
Sebenarnya hidup ini mudah, jika kita mensyukuri maka semua akan baik-baik saja. Seperti masa lalu Juna yang tak pernah puas dengan uang pemberian dari orang tuanya hingga dia tega menghabisi nyawa manusia lainnya yang tak pernah berdosa padanya.
Dering di gawainya membuatnya terbangun dari tidurnya, gawainya berkedip manja. Panggilan dari Putri Bramasta anak pengusaha tambang emas.
"Sayang bisa enggak hari ini kita jalan-jalan."
"Maaf. Aku ga enak badan."
"Bentar aja. Cika kangen sama kamu."
"Ya udah. Aku siap-siap dulu."
"Makasih sayang. I love you."
Setelahnya panggilan berakhir. Wanita itu kini semakin mencintai Juna, walau Juna tak pernah menikahi dirinya dengan berbagai alasan bahkan Juna mengelak jika anak yang di kandung Putri bukanlah anaknya. Putri tak pernah gentar mencari celah untuk mendapatkan hati duda tanpan berwajah Korea dan berbadan atletis.
Ayah Juna tak pernah pulang dari luar negri bahkan saat anaknya terpuruk saja ia tak pernah peduli, yang laki-laki itu inginkan uang dan hanya uang.
Dengan langkah berat ia masuk dan mempersiapkan diri, padahal niat hatinya ia ingin tidur sepanjang hari untuk hari ini. Kemeja abu-abu dan jens hitam tak lupa jam tangan mewah dan sepatu kulit. Laki-laki itu bertubuh atletis itu mempercepat langkahnya menuruni anak tangga mendengar bel berbunyi beberapa kali.
Tergesa ia membuka pintu, benar saja Putri dan Cika anak biologisnya sudah tak sabar mengajak dirinya jalan-jalan walau hanya sekedar berjalan di taman.
"Hei, kenapa kesini?" Tangannya gemas mencubit pipi putih balita tiga tahun itu.
"Cika mau jalan-jalan katanya. Kangen sama papa," jawab Putri. Siapa yang ditanya siapa yang menjawab. Juna memutar bola matanya malas, sangat malas mengakui jika itu anaknya. Karena Juna juga tahu betul bagaimana sifat Putri yang sesungguhnya, dia play girl, wanita berambut pirang yang bersamanya saat ini sangat mudah melampiaskan **** pada siapa saja yang ia inginkan.
"Berhenti mengatakan aku Papanya," ujar Juna sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir.
"Kenyataannya seperti itu, Juna!" Hardiknya. Berkali-kali wanita itu menyampaikan bahwa anak itu adalah anaknya namun keras kepala Juna tak ada yang bisa luluh kan.
__ADS_1
"Apa buktinya? Kamu menghilang, kenapa saat dia sudah besar baru kamu katakan ini anakku. Kenapa ga pakai otak?" Kesal Juna.
"Aku bersumpah, Cika anakmu. Masih ingat saat aku menelpon kamu tak pernah mengangkat bahkan saat aku temui kamu tidak ada di rumah," jelas wanita berambut pirang itu dengan penuh penekanan.
Laki-laki bertubuh atletis itu diam, mencoba mencerna ucapan Putri, memang benar saat itu dia sakit dan tidak bisa di temui, bahkan berlanjut dengan kecelakaan yang menimpa istrinya. Saat ini semua sibuk rumah sering kosong dan bik Inah mungkin juga lupa memberi tahu Juna bahwa Putri pernah datang ingin menemuinya.
Putri pergi ke London melanjutkan kuliahnya sekaligus bersembunyi menutupi aibnya saat itu, pulang ke Indonesia dengan kabar sudah menikah dengan warga negara asing dan sudah bercerai juga. Jadi Putri sukses menutupi aibnya.
"Kita mau jalan atau hanya berdebat?" Tanya Juna kesal.
"Jalan dong. Kasian Cika," wanita cantik nan anggun itu mengusap rambut putrinya lembut.
"Ica au ecim," celetuk anak itu membuat Juna merasa gemas dan menggendongnya.
"Nanti kita beli." Mendaratkan ciuman di pipi mungil itu. Cika tersenyum lalu memeluknya lebut.
Ada getaran hebat di dada Juna saat peri kecil itu memeluknya. Berusaha menepis jika anak ini bukan anak biologis miliknya tapi tak bisa, seolah ada ikatan antara mereka, Cika yang baru beberapa Minggu mengenalnya sudah lengket saja seperti perangko.
Cukup lama mereka berjalan-jalan hingga bidadari kecil itu sudah tertidur di gendongan Juna. Walau lelah tubuhnya ia tak pernah tega pada anak kecil jika anak itu merengek sesuatu pasti akan ia turuti selagi bisa. Itu satu keuntungan bagi Putri untuk memanfaatkan kebaikan Juna agar semua keinginannya terkabulkan.
_____
Sementara di tempat lain insan manusia tegah mempersiapkan dirinya menjadi seorang ayah yang sesungguhnya. Rosan yang sudah menikah tiga tahun tapi belum id karunia buah hati.
Hari ini mereka mendatangi dokter spesialis kandungan, ingin konsultasi kembali tentang kehamilan istrinya yang tak kunjung datang.
Di ruang tunggu Adiba dan Rosan menunggu giliran dipanggil, Adiba meremas jarinya khawatir, dirinya begitu takut jika akan di vonis mandul maka Rosan akan meninggalkan dirinya. Melihat wajah istrinya pucat Rosan menyentuh jemari tangan istrinya dengan lembut.
"Jangan khawatirkan apa pun, aku ada saat pertama kamu hadir dalam hidupku dan dengan izinnya pula aku akan ada di setiap napas yang ada pada dirimu," bisiknya lembut. Membuat hati wanita berhijab syar'i itu menoleh kearah suaminya.
__ADS_1
Rosan semenjak menikah dengan Adiba kehidupannya beruba drastis, mereka hidup di lingkungan pesantren, berbaur dengan mereka dan sering mengikuti pengajian membuat dirinya semakin tahu akan arti hidup di dunia ini.
"Jika aku tidak bisa punya anak. Aku ridho jika kamu menikah lagi, Mas," ucapnya lembut. Matanya berkaca-kaca, menahan tangis. Tak ada manusia rela sepenuhnya, wanita di ciptakan dengan rasa cemburunya.
"Ridho tapi nangis," jawab Rosan lalu mengusap kepala yang berbalut hijab tersebut.
"Aku adalah aku, jangan paksakan aku jadi orang lain yang mudah membagi cinta," jelasnya lagi.
Betapa jauh berbeda dua mahluk Tuhan yang di lahirikan dari rahim yang sama dan dengan benih yang sama, Rosan dengan kepribadian yang dingin tenang dan setia, sedangkan Juna dengan pribadi yang kasar, bringas dan mudah membagi cinta.
Sekitar lima belas menit menunggu kini namanya di panggil, wanita itu memasuki ruang praktek dokter, mengecek kondisinya dan USG pun di lakukan.
"Semua baik, bahkan ibu Adiba sangat subur," ujar dokter menatap kearah Rosan yang duduk di samping istrinya.
"Apa mungkin kendala ada pada saya, Dok?" Tanya Rosan membuat istrinya bingung menatap kearahnya.
"Bisa jadi, Pak. Besok bisa lakukan pemeriksaan di sini atau jika ragu bisa kerumah sakit langsung. Untuk ibu tidak perlu resep apa pun, karena semuanya baik bahkan tingkat kesuburan sembilan puluh delapan persen," jelas dokter.
"Baik, Dok. Kami permisi," ucapnya dengan menganggukkan kepala. Dokter hanya membalas dengan anggukan.
Mereka keluar dari ruangan dengan hati yang rapuh, sementara Rosan selama ini menguatkan istrinya yang rapuh namun saat ini dirinya merasa lebih rapuh. Laki-laki berwajah Turki itu langsung berjalan ke mobil, seolah linglung, sedangkan Adiba tergesa membayar administrasi.
Laki-laki berwajah Turki itu sangat takut jika Adiba akan meninggalkan dirinya, bukankah semua ibu menginginkan seorang anak.
Adiba tergesa menuju parkiran, Rosan sudah di dalam mobil. Wanita itu masuk lalu duduk di samping kemudi. Matanya menatap nanar kearah suaminya, meraih wajah berewokan itu agar menatap kearahnya. Mata Rosan memerah menahan tangis.
"Jangan sedih. Kamu imamku, sampai kapanpun akan tetap seperti itu," lirihnya. Manik mata madu itu menatap sang suami sendu.
"Benarkah itu Adiba? Aku takut, sangat takut jika kekurang pada diri ini mampu membuatmu berpaling." Tangannya mengusap lembut tangan sang istri.
__ADS_1
"Surgaku ada padamu, jika aku berpaling maka aku menjadi wanita nusyuz. Sementara kesalahan bukan padamu, melainkan kehendak Allah." Tangan lembut itu membingkai wajah suaminya dan mencium pipinya. Rosan tersenyum simpul, ada gurat kesedihan yang terat dalam pada dirinya.
Bersambung....