KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 20


__ADS_3

Seminggu sudah Aqila tidak masuk kantor karena masih berduka, Juna memaklumi keadaannya bahkan mengizinkan Aqila untuk ambil cuti lebih.


Ini tepat hari kedelapan kepergian ibunya, Aqila sedikit membaik walaupun pikirannya masih kacau dan kepalanya masih sakit. Surat yang Narsih tinggalkan membuat hati dan pikirannya tak bisa bekerja sama.


Kali ini Aqila naik taksi menuju kantor, tak lagi membawa motor bebek kesayangannya lagi karena sudah dijual untuk segala keperluan mendiang ibunya.


Mengulas senyum pada scurity juga pada karyawan lainnya, Aqila menuju ruangan Juna. Ya! Dirinya satu ruangan dengan bosnya.


Berlahan ia buka handle pintu, masuk lalu duduk di kursinya. Juna belum tiba di kantor, Aqila memijat pelipisnya perlahan, tubuhnya ia sandarkan di kursinya, berlahan matanya terpejam.


"Mbak. Bangun!" Lolita mencongkel bahu Aqila kasar. Hingga wanita mungil itu mengaduh, baru saja Aqila memejamkan matanya Lolita sudah menggangunya.


"Ada apa, Mbak Lolita?," Aqila menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Jujur saja wanita berhijab itu takut diadukan pada Juna.


"Rencana mau cari pak Juna, mau minta tanda tangan sekaligus ngajak makan malam di rumahku," ungkap Lolita sambil menarik rok mininya kebawah. Aqila hanya menanggapi perkataan Lolita biasa saja, toh dirinya tak merasa cinta terhadap Juna.


"Serius banget ngerumpinya," celetuk Juna yang baru saja tiba dan langsung duduk di kursinya.


"Tidak. Saya hanya menanyakan kabar Aqila, Pak," dustanya sambil menyentuh Aqila pelan. "Ya kan Aqila," sambungnya. Lolita berharap Aqila membenarkan ucapannya, namun Aqila hanya diam saja, Aqila malas melayani perempuan bermuka dua. Kesal Lolita memberi map pada Juna lalu dirinya keluar dari ruangan.


"Muka kamu terlihat pucat," ujar Juna saat Aqila kembali menyentuh kepalanya.


"Saya ga apa-apa," wanita berbalut hijab itu menghela napasnya kasar.


"Seandainya kamu tidak sanggup. Saya bisa kasih kamu cuti lagi," jelas Juna. Laki-laki bertubuh atletis itu mendekat kearah Aqila dan menyentuh dahinya yang terasa panas.


"Kita ke rumah sakit?"


"Saya ... Baik ...." Darah keluar dari hidung Aqila membuat Juna merasa panik. Walaupun dirinya terbiasa dalam urusan bunuh membunuh tapi kali ini berbeda, bayangan kekasihnya itu seakan melumpuhkan masa lalu yang begitu suram.


Tanpa menunggu persetujuan Aqila Juna menarik lengannya lalu menggendongnya, walaupun Aqila memberontak tapi tak mampu melawan kekuatan Juna yang tiga kali lipat dari kekuatannya.


"Malu pak dilihat karyawan lain," lirih Aqila sambil memejamkan matanya, darah di hidungnya tak berhenti menetes. Beberapa karyawan memandang kagum dan heran, hanya Lolita yang terlihat kesal.


"Masuk!" Perintah Juna saat sudah berada di pintu mobil yang sudah ia buka. Aqila memandang sekilas dengan tatapan sendu lalu masuk ke dalam mobil, sementara Juna menyentuh hatinya yang bergetar karena pandangan sendu yang Aqila layangkan.


"Ya-Allah," lirihnya lalu ikut masuk kedalam mobil dan memajukan ke klinik terdekat. Juna sudah cukup kenal dengan dokter praktek di klinik itu jadi dia tak perlu mengantri untuk bisa periksa lebih awal.

__ADS_1


"Dokter. Bagaimana keadaan istri saya," tanya Juna serius. Dokter yang mendengar ucapan Juna tersenyum simpul, pasalnya dia tahu Juna belum menikah dan kini dirinya menyebut Aqila sebagai istrinya. Aqila yang mendengarkan ucapan Juna mengernyitkan dahi tak percaya.


"Sebenarnya ini faktor kecelakaan yang ia alami di masa lalu, benturan keras di kepalanya membat otaknya tak bekerja dengan semestinya. Hilang ingatan yang sudah tiga tahun lamanya membuat pasien hampir lupa permanen," jelas dokter membuat Juna merasa sedikit aneh. Kejadian Aqila hampir sama dengan yang Mora alami.


"Terus, Dok?" Juna ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kemungkinan pasien memaksa mengingat kejadian masa lalu atau mungkin ada seseorang yang mengingatkan dirinya," ungkap dokter dengan memandang Aqila.


"Benar begitu, Mbak?" Tanya dokter masih menatap Aqila. Wanita berhijab itu menganggukkan kepalanya.


Masih tanda tanya besar dalam otak Juna, Aqila dan Mora memiliki banyak kesamaan, hanya saja Aqila dapat melihat. Ah Mora, rasanya tak mungkin karena Mora sudah di makamkan. Otak Juna mendadak pusing dibuatnya.


___


Manusia yang kini hanya mengandalkan tongkat untuk menuntunnya merasa sangat bersalah pada wanita yang telah ia dan Narsih bohongi bertahun-tahun.


"Kamu di mana Aqila. Aku sampai lupa gara-gara Bu Narsih kalau namamu adalah Mora Cantika," desisnya ia tersenyum sinis. Sekilas Roby terlihat seperti orang stres berbicara sendiri di depan rumah Aqila, sementara Yuli tak pernah lagi pulang selama meninggal Narsih.


Mendengar suara mobil mendekati halaman rumah ia langsung bangkit dari duduknya. Yakin dengan sepenuh hati bahwa Aqila telah pulang bekerja.


"Iya. Kenapa, Mas?" Aqila bersikap ramah pada Roby walau surat peninggalan Narsih masih abu-abu menurut Aqila.


"Saya mau bicara sama kamu. Boleh?" Tersenyum kesembarang arah.


"Boleh," jawab Aqila, Juna penasaran pada laki-laki tuna netra itu, ia tak langsung pulang. Juna lebih memilih menguping pembicaraan mereka dengan berpura-pura menumpang ke toilet di rumah Aqila.


Aqila mengikuti roby duduk di lantai granit rumahnya yang dingin.


"Apa Narsih pernah bercerita bahwa kamu bukan anaknya?" Laki-laki tuna netra itu langsung bertanya pada Aqila tanpa basa basi.


"Tidak. Tapi saya menerima sepucuk surat yang ia tinggalkan dan mengatakan bahwa anda mengetahui identitas saya," jelas Aqila, kembali wanita cantik itu memegangi kepanya, Juna yang dari tadi menguping pembicaraan mereka enggan keluar.


"Ya. Saya tahu asal kamu dari mana, bahkan seluk beluk dirimu," jelasnya, sementara Aqila merasa heran tak percaya, semasa ibunya masih ada ia tak pernah bercerita tentang pria tuna netra di hadapannya saat ini.


"Kamu sebenarnya asal dari perkampungan, kamu hamil di luar nikah dan diusir. Semua bukan salah kamu, tetapi laki-laki itu...." Suaranya terdengar parau, menahan sesak yang begitu menghimpit dada. Roby mengetahui ini dari temannya.


"Kenapa?" Rasa penasaran Aqila begitu besar pada masa lalunya.

__ADS_1


"Semua gara-gara laki-laki yang memp*rkosa kamu, mungkin dengan kuasa Allah juga kamu dipertemukan dengan ibuk Rani yang begitu baik, beliau menerima kamu dan menikahkan dengan putranya. Disitu rasa cemburuku semakin tersulut, aku selalu berniat mencelakaimu bahkan tak peduli janin yang kamu kandung...." Suaranya kembali tercekat di tenggorokan.


"Kenapa saya bisa melihat? Apa ini kedua bola mata milikmu?" Tanya Aqila bertubi.


"Iya. Tapi aku ikhlas, karena aku menyesali perbuatanku karena pernah berusaha mencelakaimu," jawabnya, menangis tidaknya laki-laki tuna netra itu hanya dapat dibedakan dari suaranya yang bergetar.


"Maafkan ibu, Mas. Mungkin jika ibu tak melibatkan kamu kita masih dalam keadaan yang sama, atau mungkin saya sudah tidak lagi di dunia," ungkapnya. Kedua netra bening itu menjatuhkan bulir bening.


"Jangan sakit lagi Aqila. Bukan! Bukan Aqila," tegasnya, wajahnya terlihat ragu untuk menyebutkan nama.


"Nama saya yang sebenarnya siapa?" Tanya Aqila menatap wajah sendu laki-laki itu.


"Nama kamu Mora Cantika. Kamu anak yatim piatu...." Ungkap laki-laki itu pelan, Juna yang menguping mengusap dadanya yang terasa begitu sesak, tubuh itu luruh kelantai, menyenggol vas bunga hingga membunyikan suara nyaring.


Sementara gadis berhijab itu memegang dadanya yang terasa begitu sesak, seperti bongkahan kerikil yang begitu menyakitkan dirinya untuk menerima kenyataan. Tergesa masuk kedalam rumah untuk melihat apa yang terjadi, wanita berhijab itu merasa heran dengan apa yang dilihatnya.


"Bapak kenapa?" Aqila membantu Juna berdiri.


"Saya baik. Tapi jantung saya," Juna menyentuh jantungnya. Aqila mengira jika Juna harus segera berobat ke dokter.


"Sebentar, panggil pak RT." Juna berdiri dan menahan Mora dengan memegang erat tangannya agar tak menemui pak RT, tubuh mungil itu ia peluk erat membuat wanita cantik itu bingung juga merasa heran, sementara di luar Roby telah pergi membawa lukanya, besok ia juga akan kembali jika tuhan masih mengizinkan dirinya bertemu wanita tempat ia menitipkan bola mata.


"Ternyata Allah begitu mencintai hambanya yang bertaqwa," desisnya, masih memeluk erat pujaan hati yang telah di pisahkan bertahun lamanya.


"Maksud bapak apa?" Wanita berhijab itu melonggarkan pelukan Juna, masih dengan kebingungannya.


"Kamu dengar dia tadi? Kamu buka Aqila, tapi Mora," jelas Juna, dirinya memperjelas apa yang laki-laki itu katakan.


"Tidak. Saya terbiasa dengan nama Aqila. Nanti saja panggil saya Mora jika saya sudah mengingat sedikitnya tentang siapa itu ibu Rani," kata Aqila menatap manik mata Juna begitu dalam.


"Terserah. Yang jelas sekarang ikut saya untuk pulang!" Perintah Juna, pandangan haru terpancar dari kedua mata Juna yang mengembun.


"Tidak. Saya mau di sini!" Lagi-lagi tubuh mungil itu menolak dengan tegas.


"Baiklah Aqila, tapi saya berharap kamu masih bekerja di perusahaan saya!" Tegas Juna, Aqila hanya mengangguk sambil memegang kepanya yang terasa begitu pusing, dengan penuh rasa kecewa laki-laki bertubuh atletis itu meninggalkan kediaman Aqila. Menoleh berkali-kali berharap Aqila memanggil dirinya dan memeluknya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2