KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 55


__ADS_3

Tujuh jam lebih perjalanan akhirnya mereka tiba di tempat di mana kartu Mora terakhir di buang. Sedangkan matahari belum terbit sama sekali.


Sejenak laki-laki bertubuh atletis itu memejamkan matanya lalu tertidur sesaat, hati dan pikirannya saat ini benar-benar kacau, sementara Syaki menatap nanar kearah Juna yang terlihat lelah.


Laki-laki berambut ikal itu mengelus benda berpelatuk miliknya pelan lalu mengelapnya dengan lap khusus dan menodongkan di kepala Juna yang sedang terlelap.


"Jika gue jadi lu, bakal gue habisi wanita ****** perusak hubungan antara orang tua dan anak, bahkan sampai istri minggat gara-gara perempuan ****** itu," ucap Syaki pelan lalu meniup ujung benda berpelatuk itu seolah sudah menghabisi mangsa.


Juna yang sepanjang perjalanan menemani Syaki tadinya agar tidak tertidur saat menyetir, laki-laki bertubuh atletis itu menceritakan bagaimana awal pertemuan dengan Mora bahkan sampai perjodohan yang sama sekali tidak ia inginkan.


Laki-laki berambut ikal itu menyimak dan menyayangkan keputusan Juna untuk berpikir akan menikahi wanita yang tidak punya hati menurut Syaki.


.


.


.


Mata hari telah meninggi padahal baru beberapa jam tertidur, sementara Juna dan Syaki baru terbangun dari tidur mereka di dalam mobil.


"Bro bangun!" Syaki menguncangkan tubuh Juna pelan saat matahari pagi menyilaukan matanya dan menyengat kulitnya memalui jendela kaca mobil.


"Jam berapa?" Juna mengucek matanya pelan lalu membenarkan posisi duduknya, mengusap lehernya yang terasa kaku.


"Jam sembilan," kata Syaki melirik sekilas jam tangan miliknya.


Mereka berdua keluar dari dalam mobil dan mencari makanan untuk menambah tenaga agar kuat mencari keberadaan Mora, Syaki terus memperhatikan gawainya yang menunjukkan titik terakhir kartu Mora berada.


"Lihat! Menurut pelacakan nomor ponsel istrimu tak jauh lagi dari sini, sekitaran lima belas menit lagi menuju terminal," jelas Syaki di sela-sela menyuap makanan kedalam mulutnya.


"Buruan makan! nanti keburu pergi dia," kata Juna, setelahnya ia menegak air mineral hingga tandas, sementara Syaki berdecak kesal karena perintah dari sahabatnya ini, jika bukan sahabat mungkin Juna saat ini sudah kena timah panas dari benda berpelatuk miliknya.


.


.


Setelah menghabiskan makanan keduanya menuju mobil, membelah jalanan yang sedikit macet, terik mentari menyengat kulit, Juna mengulas senyum mengira Mora akan segera bertemu dengannya.


Mereka mesuk kedalam terminal, Juna yang tidak sabar menunggu memperlihatkan foto Mora pada beberapa orang yang lalu lalang, Syaki menggeleng pelan menyaksikan kesungguhan Juna mencari belahan jiwanya.


"Di sini," kata Syaki berdiri tak bergerak pada titik yang terlihat pada gawai milik Syaki.


"Tapi tak ada siapa-siapa." Juna menoleh dan melihat sekeliling, hanya ada beberapa supir bus dan beberapa penumpang yang sedang menunggu keluarga atau menunggu bus lainnya.


"Syaki lihat! Jika ini titik akhir berarti ini kartu sim dari hp Mora," Juna mengambil kartu sim yang ia yakin itu adalah kartu dari gawai istrinya.


"Bisa jadi." Syaki mengangguk pelan.


"Kita kembali apa melanjutkan pencarian?" Syaki melanjutkan ucapannya, memperhatikan wajah sahabatnya yang begitu lesu.

__ADS_1


"Kalo kamu lelah boleh pulang, bawa saja pulang mobil, aku akan naik bus saja nanti kalau pulang," jelas Juna membuat Syaki menatap tak suka kearah laki-laki tampan yang kini terlihat kusut.


"Aku akan ikut bersamamu, kita akan cari istrimu bersama. Siapa tau nanti kamu memberikannya untukku, karena kamu mau menikah lagi," seloroh Syaki membuat Juna berdecak kesal dan memukuli kepala sahabatnya sambil tersenyum kecil.


Berusaha menghibur Juna walaupun ia tahu kata-katanya hanya mampu memberikan senyum sementara.


Laki-laki bertubuh atletis itu keluar dari terminal sementara Syaki masih berada di dekat terminal, ia yakin setelah Mora lelah dalam perjalanan Mora akan mencari makan.


Laki-laki berambut ikal itu memperlihatkan foto Mora setelah bertanya sopan pada pemilik rumah makan dekat dengan kartu sim yang mereka temukan.


"Ibu lihat wanita ini?" Syaki memperlihatkan foto Mora pada rumah makan di sebelahnya.


"Kami sudah ganti sif. Mungkin sif malam ada yang melihat," kata gadis yang diperkirakan umurnya masih dua puluh tahun. Ia memanggil temannya lalu menunjukkan foto Mora.


"Sedang hamil kan, Pak?" Wanita paruh baya itu memperhatikan kembali wajah Mora sementara Syaki mengangguk dan menunggu jawaban selanjutnya.


"Lihat, Pak. Dia sampai kesini subuh dan terlihat kebingungan, dia membuang kartu sim dari ponselnya di ujung sana setelah makan di sini, saya mengira kalau sim yang wanita itu buang dari ponsel curian," jelas wanita itu dengan polosnya.


"Dia kabur dari rumah. Bukan pencuri," kata Syaki kesal.


"Setelahnya dia kemana, Bu?" tanya Syaki berharap ada petunjuk selanjutnya dari wanita paruh baya itu.


"Dia berjalan tertatih kearah timur, saya juga sibuk dan tidak sempat melihat kemana dia pergi lagi setelah itu," jelas wanita paruh baya itu, setelahnya Syaki berpamitan dan akan melanjutkan kemana arah yang ditunjukkan oleh pemilik rumah makan itu.


.


.


.


Syaki mencari keberadaan Juna setelah menghubungi melalui gawainya dan memberitahukan alamatnya, kembali mereka mencari keberadaan wanita hamil itu yang tanpa jejak selanjutnya.


.


.


.


____


Sedangkan di rumah Rani, wanita modis yang sudah sedang lemah tak berdaya itu selalu saja menyebutkan nama Juna, entah apa yang ia rasakan dalam hatinya mungkin penyesalan atau hanya rasa ingin segera mendesak keinginannya untuk menjadi istri dari anak sahabatnya itu, sedangkan Yudha terlihat cemas karena Rani merasa begitu tersakiti oleh keadaan.


Walaupun sebenarnya Yudha tahu bahwa anaknya itu juga merasakan hal yang sama seperti Rani rasakan saat ini, posisi ayah sekaligus suami sangat sulit untuk dirinya mengambil keputusan saat ini.


"Pa, telpon Juna," kata Rani pada suaminya yang sedang mengusap rambut Rani dengan lembut.


"Tapi Juna sedang mencari istrinya, ia berusaha mempertahankan Kebahagiaannya seperti Mama dulu yang mempertahankan kebahagiaan Mama," jelas Yudha membuat Rani menyentuh dadanya pelan. Kembali masa lalu berputar dalam otaknya, begitu jelas bayangan itu terlihat di depan matanya.


"Beda, Pa. Kalau Juna Mama yang inginkan dia menikah lagi, sedangkan Mama dulu hanya mempertahankan hak Mama," ucap Rani, bulir bening terus saja luruh begitu saja dari mata Rani.

__ADS_1


"Jangan sedih. Biar cepat sembuh," ucap Yudha berusaha menenangkan Rani, walaupun ia tahu racun yang ada di tubuh Rani mengrogoti kesehatan fisiknya setiap hari.


"Kalau mau Mama ga sedih buruan telpon Juna," hardik Rani membuat Yudha sedikit kesal namun ia tak berdaya.


Laki-laki berjambang tebal itu tak ingin membuat istrinya terus menangis dan larut membuat penyakitnya semakin parah.


"Jun. Bisa pulang? Mama sangat ingin bertemu, keadaannya semakin melemah," ucap Yudha sesaat setelah panggilan terhubung.


"Tapi aku sedang di Lampung, Pa," kata Juna di sebrang sana, ia berharap jika Yudha dan Rani saat ini mengerti posisi sulit yang ia alami.


"Lampung jauh sekali, memangnya ngapain?" tanya laki-laki bergelar ayah itu.


"Mora mungkin di sini," kata Juna singkat.


"Mama sakitnya tambah parah, jangan sampai kamu menyesal karena tidak melihat detik terahirinya bahkan permintaan terakhirnya," lirih laki-laki berjambang tebal itu dengan hati yang pilu, satu sisi ia tidak tega melihat keadaan Juna yang tertekan, satu sisi lainnya Rani juga dalam keadaan sakit.


"Baik, aku pulang," lirih laki-laki bertubuh atletis itu di sebrang sana dengan nada kecewa.


Rani tersenyum bahagia menatap suaminya yang begitu bisa di andalkan.


"Bagaimana? Dia mau pulang?" Rani memberondong beberapa pertanyaan pada suaminya yang berdiri di sampingnya, sementara Yudha hanya mengangguk pelan lalu keluar dari dalam kamar. Meluapkan kekesalannya dengan menyulut sebatang rokok di taman belakang.


Di dalam kamar Rani mengambil gawainya yang ada di bawah bantal tidurnyaenekan panggilan pada temannya yang bernama Rosa itu.


Dengan hati yang berbunga-bunga ia kabarkan kabar gembira pada Rosa bahwa Juna menyetujui pernikahan yang telah mereka rencanakan.


"Tanggal dua puluh dua kami datang ke rumah Jeng Rosa bawa lamaran ya, Jeng," kata Rani dengan suara pelan agar Yudha tak mendengar pembicaraannya.


"Baik. Awas aja kalo tidak, Jeng. Kami tidak mau rugi dan Jeng Rani tanggung akibatnya!" Rosa berkata dengan nada tegas di sebrang sana.


.


.


.


___


Di kota lain Juna dan Syaki berbincang tentang keputusan mencari keberadaan Mora yang tidak ada titik terang, ingin menceritakan bahwa Rani menyuruhnya pulang Juna tak punya nyali sama sekali.


Dia tahu sifat Syaki yang keras, jika terlibat berdebatan sengit dengannya maka bersiap pertumpahan darah yang akan terjadi.


"Jadi kita sudah jauh kesini dan sekarang kamu ingin menyerah dan pulang?" Syaki menatap tak suka kearah Juna yang menunduk lesu, laki-laki bertubuh atletis itu kini sungguh tertekan dengan sikap Rani.


"Ya, mungkin seminggu kemudian aku akan mencarinya sendiri saja," lirih Juna sambil menyeka sudut matanya yang memandang keluar jendela mobil.


Sungguh kepiluan begitu berat yang menyiksa jiwa seorang psikopat yang sudah bertahun bertaubat itu.


Syaki tanpa aba-aba memutar balik mobil milik Juna dengan kasar bak pembalap profesional lalu berlalu membelah jalanan kota yang begitu padat.

__ADS_1


Sepanjang perjalan hening antara keduanya, Syaki tak ingin lagi bertanya apapun pada Juna, laki-laki berambut ikal itu merasa kecewa yang teramat mendalam pada sahabatnya itu.


__ADS_2