KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 47


__ADS_3

Saat Adzana subuh berkumandang, laki-laki bertubuh atletis itu sudah bangun dan melaksanakan salat sebelum melakukan dosa, jiwa psikopatnya bangkit karena Yuli si wanita tak tahu diri.


Sengaja Juna tidak membangunkan Mora karena ia tak ingin jika Mora curiga nantinya.


Bik Inah menatap heran pada Juna, ingin bertanya rasanya begitu enggan. Setengah berlari Juna keluar lumrah dan menuju gerbang dengan tergesa mobil sengaja tidak ia masukkan karena ia tak ingin membangunkan orang di dalam rumah jika ia menyalakan mobil terlalu cepat.


"Bersabarlah menjemput ajal kalian," kekeh Juna dengan tatapan seramnya.


Tak berapa lama mobil Juna menepikan mobilnya di tepi hutan yang ada rumah tua yang di jaga oleh anak buahnya. Juna mendekat dan mengulas senyum menyeramkan.


"Masih hidup?" Juna menepuk bahu salah satu dari anak buahnya itu lalu bergegas masuk kedalam.


"Semalam mereka minta di lepaskan, Bos," papar salah satu dari mereka, seketika mata Juna menatap tak suka kearah anak buahnya itu.


"Kalo kamu lepaskan, maka isi benda ini bersarang di kepalamu," kekehnya membuat anak buahnya bergidik ngeri.


Juna mengenakan topeng saat tadi hendak masuk, laki-laki itu mengeluarkan cambuk lalu menyambuk tanah kosong saat Yuli dan Yazid menatap kearah Juna.


"Kalian suka?" Juna menincingkan matanya, menatap nyalang kearah Yuli dan Yazid secara bergantian.


Laki-laki bertubuh atletis itu menarik isolasi yang menempel di mulut mereka secara paksa, hingga mereka sedikit mengaduh.


"Tolong ...." Pekik Yuli sekuat tenaga namun membuat Juna tergelak dan menodongkan benda berpelatuk di kepala Yuli.


"Teriak sekuat tenaga ga akan ada yang dengar, tapi bikin telinga saya sakit," laki-laki bertubuh atletis itu mencambuk tubuh Yuli begitu keras, tepat mengenai paha mulusnya.


"Itu untuk kejahatan pertama," ucap Juna pelan sambil menyentuh bekas cambuk yang memerah, sekali lagi cambuk itu ia hujamkan di betis Yazid membuat keduanya menahan sakit yang luar biasa.


" Apa salah kami padamu? Ampuni kami," lirih Yuli, tubuh wanita berbibir tebal itu bergetar menahan tangis.


"Tidak, salahmu terlalu banyak, manusia licik!" Laki-laki bertubuh atletis itu meninggikan suaranya beberapa oktaf.


Kini jiwa psikopatnya benar-benar hadir kembali, tak ada rasa iba sama sekali pada manusia yang sedang kesakitan di depan matanya saat ini, Juna menarik topengnya kasar membuat Yuli dan Yazid terperangah.


"Mas Juna," lirih Yuli sambil menjatuhkan bulir bening.


"Kenapa. Apa kamu berpikir saya tidak bisa melakukan seperti apa yang kamu lakukan?" Juna kini bersikap tenang seolah tadi yang mencambuk Yuli bukan dirinya.


"Aku sungguh benci sama istrimu, Mas," akunya membuat Juna tersenyum miring sambil menatap Yuli.


"Hakmu membencinya apa?" Manik mata keduanya beradu, sementara Yazid hanya diam.

__ADS_1


"Aku dendam padanya karena ibuku lebih menyayangi dia daripada aku," kata Yuli mantap, Yuli mengira psikopat itu akan berubah baik padanya.


"Aku tidak peduli, itu urusanmu dengan ibumu. Sekarang dia milikku, kewajibanku menjaganya," papar Juna, laki-laki bertubuh atletis itu mendekat lalu memegang kedua pipi Yuli dengan satu tangan dan menghempaskan secara kasar.


"Alasan apapun aku tak peduli," sambung Juna melirik gerakan Yazid yang sudah mulai melonggarkan tali pengikat tubuhnya.


Pelan Juna mengusap benda berpelatuk itu dan segera menembakkan ke kepala Yazid yang berada tak jauh dari Juna.


"Indah sekali," gumam Juna melirik kearah Yuli, tubuh wanita berbibir tebal itu bergetar hebat.


"Lepaskan. Aku janji ga akan ganggu Mora lagi," ucap Yuli mengiba.


"Tapi ingin membunuhnya juga ingin melenyapkan ibuku," seloroh Juna, ia tergelak sementara anak buahnya membereskan jenazah Yazid, akan mereka kuburkan tak jauh dari rumah kosong itu.


"Bu ... Bukan ... Begitu ...." Suaranya tercekat saat benda berpelatuk mikik Juna membidik kepala Yuli dari jarak dua meter. Isi benda berpelatuk itu mendarat di kepa Yuli sesat setelah wanita itu terlebih dahulu memejamkan matanya karena takut.


Lalat kecil pembawa penyakit itu telah berhasil ia singkirkan, lagi-lagi anak buahnya menyeret tubuh tak bernyawa Yuli dan membawanya ke belakang lalu menguburkannya.


"Beres, tinggal satu lalat pintar lagi," gumam Juna lalu meninggalkan rumah tua itu, ia memerintahkan dua anak buahnya itu untuk membereskan sisa darah di lantai setelahnya datang menemui dirinya di kafe untuk uang bayaran yang telah ia janjikan.


.


.


.


Sedangkan di rumah, Mora merasa cemas karena Juna tidak berpamitan padanya saat pergi tadi.


"Bik, mas Juna kemana ya?" Mora berbalik kesana kemari seperti setrikaan.


"Den Juna beli makanan untuk neng Mora katanya tadi," dusta bik Inah, wanita itu tidak tege melihat Mora yang begitu cemas.


Tak lama suara deru mesin mobil Juna terdengar begitu jelas memasuki pekarangan rumah, Juna turun dan membuka gerbang sendiri. Sesat setelahnya laki-laki bertubuh atletis itu masuk, tangannya memegang bungkusan pizza seperti permintaan Mora saat wanita yang bertahta di hatinya itu belum di rawat.


"Tuan putri sudah bangun?" Tanya Juna menatap kearah Mora yang masih seperti setrikaan, ia bahkan tak mendengar suara deru mesin mobil Juna saking cemasnya.


"Udah. Mas Juna tega ga bangunkan aku," lirihnya menatap kearah suaminya, wanita cantik itu mendekat lalu memeluk erat tubuh Juna.


"Apa ibu hamil memang seperti ini, Bik?" Laki-laki bertubuh atletis itu pasrah saat tubuh kekarnya di peluk, matanya menatap bik Inah sambil tersenyum.


"Iya, Den. Moodnya juga ga nentu," jawab bik Inah, wanita paruh baya itu paham juga bahasa gaul.

__ADS_1


Perlahan tubuh mungil Mora melonggarkan pelukannya, ia merasakan aroma yang berbeda di tubuh Juna, lalu memperhatikan beberapa titik darah di baju kemeja putih Juna, wanita begitu teliti dalam memperhatikan sesuatu.


"Kamu terluka, Mas?" Mora menyentuh jejak darah yang tertinggal di pakaian suaminya itu.


"Sial," batin Juna.


"Benar Mas terluka?" Wanita hamil itu bertanya sekali lagi agar kecemasannya benar-benar hilang.


"Bukan. Ini tuh darah kucing," lirih Juna, ia meraih dagu Mora lalu mengecup keningnya pelan.


"Kok bisa sih, Mas?" Wanita cantik itu menatap serius kearah Juna lalu beralih menatap bungkusan yang ada di tangan suaminya itu.


"Pizza?" Heran Mora mengernyitkan dahinya.


"Sebelum kecelakaan itu kamu menginginkan pizza, apa bidadariku ini masih ingat?" Juna menatap lekat manik mata istrinya itu, terlihat Mora menggaruk kepalanya. Efek depresi melumpuhkan bingatannya.


"Tidak." Wanita cantik itu tersenyum lebar, manampakan deretan giginya yang putih.


"Mau?" Juna menanyakan, karena Mora tak suka makan pizza sebelumnya. Wanita cantik itu mengangguk lalu mengekor di belakang Juna yang berjalan di depannya menuju meja makan.


Setelah Mora membuka bungkusan berisi pizza yang masih hangat, Juna memperhatikan tingkah wanita yang bertahta di hatinya tanpa berkedip. Mora melahap pizza tanpa menawarkan pada bik Inah dan Juna, wanita paruh baya itu ikut tersenyum saat memperhatikan Mora makan begitu lahap.


"Enak," gumamnya, sambil terus mengunyah.


Tinggal satu potong lagi ia sodorkan pada suaminya yang duduk tepat di hadapannya.


"Jika mau, habiskan," ucap Juna mendorong kotak pizza kearah Mora. Wanita cantik itu menggeleng pelan lalu menyentuh perutnya.


Ia membekap mulutnya, secepatnya wanita cantik itu berlari kearah kamar mandi lalu mengeluarkan semua isi yang baru saja ia makan, Juna yang melihat memandang lesu lalu mendekat dan mengelus tengkuk istrinya dengan lembut, membasuh sisa yang menempel di pinggir mulutnya lalu menbasuh kaki Mora.


Mengendong istri yang begitu ia cintai menuju kamar, ia baringkan tubuh mungil Mora yang terlihat lemas.


"Istirahat, biar kubuatkan susu," ucap Juna lalu mengecup kening wanitanya. Tak ada penolakan dari wanita hamil itu, ia menerima pasrah saat ini tubuhnya benar-benar lemah.


.


.


.


Seburuk apapun manusia pasti ada sisi baiknya, begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2