
Detak jam terus berbunyi, masih dengan hati yang lara, mencari jejak cinta yang tiada nahkoda. Wanita yang masih dengan balutan gamis itu tertidur di sofa rumah sakit, tubuh mungil itu meringkuk. Juna mengusap tiap inci wajah mulus itu, beralih membuka hijabnya lalu mengusap rambutnya pelan, sedikit meringsut lalu mencium keningnya.
Saat ini Tuhan masih membiarkan rasa itu terus ada, berjalan semestinya dan berakhir dengan seharusnya.
"Maafkan aku," lirihnya. Kembali mengusap kepala Mora.
Laki-laki bertubuh atletis itu kembali ke pembaringannya, memejamkan mata lalu tak lama setelahnya terlelap.
Terkadang ada rasa yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata, rasa yang terlalu sulit untuk diutarakan.
____
Beberapa hari berlalu, kini Juna sudah diperbolehkan pulang dengan syarat rutin untuk cek ke dokter. Wanita yang kini menyandang status sebagai istri itu sedang duduk dan memikirkan apa yang harus ia lakukan kedepannya, rasa bersalahnya pada orang tua Juna begitu berat.
"Terima kasih sudah menerima saya," ucapnya.
"Sama-sama. Aku juga berterima kasih karena mau menikah dengan cara sederhana seperti ini," Juna bangkit dari duduknya. Lalu meraih tangan Mora dan mengecupnya, wanita itu tersentak. Debaran tak biasa berpacu berkali lipat di dadanya.
"Aku ... Eh, maksudnya saya. Saya takut jika Masa depan kamu rusak gara-gara aku," imbuh wanita cantik yang kini menarik paksa tangannya yang sedang di pegang oleh sang suami.
Laki-laki bertubuh atletis itu tersenyum, istrinya itu begitu gugup dengan hubungan yang mereka jalani saat ini.
"Masa depan aku biar aku yang pikirkan," jawabnya, bangkit lalu duduk di samping sang istri. "Dan coba konsisten sama sebutan untuk kata aku pada diri kamu sendiri, kalo aku ya aku jangan kadang saya, kadang aku. Satu lagi, sebutan untuk suamimu ini baiknya dengan sebutan Mas aja. Kayaknya lebih menantang, kayak kang siomay gitu," kekehnya.
"Heum. Baiklah." Tangannya membenarkan hijabnya yang semalam dilepas oleh suaminya, sementara bik Inah pamit pulang terlebih dahulu dengan alasan ingin mempersiapkan segala hal untuk kepulangan Juna.
____
Rosan bersama Rani sudah berada di ambang pintu dari tadi, mereka menyimak pembicaraan keduanya, tak ingin mengganggu dua insan yang sedang merasaka mabuk asmara saat ini. Rani yang sengaja menahan Rosan agar tak menghampiri kedua insan yang tenang berada di ambang kebahagiaan saat ini.
"Masuk lah, Kak." Juna tersenyum menatap kakaknya yang membisu di ambang pintu. Tanpa respon apa pun dari laki-laki yang bergelar kakak tersebut ia masuk tanpa memperdulikan apa pun langsung membawa perlengkapan Juna menuju mobil.
Laki-laki bertubuh atletis itu hanya menatap sang kakak dengan tatapan heran. Biasanya dia akan banyak meledek bahkan sedikit menggoda dirinya.
__ADS_1
Andai Juna tahu saat ini kegundahan di hati Rosan melebihi dirinya. Rasanya sangat ingin memberi tahu pada sang adik tentang kejadian yang terjadi pada mereka kemarin tapi ia urungkan atas permintaan sang ibunda.
Setelah menebus obat di apoteker rumah sakit mereka pun bergegas pulang, melewati koridor rumah sakit, hujan turun begitu lebat membuat termpias membasahi granit membuatnya sedikit licin. Mora berjalan sendiri di belakang sementara Rani sibuk memainkan ponselnya karena ada beberapa pesanan yang mendadak.
Bruk.... Tubuh kecil itu ambruk. Mora tak sadarkan diri, Rani seketika menghentikan aktivitasnya berlari kearah Mora dan meminta tolong histeris.
"Mora. Bangun, Sayang," teriaknya panik. Rani mengguncangkan tubuh mungil Mora pelan.
"Buk, biar kita tangani," ucap perawat tergopoh-gopoh menghampiri dan mengangkat tubuh Mora lalu memindahkannya ke stretcher lalu mendorong dengan cepat ke UGD.
Juna dengan wajah panik mengikuti perawat yang mendorong stretcher dengan cepat. Tubuhnya begitu lemah, walau mengejarnya dengan cepat tetap saja ia tertinggal di belakang karena tubuhnya masih sedikit gemetar.
"Kenapa sampai Mora terjatuh, Ma?" Tanya Juna menatap wanita yang telah melahirkannya dengan tatapan sendu, Juna menyentuh kedua tangan ibundanya setelahnya bulir bening turun tanpa aba-aba.
Bagaimana tidak, dia merasa gagal menjaga orang yang baru saja hadir dalam hidupnya. Sementara dulu ia bisa menjaga putri seorang bandar sabu terbesar di kota tetangga tempat ia tinggal. Tangan Juna beralih menyentuh dadanya yang terasa nyeri.
"Doakan saja semoga dia dan janinnya baik-baik saja," kata Rosan yang dari tadi mengikuti mereka.
"Maaf. Diawal aja aku udah gagal menjaga kamu dan anak kita," ucapnya lembut. Laki-laki berwajah Korea itu menjatuhkan bulir bening yang tak bisa ia tahan.
Selama ia mengenal Allah, hatinya begitu terasa lemah, rasa empati yang ada pada dirinya semakin ada. Sementara Rani berdiri sambil menyeka air matanya, wanita itu juga telah merasa gagal menjaga apa yang seharusnya ia jaga.
Dengan cepat mereka melakukan pemeriksaan dan Mora di masukkan ke ruangan IGD, suasana sedih semakin menyelimuti laki-laki yang berstatus suami Mora itu, bagaimana pun IGD tidak mengizinkan keluarga untuk masuk dalam masa pemeriksaan khusus.
Juna duduk di bangku tunggu lalu mengacak rambutnya frustasi. Pikirannya saat ini benar-benar kalut, kenapa Tuhan menguji dirinya atau ini sebagai hukuman untuk dirinya sat ini.
"Selamatkan dia Ya-Allah," lirihnya, sang kakak hanya menatap adiknya dengan raut heran, ia merasa aneh saat ini adiknya tak pernah lupa pada Tuhannya. Ternyata Mora dapat memberikan energi positif untuk adiknya yang tak pernah mengenal dan tahu apa itu agama.
Beberapa menit menunggu dokter keluar dengan raut muka khawatir.
"Dok bagaimana keadaan istri saya?" Wajah cemas begitu terlihat dari muka Juna.
"Dia pendarahan. Janinnya tidak bisa di selamatkan, dan maaf...."
__ADS_1
"Kenapa dengan istriku, Dokter?"
"Istri anda mengalami koma, entah sampai kapan ia akan sadar, belum ada tanda-tanda. Banyak berdoa agar pasien segera sadar," jelas dokter, lalu laki-laki berpakaian putih itu berlalu meninggalkan insan manusia yang memantung di hadapannya.
"Terimakasih, Dok," ucap Rosan sambil mengangguk. Dokter juga hanya membalas dengan anggukan setelah sesaat menghentikan langkahnya.
Juna dan Rani ingin masuk tapi perawat mencegah mereka untuk masuk.
"Maaf, Buk, Pak. Yang boleh masuk hanya satu orang, baiknya suaminya saja," ujar perawat itu lembut sambil tersenyum. Juna memasuki ruangan yang penuh dengan benda-benda aneh dan tak pernah ia lihat sebelumnya, selang menempel di hidung istri yang kini sudah teramat ia cintai.
"Mora, Bangun." Hatinya terenyuh saat menatap wajah manis istrinya. Betapa ia sangat menyesali perbuatannya dulu.
"Tuhan. Ternyata seperti ini sakitnya jika orang yang kita cintai dalam keadaan memperjuangkan hidup dan mati," lirihnya. Tubuhnya tergugu, mengingat beberapa bulan yang lalu dia menembak laki-laki yang sedang bersenang-senang menikmati surga dunia. Juna tanpa rasa belas kasih menembak tepat di tenggorokan mereka berdua. Suara sepasang kekasih yang sedang mereguk madu itu membuat Juna merasa jijik, bukan karena cinta atau balas dendam melainkan karena bayaran yang tinggi yang ia dapat untuk ber foya-foya.
"Mas. Jam besuk sudaha habis. Biarkan pasien beristirahat," ucap perawat lembut hingga membuyarkan lamunan Juna.
Kakinya gontai melangkah keluar kamar, Mora akan kesepian dan ketakutan tanpa dirinya, begitu pikirnya.
"Kamu pulang aja, Sayang. Istirahat!. Biar mama yang jaga Mora di sini," celetuk Rani.
Juna mengangguk lemah, jujur saja tubuhnya begitu lemah, masih dalam kondisi pemulihan. Jika menjaga Mora maka akan dipastikan setelahnya ia yang akan dirawat.
Sementara Rosan hanya diam, tak tahu harus berkata apa, jika mengatakan prihal kemarin maka akan membah buruk suasana sang adik. Mereka menyusuri koridor yang basah, percikan termpias karena hujan terlalu lebat membasahi koridor rumah sakit, hingga sedikit licin. Laki-laki berwajah Turki itu memandangi punggung sang adik yang bergetar hebat berjalan di depannya, Juna yang sekarang bukan Juna yang dulu yang menjadi idola itu kini terlihat lemah.
Sisi Juna yang tak pernah terlihat sebelumnya, Rosan tak pernah berpikir sedikit pun hal ini akan terjadi di kehidupan mereka. Selama ini berjalan baik-baik saja, semenjak kedatangan Mora terjadi teror di rumah mereka. Rosan mempercepat langkahnya menyusul sang adik yang wajah mereka berbeda jauh bagaikan apel dan rambutan.
"Are you oke?" Tanya Rosan merangkul bahu Juna. Laki-laki bertubuh atletis itu segera menyeka sudut matanya yang terlihat basah.
"Heum...." Gumamnya lirih.
Sampai di parkiran Juna memasuki mobil terlebih dahulu sementara Rosan membayar uang parkir dan segera menyusul Juna, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah kemacetan jalanan. Suasana begitu hening, mereka larut dengan pikiran masing-masing.
Bersambung....
__ADS_1