
Malam berganti dengan mentari. Namun ia masih malu dan bersembunyi di balik awan yang bergelantungan, intipan manja terlihat saat ia menampakkan cahaya redupnya.
Balutan pakaian gamis sederhana yang ia kenakan semakin terlihat anggun, gadis berambut lurus itu membenarkan hijabnya.
"Bibik bantu, Neng?" Dengan cekatan tangan itu membalut rambut indah Mora.
"Bibik ikut kan?" Tanya Mora memastikan, setidaknya ia ada yang mendampingi saat penghulu menanya keluarga mempelai wanita.
"Harus. Tidak akan melewatkan sedikitpun," ucap bik Inah tersenyum kearah Mora, walau gadis yang di tatap tak menunjukkan respon apa pun.
"Terimakasih, Bik." Menyentuh bik Inah lalu memeluknya. Ada rasa yang mengganjal nanti saat bertemu dengan orang tua Juna.
Dunia seperti mempermainkan dirinya saat ini, menjatuhkannya ke dasar lembah lalu melambungkan tinggi hingga menembus awan.
Jika cinta sudah bertahta pada pemilik hati maka di dunia tidak ada yang lebih sempurna selain dirinya.
"Udah siap kan?" Tanya Rosan saat melihat Mora hanya menggunakan gamis sederhana. Mora hanya mengangguk, ada canggung juga rasa bersalah pada laki-laki berwajah Turki itu. Bagaimana tidak, sebentar lagi Rosan akan menjadi kakak iparnya walau selama ini tidak pernah terlintas dalam benaknya sama sekali.
"Bibik juga udah siap," ucap bik Inah sambil menarik pelan tangan Mora keluar dari kamar.
Mereka membelah jalanan yang sedikit lenggang, gerimis kecil membasahi kota. Seakan ikut serta dalam kesedihan Mora. Mobil terus melaju, rintik gerimis membasahi jalanan, suara gemercik air begitu menenangkan.
Tak butuh waktu lama, mobil berhenti di parkiran rumah sakit, wanita paruh baya itu membantu Mora turun dari dalam mobil. Mereka bertiga menyusuri koridor rumah sakit, menuju kamar Juna di lantai tiga. Beberapa saksi sudah ada di sana dan penghulu sudah hadir terlebih dahulu. Tak ada kata repot untuk Rani, dengan mudah ia menelpon temannya meminta tolong agar penghulu datang sesuai keinginannya.
Rosan mengucapkan salam saat semua mata dalam ruangan itu tertuju pada mereka bertiga. Menghulu tersenyum simpul, entah apa yang ada dalam benaknya saat ini. Semuanya terdiam, termasuk Rani yang hanya menatap Mora datar tanpa ada rasa senang sedikit pun putranya akan menikah.
"Bisa kita mulai. Saya ada kepentingan lain setelah ini," ucap penghulu memecahkan keheningan antara mereka. Mora hanya mengangguk lemah, rasa bersalahnya kembali timbul.
"Bisa, Pak ustadz," jawab Rani menatap pak ustadz lalu beralih menatap Juna dengan tatapan datar.
Ada gurat kesedihan di wajahnya. Semua ibu menginginkan putranya bahagia dalam keadaan apa pun. Tangan pak ustadz memegang tangan Juna yang sedang duduk sambil bersandar, berdehem lalu melafazkan.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Juna Andara bin Yudha Andara dengan Mora Cantika binti Adi Saputra dengan mahar lima puluh gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Mora Cantika binti Adi Saputra dengan mahar yang di sebutkan, dan semoga Allah memberikan anugrah," jawab Juna dengan suara lemah namun terdengar lantang.
"Bagaimana saksi?"
__ADS_1
"Sah," sahut mereka bersamaan, begitu juga dengan bik Inah. Wanita itu menjatuhkan bulir bening yang sejak tadi di tahan. Gadis itu hanya membisu dan mengusap wajahnya lembut, Juna memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
Beberapa saat berbincang dan melempar candaan pada pengantin pria mereka pun bangkit dan meninggalkan rumah sakit. Rani menatap Mora dengan raut sedih, mendekat lalu memeluknya.
"Maafkan Mama dan juga anak mama," ucapnya sambil terisak. Mora terdiam, tak tahu harus berkata apa pada wanita yang kini ingin disebut mama.
"Iya. Nyonya," jawab Mora pelan. Rani mengendurkan pelukannya dan menatap wanita muda yang sekarang menjadi istri dari anaknya itu.
"Jangan Nyonya. Tapi aku sekarang Mama kamu, semoga seterusnya demikian, Jika Juna kasar sama kamu bilang sama mama," jelas Rani, wanita cantik dan modis itu berslih menatap putranya, karena dia sedikit tidaknya paham atas kelakuan Juna.
"Santai dong. Aku mencintainya," jawab Juna lemah, seolah tak ada beban di hatinya. "Dan kamu Mora, berhenti memanggilku tuan atau den atau anda. Aku ga suka, lebih suka seperti saat sore itu, walau terlihat kesal tapi kamu memanggilku dengan sebutan kamu. Aku suka itu," lirihnya. Bagian pipinya terasa nyeri, jika banyak berbicara maka kemungkinan bisa koyak kembali karena luka terlalu lebar dan dalam.
"Baik." Hanya itu yang mampu keluar dari bibir ranum wanita yang sudah sah dalam satu ikatan suci pernikahan.
Bik Inah hanya tersenyum kecil melihat majikannya yang sedang dalam keadaan gundah. Bik Inah seolah merasakan apa yang Rani rasakan, jika wanita itu banyak pikiran maka ia akan bersikap datar.
"Bibik tunggu Den Juna aja, Nyonya bisa pulang untuk berganti pakaian dan istirahat sebentar. Kasihan Nyonya dari kemarin di sini, pasti sangat jenuh dan lelah," jelas bik Inah.
"Iya, Bik. Kok aku rasanya kesal sama Juna. Anak ini selalu aja bikin masalah," grutunya. Lalu mendekat pada Juna dan menyentil telinganya.
"Dia ga lihat. Diam ga usah banyak bicara, nanti lama sembuhnya. Mama banyak kerjaan, malas nunggu kamu terus," ucap Rani lalu berlalu meninggalkan mereka bertiga. Rosan sudah menunggu di luar saat mengantarkan penghulu tadi saat berpamitan.
Terkadang manusia tak pernah menyadari saat hati gundah hanya doa dan Allah lah sang maha mengabulkan segala permintaan, jika saat ini belum Allah kabulkan maka kesabaran hambanya sedang di uji, dan sedang mempersiapkan kejutan kebahagiaan terbesar untuk hambanya.
Wanita cantik itu mendekat ke arah Juna di bantu bik Inah yang saat ini bersama mereka.
"Maafkan aku, Mas," lirih Mora pada laki-laki yang duduk lemah.
"Anggap ini untuk menebus dosaku di masa lalu," jawab laki-laki bertubuh atletis itu, lalu meraih tangan sang istri dan menciumnya. Mora terkesiap menerima perlakuan dari laki-laki yang menyandang gelar sebagai seorang suaminya saat ini. Sementara bik Inah juga sudah keluar diam-diam tadi tanpa sepengetahuan mereka, membiarkan sepasang pengantin itu merasakan hangatnya kasih sayang walau sejatinya mereka masih haram untuk melakukan hubungan suami istri.
Sementara di luar seorang sedang mengintai Mora, memperlihatkan segala aktivitas yang ia lakukan. Mulai dari awal ia di antarkan sampai sekarang laki-laki yang menguntit masih setia mencari tahu tentang apa yang ia lakukan.
Beberapa hari hari yang lalu Roby menginap di penginapan terdekat, bekerja di bengkel dekat dengan rumah mewah yang kini menjadi mertua Mora.
Laki-laki itu belum puas meluluh lantakkan kehidupan Mora, masih ada api amarah yang membara dalam hatinya, jiwa kemanusiaannya seakan hilang tak tersisa karena cinta yang ia derita begitu lara.
Hari berganti bulan tak ada kata bosan untuk menunggu saat kehancuran wanita yang dulunya cinta kini menyandang gelar benci. Tatapan nyalang itu tertuju pada Mora melalu jendela.
__ADS_1
"Tunggu saja saatnya," gumamnya. Lalu berlalu meninggalkan dua mahluk yang masih di landa rasa cemas dan gundah.
____
"Ma. Sebenarnya apa yang dipikirkan Juna Tetang wanita tuna netra itu?" Laki-laki berwajah Turki itu melontarkan pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
"Adikmu ingin bertanggung jawab atas perbuatannya," jawab wanita yang telah melahirkannya itu datar. Rosan yang mendengar perkataan ibundanya mengernyitkan dahi.
"Maksud Mama apa?" Masih memasang wajah bingung namun fokus mengemudi.
"Juna yang memperk*sa gadis malang itu. Rasa sayang Mama tumbuh berkali lipat untuknya," jelas Rani sambil menyeka sudut matanya. Sejak tadi ia membendung tangis kini tumpah begitu saja.
Napas laki-laki berwajah Turki itu terasa sesak, satu sisi ia ingin meremukkan tulang laki-laki bejat itu di sisi lain itu adalah orang yang paling ia sayang.
"Mama serius?" Masih tidak percaya dengan apa yang di wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ya. Setelah anak itu lahir kita akan melakukan tes DNA."
Rosan mengangguk setuju. Sejujurnya Rani percaya sepenuhnya pada anaknya jika itu benar anak biologis Juna, namun hanya ingin memastikan dan menguatkan bukti agar tidak mempersulit mereka nanti. Tak butuh waktu lama mereka tiba di rumah, kini suasana rumah terlihat sepi, lampu rumah juga padam. Rosan meraba saklar dan menyalakan lampu.
"Darah...." Teriak Rani. Tubuhnya menggigil, wanita itu merasa takut yang luar biasa. Rosan mendekati dan memeluk wanita yang telah melahirkannya.
"Tenang, Ma. Itu hanya darah tikus," jelas Rosan, berharap sang bunda percaya, walau kenyataan dia sendiri merasa takut.
Mereka duduk di sofa di ruang tamu. Mata keduanya tertuju pada meja kaca yang terletak di hadapan mereka. Terpampang jelas di sana foto Mora sedang di cumbu oleh laki-laki. Dada Rosan kembali sesak di buatnya, ia berpikiran tentang keluguan Mora.
Pikirannya melayang. Jika benar adik iparnya itu melakukan bersama laki-laki lain tidak menutup kemungkinan anak yang di kandung Mora adalah anak dari laki-laki lain. Rosan menggeram, giginya seakan patah.
"Lihat lah, Ma. Apa mungkin dia wanita baik-baik," ungkapnya. Rasa ragu dan juga rasa iba itu kini sirna sudah.
"Mama percaya pada Mora. Tak ada orang yang menginginkan wanita buta, mungkin yang melakukan ini orang yang membenci Mora," jelas Rani, ragu di hatinya jika foto yang di lihatnya saat ini satu pemalsuan.
"Terserah Mama. Jika nanti anak itu lahir dan hasil tes DNA membuktikan bahwa anak itu bukan anaknya Juna maka bersiaplah dia harus angkat kaki dari sini," pesannya lalu bangkit dan menelpon seseorang.
Jika hati sudah berada pada titik benci, maka dunia dan seisinya mampu ia lawan demi menuntaskan sebuah dendam.
Bersambung....
__ADS_1