
Malam terus melangkah naik. Insan manusia yang sedang dilema dalam satu hubungan merasa dirinya sedang berada di ambang kehancuran. Mata indah itu terus menatap langit-langit kamarnya, selalu terbayang wajah sedih dan bahagi Mora.
"Aku berjanji pada diriku, akan kubuat kamu bahagia Mora!" Lirihnya. Hati dan pikiran tidak dapat tertidur, selalu terbayang insan lemah yang berharap perlindungan namun yang ia dapat hanya luka dan kegagala.
Bangkit dari tidurnya menuju dapur, mencari penyegar tenggorokan. Cuaca terasa begitu panas, padahal di kamarnya ada AC.
Meraba saklar dan menyalakannya, matanya tertuju pada sosok perempuan yang ia rindukan walau baru saja bertemu. Mora duduk di lesehan, memainkan kalung yang pernah ia rampas paksa saat kesuciannya direnggut paksa, mata Juna memanas, ada rasa sesak yang mendalam. Kini ia menyadari jika Mora menyimpan dendam padanya, ia berharap semoga Tuhan tak memberikan petunjuk pada Mora siapa laki-laki yang telah memperkosanya.
"Sedang apa?" Juna membuka suara, memecah keheningan.
"Ah, tidak! Saya hanya sedang risau," jawabnya, tangannya segera menyimpan benda yang ia pegang, menyembunyikannya di dalam saku piama miliknya.
"Tidurlah! Sudah larut. Kasihan janin yang kamu kandung, masih dalam kandungan aja sudah di ajak begadang," jelasnya. Berharap agar wanita cantik itu mendengar apa yang ia sampaikan barusan.
"Tuhan tidak pernah adil. Saya berharap Tuhan segera mencabut nyawa saya," ujarnya, memainkan telunjuknya, rasa gundah melanda jiwa.
Dendam di hatinya sama sekali belum terkikis, ia sangat berharap Tuhan akan segara memberikan hukuman setimpal pada laki-laki yang telah memporak-porandakan hidupnya, menjadikannya tak lebih dari sampah yang terbuang.
"Apa yang membuatmu merasa Tuhan itu adil?" Juna mendekat pada lesehan yang di duduki Mora.
"Entah, jika takdir harus begini. Aku bisa apa!" Ia menghela napas berat.
"Aku akan menikahimu, jadi siapkan mentalmu. Dalam waktu dekat ini, mungkin besok akan aku beritahukan pada mama aku ingin menikahimu," jelasnya. Raut wajah heran terlihat jelas dari muka Mora.
"Tidak perlu! Bukan anda yang menghamili saya Tuan." Kekesalan jelas tergambar di wajahnya.
Bukan?
__ADS_1
Jangan katakan bukan, hati Juna terenyuh mendengar pengakuan dari bibir ranum wanita cantik itu. Jika dia terlahir sempurna maka layak disebut bidadari yang ada di dunia. Mungkin saat ini ia bukan bidadari dunia, akan jadi bidadari surga untuk pelengkapnya.
"Setelah aku menikahimu semua akan baik-baik aja, nama baikmu akan terjaga." Tangannya refleks mengusap rambut indah Mora.
"Bagaimana dengan nama baik Anda, juga nama baik keluarga Anda tuan?" Mata gadis itu berkaca-kaca, keraguan tergambar jelas di sana, rasa bersalah pada orang tua Juna akan semakin dalam. Jika saat ini hanya menumpang, mungkin nanti akan menjadi fitnah untuk keluarga Juna, dan Mora tidak menginginkan itu terjadi.
" Aku ga apa-apa. Biar kutempuh jalanku, aku akan menemukan bahagiaku kelak dengan bayiku," jelasnya lagi. Air asin yang ia tahan di pelupuk mata berlomba-lomba membanjiri pipi mulus milik Mora.
"A ... Aku." Kata-katanya tertahan mengingat Mora sangat membencinya orang yang melakukan perbuatan keji itu padanya.
"Anda kenapa?" Tanya Mora merasa heran mendengar kata-kata Juna yang gagap.
"Aku ga apa-apa. Hanya saja pernyataan yang baru kulontarkan serius. Aku ingin menikahimu. Jangan ada penolakan, atau...." Juna menjeda ucapannya, ia saat ini sangat ingin mengancam sebenarnya, namun dia kasihan pada bayi yang di kandung Mora jika wanita itu tertekan maka akan berdampak pada janinnya.
Juna akhir-akhir ini sering membuka komunitas ibu hamil, juga komunitas pengajian. Berubah drastis dari sebelumnya.
"Aku akan pergi dari sini. Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi," ucapnya dengan serius. Dari lubuk hatinya yang dalam sudah memikirkan kedepannya. Rasanya laki-laki itu tak sanggup melihat Mora menanggung kesusahan sendiri, deritanya begitu berat karenanya.
"Jelaskan pada mama kamu terlebih dulu." akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutnya.
"Baiklah. Tenanglah Mora, aku akan menganggap dia seperti anakku. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya," jelasnya berharap Mora tidak merubah pikirannya setelah mengetahui reaksi ibunya nanti.
Anakku? Demi menutupi diri atas kelakuan bejatnya dia terpaksa mengatakan akan mengakui itu anaknya, yang sebenarnya memang anak biologis miliknya. Walau dalam Islam anak itu adalah hak ibunya sepenuhnya dan tanggung jawab jatuh pada ibunya. Tapi Juna sebagai laki-laki yang sudah sedikit mengenal agama akan berusaha bertahan dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
Tangan laki-laki bertubuh atletis itu mengusap rambut Mora pelan, hangat terasa menjalar keseluruhan tubuhnya. Perasaan cintanya mulai tumbuh terhadap Mora. Seperti pepatah yang mengatakan 'Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta,' pepatah itu terbukti sudah. Sementara gadis itu hanya diam saat di perlakukan demikian, setidaknya gundahnya sedikit berkurang dengan adanya tanggung jawab dari Juna ia merasa anaknya ada sosok seorang ayah, walau kegundahan lain bersarang di benaknya.
____
__ADS_1
Sementara Rosan bersama sang kekasih tengah berdebat beradu argumen, saling menyalakan bahkan Monic memukul Rosan berkali-kali di tempat umum, tapi reaksi laki-laki itu datar, tidak ada tanggapan.
"Aku melihat kamu jalan bersama wanita lain, Rosan. Kamu merangkulnya," jelas Monic berapi-api. Monic memegang dadanya yang terasa sesak.
"Dia hanya teman, Monic. Percayalah!" Berusaha menyentuh pipi sang kekasih, ingin mengusapnya, meredakan amarahnya namun segera ditepis oleh pemilik raga.
"Aku bukan wanita bodoh, Rosan. Kalian ada hubungan, aku yakin itu!"
Sementara Rosan tidak mampu lagi membela dirinya yang begitu tersudutkan. Memang benar beberapa hari lalu sebelum Monic pulang dari luar negri, Rosan sempat berjalan-jalan di Mall dan berbelanja juga mentraktir makan wanita itu. Tapi bukan seperti yang di tuduhkan Monic, Rosan tidak se bejat Juna yang mudah ganti pasangan dalam setiap kencan dan bahkan menidurinya. Wanita yang Rosan bawa adalah sahabatnya semasa kecil yang sudah lama tidak bertemu, mereka terlihat akrab karena sikap Rosan yang hangat begitu juga dengan sikap sahabatnya yang begitu hangat, terasa seperti sepasang kekasih jika berjalan bersama juga sesekali saling meledek.
Taman ini menjadi saksi kemarahan Monic pada sang kekasih. Laki-laki berwajah turki itu menatap Monic ragu, ingin sekali mempertahankan hubungan yang sudah bertahun dibina, tapi kelakuan Monic juga sangat kasar jika dia dalam keadaan marah, sifat manjanya seketika hilang.
"Jadi sekarang hubungan kita bagaimana?" Akhirnya kata-kata yang tidak ingin dikatakan Rosan lolos begitu saja.
"Aku ingin mengakhiri semuanya denganmu. Kita jalani jalan masing-masing, biar aku menyembuhkan lukaku," jelasnya sambil terisak.
"Tapi ingat! Sembuhkan lukamu dengan menyelidiki siapa wanita itu langsung, jangan biasakan diri menerima fitnah dan menelannya begitu saja, benar salahnya aku berselingkuh dengan dia kamu akan mengetahuinya nanti," jalas Rosan. Mata laki-laki berwajah Turki itu memerah, sekuat tenaga menahan bulir mening agar tak luruh. Mengingat begitu banyak hal yang ia lalui bersama gadis keturunan Belanda itu.
"Tidak perlu menggurui. Aku tau apa yang harus aku lakukan," hardiknya. Matanya masih memerah, menahan isaknya agar tak terdengar.
"Dan saat kamu mengetahuinya nanti, mungkin aku sudah menjadi milik orang lain. Aku akan menerima wanita yang sudah ayah siapkan. Percuma jika selama ini aku mempertahankanmu."
Mendengar itu Monic menghentakkan kakinya dan berlalu dari hadapan Rosan yang hanya duduk menunduk.
Percintaannya dengan Monic selama ini begitu indah, wanita keturunan Belanda itu begitu perhatian dan manja padanya, bahkan rela menunggu Rosan di rumah sakit tanpa meninggalkannya sekejap pun.
Rosan bangkit dari duduknya, meninggalkan taman kota yang menjadi saksi bisu atas hancurnya hubunga indah yang telah lama ia bina. Dengan gontai ia melangkah menuju mobil dan segera memacu kendaraannya dengan hati yang hancur.
__ADS_1
Bersambung....