KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 31


__ADS_3

"Cinta sejati tak pernah mengkhianati," kata Mora lirih.


"Ya. Aku tidak akan berkhianat, jika aku berkhianat maka akan kupastikan dunia dan seisinya akan membenciku," papar Juna, mata keduanya saling beradu, darah berdesir membuat jantung keduanya dua kali lebih cepat berpacu.


"Aku mencintaimu." Demi apa seorang piskopat berubah menjadi sebucin ini. Wajah Juna mendekat kearah Mora hingga tak berjarak, mata Mora terpejam merasakan hangatnya napas yang saling memburu, Juna menatap istrinya itu penuh arti, bibir keduanya kini menyatu sempurna, ******* bibir ranum Mora. Akankah malam ini menjadi malam syahdu untuk mereka?


Laki-laki bertubuh atletis itu mengendong tubuh mungil Mora kemudian membaringkannya di tempat tidur. Mora Cantika tersipu malu, pipinya bersemu, Juna ikut berbaring di samping pujaan hatinya, tubuh keduanya tak berjarak bahkan napas keduanya saling terasa.


"Apa kamu mencintaiku?" Tanya Juna menatap manik mata Mora lekat.


Iya. Aku mencintaimu di alam sadarku saat ini," jawab wanita lugu itu.


Tangan Mora mengelus pelan pipi mulus suaminya, Juna menghentikan gerak tangan Mora yang terus mengusap wajahnya, tangan Mora ia letakkan di tengkuknya. Juna mengecup lembut bibir Mora dengan penuh kasih sayang, ********** hingga mereka saling terlarut dalam kenikmatan dan berpeluh bersama, keduanya melakukan tanpa ada paksaan sedikit pun. Tuhan begitu cepat menyembuhkan luka di hati Mora, entah dari apa hati itu diciptakan.


____


Adzan subuh berkumandang, wanita cantik yang masih dalam pelukan suaminya itu terbangun, matanya memandang tiap inci wajah suaminya dengan seksama.


"Semoga Allah menjagaku dan kamu juga anak kita nanti," lirihnya, namun suaranya membuat sang suami terbangun.


"Ayo mandi dan salat subuh," ucap Mora, menyentuh pelan hidung suaminya, wanita cantik itu melonggarkan pelukannya namun Juna semakin meluknya erat.


"Sebentar lagi." Ia mencium tengkuk istrinya itu.


"Mas. Nanti keburu terang," jelas Mora lalu ia berbalik dan menatap Juna kembali.


"Mandi bareng!" Laki-laki bertubuh atletis itu bangkit, mengambil handuk lalu menuju kamar mandi dan disusul oleh Mora.


Menghabiskan waktu beberapa saat dalam kamar mandi, mereka keluar dengan rambut yang basah. Memakai pakaian lalu menghadap sang ilahi. Keduanya larut dalam salat hingga salam terakhir, Mora memanjatkan doa untuk kebutuhan cinta dalam ikatan suci pernikahan, mengingat ada hati lain yang terluka olehnya. Mora mencium tangan laki-laki bergelar suami itu dan dibalas dengan kecupan di kening Mora.


"Aku mencintaimu dunia akhirat," desisnya nyaris tak terdengar.


"Apa, Mas?" Wanita lugu itu mengernyitkan dahinya.


"Aku tak pernah menginginkan perpisahan lagi," ungkap Juna, ia meraih dagu wanitanya agar bisa menatapnya dengan sempurna.


"Tuhan mencemburui hamba-Nya yang begitu mencintai mahluk-Nya," ucap Mora.


"Iya. Tapi aku begitu mencintaimu, mengharapkan aku bisa menghabiskan masa tuaku bersamamu," kata Juna, lalu menarik tangan istrinya pelan agar Mora duduk lebih dekat dengannya. Kembali kecupan sekilas mendarat di bibir ranum Mora.


"Cintai Allah melebihi cintamu padaku, agar Allah ridho," jelas Mora. Wanita itu juga takut kehilangan kekasihnya, takut jika Allah kembali menguji pernikahan mereka.


Mentari sudah terbit malu-malu, cahaya kekuningan jelas terlihat. Mereka menghabiskan malam dengan manisnya madu cinta.


Suara ketukan pintu membuat keduanya menghentikan percakapan. Wanita cantik itu ingin membukakan pintu namun dicegah oleh Juna.

__ADS_1


"Biar aku saja." Tubuh keduanya bangkit dari lantai yang belasan sajadah.


"Siapa ya, Mas?" Tanya Mora penasaran.


"Moga bukan ondel-ondel," kata Juna, Mora tersenyum mendengar Juna ikut menyematkan nama ondel-ondel pada gadis berbibir tebal itu.


Benar saja saat pintu terbuka sempurna Yasna berdiri di sana, matanya memandang Juna takjub, rambut Juna yang masih basah membuat hasrat Yasna bangkit.


"Ada apa?" Tanya Juna datar, namun Yasna bergeming. "Hey...." Sambung Juna mengibaskan tangan kewajah Yasna, seketika wanita itu mengedipkan matanya.


"Di panggil mama," jawabnya, matanya beralih menatap Mora dengan tatapan tidak suka, wanita berbibir ranum itu masih dalam balutan mukena, jika tidak maka Yasna akan merasakan cemburu yang luar biasa karena ia akan berprasangka bahwa malam ini dua insan itu sedang bulan madu.


"Oke, sebentar lagi kami turun!" Juna membalikkan badan dan melepaskan sarungnya lalu melipatnya. Yasna melirik Juna yang terlihat seksi mengunakan bokser di atas lutut.


"Heh, kamu harusnya ngaca. Kamu bukan siapa-siapa di rumah ini, jadi ga usah berharap mama akan menyayangimu," ucap Yasna saat tubuh Mora hendak berbalik.


"Saya menantunya jadi saya berhak mendapat kasih sayang mama," kata wanita berbibir ranum itu tanpa peduli apa yang di lakukan Yasna sebelumnya dan nantinya.


"Sayang. Buruan!" Juna memanggil istrinya agar segera menjauh dari Yasna, ia begitu takut jika wanita berbibir tebal itu menyuntikkan kata-kata yang membuat Mora membenci dirinya dan juga Rani.


Mora mendekati suaminya dan Yasna dengan kesal meninggalkan dua insan yang sedang dalam suasana hati bahagia. Berlahan tangan Juna membuka mukena yang menutup rambut istrinya itu, menjemur mukena yang basah karena tetesan air dari rambut Mora.


Laki-laki bertubuh atletis itu mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Mora sang ratu yang bertahta di hatinya saat ini. Usai melakukannya dan rambut istri kering mereka bergegas turun kebawah untuk sarapan, hari libur membuat mereka sedikit bisa berleha-leha dan juga sekedar menyegarkan otak dengan refreshing.


"Duduk dulu, sarapan. Ada yang ingin mama tanyakan," Ungkap Rani.


"Duduk." Mora duduk di samping Juna, laki-laki itu terlebih dahulu menarik kursi agar istrinya duduk di sampingnya. Sementara Yasna memiringkan bibirnya menatap tak suka kearah Mora.


"Ada apa, Ma?" Juna begitu penasaran dengan apa yang ingin Rani bicarakan padanya.


"Jangan bermesraan di kantor," ujar Rani membuat Mora dan Juna saling menatap.


"Bermesraan?" Juna mengernyitkan dahinya.


"Lolita mengatakan kamu dan Mora bermesraan di kantor. Istrimu di kantor sebagai sekretaris, kamu wajib menjaga perasaan karyawan kantor. Paham!" Ungkap Rani, perkataan wanita modis itu sedikit tegas dan berwibawa, namun Yasna mengira Rani marah pada Juna dan Mora, ini kesempatan baik untuknya.


"Ga ada. Kami ga pernah bermesraan, adanya cuma Mora pijit punggungku yang masuk angin," jelas Juna dengan sungguh-sungguh, tapi wajah Rani tetap datar dan sulit untuk diartikan.


" Mama jangan pecat Mora," ucap wanita mungil itu.


"Ga akan sayang." Rani bangkit dari duduknya mendekat kearah Mora lalu mengecup kepala anak yatim piatu itu.


Sebenarnya posisi menantunya dan Yasna sama di hati Rani tapi sikap Yasna membuat Rani muak dan mengabaikannya.


"Mama berangkat. Jaga image, Jun!" Rani menepuk pundak anaknya sebagai dukungan pada sang putra. Laki-laki bertubuh atletis itu hanya membalas dengan senyuman dan mengangguk, sementara bik Inah tersenyum mengamati kehangatan keluarga mereka.

__ADS_1


Wanita berbibir ranum itu telah menghabiskan makanannya begitu juga Juna, lekas ia mengambil piring dan gelas lalu mencucinya di wastafel, tak peduli suaminya dan bik Inah mencegahnya, sementara Yasna memutar bola matanya malas dan menyusul Juna kelantai atas. Wanita berbibir tebal itu tak pernah mau membantu bik Inah sering memerintahkan wanita paruh baya itu malahan. Usai mencuci sedikit gelas dan piring ia menyusul suaminya kelantai atas. Sebenarnya Mora sedikit takut ketinggian namun demi sang suami ia berusaha menepis rasa itu.


Sesaat ia berdiri di luar kamar, medengar suara gaduh Yasna dan Juna, entah apa yang mereka rebutan hingga membuat beberapa benda terjatuh kelantai, Mora merenggangkan pintunya sedikit, awalnya ia ingin masuk tapi ia urungkan, Mora begitu penasaran dengan apa yang di katakan Yasna pada Juna.


"Mas aku mencintaimu." Yasna memekik keras.


"Tapi aku tidak!" Suara datar Juna terdengar jelas di telinga Mora, setidaknya dirinya yakin bahwa suaminya benar-benar mencintainya.


"Mas ... Aw...." Pekiknya kuat. Mendengar Yasna memekik, Mora mendorong pintu dan menyaksikan mereka.


"Mas!" Hardik wanita berbibir ranum itu saat melihat pakaian Yasna terkoyak dan memperlihatkan seluruh buah dadanya pada Juna.


"Ini tidak seperti apa yang kamu lihat, Sayang." Laki-laki bertubuh atletis itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Cukup kebohongan kemarin, Mas. Tidak usah bersandiwara lagi. Aku lelah!" Mora menjatuhkan bulir bening.


"Mas Juna memaksaku untuk melayaninya, Mora!" Dustanya, wanita berbibir tebal itu menangis tersedu, seolah Juna benar memaksa dirinya. Licik sekali.


"Jangan percaya dia, Mora. Aku suamimu, aku berani bersumpah," ucap Juna panik, ia begitu takut kehilangan Mora yang baru saja ia miliki.


"Ga ada maling yang mau ngaku, Mas!" Kata Yasna Sabil menyeka air mata buayanya lalu berlari keluar kamar.


Mora masih tergugu, wanita cantik itu duduk di sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Tak ada wanita yang tak cemburu melihat suaminya memandang tubuh wanita lain selain dirinya.


"Mora." Juna mendekat kearah Mora lalu membelai rambutnya pelan.


"Jangan dengarkan wanita ****** itu," geramnya. Giginya saling beradu seakan patah.


"Lalu?" Tanya Mora dengan suara bergetar.


"Lihat cctv-nya." Laki-laki bertubuh atletis itu memperlihatkan rekaman cctv yang ada di ponselnya. Mora menggeleng tak percaya pada kelakuan Yasna yang begitu licik dan murahan.


.


.


.


.


Kiss-kan author biar semangat update!


Biar cepat sembuh juga.

__ADS_1


__ADS_2