
"Kak. Bisa tidak jangan uang aja yang ada di otak Kakak?" Hardik Aqila, menatap kakaknya dengan tatapan nyalang. Selalu Yuli-- kakak kandung Aqila meminta uang padanya dengan alasan beragam.
"Kenyataanya aku butuh, Qi," jawabnya menatap adiknya sendu. Aqila terdiam sejenak, menahan sejuta rasa kadang berpikir ia ingin menyerah untuk memberi nafkah pada keluarganya, tapi kembali berpikir pada ibunya yang terbaring sakit.
"Lihat ibu, ibu butuh berobat," ujar Yuli mencari pembenaran diri, selau alasan untuk membeli obat untuk ibu, padahal uang yang Aqila berikan ia gunakan untuk mentraktir temannya bahkan nongkrong sampai larut malam.
"Ga usah alasan deh, Kak. Aqila capek, Aqila kerja, uang ga pernah nyisa. Bahkan Aqila hutang sana sini demi ibu. Coba Kakak kerja, biar ga minta terus sama Aqila." Jelas gadis itu menahan tangisnya. Dadanya terasa sesak, bukan karena pelit pada ibunya tapi mengingat dirinya tak ada waktu istirahat sama sekali, bahkan wanita berhijab itu rela menjadi buruh cuci demi menutupi hutang ibunya.
"Pelit kamu, Qi," ucap Yuli lalu berlalu meninggalkan Aqila yang mematung dan menjatuhkan jutaan bulir bening.
Aqila menyuruh kakaknya untuk menjaga ibunya yang sakit, tak apa jika Aqila bekerja semua demi ibu. Namun Yuli memiliki hati yang jauh berbeda dengan Aqila, ia tak pernah jujur bahkan kadang rela meninggalkan ibunya sendiri di rumah.
"Maafin Qila, Buk," tubuh Aqila merosot lemah di samping tubuh ibunya yang terbaring tak bisa berbicara, ia hanya mengedipkan mata lalu ikut menangis, hati Aqila semakin hancur melihat ibunya menangis.
Gadis cantik itu mempersiapkan dirinya untuk segera berangkat ke restoran tempat ia bekerja, setelan sederhana juga simple dan tak membuat dirinya repot saat mengantarkan makanan. Aqila berpamitan mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya walau tanpa respon. Kali ini ia yakin Yuli tak mau menjaga ibunya karena Aqila tak memberikan uang padanya tadi.
Gadis itu keluar rumah, menuju rumah tetangganya dan memintanya menjaga ibunya dan berjanji akan membayarnya jika nanti ia pulang. Tetangganya menyetujui permintaan Aqila karena kasihan pada anak yatim yang ada di hadapannya saat ini,para tetangga tak pernah merasa kasihan pada Yuli karena dia suka keluyuran kemana yang ia kehendaki.
Manaiki motor bebek peninggalan mendiang ayahnya kini Aqila sampai di tempat tujuan, walau memakan waktu dua puluh menit.
"Pagi semua!" Sapa Aqila pada temannya yang terlebih dahulu sampai. Tanpa ia sadari ada pemilik restoran di sana.
"Kenapa terlambat, Qila?" Tanya Andresa dengan nada ketus. Aqila melirik jam tangannya baru menunjukkan pukul sembilan lewat lima, jadi dirinya hanya terlambat lima menit.
"Cuma lima menit, Bos," kata Aqila berlalu meninggalkan mereka, ia menuju dapur.
"Qila tunggu!" Hardiknya. Wanita berhijab itu menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Bos?" Aqila mengernyitkan dahinya.
"Saya mau karyawan disiplin. Bukan datang sesuka hati," jelasnya menatap manik mata Aqila lekat. Sementara Juna duduk di pojokan bahkan Aqila tak melihat dirinya sama sekali, laki-laki itu benar-benar penasaran rupanya pada sosok Aqila yang suka tertutup.
"Maaf, Bos. Ibu saya sakit jadi tadi saya titip di rawat sama tetangga sebentar," jawabnya jujur.
"Saya tidak menerima alasan apa pun," kata Andresa. Padahal Aqila hanya terlambat lima menit, baginya itu hal bisa namun bagi Andresa sangat penting disiplin.
"Bukan alasan tapi kenyataan," jelas Aqila kembali. Sementara Juna hanya menyimak perdebatan mereka.
"Apa pun itu, disiplin sangat penting bagi saya. Jika melanggar bersiaplah untuk tidak bekerja lagi di sini," tegasnya. Mendengar kata pergi dari sini Aqila memutar badan lalu keluar dari restoran tersebut. Toh selama bekerja di situ dia meminta gajinya harian agar mencukupi kebutuhan dirinya dan ibunya.
__ADS_1
Bukan egois, hanya saja Aqila wanita tak menerima kekalahan jika ia benar sekali pun itu adalah bosnya sendiri. Sementara Juna melihat Aqila keluar dia segera menyusulnya.
"Hei, mau kemana?" Tanya Juna pada Aqila yang mematung. Mata wanita itu berkaca-kaca.
"Saya capek di atur-atur. Semua mengatur hidup saya, bahkan kakak kandung saya sendiri," jelas Aqila, entak kenapa gadis cantik itu kini menceritakan masalahnya, padahal ia begitu tertutup pada orang baru. "Maaf, Pak. Saya ga berniat menambah beban pikiran anda," sambungnya.
Gadis cantik itu melangkah menjauh dari Juna, tapi Juna terus saja mengikutinya.
"Bagaimana jika ikut saya," tawar Juna, langkahnya terus saja mengikuti Aqila.
"Maaf, untuk jadi wanita malam kah? Jika iya saya menolaknya." Begitu buruk penilaian Aqila pada Juna, namun Juna hanya tersenyum menanggapi perkataan Aqila.
"Bukan...."
"Berhenti mengikuti saya, Tuan!" Perintah Aqila, membuat Juna memegang dadanya, langkanya melambat. Kata-kata yang pernah keluar dari mulut mendiang istrinya. Mendengar langkah Juna melambat dan tanpa suara lagi Aqila menoleh, matanya membulat melihat Juna memegangi dadanya sambil menunduk.
Sakit, seolah ada bongkahan batu yang menghimpit di sana.
"Anda kenapa, Tuan?" Tanyanya mendekat kearah Juna. Laki-laki bertubuh atletis itu menggeleng pelan. Aqila menuntunnya duduk menepi duduk di depan toko orang sebentar.
"Saya bisa antar Tuan pulang jika anda berkenan," ucapnya lagi.
Gadis berhijab itu masuk kedalam toko untuk membeli air mineral dan memberikan pada Juna, Juna menerima dan menegaknya hingga tandas setengahnya.
"Kamu di pecat?" Akhirnya Juna berbasa-basi agar Aqila tak lagi marah pada dirinya.
"Ya. Begitulah jika kaya, semena-mena. Tak pernah menghargai pendapat orang lain," ujar Aqila.
"Ya sebagian. Tapi saya tidak."
"Entahlah."
"Bisa kan kamu kerja sama saya. Jadi asisten pribadinya saya. Kebetulan sedang sangat saya butuhkan," jelas Juna, memang laki-laki itu sedang mencari asisten pribadinya untuk membantu pekerjaannya.
Sambil menyelam minum air, kesempatan emas jika Aqila menerima permintaannya.
"Saya tidak berpengalaman urusan perkantoran," jawab wanita berhijab itu jujur.
"Nanti saya ajarkan. Yang penting kamu mau belajar, gaji juga lumayan jika di bandingkan dengan kerja di restoran," ucap Juna.
__ADS_1
Mendengar gaji yang lumayan membuat gadis itu bersemangat, bagaimana tidak ia akan mampu membiayai ibunya untuk berobat ke dokter.
"Baiklah. Saya setuju," jawab Aqila. "Ouh ia saya belum tau nama Bapak siapa," sabung gadis berhijab itu.
"Nama saya Juna. Hari ini saya tidak masuk kantor karena ada kepentingan lain, bisa tidak kita jalan-jalan sebentar sebelum pertemuan kita yang selanjutnya? Ini kartu nama saya, ada alamatnya juga," kata Juna lalu pria itu menyodorkan kartu namanya.
"Terima kasih, Pak Juna. Terimakasih atas tawarannya tapi saya harus pulang, kasihan ibu saya sakit," jelas Aqila dengan mata berembun.
"Saya ikut," jawab Juna singkat. Tangannya refleks menarik tangan Aqila menuju mobil miliknya yang tak jauh di parkiran restoran.
"Pak ...."
Juna menghentikan langkahnya, baru menyadari apa yang ia lakukan. Segera tangan putih bersih itu ia lepaskan.
"Maaf." Juna menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Jujur saat ini ia sedang salah tingkah.
"Motor saya ada di sana." Wanita berhijab itu menunjukkan motor bebek yang terparkir de sebrang jalan depan restoran.
"Ya sudah, kamu naik motor aja. Biar saya susul di belakang."
Wanita berhijab itu menuju motor bebek kesayangannya, peninggalan mendiang ayahnya yang tak akan pernah ia jual.
______
Sementara sedih menyelimuti dua hati yang sedang rapuh. Rosan menatap nanar keluar jendela, semenjak mereka tinggal di lingkungan pesantren jauh lebih tenang dan damai. Rosan terus saja memperhatikan apa yang dilakukan istrinya.
Wanita cantik dengan balutan hijab syar'i itu berseda gurau dengan anak-anak pasantren hingga tawa mereka terdengar keras, seolah tak ada beban apa pun di pundak Adiba padahal dirinya begitu gundah saat orang-orang menanyakan kapan ia akan memiliki momongan.
'Adiba. Jika Tuhan menghendaki aku ikhlas jika ada yang mencintaimu,' batin Rosan lalu menyentuh dadanya yang terasa nyeri.
Bukan tak setia, hanya saja keadaan berbada, laki-laki mandul yang harus mengkonsumsi obat-obatan dan makanan sehat setiap hari.
Rosan terus saja memperhatikan istrinya yang menyentuh kepanya dan tak lama setelahnya tubuh berbalut pakaian syar'i itu ambruk ke tanah.
"Adiba...." Teriak Rosan dan berlari keluar.
Suasana panik menyelimuti para santri, mereka bingung harus berbuat apa.
"Kak. Bawa kerumah sakit aja. Biar saya keluarkan mobil Kakak," ucap salah satu santri. Sementara Rosan hanya mengangguk setuju.
__ADS_1
Bersambung....