
"Ma. Hari ini aku akan ngadain akad ulang sama Mora," celetuk Juna saat di meja makan membuat Rani dan Yasna terkesiap menatap Juna. Mora masih di dalam kamarnya, dia sedang membersihkan diri.
"Kok mendadak banget? Padahal Mama mau buat acara besar-besaran untuk kalian loh," kata Rani setelahnya memasukkan buah yang si kupas kedalam mulutnya.
"Acaranya kan bisa setelah akad, Ma. Lagian kami hanya ke rumah penghulu karena saksi mereka yang siapkan, kan buku nikah udah ada," ungkap Juna.
"Apa, Mas dan Aqila suami istri?" Yasna menyela pembicaraan ibu dan anak itu, wanita berbibir tebal itu merasa heran dengan apa yang di ucapkan Juna, karena yang ia tahu Aqila belum menikah.
"Ini urusan keluarga kami. Jadi saya harap kamu jangan ikut campur, Yasna!" Tekan Juna, laki-laki bertubuh atletis itu tidak pernah suka dengan orang yang terlalu ikut campur urusan pribadinya.
"Ya, maaf. Yasna penasaran." Gadis berbibir tebal itu merasa begitu kesal karena pilihan Juna adalah gadis bernama Aqila yang ia tahu bukan Mora.
"Terserah kamu aja. Mama mendukung apa pun keputusan kamu," kata Rani, setelahnya Rani bangkit dari duduknya lalu berpamitan pada Juna dan bik Inah, ia akan kebutik hari ini.
Sebenarnya Rani sudah mulai tidak suka pada Yasna karena mendengar laporan dari bik Inah bahwa Yasna sering berbicara kasar dan membentak bik Inah dan tak pernah mau jika diminta tolong dalam pekerjaan apa saja. Rani membiarkan Yasna tinggal hanya karena kasihan, karena yang ia dengar dari Yasna bahwa Yasna tak punya siapa-siapa.
Setelah Rani berangkat Juna juga menyusul Mora kedalam kamarnya. Mora sudah siap dengan pakaian rumah sederhana. Beberapa kali Juna mengetuk pintu baru dibuka.
"Loh, katanya mau akad nikah ulang. Tapi kok ga pakai pakaian yang rapi?" Tanya Juna memandang tubuh mungil Mora di hadapannya.
"Semua setelan rok kerja, sama gaun pesta yang kemarin itu. Apa aku pakai gaun itu aja?" Tanya Mora membuat Juna menepuk jidatnya sendiri, laki-laki bertubuh atletis itu lupa kalau gaun yang ia pesan akan di antar besok.
"Ya pakai setelan rok aja. Nanti kita kebutik Mama," kata Juna, laki-laki bertubuh atletis itu menjatuhkan bokongnya di atas ranjang.
"Tapi ga enakan sama Mama," jawab Mora bermanja, biasanya wanita mungil itu tak pernah bermanja-manja. Wanita tangguh yang hidup mandiri, mungkin dirinya menyadari kini Juna begitu mencintai dan menyayanginya.
"Itu urusanku sama Mama. Kamu nurut aja."
"Baik," Mora berbalik lalu mencari bajunya di almari dan menuju kamar mandi.
"Kok ke kamar mandi?" Tanya Juna heran.
"Ganti."
"Di sini aja."
"Ya udah. Sana keluar!" Perintah Mora, tangannya menunjuk kearah pintu. Juna melihat aksi Mora hanya bisa tersenyum manis. Gadis lugu yang menjadi idaman semua laki-laki, dengan malas laki-laki bertubuh atletis itu keluar kamar, ia memilih menunggu di ruang tamu saja.
"Aku tunggu di ruang tamu!" Teriak Juna sambil berlalu.
Hati yang brapuh dan kini sudah terpatahkan sudah menjatuhkan jutaan bulir bening di dalam kamarnya, menyekanya dengan puluhan lembar tisu.
"Kok tega sih kamu sama aku, Mas," lirihnya. Lalu menyeka ingus bening yang keluar. "Aku ga akan bisa di kalahkan, aku akan membalas dan merampas hakku, sekali pun itu sudah jadi milik orang," sambung Yasna.
Yasna bangkit dari atas ranjang lalu berdiri menghadap kearah cermin.
"Aku cantik," gumamnya lalu tersenyum sinis. Rencana selanjutnya berputar dalam pikirannya, akan melakukan bermacam cara agar Juna mencintainya dan jatuh dalam pelukannya, menghapus bulir bening terakhir yang ada di pelupuk matanya.
__ADS_1
Tergesa Yasna mengganti pakaian terbaiknya.
"Sedikit bermain-main kurasa lebih baik," gumamnya.
Yasna berlari menuju ruang tamu, benar saja masih ada Juna di sana duduk sendiri sambil memainkan gawainya, berarti Mora belum selesai, mungkin sedikit memakai make up di wajah manisnya.
"Mas. Yasna ikut boleh, ga?" Tanya wanita berbibir tebal itu, menyunggingkan senyum termanisnya.
"Terseh. Jangan buat kekacauan," ucap Juna tanpa menoleh kearah Yasna sama sekali.
"Aku siap!" Celetuk Mora tiba-tiba. Membuat Juna dan Yasna menoleh seketika kearahnya.
Segera laki-laki bertubuh atletis itu bangkit dari duduknya lalu menuju kearah Mora dan menggandeng tangan bidadarinya. Yasna yang melihat mereka bergandengan membuat ekspresi mau muntah di belakang mereka. Renca yang ia susun begitu matang dan akan ia jalankan nanti dengan begitu sempurna.
Kelur lalu mengeluarkan mobil dari garasi, awalnya Yasna ingin duduk di depan tapi Juna melarangnya, ratunya yang harus berada di sampingnya, walaupun ia kesal tapi harus menuruti keinginan Juna agar tak di usir dari rumah mewah Juna.
Tak butuh waktu lama mobil yang Juna tiba di depan butik Rani, gegas Juna membukakan pintu untuk Mora dan langsung meninggalkan halaman sementara Yasna yang menunggu dibukakan pintu mobil tak kunjung terbuka, Yasna berdecak kesal. Raja tak pernah menjadikan selir sebagai Ratu.
Di dalam butik Rani sedang mengobrol dengan beberapa pembeli dan tersenyum saat melihat kedatangan Juna dan Mora.
"Sebentar," ucapnya pada pelanggan, yang disambut anggukan oleh pelanggan tersebut.
"Anak Mama pasti mau cari gaun untuk istrinya," kata Rani yang mendekat kearah Juna dan Mora.
"Iya. Ma," kekehnya.
"Aku pasti suka kalo Mama yang pilih," ungkap Mora mengikuti Rani.
Gaun panjang warna blue ice, mewah dan elegan tapi sederhana, cocok untuk wanita berhijab. Tidak terlalu mencolok jika untuk acara ulang tahun atau kondangan.
"Cantik banget!" Mora menyentuh gaun pilihan Rani.
"Sana pakai di kamar yang biasa mama gunakan untuk beristirahat," perintah Rani sambil mengedipkan mata pada Juna, Yasna yang baru saja masuk pura-pura melihat dress dan gaun juga. Sementara Mora sudah berlalu mengekor di belakang laki-laki yang masih suami sahnya.
Beberapa menit berlalu mereka keluar dengan balutan pakaian yang senada, indah dan elegan.
"Cocok banget," kata Rani, ia terkesima dengan pasangan yang ada di hadapannya saat ini.
"Makasih, Ma." Mereka tersenyum kearah Rani.
"Mama ikut?" Tanya Juna sekali lagi, karena tadi di telfon Rani mengatakan bahwa dirinya tidak bisa ikut karena akan ada pemotretan.
"Mama kayaknya ga bisa ikut. Kalo nanti cepat siap insha Allah Mama nyusul," jelas Rani.
"Ya udah kalo gitu, ga apa-apa kok, Ma. Kami maklum, lagian cuma akad aja," kata Mora, lalu Rani memeluk tubuh mungil Mora dengan penuh kasih sayang. Yasna memutar bola matanya malas, drama didepan matanya membuat ia begitu muak.
Sepasang insan yang sedang di mabuk asmara itu berjalan beriringan, sementara Yasna di belakang mereka menatap tidak suka. Tak ada manusia yang suka jika orang yang kita cintai bersama orang lain.
__ADS_1
.
.
Lima belas menit lebih kurangnya mereka tiba di rumah ustadz yang akan menjadi penghulu, beberapa saksi juga sudah ia hadirka.
"Maaf kami sedikit terlambat, Pak ustadz. Tadi jalanan sedikit macet," jelas Juna setelah memberi salam sebelumnya.
"Tidak masalah. Asal kami ada uang kopi nantinya," seloroh ustadz di iringi tawa para saksi, membuat wajah Juna bersemu.
Rasa gugup pada dirinya begitu terasa, tiga tahun sudah berlalu saat akad nikah, sekarang ia harus mengulangi demi rumah tangganya yang harmonis.
Tangan penghulu menjabat tangan Juna seperti pada pernikahan pada umumnya di lakukan, mahar yang Juna sebutkan juga mahar yang pernah ia berikan dulu pada Mora, beberapa kali salah dalam penyambutan akad, namun pada akad ketiga suara Juna terdengar lantang dan di sambut sah oleh semua para saksi. Mora mencium punggung tangan laki-laki yang bergelar suami itu dan Juna mencium kening istrinya.
Mereka menikmati beberapa biskuit dan teh hangat yang disediakan oleh tuan rumah, ustadz juga berceramah sedikit untuk suatu hubungan rumah tangga yang baik harus bagaimana.
Usai mencicipi hidangan sederhana mereka berpamitan, Juna menyerahkan amplop coklat yang ditolak halus oleh ustadz.
"Saya ikhlas," terang Juna.
" Saya juga ikhlas," kata ustadz yang biasa mengajarkan Juna mengaji dan Juna juga sering mendonasikan ke yayasan panti yang di kelola oleh gurunya itu.
"Jika ustadz menolaknya saya akan bersedih dan kecewa," kata Juna, sementara ustadz hanya diam. Laki-laki bertubuh atletis itu menyalami ustadz dengan takzim dan beberapa orang saksi laki-laki, sementara Mora hanya menangkupkan kedua tangannya.
Mereka meninggalkan rumah ustadz yang menjadi saksi bisu atas sakralnya suatu ikatan suci pernikahan.
"Mas. Aku kebelet pipis," ucap Mora saat mereka hendak memasuki mobil.
"Ya udah sana, itu ada toilet umum yang biasa anak yayasan gunakan," kata Juna, tangannya menunjuk toilet umum yang pintunya terbuat dari seng. Mora berlari kecil kearah toilet itu untuk menuntaskan keinginannya, sementara Juna dan Yasna memasuki mobil terlebih dahulu, karena cuaca di luar begitu terik.
Mora telah keluar dari toilet, Yasna melihat Mora semakin mendekat, sementara Juna sibuk memainkan gawainya.
Saat Mora membuka pintu mobil dengan sigap Yasna ******* bibir Juna dengan sedikit menarik dagunya kearah belakang agar terkesan tanpa paksaan.
Wanita bertubuh mungil dan berhijab itu mematung menyaksikan yang ada di depan matanya saat ini. Juna segera menolak tangan Yasna yang menahan dagunya, dirinya begitu terkejut saat Mora mematung di ambang pintu mobil.
"I ... Ini tidak seperti yang kamu lihat." Juna mencoba menenangkan Mora yang menjatuhkan bulir bening tanpa henti.
"Iya," jawabnya datar lalu masuk kedalam mobil. Mora wanita yang bijak, tak akan pernah membuat keributan bahkan selalu mengalah.
"Yasna memaksa," jelas laki-laki bertubuh atletis itu.
"Buktinya kamu mau, Mas. Berarti aku ga memaksakan," kata Yasna. Ondel-ondel yang begitu pandai memanfaatkan keadaan dan memainkan drama.
"Terserah. Aku mau pulang," ucam Mora datar. Tubuh mungil itu tergugu, Yasna tersenyum puas.
Juna melayangkan tatapan nyalang kearah Yasna, kini ia paham pada sifat dan sikap Yasna selama ini. Juna memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, tak peduli lagi jika harus berurusan dengan polisi, yang jelas saat ini Juna ingin menjelaskan dan meluruskan masalah yang Yasna perbuat.
__ADS_1
Bersambung....