KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 43


__ADS_3

Kumandang adzan menggema, membangunkan insan yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Selamat pagi istriku," desis Juna mengecup pipi wanita mungil yang masih terlelap di sampingnya.


Tubuh mungil itu meringsut sedikit, mengerjapkan matanya, setelah mata itu terbuka sempurna hati gundahnya melanda kembali.


"Salat duluan, Mas," ucap Mora pelan, tubuh mungil Mora kini telah duduk di tepian ranjang.


"Tidak. Kita salat berjamaah seperti biasa," ungkap laki-laki bertubuh atletis itu sambil menatap kearah istrinya.


Padahal niatnya wanita cantik itu ingin salat sendiri, ia lebih nyaman menumpahkan segala isi hatinya pada Tuhannya, dengan langkah gontai Mora menuju kamar mandi, menguyur tubuhnya lalu berwudhu, sementara Juna menunggu gilirannya untuk berwudhu karena laki-laki bertubuh atletis itu sudah mandi sebelum membangun Mora.


Tatapan Juna tak berpaling saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah, laki-laki bertubuh atletis itu jatuh cinta berkali-kali pada wanita yang telah bertahta di hatinya saat ini.


.


.


Kini keduanya sudah usai melaksanakan salat, wanita cantik itu berdoa kepada Allah agar ia diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi masalah dalam kehidupannya saat ini, ia mengaminkan doanya dengan linangan air bah asin yang meluncur di pipinya.


"Berhentilah menangis, aku akan selalu bersamamu, selalu mencintaimu, selalu merindui dan meridhoi setiap langkahmu," lirih Juna sambil mengecup kening istrinya dengan penuh kasih.


"Aku tau. Itu sebabnya Allah mencemburui hubungan ini, cintamu padaku jangan sampai melebihi cintamu kepada Tuhanmu, Mas," ucap Mora menatap manik mata Juna yang memandangnya.


Beberapa saat keduanya hening, mencoba mendalami perasaan keduanya. Untuk merasakan kebahagian saja begitu sulit untuk dua insan yang saling mencintai saat ini.


Tak lama suara Cika terdengar menangis, pasti bocah kecil itu merindukan ibunya. Juna berjalan cepat menghampiri Cika yang sedang sesugukan.


"Anak pinter ga boleh nangis." Juna berusaha memenangkan bocah yang sesugukan itu.


"Cika kangen mama, Pa," ucap bocah itu sambil menyeka sudut matanya.


Hati wanita cantik yang berdiri di ambang pintu kembali hancur berkeping-keping saat bocah kecil itu menyebut suaminya Papa, wanita cantik itu paham tujuan Putri menitipkan Cika pada Juna.


Bocah kecil itu dapat mempererat dan menyatukan Putri dan Juna dengan alasan Cika tidak ingin berpisah dengan Juna.


Gawai Juna memekik keras di dalam kamar, Juna tergesa menuju kamar untuk mengambil gawai miliknya, sementara Mora menenangkan Cika sebisanya, walau rasa kesal pada ibunya tapi Cika tidak bersalah sama sekali.


"Bisa kerumah Mama ga?" Rani meminta kehadiran putranya untuk menemuinya setelah sebelumnya mengucapkan salam.

__ADS_1


"Bisa, Ma. Mama kok suaranya kayak serak gitu?" Laki-laki bertubuh atletis itu merasa jika wanita yang melahirkannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Mama lagi ga enak badan. Mama mau bicara hal penting sama kamu," ucap Rani di sebrang sana, namun ucapan Ibundanya sukses membuat Juna khawatir.


Setelah mengatakan Juna akan datang menjenguk panggilan pun diakhiri oleh Rani dengan sepihak.


.


.


.


___


Sementara di rumah Rani. Yuli berusaha menghindar bertemu dengan Juna untuk sementara waktu, ia berbohong pada Rani bahwa mereka akan berangkat untuk kontrol luka bakar pada tubuh Yuli.


Rani dengan penuh keyakinan percaya pada perkataan Yuli dan memberikan uang yang lumayan besar untuk pengobatan wanita berbibir tebal itu. Mereka berpamitan segera agar tak bertemu dengan Juna.


"Kami akan kembali dalam waktu tiga hari, Nyah," papar Yazid pada Rani yang masih berbaring.


"Hati-hati, jaga baik-baik istrimu, Yazid," ungkap Rani, lalu terbatuk-batuk.


"Kita kemana?" Ucap Yazid saat mereka sudah berada di luar gerbang.


"Kita liburan ke kilometer nol aja, naik pesawat lebih cepat," jelas Yuli pada Yazid yang masih mendorong kursi roda Yuli menyusuri trotoar jalan yang masih terlihat sepi.


"Ide bagus. Kabarnya Aceh pemandangannya indah," ucap Yazid sambil mengulas senyum.


Langkah laki-laki bertubuh gempal itu semakin cepat saat lampu mobil menyoroti mereka, lalu mendadak berhenti di samping Yazid, laki-laki bertubuh gempal itu juga ikut menghentikan langkahnya.


Kekhawatiran mereka benar terjadi, Juna menanyakan mereka hendak pergi kemana, Yazid memberikan alasan yang sama seperti alasan yang ia berikan pada Rani, lagi-lagi rejeki untuk mereka yang berbohong. Juna merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar pecahan uang seratus ribu untuk mereka.


Tak selamanya menengadahkan tangan itu baik, selagi mampu kita bisa berusaha dan melakukan apa saja asalkan halal, namun mereka yang tidak memiliki mata hati tak pernah peduli akan perkara halal dan haram.


Sesaat setelahnya mobil Juna mendarat sempurna di halaman rumah Rani, di susul mobil Rosan setelahnya.


Kedua kakak beradik itu turun bersamaan seperti sudah janjian, mengucap salam lalu setelahnya mereka masuk bersamaan.


"Mama kenapa, Pa?" Tanya Rosan pada laki-laki berjambang tebal yang sedang mengoleskan minyak kayu putih ke punggung istrinya yang sedang duduk di depan televisi, wanita cantik nan modis itu bosan jika terus berada dalam kamar.

__ADS_1


"Mama ga enak badan setelah makan nasi goreng tadi malam," ujar Yudha, tangannya masih mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Ke klinik yuk, Ma!" Rosan menyentuh jemari Rani lalu beralih menatap manik mata wanita modis itu.


"Maafin Mama ya, Rosan?!" Rani menyeka sudut matanya yang telah berair, tak ada minat menjawab pertanyaan Rosan.


"Tidak ada salah. Tak ada yang perlu di maafkan," mata Rosan berkaca-kaca, sementara kedua menantu Rani duduk di sofa tepat di depan Rani, mereka manatap sedih kearah wanita yang bergelar sebagai mertua mereka itu.


"Rosan, Mama ingin kamu memegang perusahan kosmetik milik Mama," ucap Rani membuat mata Juna dan Rosan membola sempurna, kedua kakak beradik itu saling menatap.


"Kamu Juna. Masih banyak hal yang membuat Mama ingin membuat kamu jera," terang Rani membuat laki-laki bertubuh atletis itu tersenyum simpul, ia menyadari kelakuannya yang begitu buruk, jadi wajar saja jika Rani ingin menghukum dirinya.


"Apa tidak berlebihan, Ma?" Tanya Rosan menatap lekat manik mata Rani.


"Kamu anak Mama juga, sama seperti Juna," jelas Rani, tangannya mengusap lembut kepala Rosan yang tak pernah ia lakukan selama ini. Seperti bocah kecil yang merindukan ibunya Rosan berhambur memeluk Rani.


Semua larut dalam suasana sendu, dua menantu itu sama-sama menyeka sudut matanya yang berair, begitu juga laki-laki berjambang btebal itu.


Bik Inah berdiri menyaksikan suasana hati antara mereka, wanita pa paruh baya itu hanya ingin mengantar minuman untuk anak dan menantu Rani.


"Juna tolong bantu kelola ulang perusahaan karpet yang sempat bangkrut di tangan Yasna kemarin," papar Rani sambil mengalihkan pandangannya kearah Juna yang berdiri mematung di sampingnya.


Tak mampu berkata apapun, laki-laki bertubuh atletis itu hanya mengangguk, Rani yang geram mencubit tangan Juna hingga ia mengaduh kesakitan.


"Kebiasaan kayak patung," seloroh laki-laki berjambang tebal itu, semua tersenyum menatap kearah Juna tak terkecuali istri tercintanya, walau dalam hati masih ada rasa sakit hati yang begitu dalam namun tak ingin mereka perlihatkan pada kedua orang tuanya saat ini.


"Kenapa bisa anak Putri sama kamu, Jun?" Rani memandang tak suka kearah bocah kecil yang masih polos, bocah itu tak banyak bicara, hanya duduk diam otak banyak tingkah.


"Putri bersikeras bahwa Cika anakku," jelas Juna sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


"Putri sebelum sama kamu sudah banyak gandengan, setelah kamu menikah juga Putri pernah mama lihat masuk ke hotel bersama seseorang." Bukan Rani ingin menjelekkan banak sahabatnya namun memang begitulah kenyataannya.


"Ya. Juna tau itu," ucap Juna sambil melirik kearah laki-laki yang menatap kearahnya tak suka.


"Makanya jangan cuma mikir enaknya. Gini kan jadi ribet," cecar laki-laki berjambang tebal itu kesal.


"Namanya juga khilaf, Pa," elaknya membuat Rani dan Yudha menggelengkan kepalanya.


Wanita modis itu di papah suaminya berjalan menuju meja makan, mereka menyantap hidangan sederhana yang setiap pagi di hidangkan oleh bik Inah.

__ADS_1


Setelah mengenyangkan perut masing-masing, Juna dan Rosan menuju perusahaan yang telah Rani sebutkan, sementara para istri tinggal di rumah Rani dan mereka saling bertukar cerita dan pengalaman.


__ADS_2