KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 32


__ADS_3

"Yes!" Yasna memekik girang saat tiba di dalam kamarnya. Ia memindai dirinya di cermin, sungguh bahagia jika Juna jatuh dalam pelukannya bahkan satu keberhasilan jika Mora membenci Juna dan dirinya.


"Masih sedikit," ucap Yasna lalu tersenyum sinis. Tak pernah ia sadari kelakuannya dapat membuat Juna membencinya.


Hatinya berlalu di butakan oleh cinta sehingga dirinya tak dapat lagi membedakan yang baik dan benar. Ah, entahlah mungkin saja bukan cinta yang membuatnya gila tapi harta.


Berlahan wanita berbibir tebal itu mendekat kearah tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya kasar.


"Aqila ... Bukan, tapi Mora," gumamnya, "Terlalu banyak misteri id rumah ini, itu membuatku sedikit tertarik untuk bermain-main," sambungnya. Bibir Yasna tertarik kesamping, jutaan rencana telah ia rancang dalam otaknya.


Di kamar lain dua kekasih yang cintanya sedang di uji sedang merencanakan sesuatu.


"Apa kamu yakin, Mas?" Tanya Mora pada suaminya, wanita cantik dan berhati lembut itu tak pernah menginginkan orang lain terluka.


"Kita coba saja." Juna terkekeh. Mora hanya tersenyum getir, jujur saja ia tidak suka dengan rencana suaminya saat ini, walaupun wanita berbibir tebal itu begitu tega menyakiti hatinya.


"Bagaimana kalau hari ini kita kerumah Kak Rosan?" Juna menarik dagu istrinya lembut agar wanita cantik itu menatapnya, namun Mora menggeleng pelan.


"Kenapa?" Tanya Juna lagi merasa heran dengan penolakan istrinya.


"Tidak. Aku hanya ingin bersamamu aja, Mas. Saat ini aku terlalu takut untuk berpisah lagi," jelas wanita cantik itu membuat Juna tersenyum manis kearahnya.


"Ya aku mengerti, setidaknya main kesana bisa membuat pikiran sedikit tenang," ungkap Juna lembut. Piskopat yang bersikap lembut, sungguh keajaiban yang nyata dan luar biasa.


"Tidak. Aku ingin di sini," ucap Mora manja, ia bergelayut manja pada laki-laki yang bertahta di hatinya, tangan Juna juga mengusap lembut rambut istrinya itu lalu mengecup pelan kepala istrinya.


____


.


.


.


.


Dua bulan berlalu Yasna tidak berbuat ulah seperti biasanya, mungkin dirinya lupa atau memang sengaja menghindar sementara waktu, Juna dan Mora juga sudah lupa dengan rencana yang akan mereka lakukan untuk membuat efek jera untuk Yasna.


Di kamar mandi terdengar jelas suara Mora Cantika si wanita lugu itu sedang memuntahkan cairan pahit yang ada dalam perutnya.


"Sayang ... Are you okay?" Juna mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali, wanita cantik itu hanya bergumam pelan membuat suaminya khawatir.


Beberapa menit di kamar mandi Mora keluar dengan wajah pucat.


"Mas. Sepertinya aku masuk angin," ucapnya duduk di sofa dengan wajah pucat.


"Ayo kita ke dokter aja, Sayang," kata Juna kemudian mengambil tangan istrinya lalu mengecupnya.


"Nanti juga sembuh. Masuk angin biasa aja," ungkapnya, wanita cantik itu tak ingin membuat suaminya khawatir.


"Jangan membantah, nanti dosa." Juna tersenyum manis, sementara Mora memanyunkan bibirnya.


"Ya memang kenyataannya masuk angin doang, ga perlu ke dokter," elaknya membuat Juna Andara semakin geram pada pujaan hatinya itu.

__ADS_1


Berlahan tangan Juna membuka kancing baju istrinya kemudian melucuti pakaiannya yang basah.


"Jangan lakukan apa pun, aku lemes banget." Mora mengiba, tatapannya begitu memelas.


"Otaknya kotor," seloroh Juna lalu ia tergelak, sementara wanita cantik bergelar istri itu tersenyum simpul.


"Kirain mau anu." Mora tergelak, tak sanggup menahan tawa, tawa yang begitu lepas seperti tanpa beban.


"Kamu mandi, lalu kita periksa ke dokter," kata Juna, menuntun istrinya menuju kamar mandi, lalu dengan sigap tangan kekar itu menyabun badan istrinya, wanita cantik itu tersipu malu, walaupun bukan yang pertama kalinya rasa malu itu tetap ada. Ia menguyur tubuh Mora hingga bersih.


"Sudah." Senyum lebar menghiasi bibir indah Juna, pipi wanita cantik itu hanya bersemu, dirinya hanya mampu mengangguk, Ia begitu malu pada suaminya.


Wanita cantik itu berlalu dari hadapan Juna yang masih memandang tubuh indah Mora. Mencari pakaian sederhana untuk ia pakai, wanita cantik yang selalu tampil sederhana walau suaminya bergelimang harta.


Saat tangannya menyentuh pakaian berwarna merah marun yang sedikit berkilau membuat rasa mual dalam perutnya kembali hadiri.


"Astagfirullah," ucapnya membuat Juna yang baru saja keluar dari kamar mandi memandang kearahnya.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Juna yang juga ingin menggantikan pakaiannya karena basah habis memandikan tuan putri.


"Aku kok mual lihat baju merah itu ya, Mas?!" Mora sedikit menjauh dari pakaiannya sendiri, sementara Juna tersenyum manis memandang tingkah istrinya itu.


"Pakai ini aja." Juna mengambilkan kemeja biru navy lalu memberikan pada istrinya. Wanita cantik itu menurut saja, laki-laki bertubuh atletis itu ikut mengambil baju dengan warna yang sama.


Setelah menggantikan pakaian, mereka keluar dari kamar dan menuju lantai bawah, tidak untuk sarapan karena pagi ini Mora tak berselera sama sekali, laki-laki bertubuh atletis itu tak ingin makan jika istrinya itu tidak makan.


Juna merangkul pinggang Mora seperti biasa, dirinya begitu bahagia jika istrinya merasakan kebahagiaan, sementara sepasang mata menatap tidak suka kearah mereka, Yasna begitu benci pada Mora sampai kapan pun.


"Berhenti berbuat bodoh," ucap Juna datar tanpa menoleh kearah Yasna, Mora melirik sekilas dan mengulum senyum. Kasihan sekali.


"Bik. Kami mungkin akan akan liburan," papar Juna pada bik Inah yang sedang menyiram tanaman di teras.


"Pengantin liburan nih, Bibik ikut boleh ga, Den?" Goda bik Inah membuat tersenyum.


"Bukannya kita cuma mau ke dokter?" Mora heran dengan perbincangan bik Inah dan suaminya.


"Pulang dari dokter kita ambil pakaian setelahnya berangkat," jelasnya, wanita cantik itu hanya menganggukkan kepalanya, sementara Yasna duduk di kursi teras berpura-pura memainkan gawainya, dia mendengar percakapan mereka dan berniat mengikuti Mora dan Juna untuk berlibur.


Juna dan Mora meninggalkan halaman rumah, menuju klinik prakter dekat dengan rumahny saja, tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di klinik, sebenarnya berjalan kaki juga sampai tapi demi bidadari yang ia cintai tak terkena terik mentari.


"Mas. Harusnya kalo di sini jalan kaki aja," ungkap Mora mengernyitkan dahinya. Ia begitu heran pada suaminya yang teramat bucin.


"Tak akan kurelakan bidadariku kepanasan." Gombalan keluar dari mulut Juna membuat Mora terbahak sebelum tawanya terhenti saat melihat wanita paruh baya duduk menjual buah di pinggir jalan.


"Mas, mau itu," ucap Mora sambil menunjuk kearah sang nenek.


"Buah?" Mora hanya mengangguk pelan. Tak ada buah seperti di rumah Juna, hanya rambutan dan buah belimbing manis yang nenek itu jual.


Sebenarnya Mora tak menginginkan buah itu, tapi wanita cantik itu iba pada wanita tua yang masih harus mencari nafkah sendiri untuk menghidupkan dirinya sendiri.


Mereka turun dari mobil bersamaan, menuju kearah sang nenek dan membeli buah yang sebenarnya tak mereka butuhkan.


"Sudah?" Tanya Juna saat satu kantung plastik besar ada di tangan Juna, semua ia borong tak tersisa. Wanita cantik berkulit putih itu hanya tersenyum manis Sabil mengangguk.

__ADS_1


Membawa buah itu ke dalam mobil, mereka segera menuju ke klinik yang tak jauh dari lokasi nenek itu berjualan. Terlihat hanya ada dua antrian dan ketiga Mora.


"Mas. Mungkin jika aku masih buta, akan seperti nenek itu kalo tua masih nyari sendiri," celetuk Mora membuat hati Juna terasa nyeri seketika.


"Ga boleh ngomong gitu. Lihat nenek itu normal aja juga cari sendiri," ucap Juna lalu mengusap kepala istrinya pelan.


"Ga, Mas. Kasian nenek itu, mau nanya anaknya ga berani tadi," kata Mora, memandang wajah suaminya yang sedang memandang kesapan, Juna fokus pada antrian berikutnya.


"Mas. Sebenarnya aku ga pengen buah itu," jelas Mora membuat suaminya menoleh kearah istrinya, Juna menantikan penjelasan selanjutnya.


"Mas, marah?" Tanya Mora dengan raut sedih, karena ia mengira Juna akan marah karena dirinya menghabiskan uang hanya untuk membeli buahan yang tidak ia suka.


"Terus kenapa kamu beli?"


"Kasian nenek itu. Tapi bisa kita bagi nanti sama pemulung pinggir jalan," jelas Mora menatap manik mata suaminya yang susah diartikan.


Beberapa saat menunggu nama Mora Cantika di panggil, ia masuk bersama Juna yang berekspresi datar. Beberapa pasien yang baru datang menatap kagum kearahnya .


"Silahkan berbaring Ibu Mora," ucap dokter cantik berpakaian bebas itu menatap kearah Mora dan Juna secara bergantian, senyata Mora hanya mengangguk, seorang perawat bertugas melakukan USG pada Mora, Juna menjelaskan apa yang istrinya itu rasakan. Sesat dokter mengambil alih benda yang di pegang oleh perawat lalu senyum dokter itu mengembang sempurna, berarti dugaannya salah, karena gejala tipes mengalami gejala yang sama, mual, muntah dan demam.


"Apa istri saya baik-baik aja, Dokter?" Tanya Juna antusias, ia begitu takut kehilangan istrinya kedua kalinya.


"Istri anda sangat baik," ucap dokter memapah tubuh Mora untuk turun dari ranjang tempat ia berbaring, tubuh mungil itu mendekat kearah suaminya dan duduk di kursi sebelahnya.


"Selamat ya, Pak. Ibu Mora positif hamil, usia kandungannya memasuki empat Minggu," ungkap dokter sambil tersenyum kearah Juna dan Mora. Hati dua insan ini merasakan bahagia yang tidak bisa ia gambarkan, keduanya menjatuhkan bulir bening, rasa haru menyelimuti keduanya.


Benih yang mereka nanti hadir dalam raga seorang wanita tangguh dan tabah. Berharap kelak anaknya menurunkan semua kelakuan dan ketabahan hati Mora pada calon bayi mereka nantinya.


"Jadi liburan?" Tanya Juna saat mereka telah membayar administrasi. Mengingat istrinya saat ini sedang mengandung, tak ingin memaksa ibu hamil yang moodnya gampang berubah-ubah karena sedikit ia paham menjaga kondisi ibu hamil.


"Jadi dong!" Jawab Mora dengan begitu riang. "Tapi ...."


"Tapi apa?"


"Mama ngizinin ga ya?" Ia begitu khawatir jika Rani tersinggung hatinya, wanita cantik itu begitu menjaga hati mertuanya.


"Pasti ngizinin, calon papa ini akan guling-guling di tanah kalo mama gangizinin," selorohnya membuat Mora tergelak.


Mereka pulang, sebelumnya pasangan suami istri itu berkeliling membagikan buah tersebut untuk pemulung dan beberapa anak jalanan, karena benar-benar Mora tidak menginginkan buah itu sama sekali.


Beberapa jam berlalu akhirnya sepasang kekasih halal itu tiba di depan rumah. Rani medengar mobil Juna yang baru saja pulang berkacak pinggang menunggu anaknya turun dari mobil.


Rani begitu risau karena anaknya itu sudah jarang masuk kantor, hanya Mora sesekali yang mengawasi. Karyawan tidak segan pada Mora sama sekali membuat Rani khawatir jika aset perusahaan di permainkan bahkan di korupsi oleh karyawan curang.


"Mama kok pulang?" Tanya Juna heran saat wanita yang melahirkannya berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang. Yasna berdiri di samping Rani menatap kearah dua sejoli itu dengan tatapan tidak suka.


.


.


.


Jangan terlalu menaruh benci pada seseorang karena kita tidak tahu saat kita terjatuh tangan sipaa terbih dulu terulur.

__ADS_1


__ADS_2