KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 34


__ADS_3

Di tempat lain dalam perjalanan pulang pada malam hari, sepasang kekasih halal itu terus saja bergurau.


"Yang. Kalau nanti kamu udah ga ada, aku boleh nikah lagi ga?" Laki-laki bertubuh atletis itu begitu senang menggoda istrinya yang sering memanyunkan bibirnya saat merasa kesal.


"Boleh asalkan jangan sama ondel-ondel," terang Mora membuat Juna terbahak.


"Kalo ondel-ondel udah Insyaf?"


"Ga boleh juga," jawab wanita hamil itu sambil memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela. Setidaknya gemerlap lampu jalanan membuat dirinya sedikit dapat mengontrol emosinya.


"Ga sayang. Aku cuma becanda kok," jelas Juna membuat pipi Mora bersemu, ia begitu malu. "Kalo andaikan aku pergi terlebih dulu, aku rela kok kamu menikah lagi, asalkan ia sayang sama anak kita," jelas Juna, Mora menahan bulir bening di pelupuk matanya.


"Mulai sekarang jangan cengeng lagi, jelek," ucap Juna sambil mengusap rambut istrinya pelan.


Brak ....


Tabrakan tak terhindarkan terjadi, Juna menabrak mini bus yang sedang melaju cepat tepat di hadapannya, berulang kali ia menginjak pedal rem namun tetap saja tidak mampu menahan kecepatan tinggi laju mobil mereka. Rem blong begitulah tepatnya.


Mini bus itu terhenti dan mengeluarkan asap tebal sementara mobil milik Juna terpelanting dan terseret dalam keadaan terbalik beberapa meter. Juna sudah tak sadarkan diri, sementara Mora memiliki beberapa luka koyak di tangan dan bahu.


"Mas," lirih Mora hampir tak terdengar. Mobil mereka terus saja mengeluarkan asap tebal yang siap menyulutnya dalam hitungan menit.


"Mas." Mora mengguncangkan tubuh suaminya pelan. Melihat suaminya tak berdaya membuatnya harus kuat dan bertahan dalam keadaan luka.


Wanita hamil itu mencoba melepaskan safety belt dengan cepat agar asap yang mengepul tak terlalu banyak ia hirup, namun kenyataannya benda itu sedikit macet.


"Ya-Allah. Mas," lirihnya saat ia hampir putus asa. "Alhamdulillah," ucapnya dengan suara bergetar saat safety belt berhasil ia buka.


Lagi-lagi ia diuji saat membuka pintu mobil yang begitu susah.


"Mas betehanlah," lirihnya dengan air mata yang luruh tak terbendung, bulir bening itu berlomba-lomba turun dari pelupuk matanya.


Saat dirinya sedang berusaha menolong sang suami tiba-tiba ada dua orang pemuda yang sigap menolong Mora mengeluarkan Juna yang terkulai lemah. Segera Mora duduk di aspal dan mengangkat kepala Juna agar kepala Juna tidak langsung menyentuh aspal, dalam keadaan sakit saja dia masih memikirkan keadaan suaminya.


"Ya Allah tangan Mbak terluka parah," ucap pemuda itu memperhatikan tangan bagian atas. Laki-laki itu merobek kemejanya dan melilitkan pada tangan wanita hamil itu yang masih saja bercucuran darah segar, setidaknya pertolongan pertama yang pemuda itu lakukan dapat menghambat pengeluaran darah, sementara yang satunya mengambil gawai dan menelpon polisi.


Tak berapa lama mereka menunggu ambulance dan mobil polisi tiba di olah TKP, Mora dan Juna juga pemilik mini bus tadi masuk kedalam ambulance, sementara pemuda yang menolong mereka masuk kedalam mobil polisi untuk dimintai keterangan. Itu sebabnya kenapa terkadang kehidupan kota begitu keras, ada segelintir manusia malas berurusan dengan polisi.

__ADS_1


Dengan raut wajah sedih wanita itu memandang tubuh atletis yang terbaring tak berdaya di hadapannya saat ini, air mata itu tak hentinya membasahi pipi mulusnya.


Hampir dua puluh menit mereka dalam perjalanan kini ambulance tiba di rumah sakit terdekat yang lumayan besar. Beberapa orang perawat keluar membantu pasien dalam keadaan kritis itu, Mora juga di tangani, lukanya segera dijahit, sementara Juna setelah pemeriksaan detak jantung ia langsung di rujuk ke ruangan IGD untuk rangkaian pemulihan selanjutnya, sementara pemilik mini bus hanya luka ringan saja juga sedikit terlihat syok.


"Ya-Allah, cobaan apa lagi ini?" Desisnya, matanya tak sanggup lagi menagis. Kelopak mata bersih nan anggun itu kini sudah membengkak, Mora memeluk lututnya kejadian tadi berputar kembali di pikirannya dan ia berteriak. Dua orang perawat wanita mendekat, berusaha memeluknya dan menenangkan wanita hamil itu. Kembali Mora sesugukan, perawat khawatir pada trauma yang wanita hamil itu alami, ia segera memberikan obat penenang agar Mora bisa beristirahat sejenak.


"Minum lah, Mbak," titah perawat itu pada Mora yang tatapannya kosong, wanita hamil itu tidak merespon sama sekali.


"Mbak," panggilnya hingga membuat wanita cantik yang sedang larut dalam pikirannya itu terperanjat dan menoleh ke arah perawat tersebut.


"Minum," ucap perawat tersebut sambil menyodorkan satu butir obat dan segelas air.


"Maaf. Saya lagi hamil," ucapnya membuat perawat itu saling pandang, salah satu dari mereka mengantikan obat tersebut.


"Yang ini aman kok buat ibu hamil, kami sebagai perawat tau apa yang boleh dan tidak untuk ibu hamil," ucapnya sambil menyodorkan obat tersebut.


Wanita cantik itu meraih obat dan segelas air mineral lalu meminumnya, tak lama setelah meminum obat dirinya merasa kantuk yang sangat berat lalu matanya terpejam.


Dua puluh menit berlalu, Mora sudah di pindahkan ke ruang rawat karena lukanya terbilang cukup parah bahkan ada serpihan kaca kecil yang masih tertinggal di lengan bagian atas, otomatis jahitan akan dibongkar kembali.


.


.


.


.


Di tempat lain setelah menerima panggilan dari polisi dan rumah sakit Rani tak langsung menuju sakit yang disebutkan, wanita modis itu tak kuasa menahan tangis, dirinya begitu merasa bersalah karena perkataannya yang menyakiti hati Juna beberapa hari yang lalu.


"Rosan!" Saat panggilan telah terhubung, tanpa mengucapkan salam lagi ia merasakan kepanikan yang luar biasa.


"Kenapa mama panik gitu." Rosan berusaha tenang, dirinya paham karakter ibunya yang panik tak sanggup melakukan apapun lagi, wanita modis itu begitu lemah.


"Juna kecelakaan dan dia sekarang di rumah sakit," jelas Rani dengan suara bergetar.


"Mama tunggu di rumah aja, Rosan segera kesana," jawabnya singkat, panggilan pun berakhir.

__ADS_1


Di belakang Rani ada Yasna yang mendengarkan pembicaraannya dengan Rosan, wanita itu terlihat sedikit khawatir juga ada rasa senang, wajahnya begitu sulit di artikan.


"Ma, mas Juna kecelakaan?" Tanya Yasna dengan memasang wajah panik mendekat kearah Rani yang duduk di ruang tamu.


"Iya," lirihnya, air mata yang terus berjatuhan membuat suaranya tercekat.


Hampir empat puluh menit menunggu Rosan belum juga tiba, Rani yang gundah sudah mulai hilang kesabarannya. Tertatih dengan lutut gemetar ia berjalan menuju garasi hendak mengeluarkan mobil miliknya, percuma pikirnya menunggu Rosan yang tak kunjung datang.


Tin ... Tin ....


Klakson mobil Rosan terdengar memekik keras di luar pagar, bik Inah tergesa-gesa menuju gerbang dan membukakan pagar.


Wanita modis itu menghentikan langkahnya, menuju gerbang, Yasna mengekor di belakang Rani.


"Yasna ikut!" Pekik wanita berbibir tebal itu, Rani tak merespon sama sekali begitu juga Rosan.


"Bik. Kami berangkat, baik-baik di rumah Bik," teriak Rosan yang hanya di sambut dengan anggukan oleh bik Inah.


Rosan memacukan kendaraannya dengan tenang, laki-laki berwajah Turki itu selalu terlihat tenang walaupun dalam hatinya penuh kekacauan. Istrinya mengelus punggung suaminya pelan sebagai tanda menyuruh bersabar dan tabah.


Butuh waktu lima puluh menit lebih kurangnya untuk sampai di rumah sakit yang di sebutkan oleh pihak rumah sakit tersebut, karena rumah sakit terdekat dengan tempat kejadian perkara namun jauh dari kediaman Rani.


Di halaman rumah sakit Rosan memarkirkan mobilnya masih dalam keadaan tenang, walau ocehan Yasna saat di dalam mobil membuat kepalanya hampir meledak, Rosan menyadari Yasna adalah duri dalam daging namun ia biarkan untuk sementara waktu karena orang tuanya begitu menyayangi Yasna.


Mereke berempat menyusuri koridor rumah sakit, bertanya pada perawat yang berjaga nomor kamar Mora dan ruang IGD, tak ada seorang ibu mampu melihat anaknya dalam keadaan terluka.


Perawat mengantarkan mereka keruang IGD namun melarang untuk masuk karena pasien masih dalam keadaan kritis, Rani hanya mengintip sekilas tubuh atletis yang terbaring tak berdaya itu, wanita modis itu memutuskan menuju keruangan rawat Mora yang sudah di sebutkan oleh perawat.


Perlahan tangan Rani membuka handle pintu, sementara Rosan, Adiba dan Yasna hanya mengikuti saja kemana Rani pergi.


Melihat Mora yang terbaru lemah di atas tempat tidur, wanita hamil itu masih tertidur dalam pengaruh obat penenang, Rani menarik kursi kecil lalu duduk wanita modis itu meraih tangan Mora dan mengecupnya.


"Kenapa ujian dalam hidup kalian begitu berat. Apa ini karena kesalahan masa lalu Juna sehingga kamu ikut merasakannya," lirih Rani, namun Mora tak menunjukkan respon apapun.


"Udah deh, Ma. Ga usah salahkan mas Juna, emang dasarnya wanita ini pembawa sial," celetuk Yasna membuat Rosan dan Adiba beristighfar.


"Jaga mulutmu, Yasna," ucap Rani pelan, dirinya tak ingin membangunkan Mora yang sedang beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2