
Beberapa hari berlalu Rosan sudah pulang ke kediamannya begitu juga dengan Juna, namun kali ini laki-laki bertubuh atletis itu tidak membawa Cika pulang karena Rani ingin Cika tetap tinggal bersamanya.
Anak itu sudah mulai nyaman atas perlakuan Rani, wanita modis itu begitu pandai mengambil hati anak-anak. Rani sering mengajak Cika berbelanja bahkan bermain di taman.
"Cika ga apa-apa kan kalo tinggal sama Oma?" Tanya Rani apa anak yang masih berusia tiga tahun itu.
"Ga apa-apa, Oma. Mama nda cayang Cika," lirih bocah itu, sudut matanya mengembun.
Oma sayang sama Cika, sekarang Oma udah sehat karena ada Cika di sini," ucap Rani. Seketika senyum di bibir bocah mungil itu mengembang.
"Assalamualaikum," ucap Yazid yang baru saja tiba. Yuli masih mengunakan perban seperti biasa.
Yazid mengulas senyum saat melihat Rani yang sedang duduk di sofa bersama Cika menjawab salam darinya.
"Anaknya Putri," gumam Yuli melihat Cika tanpa kedip.
"Takut ada mumi," ucap Cika bersembunyi di lengan Rani. Wanita modis itu mengulum senyum. Sementara Yazid terus mendorong Yuli menuju kamar mereka.
Yuli takengenal Putri, hanya mendengarkan cerita dari Rani bahwa Putri tergila-gila pada Juna dan menunjukkan foto Putri bersama anaknya di gawai Rani. Rani tak pernah mengetahui bagaimana besarnya cinta yang berbalut benci yang Yuli alami saat ini dan seterusnya.
Wanita berbalut perban itu berdecak kesal saat mereka tiba di kamar. Aksinya tertunda gara-gara kedatangan Juna ke kediaman Rani.
"Gagal kan bikin dia celaka, malah sekarang sehat," ucap Yuli sambil membuka perbannya. Wajahnya begitu panas jika harus selalu berbalut dengan perban.
"Ga masalah kan? Bisa liburan," seloroh Yazid setelahnya tergelak.
"Ya ya. Terserah!" Yuli masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
.
____
Di rumah Mora tinggal sendiri, Juna bekerja dan pulang sesaat setelah adzan isya.
"Mas, belikan aku pizza," ucap Mora sesaat setelah panggilan di angkat oleh Juna.
"Pizza. Bukannya biasanya kamu ga suka?" Suara Juna terdengar bingung di sebrang sana.
"Beli aja. Pengen," lirihnya, sambil tersenyum malu, walaupun Juna tak memandang wajahnya saat ini ia merasa malu jika meminta sesuatu yang tak biasa ia makan. Semua itu karena tadi ia menonton acara masak memasak yang menghidangkan pizza jumbo yang menurutnya mengiurkan.
"Baik bidadariku," balas Juna, setelah tertawa kecil.
"Hati-hati, Sayang." Mora tersenyum manis saat ia menyebut kata sayang pipinya bersemu. Tak dapat di pungkiri walau permasalahan silih berganti namun rasa cintanya kepada sang suami semakin mekar. Mora mengakhiri panggilan karena jika mendengar suara Juna kembali ia akan merasa semakin malu, bisa-bisa nanti tidak berani menatap secara langsung.
Awan bergelayut manja, tak lama setelahnya turun rintik-rintik kecil di siang hari. Mobil mewah mendarat di halaman rumah sepasang kekasih halal itu.
__ADS_1
Halaman yang licin sedikit membunyikan decitan rem karena penekanan yang terpaksa.
"Selamat siang." Putri mengibaskan rambutnya, setelahnya memainkan kukunya yang panjang.
"Siang juga Nyonya," ejek Mora.
"Heh. Mama anakku?" Putri membentak dengan nada tinggi. Menjijikkan sekali sudah menitipkan anak malah membentak seenaknya.
"Cika sama Mama," ucap Mora datar, tak gentar sama sekali dengan bentakan dari Putri. Wanita berambut pirang itu bertambah kesal.
"Berani banget kamu nyuruh Juna nitipin sama neneknya?" Wanita berambut pirang itu menuduh tanpa ada bukti apapun.
"Saya tidak menyu ...." Suaranya terhenti saat Putri mendorong kasar tubuh Mora hingga jatuh terjerembab ke lantai.
"Ya Allah, sakit," pekik Mora dengan suara bergetar dan lemah sambil menyentuh perutnya, sementara Putri yang melihat keadaan Mora yang memprihatinkan segera kabur meninggalkan Mora yang lemah terduduk di lantai.
"Tolong ... Tolong ...." Suara Mora seakan tercekat, tubuhnya gemetar, sementara darah terus mengalir, lantai itu sudah tergenang darah Mora, wanita yang sedang mengandung benih Juna Andara mengalami pendarahan.
Wanita cantik itu terus saja beristighfar, tubuhnya meringsut sedikit untuk menggapai vas bunga di atas meja lalu melemparnya hingga terdengar suara pecahan begitu keras.
Medengar suara gaduh barulah tetangganya keluar lalu memastikan keadaan rumah Mora, awalnya mereka juga tidak berani karena takut jika mengurus urusan rumah tangga orang lain.
Saat melihat keadaan Mora yang bersimbah darah tetangganya yang dari tadi mengintip segera memanggil suaminya untuk menolong Mora yang semakin melemah.
"Bertahanlah, Neng," ucap laki-laki bertubuh kurus itu sambil membopong tubuh Mora seperti anak kecil.
Perkataan menyemangati hanya tinggal perkataan, berlahan Mora Cantika memejamkan matanya dan kesadarannya hilang.
"Ibuk kerumah Mbak Mora, cari HP-nya Mbak Mora terus hubungi suaminya, ini menyangkut nyawa Mbak Mora," ucap laki-laki berkulit hitam manis itu sambil membenarkan posisi duduk Mora di kursi depan mobil pickup miliknya, sementara wanita yang biasa di sapa mbak Ira itu segera bergegas kerumah Mora lalu mengambil gawainya yang teronggok di lantai dan segera menelpon suaminya Mora.
Sedikit bingung mencari nomor ponsel suaminya karena wanita itu tak tahu siapa nama suami Mora.
"Duh mana sih," gumam wanita itu sambil terus mencari kontak.
"Ada apa, Dek?" Seseorang bertanya di sebrang sana saat wanita itu berhasil menelpon seseorang, dengan serius pasalnya Mora tak pernah menelponnya.
"Istri Mas jatuh dan sekarang tak sadarkan diri, suami saya mengantarnya ke rumah sakit terdekat," ucap mbak Ira terburu tanpa tahu siapa yang ia telpon sebenarnya.
"Istri saya. Apa maksud Mbaknya pemilik hp yang Mbak pegang sekarang?" Pertanyaan bingung sekaligus panik terdengar dari sebrang sana.
"Ia, Mas. Segera ke rumah sakit terdekat dari rumah ya, Mas." Panggilan di akhiri segera oleh mbak Ira karena ia akan segera membersihkan cairan darah yang tergenang di lantai rumah Mora.
Berbuat baik tak akan mengurangi jatah makan seseorang karena tidak bekerja hari ini.
Masih dalam kebingungannya mencari kain pel yang entah terletak di mana, begini kalau bukan rumah sendiri. Matanya berbinar saat melihat kain yang begitu rapi tersusun di sudut dapur, dengan cekatan tangannya mengepel lantai yang bersimbah darah itu, anaknya yang berusia delapan bulan ia letakkan di punggung dengan mempererat tali gendongan.
"Ya Tuhan selamatkan wanita cantik berkulit putih itu," gumamnya. Beberapa menit berlalu darah yang tadinya banyak di lantai sekarang terlihat bersih.
Melirik dan menarik pelan tubuh putranya dari gendongan belakan agar sang buah hati kembali menghadap dirinya.
__ADS_1
"Eh. Dah tidur aja," lirihnya. Wanita berkulit sawo matang itu berdiri dari duduknya yang tadi hanya beristirahat sebentar, melangkah keluar dari rumah Mora lalu menarik handle pintu dan menutup rapat.
.
.
.
Di rumah sakit terdekat Mora di tangani dan masuk ke ruang IGD, ia masih belum sadarkan diri, sementara suami dari Mbak Ira masih setia menunggu wanita cantik itu.
"Lama, banget ini suaminya datang," gumamnya cemas, menunggu dokter yang masih memeriksa Mora di dalam ruang IGD.
Tak lama langkah kaki tergesa-gesa menghampiri suami mbak Ira yang berdiri menatap pintu kamar IGD.
"Maaf merepotkan, Anda," ucap Rosan menangkupkan kedua tangannya di hadapan laki-laki bertubuh kurus itu sambil mengulas senyum pahit.
"Ga apa-apa, Mas. Kewajiban saya menolong sesama manusia," lirihnya, matanya kembali menatap pintu IGD yang belum terbuka.
"Mas Juna mana ya, Mas?" Laki-laki bertubuh kurus itu melanjutkan ucapannya karena merasa bingung kenapa Rosan yang hadir bukan suaminya.
"Ini adik ipar saya, Juna masih dalam perjalanan Tadi saya kira Mora menghubungi saya, tapi suara wanita mengatakan istri saya kecelakaan, mungkin dia mengira saya suaminya," jelas Rosan sambil mengusap wajahnya pelan. Ada rasa khawatir juga di hatinya.
Tak lama dokter luar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan adik saya, Dokter?" Rosan mendekat kearah dokter yang sedang membenarkan alat periksa miliknya.
"Masih belum sadarkan diri, pendarahan membuat ia kehilangan banyak darah dan butuh donor darah dari golongan darah A," papar dokter sambil menatap wajah Rosan.
"Bagaimana kandungannya?" Rosan bertanya kembali pada dokter, ia khawatir dengan keadaan adik iparnya dan janin yang ia kandung.
"Kuasa Allah janin yang mbak Mora kandung begitu kuat, walaupun keadaan pasien begitu lemah dan pendarahan janinnya masih bertahan, tapi ...." Dokter menjeda ucapannya dan menatap lamat-lamat wajah Rosan yang terlihat panik.
"Tapi apa, Dokter?" Juna yang baru saja sampai dengan napas terengah-engan bertanya pada dokter yang sedang berbicara dengan Rosan. Kebiasaan laki-laki itu yang suka menyela ucapan orang lain.
"Tapi jika kandungannya lemah maka terpaksa harus di angkat," jawab dokter, seketika tubuh Juna terduduk lemah. Dokter meninggalkan mereka, setelah sebelumnya laki-laki kurus itu mengucap terimkasi.
"Cobaan apa lagi, ya Allah," lirih Juna sambil mengacak rambutnya kasar, Rosan mengusap punggung adiknya yang sedang di landa kesedihan.
"Pak, saya izin pulang, saya mau mengantarkan pesanan orang," ucap laki-laki kurus itu berpamitan pada Rosan yang berdiri tak jauh darinya.
.
.
__
Di rumah Rani Putri terburu-buru mengajak Cika untuk pergi dari rumah Rani, wanita itu terlihat panik saat bertemu dengan Rani.
"Makasih dah jagain Cika, Ma," ucap Putri saat ia hendak berpamitan.
__ADS_1
"Mama senang jagain Cika, dia anak penurut dan baik," kata Rani sambil melambaikan tangan kearah bocah kecil yang terlihat bersedih. Saat ini wanita bertubuh semampai itu benar-benar takut pada Juna, jika ketahuan bahwa dirinya mendorong Mora maka habislah sudah masa ia untuk hidup di dunia ini.