
Dua hari berlalu Adiba sudah di perbolehkan pulang, kini ia dan Rosan berada di rumah Rani.
Wanita cantik yang biasanya modis itu sekarang masih sakit, ia terduduk lemah menatap bayi Adiba yang berada di gendongan Mora.
"Mama pengen gendong, tapi rasanya Mama ga kuat. Lemas banget," ucap Rani menatap kearah Adiba yang terbaring di kamarnya.
"Ga apa-apa, Ma. Nanti kalo mama dah sehat aja gendongnya, ya kan Mbak?" Wanita cantik yang sedang memangku bayi Adiba menoleh kearah Rani lalu mengalihkan pandangannya kearah Adiba.
"Bener kata Mora, Ma," kata Adiba pelan.
"Juna mana?" Tanya Rani pada Mora yang masih memandang lekat kearah bayi Adiba.
"Masih di kamar, Ma," jawab Mora pelan sambil meletakkan bayi Adiba di box bayi.
"Tolong suruh Juna menemui Mama di kamar Mama," ucap Rani sambil berlalu menuju kamarnya dengan langkah yang tertatih.
"Iya, Ma. Pelan-pelan," ucap Mora, wanita hamil itu membantu Rani menuju kamarnya.
Setelah tubuh Rani terbaring sempurna di atas ranjan, Mora menuju kamarnya untuk memanggil sang suami tercinta untuk segera menemui Rani di kamarnya.
Mora tak ingin tahu hal apa yang akan di bicarakan ibu dan anak itu. Wanita cantik itu melihat suaminya masih tertidur pulas karena hari Minggu jadi ia bisa bangun sesuka hatinya.
"Mas. Bagun," ucap Mora sambil menguncangkan tubuh Juna pelan, sementara Juna hanya bergumam pelan.
"Aduh," lirih Mora membuat Juna seketika bangkit dari tidurnya.
"Mana yang sakit, Sayang?" Laki-laki bertubuh atletis itu menyentuh perut Mora pelan.
"Aku ngaduhin kamu, Mas. Heran susah dibangunin," ucap Mora, wanita cantik itu mengulum senyum melihat tingkah suaminya itu.
"Astagfirullah. Kukira kamu sakit, Sayang." Juna segera memeluk tubuh mungil Mora lalu mengecup pipinya berkali-kali.
"Mas di panggil sama mama," kata Mora yang berlahan melonggarkan pelukan suaminya.
"Ada keperluan apa ya?" Juna mengernyitkan dahinya, merasa heran Rani yang tiba-tiba mengajak bicara dengannya.
"Mungkin tentang perusahaan, buruan mandi," kata Mora lalu bangkit dari duduknya, mempersiapkan pakaian yang akan Juna pakai nantinya.
"Baik, bidadariku." Juna berlalu meninggalkan Mora yang tersipu malu.
Wanita cantik itu meninggalkan kamarnya lalu berlalu menuju dapur, ingin rasanya ia berbincang dengan bik Inah seperti saat ia baru datang kerumah ini, namun saat ini Mora Cantika harus memprioritaskan Juna Andara dari pada bik Inah.
"Bik!" Wanita hamil itu memanggil bik Inah dengan suara tinggi.
"Eh ... Copot ... Copot ...." Wanita paruh baya itu menyentuh dadanya lalu beralih menatap Mora sambil tersenyum malu.
__ADS_1
"Ngagetin aja, Neng." Bik Inah menyapu tangannya di pakaiannya lalu mendekat kearah Mora.
Wanita paruh baya itu tahu jika Mora mendekati dirinya pasti ada suatu hal yang akan ia bicarakan.
"Ada apa, Neng?" Tanya bik Inah yang menatap ragu kearah Mora yang masih berdiri.
"Ga ada, rindu aja sama Bibik," kekehnya membuat bik Inah ikut tersenyum.
"Padahal tiap hari jumpa ya, Neng?" Bik Inah menyentuh tangan Mora lalu mengajaknya duduk di lesehan yang dulunya mereka sering duduk bersama.
"Iya, Bik. Apa jadi orang kaya itu memang ga banyak waktu untuk keluarga, Bik?" Tanya Mora pada bik Inah.
"Ya gitu, orang kaya kan giat, Neng. Ga kayak kita si miskin," kekeh bik Inah, Mora ikut terkekeh.
.
.
Sementara dalam kamar Rani Juna duduk di samping Rani yang sedang berbaring beristirahat.
"Ada apa, Ma?" Juna bertanya sambil membenarkan jam tangan yang ia kenakan, rencananya ia akan mengajak istrinya untuk sekedar menikmati udara pantai.
"Duduk," titah Rani, sedikit meringsut membenarkan posisinya agar ia duduk bersandar.
"Sangat penting, menyangkut butik Mama, perusahaan kamu dan perusahan yang dikelola sama kakak kamu," ucap Rani pelan, ia berusaha memberi pengertian pada anaknya saat ini.
"Ada yang salah sama perusahaan itu, Ma?" Tanya Juna serius, nampak jelas kecemasan di wajahnya.
"Tidak ada yang salah kalau kalian merawatnya dengan benar, perusahaan kita ada menerima investasi besar dari sahabat Mama," kata Rani pelan sambil menahan air matanya yang hampir luruh. "Hutang kita begitu banyak sama teman Mama itu," sambung Rani, ia mencoba memberi pengertian pada Juna yang masih bingung untuk mencerna ucapannya.
"Terus aku harus bagaimana? Apa menjual perusahaan untuk menutupi hutang?" Laki-laki bertubuh atletis itu memberondong beberapa pertanyaan.
"Tidak. Bukan begitu, Mama sudah terlanjur janji sama teman Mama sebelum kamu dan Mora menikah dulu," jelas Rani, lalu wanita yang kini tubuhnya mulai kurus itu menjatuhkan bulir bening.
"Jangan nangis, Ma." Juna mengusap pipi mulus Rani dengan lembut. "Katakan saja ada apa? Aku akan melakukan apapun demi Mama," sambung laki-laki bertubuh atletis itu.
"Benar?" Rani menyeka sudut matanya lalu menatap manik mata putranya lekat, sementara Juna hanya mengangguk.
"Mama janji dulu akan menikahkan kamu dengan anaknya sahabat Mama itu, sebelum kamu menikah. Kemarin sahabat Mama menagih janjinya karena anaknya sudah selesai kuliah. Percuma menjual semua perusahaan dan butik juga perusahaan kakak kamu tidak akan mampu menutup ganti rugi yang tercatat di surat kontrak," ucap Rani pelan lalu menundukkan kepalanya.
Juna yang mendengar ucapan Rani matanya membola sempurna, dunianya seakan runtuh, dadanya bergemuruh. Kenapa seakan tuhan tak pernah memberi ketenangan pada dirinya saat ini.
"Kenapa harus aku, Ma? Kenapa?!" Laki-laki bertubuh atletis itu memekik kuat sehingga Rani menutup kedua telinganya, wanita yang melahirkannya itu mengis tergugu.
Suara laki-laki bertubuh atletis itu terdengar keluar kamar karena pintu yang tidak tertutup rapat, keduanya kini hening. Mencoba mendalami pikiran masing-masing.
__ADS_1
Tak lama Mora masuk kedalam kamar Rani, wajahnya terlihat bingung melihat Rani yang menagis sesugukan begitu juga dengan Juna yang menunduk.
"Ada apa, Ma?" Mora mengusap pelan punggung Rani untuk memberinya ketenangan, Juna yang melihat Mora mengusap punggung Rani langsung menarik wanita hamil itu dengan kasar hingga jatuh kedalam pelukannya.
Mora mendongak menatap kearah suaminya itu, terlihat matanya memerah menahan amarah dan menatap nyalang kearah Rani, baru kali ini ia benar-benar marah pada wanita yang telah melahirkannya itu.
Juna baru saja akan hidup bahagia tapi ada hal lain yang membuat celah untuk mereka berpisah. Juna begitu bingung bagaimana harus menjelaskan pada Mora tentang apa yang Rani katakan padanya.
"Kenapa sih, Mas?" Wanita hamil itu berdecak kesal melihat tingkah ibu dan anak yang ada di hadapannya saat ini, Mora berpikir Juna sedang melawan orang tuanya.
"Nanti kamu juga akan tau," ucap laki-laki bertubuh atletis itu pelan, lalu mengecup kening Mora di depan Rani agar wanita yang ia segani paham betapa ia mencintai istrinya saat ini.
"Maafkan Mama, Juna," lirih Rani menatap kedua insan yang saling mencintai di hadapannya saat ini.
Laki-laki bertubuh atletis itu pergi meninggalkan Rani yang masih menatap mereka, ada sesak yang sama di hati wanita itu, ia juga ingin melihat anaknya bahagia, ia juga paham rasa sakit jika orang yang di cintai memadu kasih dengan orang lain.
.
.
Laki-laki bertubuh atletis itu menyuruh Mora segera bersiap, membersihkan diri lalu mereka akan ke pantai, walau Juna hatinya sedang kacau saat ini tapi ia tak ingin memperlihatkan pada istri yang begitu ia cintai.
Tak lama Mora sudah siap dengan balutan dres sederhana dan sendal sederhana yang tidak mengunakan hak.
Sepanjang perjalanan Juna hanya diam, mencerna perkataan dari wanita yang telah melahirkannya itu.
Sakit.
Itu yang ia rasakan saat ini, jika jatuh miskin maka semua akan menghina keluarganya termasuk adik dari ibunya yang suka pamer kekayaan. Juna juga takut kehilangan Mora jika ia jatuh miskin, disisi lain juga ia berpikir jika Juna menikah dengan wanita yang belum ia kenal itu maka akan di pastikan ia akan kehilangan kekasih halalnya juga.
Juna mengacak rambutnya frustasi lalu menghela napas kasar. Memikirkan Rani yang tidak berpikir akhir dari keputusannya mbuat Juna merasa frustasi.
"Dari tadi huf aja di mulutnya. Apa sebenarnya yang terjadi, Mas?" Tanya Mora mencoba melihat kejujuran yang ada di manik mata suaminya itu.
"Tidak ada. Aku hanya berpikir jika aku jatuh miskin apa kamu masih mau menerimaku?" Laki-laki bertubuh atletis itu menepikan mobilnya di bahu jalan yang sudah terlihat pantai.
"Aku mencintaimu karena Allah, aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku dalam keadaan apapun," ucap Mora mantap membuat Juna tersenyum tipis kearah Mora lalu mengusap rambutnya pelan.
"Bismillah, kita lalui bersama," ucap Juna, ia sedikit bergeser lalu mengecup pucuk kepala Mora pelan.
Deburan ombak seharusnya memberikan ketenangan pada hati, namun tidak dengan Juna. Laki-laki bertubuh atletis itu masih memikirkan bagaimana jika ia dan keluarganya jatuh miskin maka ia harus bekerja keras untuk biaya pengobatan Rani dan biayanya persalinan Mora kelak.
Juna memandang pemandangan indah di depan matanya saat ini, ia memandang bidadarinya sedang bermain air. Juna berharap wajah bahagia Mora akan bisa selalu ia lihat.
"Semoga kita bisa selalu bersama," lirihnya sambil tersenyum kearah Mora yang melihat kearahnya dari kejauhan.
__ADS_1