KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 45


__ADS_3

Di rumahnya Putri memasukkan beberapa pakaian kedalam koper, kini ia dan putri kecilnya harus angkat kaki dari daerah tropis ini sementara waktu.


Saat semua sudah ia siapkan suara Bell berbunyi nyaring, wanita berambut pirang itu terperanjat.


"Sial," gumam Putri lalu menuju gerbang untuk mengecek siapa yang datang sementara hari sudah hampir magrib.


"Saya mau tanya sesuatu sama kamu, Putri," ucap Rosan memandang lekat wajah gugup Putri yang berlahan mundur memberi jarak pada Rosan yang terus saja memaksa dirinya untuk bisa masuk kedalam rumah.


"Bisa, silakan duduk!" Wanita berambut pirang itu mempersilakan Rosan duduk di teras.


"Kamu juga duduk, hanya sebentar," ucap Rosan, ia mengambil gawainya dan menyalakan rekaman yang tidak Putri sadari.


Sebelumnya Rosan berpamitan terlebih dahulu sama Juna untuk segera pulang karena kasihan Adiba tinggal sendiri tanpa ada yang menjaga.


Nyatanya Rosan hanya berbohong, laki-laki bertubuh sispack dan berwajah Turki itu pergi kerumah Juna dan bertanya pada tetangga Juna tentang kejadian apa saja terjadi sebelum Mora terjatuh, tetangga Juna menjelaskan ada mobil yang tidak ia kenal saat gerimis berhenti di depan rumah Juna, Rosan yang dapat menyimpulkan bahwa itu pasti Putri yang datang.


"Kamu ngambil Cika dari mama? Kenapa kamu tau kalo Cika sama Mama, bukannya kamu nitip anak kamu sama Juna?" Rosan memberondong beberapa pertanyaan pada wanita beranak satu itu.


"Eum ... Itu ... Tau dari Juna."


"Heum, bohong!" Nada suara Rosan meninggi membuat wanita berambut pirang itu semakin gugup.


"Ga bohong, beneran deh, kan aku nitip sama Juna ya aku tanya sama Juna," jawabnya angkuh, mencoba menetralkan rasa gugupnya, Rosan yang mendengar pengakuan Putri tersenyum miring.


"Setelah mengumpulkan bukti bersiaplah masuk kejeruji besi tuan Putri," ungkap Rosan tersenyum tipis.


"Ma ... Maksud kamu apa, Kak?" Putri gelagapan menangapi perkataan Rosan yang bersikap santai.


"Ga ada maksud apa-apa, saya permisi," ucap Rosan bangkit dari duduknya.


"Kak Rosan tunggu dulu. Aku kerumah Juna dulu tadi sebelum kerumah mama, tapi aku lihat Mora sudah jatuh dan berdarah. Aku takut di tuduh jadi aku pulang aja," dusta Putri menatap ragu kearah Rosan yang berdiri membelakangi dirinya.


"Tidak usah berbohong. Setelah Mora sadar juga akan terungkap semuanya," papar Rosan sambil tersenyum miring dan mata yang menatap tajam ke arah lain.


Langkah laki-laki bertubuh sispack itu ia ayunkan pelan meninggalkan Putri yang mematung menatap punggung Rosan yang terus berlalu.


Tergesa Putri kembali masuk untuk mengemasi barang-barang, ia akan tinggal di hotel sampai besok pagi, bukan polisi yang teramat ia takuti tapi Juna, ia sedikitnya paham pada sikap Juna, jika orang yang ia cintai terluka maka orang yang mencelakai akan menjemput ajalnya cepat atau lambat.


Laki-laki berwajah Turki itu kembali pulang kerumahnya, tak tega ia jika harus meninggalkan istrinya lebih larut lagi.

__ADS_1


.


.


.


____


Di rumah sakit Juna menatap nanar kearah istrinya yang terbaring tak berdaya.


"Cepatlah sadar, bukannya kamu wanita kuat," lirihnya, sesaat setelah ia diperbolehkan melihat istrinya yang pucat pasi di ruang rawat. Juna menarik kursi lalu mendekat kearah Mora yang terbaring.


"Bertahanlah demi aku dan anak kita," gumamnya membelai rambut mulus Mora, meringsut sedikit lalu mencium keningnya.


"Aku sangat mencintaimu." Juna beralih mengecup punggung tangan wanita yang teramat ia cintai itu.


Dadanya terasa begitu sesak, mengingat dirinya telah gagal kembali menjaga wanita yang bertahta di hatinya.


Perawat yang berjaga menyaksikan kepiluan di hati Juna, wanita berambut pendek dan berpakaian putih itu menyeka sudut matanya, seperti ikut terhanyut dalam suasana duka.


"Biarkan pasien beristirahat, Pak," ujar perawat itu. Mau tak mau Juna harus meninggalkan Mora kembali dalam kesendirian.


Perawat segera memeriksakan keadaan Mora lalu segera memanggil dokter agar memeriksa keadaan Mora dengan detail, sementara Juna terus saja berdoa agar sang maha kuasa kembali menyatukan hubungan mereka.


Kakinya mundur beberapa langkah meninggalkan ruangan Mora yang akan di tutup, membiarkan Mora di periksa secara leluasa oleh dokter.


Beberapa menit berlalu dokter keluar sambil menghela napas.


"Keluarga pasien?" Dokter bertanya sambil menatap Juna yang terduduk di bangku tunggu. Juna mengangguk lalu berdiri mendekat kearah dokter.


"Pasien sudah siuman, ia ingin segera bertemu dengan anda. Pasien masih dalam keadaan trauma, sebaiknya anda menjaganya sebaik mungkin," papar dokter.


"Baik, saya akan menjaganya sekuat dan semampu saya, Dokter," kata Juna dengan hati yang pilu, rasa kegagalan menjaga bidadarinya membuatnya merasa bersalah.


"Sayang." Juna berjalan tergesa mendekati pembaringan Mora, tubuh mungil duduk bersandar sambil menatap gusar ke pojok ruangan.


"Mas. Aku takut, Putri ... Putri ...." Suaranya tercekat, air mata Mora terus saja membanjiri pipi mulusnya.


"Putri kenapa?" Tanya Juna memeluk tubuh mungil Mora, berharap wanita yang ia cintai itu lebih kuat.

__ADS_1


"Putri mendorongku, sepertinya ia ingin menghilangkan nyawa anak kita," lirihnya, tubuh mungil itu bergetar hebat, Juna yang mendengar penuturan Mora mengepalkan tangannya dengan kuat.


Laki-laki bertubuh atletis itu berusaha mengontrol emosinya yang akan meledak, lagi pula tak mungkin mencari keberadaan Putri dalam keadaan seperti ini.


Tangan kekar itu terus saja mengusap rambut indah Mora dengan lembut, berusaha memenangkan wanita yang teramat ia cintai, tak lama dengkuran halus terdengar dari bibir ranum Mora.


Dengan lembut laki-laki bertubuh atletis itu membaringkan tubuh mungil Mora, meninggalkan tubuh mungil itu sementara waktu untuk mencari makanan.


Tak lama ia kembali keruangan Mora setelah mengisi perutnya, tak lupa ia membawa roti untuk Mora yang baru saja terbangun dari komanya. Sampainya di ruangan laki-laki bertubuh atletis itu terperanjat tak menemukan istrinya di atas tempat pembaringan.


"Mora!" Mencari dan mengintai seluruh ruangan.


Hatinya pilu melihat Mora meringkuk di sudut ruangan dengan rambut berantakan dan tubuh bergetar karena tangisan yang ia tahan.


"Sayang." Juna berlahan mendekat dan membantu tubuh mungil itu bangkit.


"Putri di sini!" Menunjuk kesembarang arah.


"Tidak ada, Sayang. Jika dia di sini akan kulenyapkan dia," ucap Juna, tangannya menarik tubuh mungil Mora yang berusaha menghindar.


"Jangan tinggalin aku sendiri." Mata Mora terus mengintai seluruh ruangan dan menatap kearah pintu.


Juna berusaha membaringkan tubuh Mora yang berusaha memberontak, lalu menekan tombol Nurse Call agar dokter segera datang agar Mora di periksa dan di berikan obat. Tak lama dokter datang dan memeriksa keadaan Mora, setelah selesai dokter mendekat kearah Juna yang duduk lesu di sofa.


"Pak Juna. Biasa kita bicara sebentar?" Tanya dokter yang tepat berada di hadapan Juna yang masih duduk memegang pekanya dengan kedua tangan sambil menunduk, ia tak menyadari keberadaan dokter di hadapannya.


"Pak Juna!" Dokter meninggikan suaranya agar Juna mendengarnya.


"Eh. Iya, Dokter," ucap Juna pelan, lalu bangkit dari duduknya.


"Ada apa, Dokter?" Tanya Juna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kita bicara di ruangan saya, mumpung istri anda sedang tertidur," ucap dokter lalu meninggalkan ruangan Mora, Juna mengekor di belakang dokter.


"Jadi begini ... Istri anda mengalami gangguan depresi Mayor, anda sebagi suami harus siaga menjaga istri anda, juga pengobatan secara rutin agar istri anda segera pulih," jelas dokter sambil menuliskan sesuatu di atas kertas yang terletak di meja di ruangannya.


"Baik, Dokter," hanya itu yang mampu laki-laki bertubuh atletis itu sampaikan.


Dalam otaknya berputar menyusun cara agar ia dapat segera pulang dari rumah sakit dan melancarkan rencananya untuk segera menghabisi Putri.

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul delapan malam, awan masih bergelayut manja, bintang-bintang bersembunyi di balik awan yang bergelantungan, tubuh atletis itu tak beranjak dari sisi Mora, tangan kekar itu terus menggenggam tangan halus Mora yang sedang terlelap efek dari obat penenang dan sesekali mengecupnya, tak lama Juna Andara ikut terlelap dengan kepala menunduk di samping tubuh Mora.


__ADS_2