KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 22


__ADS_3

"Assalamualaikum..." Juna mengucapkan salam, mobil sengaja tidak ia masukkan karena malam ini akan makan bersama Aqila. Juna berdusta pada Aqila bahwa dirinya akan makan malam bersama temannya. Dirinya sungguh sangat ingin menghabiskan waktu bersama Aqila kekasih halalnya.


Bik Inah menjawab samar di dapur. Wanita itu sedang mempersiapkan makan malam. Gadis yang di bawa Rani berada di dalam kamar dengan alasan sakit, padahal dirinya malas membantu bik Inah untuk beres-beres rumah. Sebenarnya wanita paruh baya itu sangat kesal pada Yasna yang seharian hanya rebahan. Berasa dirinya menjadi orang kaya, sementara Rani belum pulang.


Juna mendekati dapur, menghampiri bik Inah yang akan memberi kejutan pada bik Inah.


"Bik. Lihat siapa yang saya bawa," kata Juna pada bik Inah yang sedang mencuci tangan di wastafel. Wanita paruh baya itu segera menoleh dan melihat tak ada siapa-siapa, wanita itu mengernyitkan dahi.


"Mana, Den?" Tanya bik Inah bingung. Aqila mengintip dari balik badan Juna yang kekar, tubuh mungil itu dapat sembunyi sempurna di sana.


"Ya Allah. Neng Mora," ucap bik Inah mendekat lalu menyentuh pipi dan menangkupkan wajah Aqila.


"Saya Aqila," jawab Aqila tersenyum manis. Juna menempelkan jarinya di bibirnya sendiri agar bik Inah mengiyakan dan diam.


"Nanti saya ceritakan, Bik," ungkap Juna, karena memang Juna tak pernah menceritakan apa pun yang kenyataan sebenarnya pada ibundanya dan bik Inah.


Dengan cepat Juna mengantarkan Aqila kekamar tamu satunya agar Aqila tak melihat Yasna dan berpikiran macam-macam tentang hubungannya dengan Yasna. Aqila menurut saja, apa kata bosnya itu karena baginya adalah perintah dari atasan, masih ada sisa-sisa kepolosan Mora pada diri Aqila.


Wanita cantik itu segera membersihkan diri dan menggantikan gaun yang Juna beli, gaun tertutup dan pasmina senada, mengingat dengan ingatan yang kuat Mora sangat menyukai memakai pasmina.


Aqila keluar dengan balutan gaun yang indah, tak ada make up yang menghiasi wajahnya, bibirnya ranum dan pipi putih mulus.


"Cantik," desis Juna menatap Aqila tanpa kedip.


"Eh, ada tamu," kata Yasna yang tiba-tiba keluar dari kamar sebelah kamar tamu yang berdekatan.


"Kak Yuli?!" Aqila heran dan tak menyangka Kakaknya ada di sini.


"Siapa Yuli?" Tanya Yasna yang sebenarnya Yuli, wanita itu akan bermain-main dengan Aqila yang benar-benar hilang ingatan.


"Maaf, Mbak. Mungkin mirip," Aqila menyembunyikan kesedihannya, mungkin yang ia lihat saat ini bukan Yuli kakaknya, hanya kemiripan saja.


Juna segera mengajak Aqila dan pergi untuk makan malam mengingat waktu semakin larut, Juna tak begitu mengenal kakaknya Aqila jadi ia mengira Yasna bukanlah Yuli.


"Juna bakal jadi milikku Aqila! Kamu hanya sampah yang sedang Juna permainkan," gumam Yasna saat Aqila dan Juna sudah berlalu dari hadapan mereka.


Ternyata bertahannya Yasna karena ada yang ia incar, harta dan laki-laki tampan yang bakal memfasilitasi dirinya agar tak lagi menjajakan tubuhnya dengan murahan. Wanita licik itu akan bermain-main dengan Aqila sebagai bentuk balas dendamnya.

__ADS_1


____


Aqila dan Juna tiba di restoran yang sudah ia pesan tadi siang, tak ada satu pun orang selain mereka berdua di sini.


"Mana teman-teman Bapak?" Tanya wanita berhijab itu dengan raut heran, matanya memindai sekeliling.


"Ga tau. Mungkin sudah pulang," jawab Juna berdusta. Mereka duduk di kursi yang telah disediakan. Menikmati secangkir minuman khas restoran tersebut.


"Apa kita pulang aja ya pak?" Aqila rasanya ingin pulang saja karena hanya berdua dengan Juna dirinya merasa tidak enak hati.


"Jangan, sayang tuh makanan udah dipesan." Tunjuk Juna pada pelayan yang mendekat kearah mereka. Makan malam yang romantis di ruangan terbuka dengan hiasan lampu-lampu kecil menambah suasana romantis.


"Silahkan makan tuan putri," ucap Juna memandang kawah Aqila dengan sendu. Wajah yang selalu ia rindukan. Mendengar kata tuan putri membuat Aqila terperangah.


"Jangan berlebihan, Pak," jawab Aqila berusaha mengontrol detak jantungnya yang berdebar begitu kencang.


"Kita manfaatkan aja suasana ini," kata Juna lagi.


"Maksud bapak?" Aqila mengernyitkan dahinya heran.


"Kita makan setelahnya ada yang mau saya sampaikan tentang pekerjaan," jelas Juna. Aqila menyendok makanan lalu memakannya, biasanya seseorang makan di depan orang yang baru kenal maka akan terasa canggung, namun Aqila makan dengan lahap.


"Heum," gumamnya pelan. Lalu segera menghabiskan sisa makanan di mulutnya.


"Bisa ga kamu kerja jadi asisten pribadi saya juga saat di rumah," kata Juna menatap serius kearah Aqila.


"Bisa saja, Pak. Karena ibu sudah tidak ada," jawab Aqila dengan raut sedih.


"Terus apa yang kamu pikirkan?"


"Rumah peninggalan ibu. Kasian ga ada yang rawat."


"Kamu kontrakan aja. Uangnya kamu tabung. Kakak kamu juga ga pulang kan?" Aqila hanya menganggukkan kepalanya.


Memang benar Yuli menghilang bagaikan ditelan bumi, bahkan Aqila berpikir Yuli yang menyamar menjadi Yasna bukanlah kakaknya. Dunia saat ini begitu mempermainkan dirinya.


Yasudah, besok kita urus semuanya, saya senang kamu bisa membantu pekerjaan saya yang menumpuk di rumah," jelas Juna dengan hati yang berbunga, bahagia di hatinya mengingat Aqila akan bersamanya, ia begitu berharap kebersamaan yang akan ia jalani akan bertahan selamanya.

__ADS_1


Selesai makan malam mereka pulang, Aqila mengusap bahunya pelan, rasa dingin angin malam menembus tulang. Juna melirik sekilas kearah pujaan hatinya.


"Dingin?" Juna menoleh ke arah Aqila, wanita manis itu hanya mengangguk. Juna dengan cekatan melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Aqila. Pujaan hati Juna itu tersenyum manis.


Ah, rasanya jantung Juna hampir copot dibuatnya. Senyum yang sama seperti dulu saat masih tercipta luka, kini senyum tulus penuh dengan keikhlasan.


Aqila terlelap dalam perjalanan, sesekali Juna melirik kearah Aqila. Rasanya Juna enggan sekali berpisah dengan kekasih halalnya saat ini. Tapi Aqila masih belum miliknya seutuhnya, merangkai kasih yang pernah ada, merajut asa agar segera bersua.


Juna memilih membawa pulang Aqila kerumahnya dan membiarkan Aqila beristirahat di kamar tamu yang bersebelahan dengan Yasna, walaupun hatinya sedikit khawatir Yasna akan berbicara yang tidak-tidak pada Aqila.


Beberapa menit dalam perjalanan mereka sampai di rumah, Juna membuka pagar sendiri, agar tak membagunkan yang lainnya. Memasukkan mobil dalam garasi lalu menggendong Aqila menuju kamar tamu, tanpa ia sadari sepasang mata memandang mereka dengan tatapan benci.


"Awas aja kamu Qila," gumam Yasna dalam temaram lampu ruang tengah.


Setelah membaringkan tubuh mungil Aqila, Juna keluar dari kamar. Menuju kamarnya ingin segera membersihkan tubuhnya. Dengan cepat Juna naik kelantai dua kamarnya, jika lebih lama dirinya di lantai bawah makan semakin sulit dirinya mengontrol nafsu untuk menggauli kekasih halalnya.


Usai membersihkan diri Juna menggantikan pakaian tidurnya, matanya tertuju atas nakas. Dirinya lupa bahwa belum membaca hasil tes DNA yang diberikan oleh sahabatnya itu. Selama ini dia terlalu sibuk memikirkan dan mengurus Aqila.


Berlahan ia buka amplop putih itu, ada rasa tak nyaman dan khawatir di hatinya.


Golongan darah Juna A sedangkan golongan darah Putri O, golongan darah darah Cika O.


Juna memijat pelipisnya pelan.


Ingin menghubungi sahabatnya tapi ada rasa tak enak hati, takut sahabatnya itu marah, dengan ragu ia mengirimkan pesan pada Rosa.


"Sa, sebenarnya anak ini anakku bukan sih?" Pesan ia kirimkan ke aplikasi hijau yang sering orang-orang gunakan. Tak lama pesannya di balas sama sabatnya itu.


"Hahaha... Bisa jadi Anak lu bisa bukan," balasnya diiringi emot tertawa.


"Sialan. Aku serius nanya," balas Juna kesal.


"Aku serius juga jawab, jika golongan darah ayahnya si anak B maka anaknya bergolongan darah B dan O juga. Paham!"


"Yatuhan. Serumit ini hidup," balas Juna pada sahabatnya itu. Sementara rosa hanya mengirimkan emot tertawa banyak. Kesal sekali rasanya Juna saat ini, dunia seakan sedang bermain-main dengannya.


Membanting ponselnya di ranjang lalu ia ikut melompat seperti anak kecil, lalu berbaring. Tak lama tubuh atletis itu terlelap dalam hati dan pikirannya yang kacau.

__ADS_1


Tidak selamanya apa yang kita inginkan bisa kita miliki, tak selamanya pula derita tak bertepi.


__ADS_2