum juga sembuh udah mikir itu," kekeh Mora membuat Juna terbahak.
"Pengen!" Laki-laki bertubuh atletis itu mengedipkan matanya seperti om-om genit, sementara Mora hanya tersipu malu.
Tak lama Rosan kembali masuk, ia telah selesai membayar administrasi.
"Ayo!" Laki-laki berwajah Turki itu membantu Juna berdiri dan memapahnya menuju mobil. Rosan terlalu menyayangi Juna walaupun Rani lebih sayang pada Juna namun rasa cintanya pada Juna tidak akan luntur.
Mobil membelah jalanan yang sedikit macet, menuju kediaman Rani.
.
.
Di rumah Rani, istri Rosan dan Yudha Andara menyiapkan makan besar atas kepulangan Juna sekaligus Rani ingin meminta maaf pada putranya itu.
Tak lama Rosan tiba di kediaman Rani, selalu bik Inah yang bersedia membuka gerbang karena mereka tidak memperkerjakan scurity. Wajah wanita paruh baya itu terlihat begitu lelah, bik Inah sudah memasak banyak menu masakan dari tadi pagi.
"Bik mama mana?" Celetuk Juna, laki-laki bertubuh atletis itu begitu merindukan ibunya.
"Ada di dalam, Den," jawab bik Inah, Juna langsung masuk dan duduk di ruang tamu, menjatuhkan bokong di kursi empuk itu, Mora yang dari tadi hanya mengekor kini ikut duduk di samping Juna, wanita hamil muda itu terlihat begitu pucat.
"Kamar yuk!" Ajak Juna menarik lengan istrinya lembut.
"Nanti mama ngira kita mau ngapa-ngapain," kata Mora melirik kiri kanan, ada rasa malu karena di sini ada ayah mertuanya yang ia segani.
"Biarin. Aku rindu pelukanmu," ucap Juna manja, laki-laki bertubuh atletis itu mendaratkan kecupan di pipi mulus Mora.
__ADS_1
"Kita sapa mama dulu. Mungkin aja mama masih marah sama kita," ungkap wanita cantik itu.
"Ga kok. Mama ga akan sanggup marah sama aku," kata Juna menatap manik mata Mora dalam.
"Pokoknya temui mama dulu, kata bik Inah tadi sama aku mama lagi siapin sarapan untuk kamu, Mas," jelas Mora. Juna hanya mengangguk, dua sejoli itu menuju keruang makan yang berdekatan dengan dapur.
"Ih. Pengantin baru romantis banget." Goda Adiba, wanita berhijab syar'i itu menyenggol suaminya pelan.
"Papa sama Mama dulu juga romantis," celetuk papa dari dua anak laki-lakinya yang sebentar lagi juga akan memiliki anak.
"Kita kalah dong, Pa?" Tanya Rosan menggoda ayahnya itu. Yudha hanya mengangguk, sementara Rani tersipu malu.
"Mumpung Papa di sini, besok kita jalan-jalan yuk, Ma!" Ajak Yudha pada istrinya yang modis itu.
"Kami ikut!" Dua manusia berada wajah itu menjawab bersamaan.
"Ga boleh! Papa sama Mama mau mengulang bulan madu," kekehnya membuat Juna dan Rosan tergelak, sementara dua menantunya hanya tersipu malu, setelah makan Rani mengutarakan semua niatnya mempekerjakan Yasna dan menyuruh Juna pergi hanya untuk membuat rumah tangga mereka utuh tanpa kehadiran Yasna.
.
.
.
Di tempat lain Yasna sedang mengusir orang yang mengontrak di rumah lamanya, mau tak mau Yasna harus kembali kesana, tak ada tempat perlindungan lain selain di rumah lamanya, rumah peninggalan mendiang Narsih.
"Maaf, Mbak. Tapi saya sudah membayar lunas sama adiknya. Jika kami tetap diusir kami akan melaporkan anda kekantor polisi," kata orang yang mengontrak di rumah peninggalan Narsih itu.
"Saya ga mau tau, Mas. Hubungi adik saya dan minta kembalikan uang anda," Yasna mengatakannya penuh penekanan. Wanita berbibir tebal itu begitu membenci Mora, ditambah ulah Mora kali ini yang mengontrak rumah orang tuanya tanpa izinnya, api yang membara kembali tersulut.
Beberapa saat orang yang mengontrak di rumah Narsih menelpon seseorang, perbincangan begitu serius sampai pada akhirnya panggilan berakhir.
"Gimana," tanya Yasna mengangkat dagunya penuh keangkuhan.
"Beri waktu kami tiga hari untuk mengosongkan rumah ini," jawab orang yang mengontrak tersebut. Terasa begitu menyayat jika di usir dalam keadaan tak punya apapun.
Sebenarnya Yasna memiliki tabungan hasil mencuri di kantor Rani, kartu kredit yang Yasna berikan hanya kartu kredit kosong. Uang yang ia curi akan ia simpan ntuk mentraktir temannya karena sudah terlanjur mengatakan bahwa dirinya bergelimang harta.
__ADS_1
Yasna masuk kedalam rumah dengan paksa, wanita berbibir tebal itu mendorong tubuh sepasang suami istri yang berdiri di ambang pintu.
"Gue taruh koper di sini, awas kalo berani lu buka-buka," ancamnya. Wanita berbibir tebal itu hanya mengabil beberapa pasang pakaian dan memasukkannya kedalam ransel, setelahnya berjalan bak model meninggalkan rumah itu.
Sore ini terpaksa ia menghabiskan uang untuk menyewa hotel karena ia butuh tempat berlindung.
"Awas aja, aku akan buat perhitungan dengan keluarga mu Rani," lirih Yasna, sebenarnya yang harus membuat perhitungan adalah Rani bukan Yasna.
Tak butuh waktu lama Yasna tiba di hotel terdekat, wanita bertubuh tinggi dan berbibir tebal itu di antar oleh teman laki-lakinya. Setelah menyelesaikan administrasi dan meminta kunci kamar Yasna menuju kamarnya di lantai atas.
Tubuhnya ia rebahkan kasar di atas ranjang. Tangannya cekatan merogoh tasnya untuk mengambil benda pipih miliknya lalu menekan tombol dan menelpon seseorang.
"Hei ... Apa kabar?" Wanita berbibir tebal itu berbasa-basi sebentar.
"Baik. Lagi kere nih!" Kata tema laki-lakinya di sebrang sana, Yasna tergelak. Selama berteman dengan berandalan ia banyak mecuri, karena itu Yasna berani melakukan pada perusahaan Rani. Ala bisa karena biasa.
"Aku ada job. Menghabisi satu keluarga, kita akan melakukannya bersama-sama," kata Yasna, setelahnya mereka mengatur pertemuannya dengan teman laki-lakinya. Yasna begitu ingin kembali kedalam keluarga Rani dan menghancurkan keluarga bahagia itu.
Malam merangkak naik, Yasna dalam hati yang berbalut dendam.
Wanita berbibir tebal itu bertemu dengan teman laki-lakinya di kamar hotelnya, tepatnya kekasih lamanya. Sedikit bertukar bercerita dan pengalaman lalu terlarut dalam suasana hangat.
"Aku masih mencintaimu, Yuli," ucap laki-laki bertubuh gempal itu. Laki-laki selalu seperti itu jika dalam keadaan kepepet ingin mengeluarkan hasratnya.
"Aku juga," Yasna tersipu malu, Yasna mengulum senyum dan bergelayut manja. Keduanya terlarut dalam kehangatan dan melakukan perbuatan yang pernah mereka lakukan dulu.
Entah Yasna yang terlalu bodoh atau keadaannya memang harus seperti ini.
"Jadi apa rencanamu pada mereka?" Tanya laki-laki bertubuh gempal itu pada Yasna, setelah keduanya sama-sama berpeluh.
"Aku punya rencana besar menghancurkan keluarga yang telah mengusirku seperti sampah dari rumah itu," jelas Yasna, tubuh keduanya masih menempel seperti perangko.
"Aku akan berpura-pura sakit, seolah aku korban luka bakar. Kita harus datang kerumah itu dan mengiba, mereka terlalu besar hati jika untuk orang miskin," sambung Yasna tersenyum miring.
"Kau yakin?" Laki-laki bertubuh gempal itu menatap manik mata Yasna, ada sedikit rasa ragu di hati laki-laki itu.
"Yakin. Antar aku pakai kursi roda pada mereka agar kita tinggal di sana," Yasna tergelak. Lelucon baru akan ia mainkan dengan tema yang berbeda, ratu drama itu rupanya ingin bermain api dengan psikopat yang telah banyak membunuh.
__ADS_1
Sama-sama suka adegan berbahaya, hanya saja berbeda dalam caranya. Cara yang Yasna lakukan teramat licik dan tak akan pernah terendus, sementara Juna melakukan dalam satu kali tembakan.