
Setelah mengantar sahabatnya ke rumahnya Juna kembali pulang kerumah orang tuanya, sedangkan rumahnya yang di desa rencananya akan ia jual saja.
Satu sisi jika ia menjual rumah itu suatu saat jika Mora mencari dirinya maka ia yakin rumah itu tujuan kekasih halalnya itu.
Saat mobil Juna benar-benar sudah menepi di halaman rumah Rani ia terlihat begitu kusut, sedangkan Rani berjalan tertatih dan berusaha memeluk anaknya dengan air mata yang menganak sungai.
"Lepaskan aku, Ma. Aku begitu lelah. Butuh istirahat," ucap Juna sambil melonggarkan pelukan Rani yang begitu erat.
"Mulai ga sayang sama Mama lagi?" tanya Rani sambil menyeka air matanya.
"Bukan begitu, Ma ...." Belum selesai Juna melanjutkan ucapannya tubuh Rani sudah ambruk membuat Juna merasa panik dan membopongnya menuju kamar.
"Mama kenapa, Jun?" tanya Yudha yang baru saja tiba dari taman belakang dan membantu membaringkan tubuh Rani di atas ranjang kamarnya.
"Ga tau, Pa. Mama tiba-tiba pingsan," kata Juna. Laki-laki bertubuh atletis itu mengacak rambut frustasi.
"Papa telpon dokter dulu." Laki-laki berjambang tebal itu menekan panggilan ke nomor dokter pribadi mereka.
Tak lama setelahnya dokter tiba dengan beberapa alat periksa, Rani yang terbaring lemah membukakan matanya perlahan.
"Gimana keadaan Mama saya, Dokter?" tanya Juna pada dokter pribadi yang sedang melipat alat periksa jantung dan memasukkannya kedalam tas kecil miliknya.
"Ibu anda sebenarnya harus mengkonsumsi obat rutin. Mood booster adalah keluarga yang mendukungnya," jelas dokter dengan raut serius.
Tak lama setelah berbincang-bincang dokter pribadi mereka meninggalkan kediaman Rani.
"Mama jangan seperti ini," kata Juna sambil menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang.
"Mama cuma mau satu, Juna," lirih wanita yang melahirkan Juna itu.
"Mama ingin aku menikahi anaknya sahabat Mama itu?" Juna manatap Rani dengan tatapan yang sulit di artikan, sementara Rani hanya mengangguk lemah.
Baik jika itu membuat Mama senang dan bahagia." Laki-laki bertubuh atletis itu melanjutkan ucapannya lalu meninggalkan Rani dan Yudha yang terdiam tanpa kata.
Laki-laki bertubuh atletis itu masuk kedalam kamarnya, membersihkan dirinya dan memindai wajahnya di cermin namun yang terlihat hanya kekasih halalnya.
"Maafkan aku jika harus mengkhianati cinta suci kita, Bidadariku," lirih Juna lalu menguyur tubuhnya dengan air shower yang membasahi seluruh tubuhnya.
Hampir dua jam ia berada di kamar mandi kini laki-laki bertubuh atletis itu sudah mengenakan pakaiannya tidurnya lalu berbaring sejenak, melonggarkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
Sekelebat bayangan kekasih masih menghiasi di pelupuk mata, perlahan ia pejamkan mata indahnya. Meresapi setiap kata yang keluar dari bibir ranum Mora dan kata-kata yang keluar dari bibir wanita yang melahirkannya.
.
.
Belum berapa lama ia terpejam Rani sudah tiba di kamarnya bersama anak sahabatnya itu.
"Juna, bangun!" Rani menguncangkan tubuh Juna pelan.
__ADS_1
"Ada apa, Ma? Baru juga terpejam," lirihnya lalu menutup wajahnya dengan selimut.
"Ini ada yang mau kenal lebih dekat dengan kamu," kata Rani, wanita yang melahirkan Juna itu menatap kearah anak sahabatnya itu.
Kembali laki-laki bertubuh atletis itu membuka selimutnya menyipit melihat wanita seksi yang tampil panas luar biasa di depannya.
"Bukan seleraku," ucapnya lalu membalikkan btubuhnya kerah lain, sementara wanita seksi itu memutar bola matanya malas.
"Ini bakalan jadi istri kamu nanti, Juna." Rani menyibak selimut Juna kasar lalu memaksa anaknya itu untuk segera bangkit.
Ada kesal yang luar biasa di hati Juna saat ini, namun apa daya dirinya saat ini menghadapi keadaan Rani yang sulit ia mengerti.
"Ajak jalan-jalan sana!" Perintah Rani pada putranya itu.
"Ya." Dengan rasa malas ia bangkit dari tidurnya.
Berjalan-jalan dengan wanita seksi sama sekali bukan keinginannya lagi, ia tak pernah ingin memamerkan tubuh pasangannya pada banyak laki-laki di luar sana.
.
.
.
____
Saling memercikkan air membuat keduanya terbahak, sementara di luar kamar mandi yang terbuka sepasang mata menatap nanar kearah keduanya.
Alif masih berandai jika ibu dari anaknya itu masih hidup maka kehidupan mereka saat ini pasti sangat bahagia karena Alif laki-laki setia pada pasangannya, laki-laki bertubuh tinggi itu meninggalkan Mora dan balita itu begitu saja.
Farid terlihat begitu bahagia bersama Mora padahal mereka baru saja bertemu beberapa hari.
Mora menggantikan pakaian bocah itu begitu juga dengan dirinya, lalu membuatkan susu hangat sambil bercerita banyak hal, Mora berkali-kali mengecup pipi balita yang kini di matanya terlihat begitu mengemaskan, sementara Alif tersenyum melihat Mora yang terlihat begitu bahagia dan anaknya juga terlihat bahagia.
Alif mengalihkan pandangannya saat mata mereka saling bersirobok, Mora yang jiwa ke ibuan menenangkan farid yang mulai rewel karena mengantuk.
Wanita hamil itu tertidur di kamar Farid sambil memeluk tubuh mungil balita itu, kembali Alif memperhatikan Mora yang sedang terlelap, ada getaran berbeda di hati Alif yang segera ia tepis.
"Dia istri orang, Alif," gumam laki-laki bertubuh tinggi itu sambil mengalihkan pandangannya.
Tak adapat di pungkiri laki-laki juga akan tertarik pada wanita yang baik, anggun dan saleha.
Jam dinding masih menunjukkan pukul tiga siang, Alif yang merasa bosan karena dua insan manusia yang dapat membuatnya tersenyum sudah terlelap.
Laki-laki bertubuh tinggi itu menyalakan televisi lalu membuka siaran seputar berita Indonesia.
Matanya terbelalak saat foto Mora terpampang jelas di layar televisi, ciri-ciri sama persis seperti Mora yang ada di hadapannya saat ini.
Menyesal apa guna, jika karena dirinya Mora di katakan hilang rasanya tidak mungkin, berita yang mengatakan laporan kehilangan Mora dari Jakarta.
__ADS_1
"Apa dia kabur dari rumah?" lirih Alif, jika benar Mora kabur dari rumah pasti semua ada alasannya kenapa ia kabur.
.
.
.
____
Di mall Juna bersama dengan wanita pilihan ibunya yang bernama Wulan itu sedang berkeliling berbelanja membuat Juna muak.
"Jika sudah ayo kita pulang!" Juna mengambil paper bag yang di sodorkan oleh wanita itu, laki-laki bertubuh atletis itu berdecak kesal. Mora kekasih halalnya tak pernah memperlakukan dirinya seperti babu seperti ini.
"Kita cari hak tinggi," ucapnya lalu meninggalkan Juna begitu saja, wanita seksi itu seakan tak bisa hidup tanpa hak tinggi.
Dengan santainya ia masuk ke toko sepatu lalu duduk manis di bangku yang telah di sediakan.
"Saya mau keluaran terbaru," ucap Wulan pada pelayan toko yang terlihat segan pada pasangan yang ada di hadapan mereka saat ini.
Wulan mengulurkan kakinya kedepan lalu menunjuk Juna dan menunjukkan kearah sepatu, laki-laki bertubuh atletis itu memutar bola matanya malas sedangkan pelayan toko hanya tersenyum menatap kearah Juna.
"Masih ada model lain juga, Mbak," kata pelayan toko sepatu sambil tersenyum kearah Wulan.
"Bawa semuanya," titah Wulan membuat Juna memandang tidak suka kearah gadis yang sedang membuatnya menjadi pelayan saat ini.
Beberapa kali Juna melepas dan memasang sepatu hak tinggi hingga pada akhirnya Wulan memelih hak tinggi yang kedua ia coba. Laki-laki bertubuh atletis itu kali ini benar-benar kesal di buatnya.
Hanya saja saat ini ia sedang menyerah untu siap menyerang dengan satu pukulan.
.
.
.
Laki-laki bertubuh atletis itu menghela napas panjang saat tiba di rumah setelah mengantar Wulan kerumahnya, ia menjatuhkan bokongnya di sofa ruang tamu.
"Seru jalan-jalannya, Sayang?" tanya Rani yang baru saja keluar dari kamarnya dan mendapati anaknya seperti habis berperang, wajahnya begitu berantakan.
"Seru banget, Ma. Anak Mama jadi babu," kata Juna pelan setelahnya ia tersenyum sinis menatap Rani yang memasang wajah bingung.
"Gimana maksudnya?" Rani menatap manik mata Juna lekat, mencari kejujuran di mata indah milik anaknya itu.
"Ya di suruh layanan dia, bawa belanjaan dia. Pake lepas sepatu sampai seratus kali, aku yang pakekan dan lepaskan. Menjijikkan!" Juna berdecak kesal lalu melempar remot televisi kearah vas bunga membuat vas itu pecah, di iringi gelak Juna yang menyeramkan.
Rani mengidikan bahunya lalu berlari kecil menuju kamarnya, ia takut jika Juna saat ini sedang di kuasai makhluk halus.
Juna yang melihat Rani takut saat ia tertawa mengerikan membuat laki-laki bertubuh atletis itu punya ide besar untuk menakuti lalat pengganggu tanpa membunuh.
__ADS_1