
Deretan pesan Mora kirimkan pada kekasih halalnya namun tak ada respon sama sekali, ia ingin memberitahukan kabar gembira pada Juna bahwa Adiba sudah mempunyai bayi laki-laki.
Wanita cantik itu mengambil keputusan untuk menyusul Juna ke kantornya saja, ia memilih naik angkutan umum untuk berangkat kekantor, sebelumnya Mora sudah meminta izin pada Rani dan bik Inah agar mereka tak merasa khawatir.
Memasuki kantor seperti biasa, beberapa pasang mata karyawan dan karyawati menatap tak suka kearah Mora Cantika, tanpa mereka ketahui Mora siapanya Juna.
Berlahan Mora membuka handle pintu lalu masuk tanpa memberi salam, wanita hamil itu terus melangkah menuju tempat peristirahatan Juna untuk tidur beristirahat saat lelah.
Mora Cantika menjatuhkan makan siang saat melihat seorang wanita sedang mengecup bibir Juna yang sedang terbaring.
"Lolita? Ngapain kamu di sini?" Mora memberondong beberapa pertanyaan bpada Lolita yang menyentuh dadanya karena terkejut karena kedatangan Mora yang tiba-tiba.
"Selow dong. Pak Juna pingsan, jadi kukasih aja napas buatan," Lolita tersenyum miring. Mungkin ada ketesengajaan yang tersirat dalam diri manusia yang sedang di mabuk cinta.
"Mas, bangun!" Mora menguncangkan tubuh Juna sedikit kuat namun laki-laki bertubuh atletis itu sama sekali tidak merespon.
"Ya-Allah," lirih Mora, ia mengambil air mineral yang terletak di meja lalu memercikkan ke wajah Juna pelan.
"Ada apa, Sayang?" Juna menyentuh kepalanya yang terasa begitu berat.
"Enak banget di cium sama Lolita," lirih wanita hamil itu sambil menunduk, rasa cemburunya tak dapat ia sembunyikan.
"Kapan, Sayang?" Laki-laki bertubuh atletis itu merasa bingung karena dirinya sama sekali tidak mencium Lolita.
"Lihat CCTV sana," ucap Mora lalu ia berbalik ingin keluar dari ruangan Juna. Laki-laki bertubuh atletis itu menahan kepergian Mora agar mereka sama-sama melihat rekaman yang ada di ponsel Juna.
"Aku mau kamu lihat sendiri, apa aku begitu murahan!" Juna mengambil ponselnya lalu membukanya melihat rekaman CCTV.
Di rekaman itu terlihat Juna yang sedang berkutat dengan pekerjaannya, tiba-tiba Lolita masuk sambil membawa secangkir kopi lalu memberikan pada Juna, tanpa rasa ragu sedikit pun Juna menegak beberapa kali kopi yang di bawakan Lolita, tak berselang lama Juna menyentuh kepalanya.
Dengan telaten Lolita membantu membaringkan tubuh Juna di atas ranjang tempat biasa Juna beristirahat sebentar, beberapa menit kemudian terlihat Juna hilang kesadaran dan Lolita sesukanya memberikan napas buatan pada Juna lalu mengambil beberapa gambar melalui ponselnya.
"Jadi jangan marah lagi," ucap Juna menatap Mora yang memasang wajah lesu, wanita hamil itu masih merasakan cemburu.
"Iya." Hanya itu yang mampu keluar dari bibir ranumnya.
Laki-laki bertubuh atletis itu bangkit dari duduknya lalu mengecup pipi istrinya itu sekilas, setelahnya ia berlalu menuju mejanya dan menyelesaikan sedikit lagi tugasnya yang sempat tertunda.
Dengan malas Mora melangkah menuju sofa lalu menjatuhkan bokongnya pelan, matanya tertuju pada Juna, mata indah Juna selalu mampu menghipnotis dirinya.
"Mas, Mbak Adiba sudah melahirkan loh!" Celetuk Mora sambil memainkan ponselnya, melihat-lihat foto bayi mungil yang belum memiliki nama tersebut.
"Kapan?" Tanya Juna, ia masih fokus menatap laptop yang ada di depannya saat ini.
"Kemarin, cuma baru tau tadi, nanti beli baju bayi yuk, Mas!" Dengan penuh semangat Mora mengajak suaminya itu berbelanja pakaian bayi.
"Biar Mas aja ya yang beli. Kamu mas antar pulang terus istirahat," papar Juna, tangannya menutup laptopnya dan menuju kearah Mora yang memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Juna.
"Mas ga tau mau pilih yang mana, aku juga mau pilih-pilih, gemes sama baju bayi," rengek Mora membuat Juna mencubit pipi Mora pelan, kalau sudah merajuk seperti ini maka Juna tak sanggup berkata apapun lagi. Juna mengecup kembali pipi mulus Mora yang merona bekas cubitan kasih sayang itu.
"Mas." Mora membingkai wajah suaminya yang ada di hadapannya saat ini.
"Ada apa, Sayang?" Laki-laki bertubuh atletis itu memegang kedua tangan Mora yang masih membingkai wajahnya.
__ADS_1
"Besok jaga dirimu, jangan seperti tadi," ucap wanita hamil itu, tangannya beralih mengacak rambut Juna yang masih rapi.
"Baik, Bidadariku," kata Juna menggigit manja hidung mungil Mora sehingga wanita mungil itu mengaduh, tanpa peduli Mora mengaduh laki-laki bertubuh atletis itu ******* bibir kekasih halalnya itu.
Perlahan Mora mendorong suaminya itu, ia menempelkan bibirnya di kemeja putih Juna hingga lips balm menempel di kemeja putih suaminya itu.
"Nakal," lirih Juna sambil menyapu bekas lips yang menempel.
"Biar, udah tau ini kantor tapi masih aja sesuka hati," ucap Mora sambil mengulum senyum.
Setelahnya mereka berdua meninggalkan kantor, walaupun saat berjalan banyak karyawati yang berbisik-bisik saat melihat lips yang menempel di pakaian bos mereka itu.
.
.
.
____
Wanita tinggi sampai yang baru saja turun dari pesawat menggunakan hijab dan cadar berjalan anggun, kali ini ia akan menempati perumahan di kawasan elit. Putri yang dulunya mengumbar aurat kini menutup tubuhnya untuk menyembunyikan identitasnya dari Juna.
Wanita cantik itu tak perlu repot-repot menjual rumah lamanya karena ada sahabatnya yang membantu urusannya.
Ia merogoh sakunya dan menelpon seseorang.
"Aku sudah di Indonesia, bisa kita bertemu?" Tanya Putri pada laki-laki yang ada di sebrang sana.
"Bisa, di mana?" Tanyanya menolak permintaan Putri sedikit pun.
Putri yang kini sedang bersembunyi dari Juna memilih menjauh untuk sementara waktu, ia juga menitipkan anaknya pada ibunya Marsel atas saran dari Marsel sendiri.
Tak lama taksi mendarat di depan pintu masuk yang di jaga oleh scurity, Putri tidak di perbolehkan masuk karena tidak menunjukkan kartu identitas, ia berdecak kesal karena sahabat sekaligus mantan kekasihnya itu belum juga tiba padahal ia sudah mengirimkan pesan berkali-kali.
Satu jam menunggu akhirnya laki-laki tinggi dan berkulit putih datang dengan mobilnya yang ia parkirkan tak jauh dari pintu masuk kawasan tersebut.
"Maaf, Sayang," lirihnya membuat penjaga melihat kearah laki-laki itu dan beralih menatap Putri yang berbalut cadar.
"Lama, banget. Panas tau!" Putri menghempaskan tubuhnya kasar saat sudah masuk kedalam mobil dan siap memasuki kawasan yang di jaga ketat.
"Makanya jangan pake gituan. Ga biasa malah sok-sokan," kekehnya membuat Putri memukul lengan laki-laki bertubuh tinggi itu pelan.
"Ih, sebenarnya malas, tapi demi ga ketahuan sama seseorang," ucapnya lalu melepaskan cadar yang ia kenakan.
Bukankah memang banyak sekarang terjadi kasus serupa seperti yang di lakukan Putri sangat tidak baik untuk di contoh.
.
.
"Buruan buka, Amar, gerah nih!" Putri mendesak laki-laki yang dulunya pernah menyandang status sebagai kekasihnya itu.
"Bawel dari dulu suka perintah ini itu masih ga berubah ya?!" Laki-laki bertubuh tinggi itu segera membukanya.
__ADS_1
"Udah mendarah daging," ucapnya lalu melepaskan pakaiannya di depan Amar tanpa peduli apapun.
Laki-laki bertubuh tinggi itu menelan salivanya, tubuh Putri yang hanya mengunakan tangtop dan celana pendek membuat birahinya memuncak.
Amar menjatuhkan tubuhnya di atas sofa lalu menatap Putri yang duduk di sampingnya, rasa cinta itu masih tersisa untuk Putri saat ini namun ia ragu untuk mengatakan pada Putri karena wanita itu meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.
Wanita cantik itu sedikit meringsut lalu membenarkan posisinya, ia meringkuk di sofa karena terlalu lelah ia terlelap. Amar terus saja mengontrol nafsunya saat ini, pusaka miliknya menegang melihat bokong Putri yang begitu menggiurkan baginya.
"Bisa gila aku serumah sama Putri," lirihnya lalu menyentuh pusaka miliknya sekilas.
Wanita cantik yang sudah memiliki anak satu itu menggeliat membuat Amar lagi-lagi menelan salivanya yang kesekian kalinya, tanpa bisa di kontrol tangannya membelai lembut paha mulus Putri yang terpampang jelas di depan matanya saat ini.
Sedikit meringsut kebawah untuk menatap wajah cantik Putri, Amar menyentuh pelan hidung gadis itu lalu turun ke bibirnya.
Amar mendaratkan kecupan di bibir Putri yang sedang terlelap, ibu satu anak itu membuka matanya saat merasakan deru napas Amar yang begitu dekat dengannya.
"Ma ... Maaf ...." Amar menjauh secepatnya dari tubuh Putri, namun wanita itu menahannya.
"Tak perlu minta maaf, bukankah kita pernah melakukannya?" Putri menggoda Amar denga suara mendayu.
"Iya, tapi itu dulu," ucap Amar sambil mengalihkan pandangannya ke televisi yang tidak menyala.
"Tiga tahun lebih. Apa kamu sudah tidak ada rasa sama sekali sama aku, Amar?" Putri duduk di pangkuan Amar tanpa aba-aba, ia menyentuh benda pusaka milik Amar yang sudah siap di gunakan dari tadi.
"Aku masih mencintaimu, tapi kamu sudah memiliki suami dan anak," ucap Amar pelan, suaranya parau. Jujur dari lubuk hatinya ia masih mengharapkan Putri untuk menjadi pendampingnya.
"Tidak. Aku belum menikah sama sekali," lirih Putri lalu menundukkan kepalanya, untuk pertama kalinya ia menjatuhkan bulir bening di hadapan Amar.
"Lalu anak itu," lirih laki-laki bertubuh tinggi itu, tangannya meraih jemari putri dan sedikit mengangkat dagu wanita yang ada di pangkuannya agar menatapnya sempurna.
"Aku tidak tau, dia anak siapa," lirihnya membuat Amar merasakan sesak di dadanya, usia anak itu hampir sama dengan masa di mana putri meninggalkan dirinya dulu.
"Apa dia anakku?" Tanya Amar menatap lekat manik mata Putri yang menyimpan sejuta kesedihan.
"Entahlah, yang aku ingat tiga minggu setelah kita bercinta aku kehilangan kontak denganmu, aku mabuk saat itu ..." Wanita yang melahirkan Cika itu menjeda ucapannya.
"Lalu?" Amar begitu penasaran dengan pengakuan Putri yang masih belum ada titik terang.
"Di bawah sadarku aku tidur bersama seorang laki-laki di club malam, selama ini aku meyakinkan dirinya bahwa Cika adalah anaknya, namun dia tak pernah mengakui Cika anaknya ... Aku ...." Ucapannya terjeda, seolah sesak di dadanya menahan perkataannya untuk keluar.
"Apa yang terjadi setelah itu?" Beberapa kali Amar mengecup punggung tangan Putri yang masih duduk di pangkuannya.
"Aku mencelakai istri dari laki-laki yang kuanggap ayahnya Cika. Saat ini sebenarnya aku benar-benar takut jika ia akan membunuhku," lirih Putri sambil menyeka sudut matanya.
Laki-laki bertubuh tinggi itu tak ingin menambah sesak di dadanya dan Putri, ia menyeka sudut mata Putri lalu memeluknya erat. Mencium kedua pipi mulus Putri berlahan ******* bibirnya, biarkan kali ini ia akan menghapus luka itu seiiring berjalannya waktu, benda pusaka milik Amar yang tadinya sudah tertidur kini kembali terbangun.
Sejenak mereka terlarut dalam kenikmatan dunia tanpa ada ikatan pernikahan, kisah kasih dimasa silam kembali terulang, keduanya saling merengkuh nikmat, menikmati setiap momen yang terjadi, semakin larut dalam kenikmatan sampai berakhir pada puncak kenikmatan, hingga keduanya sudah sama-sama berpeluh.
Laki-laki bertubuh tinggi itu masih sangat berharap Putri untuk menjadi kekasih halalnya kelak.
.
.
__ADS_1
Berusahalah menilai orang lain dari sudut pandang yang berbeda.