KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 58


__ADS_3

Setelah tujuh jam lebih perjalanan laki-laki bertubuh atletis itu kini sudah sampai di kota tujuannya, suasana dingin di pagi hari membuat ia mengusap kedua lengannya sendiri.


Gerimis masih menguyur bumi dengan sentuhan lembut, bau tanah begitu menenengankan mengajak pikiran untuk kembali terlelap.


Satu jam lagi adzan subuh akan segera berkumandang, Juna melirik jam tangannya sekilas setelah memesan minuman di rumah makan sederhana dekat dengan terminal.


Ia juga bingung kemana langkahnya akan ia ayunkan setelah ini saat mata hari sudah benar-benar menampakkan dirinya.


Dua orang berpenampilan begitu seksi mendekati Juna yang sedang menyesap teh hangatnya.


"Mas. Kita ini murmer loh." Dua wanita itu mengelus pipi mulus Juna sambil mengulas senyum manis, make up tebal melekat di wajah cantiknya.


"Semurah apapun aku tidak tertarik," ucap Juna pelan lalu hendak bangkit dari duduknya, laki-laki bertubuh atletis itu ingin duduk sebentar di dalam mesjid sambil menunggu adzan berkumandang.


"Heh. Mas ga usah jual mahal, kita bisa buat Masnya puas ataupun menderita," ucap salah satu dari mereka dengan suara khas laki-laki.


Laki-laki bertubuh atletis itu tersenyum miring, ternyata yang ada di hadapannya saat ini adalah laki-laki melambai, Juna berlahan menyentuh pinggangnya sendiri sementara mereka tersenyum berpikir bahwa Juna merasa kalah dengan ancaman murahan mereka.


Juna Andara mengusap pelan benda berpelatuk miliknya lalu mendekat kearah laki-laki bersuara lantang tadi.


"Kalau ini bagaimana?" Benda berpelatuk yang berisi timah panas itu ia letakkan di tubuh ramping salah satu dari mereka.


"Aw ... Tidak. Kita tidak ingin itu, Mas. Eike pergi aja ah," ucapnya lalu berbalik meninggalkan Juna yang tersenyum kecil lalu menyimpan benda kesayangannya secepatnya agar tidak ada yang melihat.


Tergesa Juna membayar teh hangat yang sudah habis ia tegak lalu menuju masjid karena adzan sudah berkumandang. Laki-laki bertubuh atletis itu berwudhu lalu memasuki masjid, ia melaksanakan salad dengan hikmat tidak ingin meninggalkan salat lagi walaupun kadang dosa masih ingin ia lakukan.


Laki-laki bertubuh atletis itu berusaha membenahi dirinya semampu yang ia bisa, menurut ceramah yang ia dengar dosa meninggalkan salat berbeda dengan dosa lainnya.


Larut dalam zikir yang begitu nikmat ia tertidur sambil duduk di sudut masjid. Seseorang menghampirinya dan mengguncangkan tubuhnya pelan.


"Mas, mohon maaf masjid mau dibersihkan," tutur laki-laki muda dengan lembut sambil mengulas senyum kearah Juna yang baru saja mengucek matanya.


"Oh, iya. Maaf menganggu," ucap laki-laki bertubuh atletis itu lalu bangkit dari duduknya.


Berjalan pelan keluar dari dari dalam masjid, matanya memindai beberapa penjual yang tidak jauh dari masjid. Mendekati penjual roti lalu membelinya, menyantap satu roti dengan air mineral saja membuat dirinya merasakan susahnya hidup menderita di jalanan dan tanpa ada yang peduli padanya.


.


.


Gerimis kecil masih mengguyur kota, berjalan kaki mencari tempat yang menyediakan penginapan untuk jangka waktu lama namun belum ia temui, sudah hampir satu jam ia berjalan menyusuri beberapa sudut kota yang biasanya menyediakan penginapan atau kontrakan satu kamar.

__ADS_1


"Mas, ada kos-kosan dekat sini ga ya?" tanya Juna sambil melirik sekilas jam tangannya, begitu lelah rasanya tubuhnya menempuh perjalanan jauh ditambah berjalan kaki satu jam lebih.


"Ada, Mas. Tapi harganya ya lumayanlah," jawab laki-laki bertubuh gemuk pemilik toko pakaian.


"Ga apa-apa, Mas. Udah terlalu lelah jalan ini sampai kaki saya kempes," seloroh Juna lalu menjatuhkan bokongnya di bangku kayu berukuran panjang yang ada di toko pakaian milik laki-laki bertubuh gemuk tersebut.


"Mas jalan aja dikit lagi ke ujung sana, nanti jumpa rumah pagar hijau, itu rumah pemilik kost. Galak dikit sih orangnya," jelas laki-laki bertubuh gemuk itu, lalu ia terkekeh kecil, sementara Juna ikut terkekeh menangapi perkataan laki-laki itu.


Juna berpamitan lalu berjalan beberapa meter lagi sesuai instruksi laki-laki bertubuh gemuk tadi.


.


.


.


____


Di rumah Rani, wanita yang berstatus ibu kandung Juna itu sedang menangis tersedu-sedu karena nomor telepon milik anaknya tidak bisa ia hubungi begitu juga dengan Yudha tak bisa menghubungi anaknya yang sudah semalaman tidak ia temui.


"Gimana dong, Pa?" tanya Rani sambil menghentakkan kakinya ke lantai.


"Ga tau, makanya udah Papa bilang jangan terlalu keras sama Juna," lirih Yudha pelan sambil mengusap punggung Rani pelan. Laki-laki berjambang tebal itu berusaha membuat Rani lebih bersabar.


"Kapan Mama mau mendengar pendapat orang lain?" Yudha heran dengan sifat istrinya yang tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.


Rani menuju kamar Rosan dan menyuruh anaknya itu menelpon Juna namun lagi-lagi Rosan juga tidak dapat menghubungi adiknya tak jauh berbeda dengan Adiba juga melakukan hal yang sama namun tak ada tanda nomor ponsel adiknya itu aktif.


Wanita modis itu terlihat baik-baik saja saat ini, tak seperti beberapa hari yang lalu terlihat begitu tidak enak badannya, kini ia jauh lebih baik.


Langkahnya begitu berat ia ayunkan ke taman belakang rumahnya, setidaknya tanamannya saat ini dapat menghibur suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Maafkan Mama yang selalu mengatur dan berbohong padamu, Jun," lirih Rani lalu wanita modis itu menjatuhkan bokongnya di atas bangku panjang di taman.


Wanita modis itu tak bisa menggambarkan rasa kasih sayangnya, ia selalu mengatur hidup orang terdekat dengannya kecuali Rosan, Rosan dari kecil terlihat pendiam namun tak pernah setuju dengan perintah Rani yang menurutnya tidak harus ia patuhi.


Rosan juga pernah menolak perjodohan dengan anak sahabat Rani, saat menolak perjodohan itu Yudha memilih jodoh terbaik menurutnya yang berhijab syar'i. Pilihan kedua orang tua Rosan berbeda.


.


.

__ADS_1


.


____


Di tempat yang sejuk sedikit jauh dari hiruk pikuk perkotaan Alif mengantarkan Mora ke posyandu untuk mengimunisasi anaknya yang masih balita. Mora yang selalu setia menemani balita itu saat ini, biasanya asisten rumah tangga Alif yang setia menemani bocah balita tersebut.


Beberapa orang kader yang biasa memeriksa keadaan Farid kagum dengan kedekatan bocah balita itu dengan Mora Cantika yang ia anggap sebagai ibunya.


"Beberapa bulan tidak kelihatan udah hamil aja istrinya, Pak," celetuk salah satu kader yang duduk di luar ruangan.


Mata Mora membola sempurna melihat penuturan kader tersebut yang ia anggap aneh.


"Ga boleh lama-lama, Bu. Biar sekalian besarkannya," ucap laki-laki bertubuh tinggi itu, ia melirik ke arah Mora sekilas.


Wanita cantik yang menggunakan gamis itu tersenyum sekilas lalu fokus menimbang berat badan Farid.


.


.


Tak lama setelah menyuntikan imunisasi pada tubuh bocah kecil itu Mora berpamitan pulang begitu juga dengan Alif yang hanya tersenyum menanggapi perkataan ibu-ibu yang menggoda dirinya.


Wanita yang sedang hamil itu memasuki mobil Alif, wanita cantik itu duduk di samping Alif yang sesekali melirik kearahnya.


Sepertinya laki-laki bertubuh tinggi itu mulai menaruh hati pada wanita yang haram di sentuhnya itu. Mobil Alif berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang sepi karena orang-orang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Kita berhenti di supermarket ya, Mas. Mau beli susu Farid sama aku mau minta belikan body lotion satu yang kecil boleh, Mas?" Kali pertama Mora meminta pada orang asing selain suaminya.


"Yang besar juga boleh," ucap Alif setelahnya ia tergelak. Pikirannya saat ini sedang berkelana membuat Mora menatap aneh kearah Alif lalu beralih menatap Farid yang terlelap dalam gendongannya.


Beberapa saat mereka tiba di supermarket terdekat, Mora meletakkan Farid di atas tempat duduk khusus untuk balita, wanita hamil itu turun dari dalam mobil setelah menerima beberapa pecahan uang seratus ribu dari Alif.


Dua orang laki-laki berjalan di belakang Mora sambil pandang satu sama lain, laki-laki bertubuh tegap dan memakai maker untuk menyamarkan identitasnya agar tidak terpantau CCTV supermarket.


.


.


Mora mengabil susu formula ukuran besar lalu beralih ke rak yang tersedia bermacam merek lotion lalu mengambil yang ia sukai aromanya, sementara dua laki-laki bertubuh tegap tadi masih mengikuti Mora kemanapun langkah wanita cantik itu.


Masih belum sadar dirinya di ikuti sampai ia membayar di kasir lalu menuju mobil Alif dan kembali pamit untuk ke toilet, ia menuju toilet umum yang dekat dengan supermarket sedangkan Alif menunggu dalam mobil karena Farid sudah terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Dua laki-laki bertubuh tegap itu masih setia mengikuti Mora dan menunggu di depan toilet umum.


__ADS_2