KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 35


__ADS_3

"Udah deh, Ma. Ga usah salahkan mas Juna, emang dasarnya wanita ini pembawa sial," celetuk Yasna membuat Rosan dan Adiba beristighfar.


"Jaga mulutmu, Yasna," ucap Rani pelan, dirinya tak ingin membangunkan Mora yang sedang beristirahat.


Rani menarik tangan Yasna keluar dari kamar Mora dengan kasar, wanita berbibir tebal itu berdecak kesal, sementara Rosan tersenyum tipis. Ia paham bahwa Rani tak suka jika ada orang yang menghina orang yang ia sayangi.


"Jaga bicaramu sama menantu saya, Yasna!" Hardik Rani saat mereka sudah berada di luar kamar Mora.


"Ya kan memang kenyataannya, Ma," jawab Yasna kesal.


"Dia berbeda di mata saya, apapun perkataan kamu, tak mempengaruhi apapun pada saya." Rani meninggalkan Yasna yang mematung, dengan mulut ternganga. Wanita berbibir tebal itu begitu kesal pada Rani yang susah untuk di suntikkan kata-kata pedas.


"Baik. Jika begitu aku memiliki cara lain untuk memisahkan Mora dari Juna Andara," lirihnya, wanita berbibir tebal itu tersenyum miring.


Bukan dunia yang hanya selebar daun talas, tapi Juna sudah bertahta di hatinya saat ini.


Hatinya sudah terpatri pada laki-laki yang mampu membuatnya melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan.


Rani menghampiri Rosan yang duduk sedikit lebih jauh dari dari Yasna mereka berbincang dan tak ingin menganggu Mora yang sedang beristirahat, mereka merencanakan siapa yang akan pulang dan berjaga di sini, karena waktu sudah hampir pagi dan mereka tidak tidur sama sekali. Rani, Adiba dan Rosan menuju kantin yang tidak jauh dari rumah sakit, mereka melupakan wanita berbibir tebal itu karena perkataannya yang menyakiti hati Rani.


Wanita berbibir tebal itu menuju ruang IGD saat perawat lengah mengontrol karena kantuk menyerang, leluasa ia masuk walaupun sebenarnya tak diizinkan masuk karena pasien dalam keadaan kritis.


Yasna mendekat kearah Juna yang terbaring tak berdaya, berlahan Yasna mengelus tangan kekar Juna lalu meraba perut sispack Juna.


"Aku menginginkannya tapi sayang orang lain yang memilikinya," lirihnya menatap wajah tampan Juna dengan penuh kekesalan, juga kasih sayang.


"Sayang sekali jika aku tidak dapat memilikinya maka wanita bajingan itu juga tidak boleh memilikinya," desisnya di telinga Juna.


Melihat kearah pintu yang masih tertutup Yasna menarik peralatan yang terpasang di tubuh Juna dengan cepat tak terkecuali selang yang menempel di hidung. Seorang perawat lewat dan melihat aksi Yasna dan berteriak memanggil temannya, mendengar perawat berteriak karena memergoki aksinya, Yasna berlari keluar rumah sakit dengan cepat.


Yasna yang licik kini berpura-pura duduk di kantin yang ada di sebrang jalan, berpura-pura memainkan ponselnya saat beberapa perawat laki-laki mencari keberadaan Yasna, sementara perawat lainya memasang kembali alat yang seharusnya terpasang pada tubuh Juna.


"Kita harus memperketat penjagaan jika tidak ingin di pecat," ujar perawat laki-laki yang mencari Yasna namun gagal ia temukan.


"Bener tuh. Bisa kena tuntut sama keluarga korban kita dan pihak rumah sakit," jawab temanya disabut dengan anggukan oleh teman mereka lainnya.


Wanita berbibir tebal itu memutuskan pulang karena melihat seorang perawat berjaga di depan pintu IGD saat Yasna kembali lagi untuk menjalankan aksinya yang kedua kali, sementara di kantin rumah sakit Rani yang menahan kantuknya menguap beberapa kali.


"Ma, biar Mas Rosan aja yang jaga Mora sama Juna, kita pulang aja," celetuk Adiba saat melihat ibu dari suaminya itu menguap begitu lebar.

__ADS_1


"Kamu ga apa-apa di sini sendirian, Nak?" Rani memandang wajah Rosan yang terlihat sedikit lesu.


"Ga apa-apa. Mama sama Adiba pulang aja, kan kasihan juga Diba lagi hamil gini mau nginep di rumah sakit," jelas Rosan membuat Rani menganggukan kepalanya.


"Biar mama aja yang nyetir ya," kata Rani saat mereka tiba di parkiran, karena Rani juga sayang pada Adiba yang sedang mengandung cucunya.


"Tapi Mama ngantuk kan?" Tanya Adiba pada Rani, wanita modis itu hanya diam tidak menjawab.


"Biar Adiba aja ya yang nyetir, Adiba ada tidur siang," jelas wanita berhijab syar'i itu, Rani hanya mengangguk lemah.


Wanita modis itu masuk kedalam mobil, duduk di samping Adiba, Rani meraih gawainya dan menelpon suaminya yang masih di Turki.


"Pa," panggil Rani dengan suara bergetar menahan tangisnya saat panggilan sudah terhubung.


"Ada apa, Sayang?" Terdengar jawaban dari sebrang sana sedikit panik.


"Juna kecelakaan dan sekarang koma, papa bisa pulang?" Tanya Rani pada sang suami di sebrang sana yang terdiam mendengarkan perkataan istrinya.


"Pa," panggil Rani saat tak ada jawaban sama sekali dari gawainya.


"Iya, Sayang. Papa pulang. Jaga Juna baik-baik papa mimpi buruk dari dua hari yang lalu, ternyata ini pertandanya," jelas sang suami lalu panggilan di akhiri oleh sang suami sepihak.


Sedikit menguncangkan tubuh Rani agar wanita modis itu bangun dari tidurnya.


"Ma, sudah sampai," ucap Adiba pelan, harapannya Rani segera bangun dari tidurnya.


"Ma." Lagi-lagi Adiba menguncangkan tubuh Rani, berlahan wanita yang biasa di panggil mama oleh anak-anak itu mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Ngantuk banget!" Rani turun tanpa memperdulikan Adiba langsung masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat, sementara Adiba menggeleng tak percaya.


"Bik tolong buatkan saya jus strawberry," pinta Adiba saat dirinya tiba di dapur menemui bik Inah yang hendak memasak karena majikannya sudah tiba di rumah.


"Baik, Non," jawab bik Inah tersenyum.


Adiba menuju kamar tamu, kamar yang ia tempati sebelumnya bersama Rosan yang kini sudah di tempati oleh Yasna. Adiba tak tahu jika Yasna tidur di kamar itu sekarang.


"Kenapa kalian ga becus sih?" Suara Yasna samar Adiba dengar dari luar kamar. Rasa penasarannya ingin tau kenapa Yasna terlebih dulu tiba di rumah dan kenapa dia berbicara begitu kasar. Perlahan Adiba membuka pintu agar suara Yasna lebih jelas ia dengar.


"Kalian cuma buat rem blong masa orangnya ga mati sekalian," ucap Yasna kesal.

__ADS_1


"Sekarang datang kerumah sakit dan segeralah bunuh laki-laki yang sedang sekarat di IGD bernama Juna Andara, kalau bisa sekalian wanita yang ada di kamar 015, nanti kukirimkan alamat rumah sakitnya," kata Yasna berbicara dengan gawai miliknya yang masih menempel di telinganya, sementara Adiba yang mendengar perkataan Yasna memegang dadanya yang terasa sesak tanpa sengaja ia menarik pintu sedikit kasar hingga membuat Yasna menyadari keberadaannya.


Wanita hamil itu segera berlari dan masuk kedalam kamar di sebelah kamar Yasna, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Adiba begitu heran pada Rani kenapa mertuanya itu tak pernah menyadari bahwa dirinya telah menampung seorang pembunuh.


"Siapa?" Pekik Yasna membuat jantung Adiba tak dapat ia kontrol, napasnya memburu.


"Ya-Allah selamatkan hamba," lirihnya, Adiba berbaring di tempat tidur dan membelakangi pintu seolah ia sedang terlelap.


Begitu kasar Yasna mendorong pintu kamar yang biasa di tempati oleh Mora, ia terkejut melihat Adiba terlelap, dirinya mengira bik Inah yang menguping pembicaraannya, Yasna tak menyangka bahwa Adiba sudah di rumah, bahkan Yasna tak menaruh curiga jika Adiba mendengar obrolannya tadi.


Yasna menutup pintu pelan takut jika Adiba sampai terbangun dan memergokinya memasuki kamar tanpa permisi, sementara Adiba mengelus dadanya lega karena Yasna tak curiga padanya.


Wanita paruh baya itu mengantarkan jus strawberry yang di pesan oleh Adiba kekamar tamu, tapi ia bingung Adiba ada di kamar mana.


"Ngapain di situ?" Tanya bik Inah pada Yasna karena dirinya dari arah kamar yang di tempati Mora.


"Kepo banget. Aku ngobrol doang sama Mbak Adiba bentar di kamar Mora, kok!" Yasna memasang wajah malas, dirinya malas menanggapi perkataan bik Inah.


"Oh. Non Adiba di kamar neng Mora," lirih bik Inah, wanita paruh baya itu berlalu menuju kamar.


Saat kamar terbuka sempurna Adiba masih berpura tidur tanpa bergerak.


"Katanya ngobrol sama Non Adiba. Ini Non Adiba tidur," gumam bik Inah Sabil meletakkan jus di atas nakas, lalu menggaruk tengkuknya, Adiba mendengar itu suara bik Inah langsung bangkit dari tidurnya.


"Eh ... Copot," ucap bik Inah saat Adiba bangun dan mengagetkannya. Sebelah tangannya menyentuh dadanya. Wanita cantik berhijab syar'i itu tersenyum kearah bik Inah, wanita paruh baya itu begitu lucu dengan latahnya.


"Terimakasih, Bik." Adiba tersenyum lagi kearah bik Inah, wanita berhijab syar'i itu menepuk kasur di sebelahnya tanda menyuruh bik Inah duduk sebentar.


"Ada apa, Non?" Tanya bik Inah penasaran dengan raut wajah Adiba yang terlihat cemas.


"Sejak kapan wanita itu di sini?" Tanya Adiba pada bik Inah.


"Sejak tiga atau empat bulan yang lalu, Non," jawab bik Inah mengernyitkan dahinya.


"Dia berbahaya." Adiba berbisik di telinga bik Inah. Adiba begitu takut jika Yasna mendengar perkataannya.


"Maksudnya gimana, Non?" Semakin bingung bik Inah di buatnya.


"Saya tidak bisa menceritakan sekarang bik, nanti aja kita bicarakan saat wanita itu pergi," desis Adiba lagi. Bik Inah hanya mengangguk paham lalu wanita paruh baya itu keluar dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2