KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 42


__ADS_3

Malam kembali menyapa dengan rintik hujan yang berjatuhan lembut nan manja. Rani Mahesa membatalkan makan malamnya bersama suami tercinta.


Dua hari berlalu Yuli mesih setia dan siap dalam aksinya ingin mencelakai Rani.


"Makan di rumah aja, Nyah," ucap bik Inah saat melihat majikannya itu bimbang untuk keluar rumah karena hujan, udara di luar rumah bengitu dingin. Wanita modis itu tak ingin tubuhnya melemah nantinya mengingat jadwalnya begitu padat.


"Iya, Bik," jawab Rani setelah menghela napas panjang.


"Besok aja makan di luar, sebelum makan kita jenguk Juna dulu," ucap Yudha menatap manik mata istrinya itu.


Rani ingin menghabiskan malam bersama suaminya mengingat siang ia begitu sibuk, di tambah lagi saat ini ia harus mengurus perusahaan yang dulunya di kelola Juna.


Wanita modis itu tak merespon ucapan suaminya, dengan lesu langkahnya menuju meja makan. Ia dan suaminya duduk di sana sementara bik Inah, Yuli dan Yazid duduk di lesehan yang tak jauh dari meja makan.


Menyendok nasi kedalam pirang suaminya lalu ke piringnya, Yuli menatap sinis kearah Rani namun Rani tak menyadari hal itu.


Beberapa suap memasukkan nasi kedalam mulutnya Rani merasakan kepalanya berdenyut hebat.


"Pusing banget, Pa," ucap Rani menyentuh kepanya yang berdenyut.


"Minumlah," titah Yudha memberikan segelas air mineral pada Rani yang terlihat begitu lemah.


"Yuk kekamar aja, Pa," ajak Rani menyentuh pundak suaminya itu, sementara Yuli dan Yazid saling menatap.


Bik Inah segera bangkit dari duduknya dan membuat seglas susu untuk Rani lalu mengantarkan kekamar majikannya itu.


Dau manusia yang tak tahu diri itu segera masuk kedalam kamar usai makan malam, keduanya memekik girang lalu tersenyum puas.


"Sedikit berhasil," ucap Yuli pada Yazid dengan tatapan bahagia.


"Semoga racunnya tetap bekerja walaupun Rani sudah meminum susu," ungkap Yazid, setelahnya bibir atasnya terangkat.


"Masih butuh perjuangan!" Yuli manatap dirinya di cermin, balutan di wajahnya mampu mengecoh beberapa lalat tak berguna menurutnya.

__ADS_1


.


.


.


____


Di desa terpencil tempat tinggal Juna Andara bersama istri tercinta, malam dengan hujan gerimis yang membasahi tanah kekuningan, aroma tanah memenangkan jiwa yang lara. Mora duduk di sudut rancang sambil menyeka air matanya yang terus saja membanjiri pipi mulusnya.


"Aku akan meninggalkan Cika bersamamu, jaga dia, Juna Andara. Dia darah dagingmu?" Suara putri terus saja terngiang di telinga Mora, wanita yang bersangkutan dengan masa lalu suaminya itu sukses membuat Mora menangis tersedu.


"Jangan menangis," ucap Juna sambil mengelus rambut halus istrinya itu.


"Belenggu masa lalumu terlalu kuat, Mas. Aku tidak pernah tau sampai kapan aku sanggup bertahan," lirih wanita mungil itu, kedua tangannya menyeka sudut mata dan pipinya.


"Berhenti mengatakan itu, aku akan memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi milikku. Kamu milikku sekarang, bahkan sampai kapanpun," kata Juna lalu duduk di samping wanita cantik yang bertahta di hatinya saat ini.


"Begitu juga masa lalumu. Putri akan memperjuangkan kamu, Mas." Mora beralih menatap manik mata suaminya lekat, sementara Juna bergeming. Perkataan Mora memukul telak dirinya.


Iya, Itu yang saat ini wanita mungil itu rasakan, bukan tentang perselingkuhan tapi masa lalu yang menghantui setiap langkah mereka.


Dengan berat hati Juna melangkah meninggalkan Mora dengan kegundahannya saat ini, keduanya tak mampu mengurai belenggu masa lalu yang menganggu kehidupan dan cinta mereka.


Juna dengan cepat membuka handle pintu kamar lain yang ada di samping kamar mereka, laki-laki bertubuh atletis itu mengusap bulir bening yang hampir luruh. Matanya memandang foto copy wajah Putri yang tertidur pulas.


"Sebaiknya aku mengantarkan anak ini kerumah Mama. Maafkan aku Putri, kenapa kamu begitu tega meninggalkan darah dagingmu demi berangkat keluar negri," lirih Juna mengusap rambut halus bocah kecil yang tertidur pulas setelah seharian lelah menagis, sementara Mora memperhatikan tingkah Juna sambil membekap mulutnya sendiri, rasa sesak itu kembali dalam dadanya ketika mengingat ibu dari anak itu mencela dirinya.


FLASHBACK.


Mora dan Juna sedang menikmati makan siang di bawah pohon rambutan, suasana di luar rumah yang sejuk membuat mereka betah berlama-lama di luar rumah.


Setelah makan Mora beranjak ke dapur untuk meletakkan piring kotor saat Mora kembali ke halaman untuk bersantai dan makan rujak yang sudah ia siapkan, wanita cantik yang sedang hamil itu terkesiap melihat pemandangan di depannya.

__ADS_1


Wanita berambut pirang sedang ******* bibir suaminya penuh gairah, dari jauh Juna terlihat melonggarkan pelukan yang begitu erat namun ******* itu terlepas saat Mora tepat berada di hadapan mereka.


Sigap wanita hamil itu mendaratkan tamparan di pipi mulus Putri.


"Wanita udik tak tau diri," umpat Putri hendak melayangkan tamparan di pipi mulus Mora namun dengan cepat Juna menahan tangan wanita berambut pirang itu.


"Aku udik tapi tau malu, kasian kaya tapi ga punya harga diri," cecar Mora sambil mengambil piring kecil berisi rujak, lalu pergi.


"Aku akan melakukan apapun demi mendapatkan Juna, camkan itu wanita ******," pekik Putri, Mora tak menghiraukan perkataan Putri, dadanya terlalu sesak untuk menerima cacian dan hinaan.


Wanita cantik yang sedang hamil itu duduk id sofa ruang tamu, terdengar samar-samar pembicaraan Putri dan Mora.


"Aku akan meninggalkan Cika bersamamu, jaga dia, Juna Andara. Dia darah dagingmu?" Papar Putri lalu mendorong tubuh kecil Cika kedalam pelukan Juna, wanita berambut pirang itu segera masuk ke dalam mobil lalu memutar balik dan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang tanpa menghiraukan panggilan Juna dan tangisan Cika.


"Minggir dari ambang pintu, Sayang. Aku akan mengantarkan Cika kerumah ibu agar antara kita tak ada perseteruan," ucap Juna sambil menyenggol pelan tangan Mora yang dari tadi larut dalam pikirannya tadi siang tentang wanita masa lalu Juna.


"Sebaiknya jangan, kasian ibu, Mas." Wanita hamil itu menjawab tanpa menoleh kearah suaminya, sementara Cika masih terlelap dalam gendongan Juna.


"Dia ga berdosa, Mas. Kamu dan Putri yang berdosa, biarkan aku menjaga anak itu sebagai baktiku kepada seorang suami, jika kelak aku pergi saat aku melahirkan anak kita nanti, aku berharap semoga Putri juga akan tulus menjaga anakku seperti aku menjaga anaknya saat ini," papar Mora dengan suara bergetar, tubuh mungil Mora yang lemah merosot kelantai namun masih dalam kesadaran yang utuh.


Laki-laki bertubuh atletis itu berlari kecil menuju ranjang, secepatnya ia meletakkan kembali bocah kecil yang tadinya ia gendong lalu kembali mendekat kearah istrinya yang terduduk di lantai.


"Maafkan aku, Mora," lirih Juna sambil menyeka air mata wanita yang bertahta di hatinya saat ini. Mora menepis tangan kekar itu pelan.


"Mas sudah sering meminta maaf untuk hal ini, setelahnya terulang kembali, berulang kali hati ini terpatahkan," ucap wanita hamil itu berusaha bangkit dari duduknya.


Aku ga tau harus bilang apa lagi, hanya rasa bersalah yang ada di hatiku saat ini," ucap Juna sambil menyusul Mora yang berjalan tertatih menuju kamar mereka.


Wanita cantik itu menjatuhkan tubuhnya perlahan di atas ranjang, tak sanggup lagi mengeluarkan kata apapun, selimut saja enggan ia tarik, tubuh kecil itu ia biarkan kedinginan, namun pujaan hati tak hanya diam melihat istrinya yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Tangan kekar itu berlahan menarik selimut dan menutupi tubuh wanita yang sedang mengandung buah hatinya itu. Ia melirik sekilas kearah wanita cantik yang membuat dirinya jatuh cinta berkali-kali.


"Mungkin jika aku mengatakan cintaku sebesar gunung Uhud masih terlalu kecil, jika cintaku seluruh dunia dan seisinya juga belum mencakup semuanya. Aku mencintaimu tanpa batasan dan tanpa akhir bidadariku," lirih Juna menatap wajah yang terpejam itu, tak lama dengkuran halus dari wanita berbibir ranum itu terdengar samar.

__ADS_1


Laki-laki bergelar suami itu meringsut pelan lalu memeluk pujaan hatinya dari belakang. Tak lama setelahnya ia juga ikut terpejam dalam hati yang gundah gulana.


__ADS_2