
"Maksudnya gimana, Non?" Semakin bingung bik Inah di buatnya.
"Saya tidak bisa menceritakan sekarang bik, nanti aja kita bicarakan saat wanita itu pergi," desis Adiba lagi. Bik Inah hanya mengangguk paham lalu wanita paruh baya itu keluar dari kamar.
Tangan wanita hamil besar itu gemetar memegang gawainya, hatinya begitu takut untuk memberitahu pada Rosan tentang pembicaraan Yasna di panggilan telepon seluler tadi. Wanita berhijab syar'i itu takut jika suaminya tidak percaya padanya.
"Bismillah," lirihnya lalu mengirimkan pesan ke aplikasi hijau.
"Mas. Awasi Mora dan Juna. Mereka dalam bahaya." Pesan masih ceklis satu. Hati Adiba di landa cemas.
Sedikit ragu Adiba menelpon Rosan. Tak lama panggilan terhubung.
"Mas, kok ga aktif?" Adiba merasa begitu was-was jika melakukan panggilan, takut jika Yasna mendengar ucapannya.
"Habis Batee, Sayang," jawab Rosan begitu lembut di sebrang sana, siapa saja yang mendengar akan meleleh.
"Matikan aja, Mas. Buruan cek pesan," kata Adiba dan Sera mematikan benda pipih yang menempel di telinganya.
Setidaknya hatinya sedikit lega karena tak merasakan kewaspadaan takut ada yang menguping.
"Memangnya siapa yang ingin berbuat jahat, Sayang?" Balasan pesan masuk ke gawai milik Adiba.
"Yasna." Terpaksa Adiba memberitahu bahwa Yasna ingin berbuat jahat pada adik iparnya.
"Yakin, Sayang?" Tanya Rosan lagi. Ya-Allah bukankah dalam suatu rumah tangga harus ada saling percaya.
"Aku mendengar percakapan Yasna saat menyuruh mencelakai Jun dan Mora." Berulang kali Adiba beristighfar agar suaminya itu tak lalai dalam menjaga dua nyawa.
Walaupun sebenarnya mati di bunuh adalah mati syahid namun tak ada salahnya kita menolong hamba Allah, karena kita di tunjukkan oleh Allah sebagai penolong.
"Oke, Sayang. Aku akan intai." Balas Rosan dengan emoticon tertawa, entah laki-laki itu percaya atau tidak.
"Mas. Aku serius." Wanita berhijab syar'i itu mulai kesal, masih bisa bercanda walau saat ini ada jiwa yang terancam.
"Ya, Sayang. Aku percaya."
"Hati-hati di sana, Mas. Jangan telat makan."
"Pasti bidadariku."
Setelahnya hening tak ada saling bertukar pesan lagi, Adiba menegak beberapa teguk jus strawberry buatan bik Inah.
"Aku harus cari cara agar mama mengusir, wanita berhati iblis itu dari sini," lirih wanita hamil itu.
.
.
.
__ADS_1
Malam pun berganti pagi, menyapa dengan awan mendung yang bergelayut manja, menandakan hati yang sedang gelisah di ujung penantian sisi lain manusia.
Di kamarnya Yasna sedang berganti pakaian, wanita berbibir tebal itu akan segera berangkat kekantor milik Juna yang baru saja ia miliki, tepatnya mengelolanya. Sebentar berputar-putar di cermin, saat penampilannya sudah sempurna wanita berbibir tebal dan berpakaian kurang bahan itu segera berangkat ke kantor.
Wanita itu telah berhasil merayu Rani agar Rani membelikan mobil juga untuknya.
"Keren kamu Yasna, sekali tepuk dua lalat mati," ucapnya setelahnya tergelak, saat ia sudah berada dalam mobil dan siap berangkat.
Sudah dua tiga hari dirinya berada di kantor yang beberapa karyawan tidak suka keberadaannya karena sering membentak.
Tak butuh waktu lama wanita berpakaian kurang bahan itu sudah sampai di kantor, ia berlagak sok terhormat dan tak mau menyapa satpam yang bertugas.
Wanita berbibir tebal itu menjatuhkan bokongnya di atas kursi kebanggaannya saat ini, ia tersenyum sinis.
Segera wanita berbibir tebal itu mencocokkan beberapa data seperti yang telah diajarkan oleh Rani, beberapa data ia hapus di bagian pemasukan dan menambah beberapa data pengeluaran.
"Begini lebih baik," ucapnya lalu tergelak, segera ia menutup mulutnya agar tak ada karyawan kantor yang curiga dengannya, bahkan bisa jadi mengira dirinya kesurupan.
Mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening miliknya dan besok ia akan menerima uang pemasukan dan tidak akan ia setorkan ke kartu kredit milik Rani. Cerdas dalam kelicikan.
Tanpa ia sadari Rani sudah berada di belakangnya dan menyaksikan perbuatan Yasna yang begitu licik, tadinya Rani berencana akan menanyakan Yasna akan ikut menemaninya pemotretan atau tidak, nyatanya kenyataan yang ia lihat berbeda, terlebih Yasna terlalu fokus dan tidak menyadari kedatangan Rani, wanita modis itu mengira Yasna terlalu fokus hingga tak menyadari kedatangannya.
"Sedang apa anak Mama?" Celetuk Rani membuat Yasna terperanjat.
"A ... Anu ...."
"Kenapa, Yasna?" Tanya Rani menautkan kedua alisnya.
"Ya sudah. Mau ikut Mama pemotretan tidak?" Tanya Rani yang seolah tak tahu apa yang Yasna lakukan barusan.
"Mau dong, Ma. Yasna penasaran juga," dustanya, padahal ia lakukan demi menutupi kebusukan yang telah ia lakukan.
"Ya udah ayo!" Rani keluar terlebih dahulu, sementara Yasna menyentuh dadanya yang berdetak dua kali lebih cepat.
Rasanya wanita modis itu sangat malas jika harus satu mobil bersama Yasna. Wanita modis itu segera menyuruh Yasna membawa mobilnya sendiri dengan alasan mobil Rani akan diservis.
Beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai di lapangan terbuka, kali ini pemotretan dilaksanakan di alam terbuka agar memperlihatkan keindahan warna yang kalem. Ilalang menyapa manja karena tiupan angin, mentari juga tak begitu terik seolah mendukung mereka untuk melakukan pemotretan.
"Apa, mbak ini modelnya?" Tanya fotografer pada Rani, namun Rani menggeleng pelan, karena memang Yasna pernah menolak menjadi model.
"Modelnya saya sendiri," jawab Rani datar. Mengantikan pakaian di tempat khusus yang telah disediakan.
Rani bergaya layaknya artis papan atas, beberapa gaya juga ia kuasai karena Rani memang pernah ikut serta dalam lomba model saat masih sekolah menengah kebawah, sementara Yasna hanya memandang takjub kearah Rani, walaupun usianya sudah tak muda lagi tapi semangatnya masih begitu kuat.
Beberapa jam di lapangan terbuka membuat wanita cantik nan modis itu merasakan lelah dan haus, mereka berteduh di bawah pohon dan ada juga di bawah tenda, angin sepoi-sepoi membuat rasa panas berlahan menghilang, saking lelahnya wanita modis itu sampai terlelap di bawah pohon dan tak menyadari ada panggilan masuk ke gawainya.
"Buk, ada panggilan." Seorang karyawan butik Rani yang ikut bersamanya membagunkan Rani dari tidurnya. Rani hanya bergumam dan membuka matanya, panggilan dari suaminya tertera di sana.
"Iya, Pa." Rani menempelkan gawai di telinganya saat panggilan telah ia angkat.
__ADS_1
"Kamu di mana? Papa udah di rumah," ucap di sebrang sana. Laki-laki berjambang tebal itu begitu bingung dengan kelakuan istrinya yang sehari-hari selalu sibuk dan tak pernah ada di rumah.
"Bentar lagi Mama pulang," kata Rani lalu ia mematikan panggilan. Fotografer sudah pulang terlebih dahulu dan hanya tinggal beberapa teman Rani dan karyawati butiknya dan juga Yasna yang sedang mengipas wajahnya dengan kardus, Rani tersenyum melihat tingkah manja Yasna yang kelewat manja.
Rani dan beberapa karyawan dan karyawati butiknya pulang dan Yasna mengikuti mereka dari belakang. Yasna sendiri dalam mobil karena karyawati butik tak mau ikut dengan Yasna karena wanita berbibir tebal itu sedikit kasar berbicara.
.
.
.
___
Di rumah besar milik Rani. Adiba sedang bercengkrama dengan ayah mertuanya, berbicara tentang kapan dan di mana akan melahirkan buah hati Adiba cucu dari Yudha Andara itu. Laki-laki berjambang tebal itu merasa senang sekaligus sedih meratapi, dua putranya yang berbeda nasib.
Tak lama Rani sampai di rumah bersama Yasna yang setia mengekor di belakangnya, wanita berbibir tebal itu tak ingin jika kebusukannya terbongkar.
Wanita modis itu langsung berhambur ke pelukan suaminya, mencium pipi kanan dan kiri suaminya itu tanpa peduli ada Adiba yang tersenyum lebar. Romantis sekali.
"Kebetulan kamu di sini Yasna, saya mau minta tolong," ucap Adiba pada Yasna yang masih berdiri menatap suaminya Rani, wanita berbibir tebal itu tidak pernah melihat suaminya Rani sekali pun.
"Minta tolong apa, Mbak?" Tanya Yasna penasaran. Walupun malas melayani orang rumah tapi dengan terpaksa Yasna melakukannya.
"Rasanya begitu panas badan saya. Saya pengen makan eskrim dan pengen buah duku yang ada di persimpangan jalan sana," papar Adiba. Kali ini ia berdusta demi keselamatan orang yang ia kasihi. "Kalo kamu keberatan jangan deh," sambungnya.
"Mau kok aku belikan untuk ibu hamil, kasian nanti bayinya ngiler," kekehnya membuat laki-laki berjambang tebal itu ikut terkekeh. Dalam hati Adiba begitu kesal pada wanita yang pura-pura lugu itu.
Adiba menyerahkan pecahan uang seratus ribu rupiah, awalnya Yasna menolak namun Adiba memaksanya, wanita berhijab syar'i itu sengaja menyuruh Yasna pergi karena ia merasa ini kesempatan bagus untuk menceritakan kelakuan Yasna pada Rani mumpung ada yang membela Adiba saat ini.
"Ayo papa istirahat dulu! Nanti sore papa bisa gantian jaga Juna," ungkap Rani, sambil mengandeng tangan suaminya menuju kamarnya.
"Tunggu, Ma!" Suara Adiba terdengar lantang, tak biasanya Adiba seperti itu.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Rani menghentikan langkahnya, Rani menatap menantunya itu dalam-dalam, gurat kesedihan terpancar jelas dari wajah Adiba.
"Usir aja wanita tadi, Ma," lirih Adiba pada Rani, laki-laki berjambang tebal itu mengernyitkan dahinya, ia sama sekali tidak paham masalah rumah ini. Maklum saja laki-laki yang selalu sibuk dengan bisnisnya.
Setelah mamastikan Yasna benar-benar sudah pergi mengunakan mobilnya, Adiba menceritakan segalanya pada Rani apa yang wanita berhijab syar'i itu dengarkan, Rani langsung percaya karena tadi di kantor saja Rani sudah melihat kelicikan Yasna.
Rani mendengarkan apa yang dikatakan menantunya itu langsung masuk kekamar Yasna. Rani penasaran sekaligus ingin mengemasi barang-barang Yasna dan mengisinya dari rumahnya.
Tergeletak di atas nakas sebuah gawai milik Yasna, padahal tadi di lokasi pemotretan Yasna juga memainkan gawainya. Jadi ini gawai milik Yasna untuk hal lainnya? Rani menyentuh benda pipih itu membuka layar yang tidak terkunci dan tak memasang pola.
Penasaran Rani langsung membuka aplikasi hijau di gawai itu, tertera alamat rumah sakit tempat Juna di rawat dikirimkan pada nomor tak dikenal, juga ada beberapa panggilan keluar. Ini memperkuat perkataan Adiba tadi.
Jantung Rani hampir copot saat ada panggilan masuk tiba-tiba, dengan rasa ragu wanita modis itu mengangkat panggilan, tak lupa ia menyalakan pengeras suara dan gawai Rani sendiri merekamnya, sebagai bukti jika berurusan dengan polisi nantinya, sementara Adiba dan suaminya Rani itu menyaksikan tanpa bersuara.
"Bos. Penjagaan di rumah sakit begitu ketat. Kita bertiga ga bisa menghabisi dua nyawa itu." suara di sebrang sana begitu jelas terdengar. Rani hanya diam tanpa suara, jika ia berbicara maka akan ketahuan bukan Yasna.
__ADS_1
"Bos, Yasna. Kau dengar kami?" Merasa tak ada respon laki-laki di sebrang sana mematikan panggilan sepihak. Yang Rani tunggu mereka memanggil nama Yasna dan itu mereka sebutkan, ini saja tidak cukup untuk bukti menjebloskan Yasna kedalam jeruji besi. Rani meletakkan kembali gawai milik Yasna di atas nakas, beralih menatap lemari penyimpanan pakaian, Rani mendekat dan mengeluarkan semua pakaian Yasna dari dalam sana dan menghamburkan di lantai.