
Malam ini langit penuh dengan bintang, Mora terbangun dari tidurnya. Wanita hamil itu menatap suaminya yang tertidur pulas, dielusnya dagu mulus itu, beralih menyentuh bekas luka di pipi Juna.
"Aku mencintaimu karena Allah," lirihnya lalu Mora meringsut sedikit, melepaskan tangan yang melingkar di tubuhnya.
Wanita cantik itu menuju jendela, menyibak pelan gorden kaca lebar itu, mata indahnya menatap langit dari dalam kamar.
"Indah sekali," Gumamnya, matanya masih memandang bintang di langit yang bersih itu.
Kembali ia tutup gorden lalu menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Kali ini ia akan melaksanakan salat di sepertiga malam, Juna menincingkan matanya melihat wanita yang ia puja tak ada di sampingnya.
Tak lama Mora keluar dari kamar mandi dengan helaian rambut yang sebagian basah, wanita itu segera mengambil mukenanya lalu melaksanakan salat dengan hikmat, sementara Juna menatap kagum pada Mora namun ia enggan beranjak dari tidurnya.
.
.
.
Di tempat lain putri sedang berkeluh dengan seseorang, di negara tetangga kini ia berada.
"Bagaimana ini Marsel?" Putri begitu takut saat ini.
Wanita berambut pirang itu memilih menjauh sebentar dari Indonesia, memilih tinggal di negara Jiran.
"Apa yang bagaimana?" Marsel berdecak kesal, pengakuan Putri yang berbelit membuat dirinya sulit untuk memahami apa tujuan dan maksud Putri.
"Aku takut jika laki-laki itu bunuh aku," lirihnya membuat mata Marsel membola sempurna.
"Siapa. Emang kamu apa salah?" Marsel mencoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Ceritanya beberapa minggu aku dorong istri orang sampai pendarahan, mana istri psikopat lagi," akunya sambil bergidik ngeri.
"Ya itu resiko. Ngaku aja sama polisi Indon biar dapat perlindungan, kalo aku kan polisi di negara ini, jadi mana mungkin lindungi kamu, karena masalah kamu di Indon baiknya selesaikan di sana," ungkap Marsel tegas.
"Selagi aku di sini lindungi aku," lirihnya memasang wajah iba, dengan terpaksa Marsel menyetujui permintaan Putri, seketika senyum mengembang di wajah Putri.
Ia bersama Cika akan berjalan-jalan menghabiskan uangnya lalu kembali ke rumah tantenya yang tak lain adalah ibu dari Marsel, walau dalam pekatnya malam di kota tetangga yang tak pernah padam, lalu lalang kendaraan, restoran bahkan pusat perbelanjaan masih terbuka. Malam hampir menjelang pagi namun mereka masih asik berbelanja bahkan hampir melupakan Cika yang terlelap di dalam mobil.
Salama perjalanan pulang Marsel menyarankan Putri untuk pulang karena tidak mungkin jika terus menerus bersembunyi, cepat atau lambat Juna juga pasti akan menemukannya.
Saran dari Marsel tak kalah licik, mereka bekerja sama kali ini. Putri yang kini sudah sedikit mulai tenang sedang menyusun rencana, Marsel menyarankan agar Cika tinggal saja bersama ibunya di sini, Marsel juga menyarankan Putri untuk membuat akte kelahiran Cika di tempat ia tinggal saja agar Cika dapat bersekolah di tempat ia tinggal saat ini.
Senyum bahagia terlihat jelas dari wajah Putri, ia akan kembali dan tak lagi tinggal di rumah lamanya.
.
.
.
__ADS_1
Di rumah Rani, wanita modis yang baru saja melaksanakan salatnya terlihat pucat. Untaian doa ia panjatkan untuk kesembuhannya, dokter menyarankan agar Rani banyak beristirahat karena tubuhnya semakin melemah. Semua karena efek racun yang Yuli berikan bertubi-tubi.
Dikamar yang tak jauh dari kamar Rani, wanita cantik yang sedang hamil itu melipat mukenanya lalu menuju ranjang, melihat Juna masih terlelap padahal adzan subuh sudah berkumandang bahkan Mora saja sudah melakukan salat subuh.
Mora mendekatkan wajahnya ke muka Juna, napas keduanya saling terasa, berlahan ia kecup pipi mulus yang tak berjambang satu pun itu, lalu mengusap pedua alis Juna secara bergantian, sementara Juna yang sadar dirinya saat ini sedang di goda mendekap erat tubuh Mora hingga tubuh mungil itu sulit untuk bangkit.
"Bangun salat subuh dulu," ucap Mora mencubit pipi kekasih halalnya itu pelan.
"Cium lagi baru mau bangun," kata Juna lalu tubuh mungil Mora ia angkat agar bisa berbaring di sampingnya.
Kembali Mora mendaratkan beberapa kecupan di pipi dan kening suaminya itu, dengan senyum manis Juna bangkit dari tidur, tangannya menarik Mora agar ikut duduk seperti dirinya saat ini.
"Aku mohon bersikap manis lah seperti ini selamanya," ucap Juna, tangan kekar Juna membelai lembut rambut wanita cantik pemilik hatinya saat ini.
"Jangan pagi-pagi udah jadi budak cinta, solat dulu sana," ucap Mora pelan, tubuh mungil itu duduk bersila menatap punggung suaminya yang berlalu kekamar mandi, pipi mulusnya merona saat Juna menggodanya.
"Semoga Allah melindungi pernikahan kita," lirihnya, firasatnya mengatakan bahwa pernikahan mereka di ambang kehancuran, semoga saja ini hanya firasat saja.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" Juna menatap kearah istriya yang menyeka sudut matanya. Salatnya begitu terburu-buru karena mata hari hampir menampakkan dirinya.
"Tidak," jawab Mora pelan.
"Aku melewatkan sesuatu. Aku yakin itu," ucap Juna, tubuhnya sedikit menunduk lalu mengecup pucuk kepala bidadarinya.
"Ayo kita makan," ajak Mora mengalihkan pembicaraan, Juna hanya mengangguk tanda setuju.
Bukan laki-laki bertubuh atletis itu tak ingin tahu apa yang baru saja di pikirkan oleh istrinya itu tapi ia tak ingin membuat Mora semakin tertekan.
"Bik mana Mama?" Tanya Juna pada bik Inah yang sedang menyeduh susu kalsium untuk Rani.
"Yonya sepertinya lemas, tadi Tuan Yudha minta di antarkan makanan untuk nyonya kedalam," ucap bik Inah, ia tak menatap kearah Juna, ia masih fokus menuangkan air kedalam gelas dan menata roti yang suda ada di piring kecil kedalam napan.
"Biar aku aja, Bik."
Laki-laki bertubuh atletis itu menuju kamar Rani dan mengambil alih mapan yang akan bik Inah bawa kekamar Rani, sementara Mora juga ikut di belakang suaminya.
Juna meletakkan piring di atas nakas sesaat setela ia tiba di kamar Rani.
"Pa, Mama kok bukannya semakin membaik?" Tanya Juna heran, sudah sering mengambil obat tetap saja tubuh Rani terlihat lemah.
"Dokter bilang racun di tubuh Mama sudah menyerang pembuluh darah," lirih Rani, ia tersenyum kecut menatap putranya yang terlihat cemas.
"Ini akibatnya Mama terlalu kasihan sama orang, Mama tau ga sebenarnya Yuli itu Yasna, aku tau karena aku sudah me ...." Juna menjeda ucapannya, hampir saja ia mengatakan telah melenyapkan Yuli.
Mulut Rani menganga, begitu juga dengan Yudha, rasanya mereka tak percaya pada perkataan Juna.
"Me apa? Jangan memfitnah," lirih Rani.
"Mengusirnya dari rumah ini," dusta Juna. "Sumpah, aku udah cek barang-barang yang ia tinggalkan di kamarnya," lanjutnya, menggaruk tengkuknya.
Ia mengumpulkan KTP dan benda milik Yuli rencana akan ia bakar untuk menghilangkan jejak. Rani bangkit dari duduknya lalu menuju kamar yang di tempati oleh Yuli dan Yazid sebelum. Beberapa langkah berjalan mereka tiba di kamar Yuli, KTP dan barang Yuli Juna letakkan di atas ranjang.
__ADS_1
Dengan cepat Rani memeriksa dan melihat KTP Yuli, wajah keduanya mirip tak ada beda, benar mereka orang yang sama dan satu buku catatan harian yang belum sempat Juna baca.
Perlahan Rani membuka dengan tangan gemetar.
Siapa yang menyakiti hati ini ia akan lenyap. Begitu dalam buku catatannya di awal pembukaan, Rani membaca setiap bait kalimat yang tertulis di sana, rencana awal ia datang bahkan rencana ingin membunuhnya dan Mora tertulis jelas di sana.
Tak sanggup menahan sesak yang begitu menghujam dada, Rani menjatuhkan bulir bening tanpa bisa ia tahan.
"Sudah, Ma. Lain kali hati-hati aja sama orang," bisik Yudha di telinga Rani lalu menyuruhnya duduk di atas ranjang.
"Maafkan Mama, Pa," ucap Rani, ia beralih menatap suaminya lekat.
"Semua udah berlalu, Ma. Lupakan aja," lirih suaminya Rani itu sambil mengusap punggung Rani pelan.
Tak ingin terus larut dalam kecewa, mereka menuju kamarakan untuk sarapan. Akhir-akhir ini Rani tak pernah lagi kebutik semenjak dirinya merasakan lemas yang luar biasa, Yudha yang setia mengurus butik walaupun bukan keahliannya.
Kini Juna sedikit tenang meninggalkan Mora di rumah Rani karena dua lalat pembawa penyakit itu tidak ada lagi untuk membuat mereka celaka, Mora mencium takzim punggung tangan suaminya yang hendak berangkat kerja, Juna juga mendaratkan kecupan mesra di kening bidadarinya itu.
"Mata di janga, jangan lirik susunya Lolita," ucap Mora memanyunkan bibirnya, karena ia tahu Lolita masih mengejar Juna karena pernikahan mereka belum di gelar resmi.
"Jangan cemburu," kata Juna sedikit tersenyum lalu jemarinya ia tempelkan di bibir ranum Mora, wanita cantik itu tak merespon apa yang Juna katakan, ia takut jika Lolita memiliki kelakuan sama seperti Yasna dulu.
Setelah mobil Juna benar-benar menjauh Mora menuju gerbang dan menutupnya, lalu ia masuk kembali kedalam rumah.
Wanita paruh baya yang sudah begitu menyayangi Mora itu menghampiri dirinya.
"Neng ada berita bahagia," lirih bik Inah emantap manik mata Mora lekat, tubuh mungil Mora ia ajak duduk di kursi ruang tengah.
"Non Adiba sudah melahirkan," jelas bik Inah membuat kedua bola mata berbinar.
"Serius, bik? Kapan?" Brondong Mora, sekilas bik Inah mengangguk.
"Tadi subuh, barusan dikabari. Tapi kasian nyonya kalo harus jenguk kerumah sakit," lirih bik Inah dengan muka lesu.
"Suruh bawa pulang kesini aja," ucap Mora antusias, ia mengelus perutnya yang sudah sedikit mulai terlihat, rasanya tidak sabar menanti kehadiran buah hatinya saat ini.
Ia merogoh saku roknya lalu menekan panggilan pada nomor kakak iparnya.
"Kak. Mbak Adiba bawa pulang kesini aja," ucap Mora saat panggilan sudah terhubung dan ia sudah mengucapkan salam sebelumnya.
"Rencananya gitu, tapi kasian kan mama lagi sakit," jelas Rosan di sebrang sana.
"Ga apa-apa, ada aku dan bik Inah juga, aku sehat gini kok," kekehnya membuat Rosan ikut terkekeh di sebrang sana.
"Kamu masih perlu istirahat," ucap Rosan mencoba mberikan pengertian.
"Iya sih. Tapi kalo cuma antar makanan dan gendong bayi kakak aku masih sanggup," ungkap Mora lemah, matanya berkaca-kaca, Rosan seperti menolak membawa Adiba kerumah Rani, Mora hampir mematikan panggilan namun Rosan memanggil berkali-kali membuat Mora meletakkan kembali gawainya di telinga.
"Kenapa, Kak? Maaf tadi ga denger, jaringan jelek," dustanya.
"Jangan sedih gitu. Oke Kakak akan bawa Mbakmu kesitu," kata Rosan di sebrang sana, ia telah mendapatkan persetujuan dari Adiba sebelumnya.
__ADS_1