KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 16


__ADS_3

Laki-laki bertubuh atletis itu mengantar Aqila dengan hati yang berbunga. Walau hanya wajah saja yang mirip tapi dirinya merasakan sosok Mora ada pada diri Aqila, hanya saja Aqila wanita pemberani berbeda dengan Mora wanita pemalu.


Senyumnya merekah memandang langit kamarnya saat ini, menangkupkan tangannya pada pipinya sendiri lalu menangkupkan pada udara kosong, sekelebat bayangan kekasih hadir dalam agan. Rindu masih tak bertemu juga hati masih belum bertuan.


Berlahan mata itu terpejam dalam kemelut kerinduan yang mendalam pada kekasih yang masih dalam angan, akankah rindu terbalaskan atau hanya sebatas angan.


'Kamu pasti kumiliki,' lirihnya. Sekuat itu tekatnya untuk mendapatkan bayang-bayang masa lalunya itu setelahnya ia menuju kealam mimpi sekedar bertemu dengan angan yang belum kunjung usai.


___


Berada di tempat berbeda Aqila duduk di kursi memandangi langit bertaburan bintang melalui jendela rumah sakit, hati itu gundah memikirkan bagaimana agar wanita yang telah merawat dirinya selama ini cepat sembuh, matanya beralih menatap sang ibu yang telah terlelap.


'Cepat sembuh, Buk.' Gadis berkerudung itu merindukan ibunya saat menyuapinya makan. Aqila gadis manja walau sudah dewasa tapi ibunya memperlakukan dirinya dengan lembut dan seperti anak kecil. Saat ibunya jatuh sakit kehidupannya berubah sembilan puluh derajat, tubuh mungil itu dipaksa bekerja keras, dipaksa dewasa. Ia bangkit lalu mendekati ibunya yang terbaring lemah dan sudah terlelap, mencium tangan sang ibu dengan lembut.


"Buk. Aqila kangen di manja sama Ibuk," lirihnya. Tubuh mungil itu tertidur di samping ibundanya. Jangan tanyakan sang kakak yang entah di mana, gadis itu tak pernah peduli pada keadaan ibunya, gadis itu terlalu sibuk dengan dunianya.


Hingga tanpa terasa pagi menyapa, hawa dingin terasa menembus tulang. Seperti biasanya hari ini Aqila kembali bekerja di perusahaan Juna, mereka hari ini ada janji untuk bertemu lebih awal namun gadis itu terlambat sepertinya.


Aqila mencium punggung tangan ibunya yang masih terlelap, tergesa untuk segera pulang ke rumah untuk bersiap masuk kantor, beruntung jalanan belum macet sehingga wanita cantik itu bisa lebih cepat memacu kendaraannya.


Setibanya di rumah mata Aqila membola sempurna melihat sang kakak bersama seorang laki-laki dalam keadaan tanpa busana.


"Kak," pekik Aqila, tubuh mungil itu masih di ambang pintu. Yuli mengucek matanya lalu melihat Aqila di ambang pintu, segera gadis itu menarik selimut dan menutup tubuhnya dan tubuh kekasihnya.


"Kelakuan luar biasa saat ga ada orang di rumah," kata Aqila. Gadis berhijab itu meremas bajunya kesal.


"Apa urusanmu, Qila? Aku mencari uang seperti permintaan kamu," ucapnya tersenyum miring kearah sang adik yang masih mematung.


"Gila, aku menyuruh Kakak cari kerja yang halal. Bukan jadi l*nte," teriaknya. Kesal sekali rasanya. Tubuh mungil itu berlalu kekamarnya untuk mandi dan menggantikan pakaian setelahnya berangkat kerja.


Pikiran Yuli terlalu pendek, dirinya tak pernah paham untuk bekerja, mendiang ayahnya terlalu memanjakan dirinya dengan uang hingga Yuli tumbuh menjadi anak pembangkang.

__ADS_1


___


"Maaf, Pak. Saya terlambat," ucap Aqila saat baru tiba di kantor mendapati Juna sedang berada di depan komputer, harusnya Aqila duduk disitu dan Juna tepat didepan Aqila. Sengaja mengatur posisi seperti itu agar setiap saat Juna dapa memandang wajah Aqila.


"Ya," jawabnya singkat. Membuat gadis berhijab itu mengdikkan bahunya. Cukup lama Aqila berdiri dihadapan Juna namun laki-laki itu abai seolah tak peduli dan enggan beranjak dari kursi yang disediakan untuk Aqila.


Merasa jenuh gadis itu membalikkan badannya, rencananya ia akan meninggalkan ruangan ini jika sudah tak dibutuhkan. Kenapa harus mengemis pada orang kaya jika bisa bekerja di tempat lain, toh semuanya sama saja asalkan halal. Baru satu langkah Aqila mengayunkan langkahnya dengan sigap tangan Juna meraih tangan Aqila dan menariknya hingga Aqila jatuh dalam pelukan Juna, beberapa kian detik mata itu saling bertatapan membuat getaran hebat dalam dada keduanya.


"Maaf, Pak." Ucap Aqila lalu bangkit dengan sedikit susah, wajah manis itu bersemu sambil menunduk.


"Maafkan saya juga, Aqila," ujar Juna. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.


Juna bangkit dari kursi lalu menuju mejanya. Laki-laki bertubuh atletis itu sebenarnya ingin marah saat sekretarisnya datang terlambat dan tidak mematuhi aturan, tapi dirinya sadar tak sanggup marah pada Aqila karena gadis itu separuh hatinya yang patah dahulu.


"Qila."


"Ya, Pak," jawab Aqila yang baru saja menjatuhkan bokongnya di kursi empuk yang tersedia untuk dirinya.


"Baik, Pak," tangan itu mengerjakan laporan keuangan dan beberapa kali salah klik hingga data hilang, pipi Aqila bersemu, dirinya saat ini diserang kepanikan jika laporan akan hilang permanen maka akan berdampak buruk pada perusahaan. Juna memperhatikan tingkah Aqila lalu ia mendekat pada gadis berhijab itu.


"Ada apa?" Tanya Juna sambil mengintip komputer dihadapan Aqila.


"Bagaimana ini salah klik. Datanya hilang, Pak," kata Aqila dengan wajah panik.


"Kamu harus tanggung jawab. Kenapa tadi tak bertanya jika ada yang tidak kamu pahami." Goda Juna mengulum senyum.


"Tanggung jawabnya gimana?" Matanya mulai berkaca-kaca, ternyata Aqila benar-benar merasa bersalah. Dirinya belum paham betul tentang komputer, padahal data yang terhapus masih bisa di pulihkan jika belum lama.


"Kamu harus traktir saya ...." Suaranya terjeda saat panggilan masuk ke gawai milik Aqila.


"Siapa?" Tanya Juna dengan tatapan tak biasa, rasa cemburu kini menguasai dirinya, laki-laki itu ikut memandang gawai yang terletak di meja.

__ADS_1


"Ga tau, Pak." Tangannya meraih benda pipih miliknya.


"Angkat!" Seru Juna. Laki-laki itu khawatir jika yang menelpon adalah kekasih Aqila maka dirinya saat ini sebagai perusak hubungan orang lain.


"Assalamualaikum, dengan ibu Aqila?" salam dari sebrang sana dengan ucapan khas yang lembut.


"Ya. Saya sendiri, ada apa ya, Mbak?" Alisnya bertaut heran begitu juga Juna.


"Ibu anda saat ini sedang kritis, pihak rumah sakit berharap ibu bisa segera datang ke rumah sakit," jelasnya, lalu panggilan terputus.


Aqila memegang dadanya yang terasa nyeri, wanita yang telah melahirkannya tak mampu berjuang melawan sakit di tubuh ringkihnya lagi.


"Ada apa?" Tanya Juna panik.


"Ibu ... Ibu ...." Suaranya tercekat, rasanya tenggorokannya saat ini ada batu yang mengganjal, matanya berkaca-kaca sesaat setelahnya bulir bening itu luruh. Juna mengabil air yang ada di gelas lalu memberikan pada Aqila agar gadis berhijab itu sedikit lega.


"Ibu kenapa?" Tanya Juna kembali, setelah Aqila meneguk air putih hingga tandas.


"Ibu kritisi," ujarnya. Juna yang tadinya senang menggoda Aqila kini tampak serius. Laki-laki bertubuh atletis itu segera menarik lengan Aqila sedikit kasar agar tubuh mungil itu tak lagi terpaku, Aqila seperti orang linglung yang mengikuti langkah Juna. Semua mata karyawan memperhatikan mereka yang terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


Laki-laki bertubuh atletis itu seolah memaksa Aqila memasuki mobil miliknya sementara karyawan memperhatikan mereka dengan raut kesal.


"Hei, sepertinya ada benih cinta di sana," celetuk Clara si gadis berkaca mata sambil melirik kearah Lolita yang memperhatikan mereka dengan raut kesal.


"Di sini sudah lama. Tapi masa iya gadis kampung itu mampu merebut hati Pak Juna. Kayaknya ga mungkin. Gadis kampung itu ga seksi kayak aku," seloroh Lolita terbahak membuat karyawati lainnya tersenyum sinis. Pasalnya mereka semua tahu pak Juna Andara tak pernah menyukai wanita yang mengumbar aurat.


"Sejak kapan pak Juna suka cewek seksi," timpal Winda tanpa menoleh kearah Lolita, gadis tinggi semampai itu sibuk memperhatikan layar komputer miliknya. Lolita berdecak kesal mendengar penuturan Winda.


"Sialan, Lo." Umpatnya lalu kembali duduk di kursinya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2