KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 41


__ADS_3

Dua hari berlalu. Yasna yang siap menjalani aksinya mendatangi rumah Rani bersama kekasihnya.


Yasna duduk di atas kursi roda dengan muka di perban dan Yazid mendorong kursi roda menggunakan baju compang camping.


"Assalamualaikum." Ucap Yazid menekan bel beberapa kali.


"Waalaikumsalam...." Bik Inah tergopoh-gopoh menuju gerbang.


"Cari siapa, Mas?" Bik Inah membuka sedikit gerbang.


"Kami mau minta belas kasihan yang punya rumah mewah ini," tuturnya, seperti seorang miliarder saja Rani dipikiran mereka.


"Nyonya sedang keluar," ujar bik Inah. Wanita paruh baya itu terlihat iba pada mereka yang terlihat seperti pengemis.


"Kami akan menunggu," kata Yazid dengan percaya diri.


"Baik. Silakan tunggu di teras." Bik Inah membuka gerbang sedikit dan mempersilakan mereka duduk di bangku teras.


Wanita paruh baya yang bekerja di rumah Rani itu segera masuk dan membuatkan dua cangkir teh hangat untuk mereka. Rencana buruk saja masih di terima dengan lapang dada di rumah Rani.


Yazid dan Yasna mengulas senyum saat melihat Rani dan suaminya tiba di rumah. Bik Inah yang membuka gerbang mengulas senyum pada majikannya itu.


"Siapa, Bik?" Tanya Rani setelah wanita modis itu turun dari mobil dan hendak memasuki rumah.


"Katanya mau minta belas kasihan Nyonya," jawab bik Inah jujur. Wanita paruh baya itu mengatakan apa yang mereka katakan.


"Belas kasihan apa? Uang atau pekerjaan?" Rani memberondong beberapa pertanyaan.


"Ga tau, Nyah," jawab bik Inah yang sama bingungnya bdnegan Rani. Wanita paruh baya itu meninggalkan mereka, terlalu sibuk wanita itu untuk memasak dan membersihkan rumah yang luas.


"Mau apa?" Rani menatap dua mahluk yang seolah-olah sedang kelaparan itu.


"Mau belas kasihan dari ibu." Kedua tangannya ia tangkupkan seolah-olah permintaan maaf yang tulus.


"Belas kasihan apa? Saya bukan miliarder," ungkap Rani, setelahnya ia tergelak, sementara suaminya hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kami korban kebakaran, sudah tidak memiliki tempat tinggal, sudah tidak punya siapa-siapa. Kasihani kami," ucap laki-laki itu terbata-bata, bulir bening yang ada di pelupuk matanya hampir saja luruh.


"Kalian suami istri?" Keduanya mengangguk mantap, begitu mantap rencana yang mereka susun.


"Izinkan saja jadi tukang kebun atau satpam di sini," kata laki-laki itu mengiba.


Rani menatap kearah suaminya yang memandang iba kearah Yazid dan Yasna, tak lama laki-laki berjambang tebal itu mengangguk setuju. Istri dan suami sama-sama berhati mulia.


"Saya setuju kalo kamu jadi tukang kebun saja, karena satpam saya tidak terlalu membutuhkannya," jelas Rani. Yazid menangkup kedua tangannya seraya mengucapkan Alhamdulillah, hal yang sama Yasna lakukan.


Mereka begitu bersyukur sudah kembali kerumah Rani, rencana Yasna begitu besar ingin menguasai sekaligus menghancurkan keluarga Rani.


Rani dan suaminya melangkah masuk kedalam, Yazid menyusul sambil mendorong kursi roda Yasna, senyum mengembang di bibir keduanya.

__ADS_1


"Bik. Tolong antarkan mereka ke kamar yang berada di dekat kamar, Bibik," pinta Rani saat wanita modis itu melihat bik Inah yang sedang membersihkan meja ruang tamu.


"Baik, Nyah." Bik Inah mengangguk menatap Rani yang berdiri di depannya.


"Nama kamu siapa?" Tanya Rani pada Yazid.


"Nama saya Yazid, nama istri saya Yuli," jawab Yazid sambil sedikit mengulas senyum.


"Yazid kamu bantu bik Inah membereskan kamar kalian," papar Rani, wanita modis itu meninggalkan mereka, laki-laki berjambang tebal itu hanya melihat sekilas lalu berlalu mengikuti Rani.


"Mari," ajak bik Inah sopan. Keduanya mengangguk, Yasna tak banyak bicara karena ia takut mereka akan mengenali suaranya.


Wanita paruh baya itu membersihkan kamar yang sudah lama tidak di pakai dan memindahkan beberapa barang yang sudah lama tidak terpakai, sementara Yasna hanya duduk diam di atas kursi rodanya.


Setelah membersihkan kamar itu, bik Inah berpamitan keluar dan mempersilahkan mereka beristirahat. Tinggal mereka berdua kini saling menatap satu sama lain.


"Kukira bakalan dapat kamar depan," lirih Yasna bangkit dari kursi rodanya lalu menjatuhkan diri kasar di atas ranjang.


"Ini udah lebih. Beruntung mereka masih percaya," ucap Yazid, menatap kearah Yasna.


"Kita bisa melakukan hubungan suami istri tanpa ada yang kita takuti," ungkap Yasna lalu tergelak.


"Iya. Tapi aku capek kalo jadi tukang kebun." Yazid mengeluh, masih bersyukur Rani mau menerima mereka tanpa persyaratan apapun.


Pakaian kita bagaimana?" Yazid yang mulai risih dengan pakaian yang dia kenakan.


"Tenanglah, hitungan ketiga bik Inah akan mengantarkan pakaian untuk kita." Dengan percaya diri Yasna mengatakannya.


"Benar kan?" Yana menaikkan satu alisnya.


"Bener banget!" Keduanya tertawa geli.


Laki-laki bertubuh gempal itu mendekat kearah pintu lalu membukanya, benar saja bik Inah mengantarkan beberapa kaos dan jeans lama Juna yang sudah tidak terpakai, juga baju Yasna yang dulu sempat tertinggal di jemuran, setelah mengantar pakaian untuk mereka, bik Inah meninggalkan kamar mereka dan menuju dapur untuk mempersiapkan makan siang.


"Gila, ini baju aku yang tertinggal," ucap Yasna tertawa terbahak.


"Wih. Pakaian sebagus ini mereka udah ga pakai, rugi banget," kata Yazid sambil membolak-balikkan pakaian yang bik Inah berikan pada mereka.


Rumah Rani yang tiap kamar memilik kamar mandi di dalam kecuali kamar bik Inah, karena bik Inah tidak suka jika kamar mandi ada di dalam kamar karena bau urine menurut bik Inah. Jika menjaga kebersihan tak mungkin bau.


Dua jam berlalu mereka sudah membersihkan diri dan Yasna sudah menggantikan perban di wajahnya yang selalu ia bawakan. Yazid tersenyum melihat tingkah Yasna yang sanggup berpanas-panasan memakai perban demi balas dendam yang ia rencanakan.


"Besok siap dengan pekerjaan baru?" Tanya yasn Apada Yazid yang sedang memantaskan dirinya di cermin.


"Siap sih. Tapi ya lelah, kamu sih enak duduk aja terus dari pagi sampai malam," Yazid merasa keberatan.


"Sementara aja, setelah semuanya selesai kita akan menjadi ratu dan raja," ungkap Yasna, setelahnya wanita itu tergelak dan segera menutup mulutnya agar bik Inah tak mendengarkan suaranya.


.

__ADS_1


.


.


___


Sementara di tempat lain Mora dan Juna sedang tidak akur. Dua hari sudah Mora mendiamkan Juna karena pesan singkat yang memanggil suaminya dengan sebutan sayang.


"Sayang ayo makan!" Juna sudah menghidangkan makan siang di atas meja, laki-laki bertubuh atletis itu pandai memasak walau rasanya tak seenak masakan Mora.


Wanita cantik yang bergelar istri itu tak menjawab perkataan suaminya, tubuh mungil Mora meringkuk di atas ranjang. Rasa sakit masih terasa atau ini hanya bawaan ibu hamil saja?


"Sayang," panggil Juna menyentuh dahi istrinya sambil menyibakkan sedikit selimut.


"Ayo makan, setelahnya kita ke bidan terdekat!" Perintah Juna yang tak di respon sama sekali oleh wanita hamil itu.


Tanpa menunggu aba-aba juna menggendong tubuh mungil Mora menuju meja makan dan meletakkannya di atas kursi seperti meletakkan boneka.


"Kasar banget!" Mora melihat sekilas kearah suaminya itu, sementara Juna mengulum senyum.


"Bisa lebih sadis dari ini," ungkap Juna, melirik sekilas kearah istrinya lalu menuangkan air kedalam gelas.


"Buka mulut!" Perintah Juna sambil mendekatkan sendok kearah mulut wanita mungil itu, Mora menggeleng pelan.


Tuhan begitu baik membuat dua insan manusia dengan dua kepribadian yang berbeda bersatu saling menghargai.


"Sedikit saja," ucap Juna pelan. Menyentuh dagu istrinya dengan lembut.


"Apa kamu tidak mencintai dia yang ada di sini?" Sambung Juna sambil menyentuh perut datar Mora.


"Aku mencintainya dan juga mencintai kamu, Mas. Sepertinya kamu yang tidak pernah mencintai kami," papar Mora dengan nada tinggi. Kini isi hatinya akan ia utarakan.


"Kenapa berkata begitu? Sekuat tenaga dan upaya aku berusaha agar kamu bertahan, agar kamu bersamaku, aku berusaha merebut cinta yang hampir hilang untukku tapi masih saja kamu mengatakan bahwa aku tidak mencintaimu, istriku?" Juna menghela napas panjang lalu menyentuh dadanya. "Belah saja dada ini dah lihat siapa yang bertahta di sana," sambung Juna kesal.


"Tapi pesan di gawaimu, Mas," ucap Mora bergetar, setelahnya menjatuhkan bulir bening.


"Dia bukan siapa-siapa. Aku tidak pernah berhubungan dengan siapa pun, jika kamu ragu biasa kita temui wanita itu," ucap Juna tanpa ragu. Laki-laki bertubuh atletis itu menatapanik mata istrinya lekat.


"Tidak. Aku percaya sekarang," kata Mora pelan sambil menundukkan wajahnya. Ia begitu malu telah menuduh suami berbuat kecurangan dengan wanita lain.


Laki-laki bertubuh atletis itu mendekat kearah Mora, memegang kedua pipinya hingga wajah kekanak-kanakan itu sedikit mendongak lalu Juna mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.


"Sekarang makan!" Titah Juna, Mora mengangguk dan menerima suap semi suap nasi dari tangan Juna.


.


.


.

__ADS_1


Terkadang permasalahan tidak selamanya harus di selesaikan dalam keadaan emosi, saling mengalah dalam satu hubungan sangat penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.


Bukan pula dalam satu hubungan tak pernah ada keributan, cek-cok dan perselisihan adalah bumbu untuk menambah keharmonisan setelah kejadian itu.


__ADS_2