
"Bos, Yasna. Kau dengar kami?" Merasa tak ada respon laki-laki di sebrang sana mematikan panggilan sepihak. Yang Rani tunggu mereka memanggil nama Yasna dan itu mereka sebutkan, ini saja tidak cukup untuk bukti menjebloskan Yasna kedalam jeruji besi. Rani meletakkan kembali gawai milik Yasna di atas nakas, beralih menatap lemari penyimpanan pakaian, Rani mendekat dan mengeluarkan semua pakaian Yasna dari dalam sana dan menghamburkan di lantai.
Wanita berbibir tebal itu heran saat baru pulang membeli eskrim, yang ia temui di dapur hanya bik Inah. Yasna ingin memberikan langsung eskrim ke kamar yang biasa Mora tempati, betapa kagetnya ia melihat pintu kamarnya terbuka. Setengah berlari ia menuju kamarnya.
"Mama ngapain di kamar Yasna?" Tanyanya, ia begitu heran dengan dengan keberadaan Rani di kamarnya dan memporak-porandakan isi dalam lemarinya.
"Suka-suka saya, ini rumah saya!" Hardik Rani membuat nyali Yasna sedikit menciut.
"Tapi, Ma," sanggah Yasna membuat Rani semakin murka. Memang benar privasi seseorang harus kita jaga, tapi harus melihat orang yang seperti apa yang kita jaga.
"Mulai hari ini detik ini, jangan panggil saya Mama dan segeralah angkat kaki dari rumah saya!" Perintah Rani. Yasna yang mendengar itu matanya membulat sempurna.
Yasna menjatuhkan bulir bening agar semua yang melihatnya merasa iba, justru Adiba merasa jengah dengan sikap Yasna yang baik di depan namun busuk di belakang.
"Pa. Tolong Yasna ga mau pergi dari rumah ini, Yasna sayang sama keluarga ini," lirihnya pada laki-laki yang berjanggut tebal itu, namun respon Yudha datar dan sulit diartikan.
"Pa!" Yasna mengguncang tubuh laki-laki berjanggut tebal itu, Rani yang melihat suaminya di perlakukan seperti itu segera menghampiri.
Plak.
Tangan mulus Rani mendarat sempurna di pipi Yasna.
"Berani sekali kamu menyentuh suami saya!" Hardik Rani menatap nyalang kearah Yasna.
"Tapi apa salah Yasna? Kenapa mama ngusir Yasna dari sini?" Suara wanita berbibir tebal itu meninggi, seolah dirinya adalah anak kandung Rani.
"Salah kamu terlalu besar, tak bisa lagi saya maafkan. Jika kamu masih di sini bersiaplah polisi akan menjemputmu nanti," kata Rani dengan suara bergetar, wanita modis itu menyesal telah memelihara ular dalam rumahnya. Yasna mulai mengerti bahwa Rani sudah tahu kelakuan dan rencana busuknya.
Dengan cekatan tangan Yasna mengumpulkan pakain dan memasukkan kedalam koper, tak ada miliknya semua milik Rani, bahkan baju yang ia bawa, Yasna melupakan gawainya yang tergeletak di atas nakas.
Yasna dengan tertatih menyeret kopernya keluar. Adiba, Rani dan suami Rani hanya mengikuti di belakang Yasna.
"Tinggalkan koncil mobil dan kartu kredit kamu," celetuk Rani membuat wanita berbibir tebal itu menoleh kearah mereka bertiga.
"Tapi kan ini dari awal dibeli untukku, Ma." Yasna benar-benar mengiba, bahkan mengesampingkan rasa malunya.
"Itu selagi kamu masih saya sanggup anak. Jangan panggil saya Mama karena saya tidak pernah melahirkan kamu. Paham!" Ucap Rani dengan suara meninggi, dengan berat hati Yasna meletakkan kunci dan kartu kredit miliknya di meja teras.
Berjalan tertatih meninggalkan kediaman Rani, hatinya kesal dan sakit. Niat untuk menguasai harta milik Rani kini pupus sudah. Akankah ada rencana lainnya?
__ADS_1
Rani, Adiba dan Yudha Andara kembali masuk kedalam rumah. Wanita hamil besar itu memeluk Rani, ia begitu terharu karena telah percaya pada perkataannya bahwa Yasna bukanlah wanita baik-baik.
"Ma, makasih udah percaya sama Adiba," sambil melonggarkan pelukannya.
"Mama malah bersyukur kamu bisa bongkar rahasia Yasna," jawab Rani, kedua tangan wanita modis itu menangkup wajah cantik Adiba.
"Ya sudah. Yang lalu biarlah berlalu," jawab Yudha sambil tersenyum kearah kedua wanita beda usia itu. Rani mengajak suaminya dan menantunya untuk makan siang bersama walaupun sudah sedikit telat untuk wantu makan siang.
.
.
.
_____
Di rumah sakit, insan yang di pisahkan oleh keadaan dan waktu kini dalam satu kamar, saling melepas rindu walau masih tak dapat menyapa.
"Sayang, bangun!" Mora mengguncangkan tubuh laki-laki yang berstatus suaminya itu.
"Aku dan calon anak kita butuh kasih sayang kamu," lirih Mora. Air mata itu luruh tak dapat di bendung.
"Aku ... Tidak akan minta apapun lagi, aku ingin kamu segera bangun," sambung Mora, tangannya meraih tangan sang suami yang pucat pasi.
"Demi Allah dan Rasul-Nya. Aku akan mencintaimu apapun masa lalumu," ungkap Mora dengan suara bergetar, Rani mengatakan saat di kamar kemarin bahwa ini hukuman karena masa lalu Juna. Wanita cantik itu hanya berpura-pura tertidur karena malas menanggapi kelakuan Yasna.
Setela mengatakan seperti itu bulir kristal kembali luruh lagi, dikecupnya jemari sang suami lalu beralih mengecup keningnya. Sesat setelahnya jemari laki-laki bertubuh atletis itu bergerak diiringi suara batuk. Mora menyaksikan suaminya terbatuk-batuk segera menekan Cardiff agar perawat segera datang.
"Aku mencintaimu, Mas." Mora sedikit mengulas senyum karena Juna sudah menunjukkan perubahan, sementara di luar Rosan terlihat panik karena perawat dan dokter menuju ke kamar Juna dengan tergesa.
"Silahkan keluar, Mbak. Pasien akan kami periksa," ucap perawat menatap Mora. Wanita cantik itu segera keluar dari kamar.
"Ada apa Mora?" Rosan bertanya pada Mora saat melihat Mora menundukkan wajahnya.
"Mas Juna sudah sadar, Mas," jawab Mora, lalu menjatuhkan bokongnya di kursi tunggu.
Jutaan doa ia ucapkan dalam hati demi keselamatan sang suami yang teramat ia cintai. Tak lama dokter keluar dari ruangan di mana Juna di rawat.
"Dok, bagaimana keadaan adik saya?" Rosan terlebih dulu menyerang dokter dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Pasien sudah sadar, Alhamdulillah pasien memiliki kemampuan untuk mengingat segalanya dalam masa koma dua hari ini, silahkan jika ingin menjenguk, semoga tidak menimbulkan sakit lagi setelah ini agar pasien bisa segera pulang," ujar dokter sambil mengulas senyum.
"Masya Allah, terimakasih, dokter," ucap Rosan sambil tersenyum kearah dokter.
"Alhamdulillah, Mas," ucap Mora menatap kakak iparnya itu dan masuk kedalam kamar di mana Juna masih terbaring.
"Mas," sapa Mora terlebih dahulu, menatap kearah suaminya dengan wajah berkaca-kaca.
"Kamu siapa?" Ucap Juna sambil mengedipkan matanya sebelah kearah Rosan sebagai kode.
"Mas, kamu ga ingat sama aku?" Bulir bening yang dari tadi ia tahan luruh seketika, sementara Rosan memasang wajah tak suka pada adiknya itu.
"Istriku, medekatlah," ucap Juna saat melihat Mora membalikkan badan dan ingin keluar. Wanita hamil itu kembali berbalik kearah suaminya dan menghambur ke pelukan Juna. Menumpahkan kesedihan yang ia rasa dalam dua hari tanpa kekasih hatinya.
"Mas. Tolong jangan seperti dua hari kemarin," lirihnya, tangan laki-laki bertubuh atletis itu berusaha melonggarkan pelukannya, tanpa sengaja menyentuh luka di bahu Mora, wanita cantik itu mengaduh karena sakit.
Juna menyeka air mata belahan jiwanya yang masih tersisa, lalu menyibak hijab syar'i yang di bawa oleh Adiba untuk di hari pertama.
"Maafkan aku karena telah membuatmu terluka," lirih Juna mengusap pelan luka koyak yang telah di jahit, Mora tak memakai baju lengan panjang agar memudahkan dokter mengontrol lukanya, lagipula ia memakai hijab syar'i yang begitu panjang, tangan Juna beralih menyentuh perut Mora yang masih terlihat rata.
"Dia masih bertahan," lirih Mora, wanita cantik itu mengulas senyum dalam balutan air mata.
"Dia kuat sepertimu, istriku," kata Juna menatap sang kakak yang berdiri menyimak pembicaraan dua kekasih halal itu, sesekali Rosan ikut menyeka sudut matanya yang berair. Laki-laki itu begitu sedih dengan nasib sang adik yang selalu saja penuh dengan cobaan.
Rosan mengangguk lalu meninggalkan Juna dan adik iparnya, ia begitu paham akan kerinduan yang sempat terhalang karena keadaan.
Langkahnya terhenti saat melihat Yasna berada tak jauh darinya saat ini, Rosan juga ingin bermain dan mengintip bagaimana kelakuan wanita yang di banggakan oleh ibunya itu.
Wanita berbibir tebal itu melangkah angin bak model, langsung masuk kedalam ruang Juna tanpa melihat kanan dan kiri, Yasna terkesiap saat melihat Juna sedang mengusap kepala Mora dengan penuh kasih sayang.
"Yasna?" Juna memiringkan kepalanya, merasa heran, apa maksud wanita itu datang dan menemuinya di sini.
"Ya. Aku minta maaf, Mas. Mulai sekarang dan seterusnya aku ga akan ganggu hidup kamu lagi kok, karena mama udah ngusir aku dari rumah," jelas Yasna, tangannya terlipat di dada memperlihatkan kesombongannya, wanita berbibir tebal itu awalnya berniat mencelakai Juna lagi, namun harapannya tak sesuai kenyataan.
"Alhamdulillah," batin Mora, pengganggu dalam hidupnya setidaknya tidak lagi berkeliaran dalam rumah mertuanya.
Yasna berharap Juna akan mempertahankan wanita berbibir tebal itu untuk tetap bisa tinggal di rumah Rani.
"Itu keputusan mama, bukan saya pemilik rumah. Apapun kata beliau berarti itu yang terbaik," jelas Juna, Yasna yang mendengarkan ucapan Juna menghentakkan kakinya lalu keluar dari ruangan Juna sambil memanyunkan bibirnya, sementara Mora mengulum senyum.
__ADS_1
Doa seseorang yang teramat kita cintai mampu menebus langit, menyampaikan kehendak hamba pada sang Ilahi.