
Hari pertama bekerja denga orang baru, suasana baru juga. Berulang kali ia meyakinkan dirinya agar bertahan dengan dengan keadaannya saat ini. Walau kenyataannya berdamai dengan keadaan tak seindah kata-kata.
Masih dengan motor bebek kesayangannya, Aqila menuju perusahaan Juna yang ada di kartu nama milik Juna, Aqila butuh waktu lima belas menit untuk sampai di perusahaan milik Juna.
Wanita berhijab itu terpana memandang perusahaan rintisan tapi terlihat mewah karena banyak bantuan dana dari orang tua Juna.
'Bismillah,' lirihnya. Mendekati bangunan yang ada di alamat pada kartu nama milik Juna namun dihalang oleh scurity.
"Maaf, Mbak. Ada perlu apa?" Tanya scurity itu berdiri tepat di hadapan Aqila.
"Aku mau bertemu pak Juna, saya akan review hari ini," jawab Aqila santai. Padahal tak ada janji seperti itu kemarin.
"Silahkan tunggu di sini. Saya akan hubungi pak Juna," sarannya. Aqila berdecak kesal. Bagaimana bisa dia harus menunggu persetujuan segala. Padahal dirinya sudah berjanji akan menemui Juna Andara hari ini.
"Silahkan masuk, Mbak. Perlu saya antarkan keruangannya?" Aqila hanya mengangguk setuju, bagaima dia bisa tahu ruangan Juna jika gedung yang ia masuki tiga lantai dan begitu besar.
Wanita berhijab itu hanya mengekor di belakan scurity yang membawanya ke lantai atas.
"Saya hanya bisa mengantar sampai sini, Mbak. Itu ruangan pak Juna." Tangannya menunjuk ruangan Juna yang tertutup rapat.
Dahinya mengernyit heran, wanita itu berpikir apa mungkin Juna tak ada dalam ruangannya. Aqila mengetuk pintu beberapa kali.
"Silahkan masuk." Wanita cantik itu membuka pintu berlahan. Langsung matanya tertuju pada Juna yang sedang membelakanginya.
"Ada perlu apa menemui sa ...." Ucapannya terputus saat kursinya berbalik dan di hadapannya berdiri Aqila.
"Apakah saya kemarin hanya bermimpi, Pak Juna Andara?" Tanya Aqila dengan nada kesal. Seolah tak mengenal dirinya saat ini.
"Maaf. Saya kira tadi bukan kamu," jelas Juna lalu mempersilahkan Aqila duduk di hadapannya. Wanita berhijab itu duduk degan raut kesal.
"Tak perlu review. Saya menerima kamu menjadi asisten pribadi saya. Saya juga berharap bisa jadi asisten pribadi saya saat di rumah," terang Juna, matanya terus fokus memandang manik mata Aqila.
"Maksudnya bagaimana, Pak?" Gadis itu menautkan kedua alisnya. Heran dengan ungkapan Juna saat ini.
"Saya ingin kamu menjadi asisten pribadi saya sepenuhnya," ucap Juna lagi. Sementara gadis itu masih memasang raut wajah bingung. Juna melihat wajah cantik itu hanya mengulum senyum.
"Tapi saya tidak bisa jika saya harus bekerja di rumah bapak. Bapak tau sendiri ibu saya sedang sakit." Jawabnya polos.
Bukan itu maksud Juna sebenarnya, maksud laki-laki itu ingin menjadikan Aqila sebagai istrinya namun wanita polos itu gagal paham. Juna menarik tangan Aqila agar mendekat kearahnya dan menatap komputer, beberapa catatan yang harus ia selesaikan jika ada yang tidak ia pahami maka Juna akan membantu dan mengarahkannya.
Setelah melakukan beberapa arahan gadis itu menguap lebar. Juna yang melihatnya mengulum senyum, manis sekali di matanya. Rindunya yang selama ini ia tahan akhirnya terbalaskan.
__ADS_1
"Ayo makan siang. Setelahnya kamu boleh pulang," celetuk Juna saat gadis itu masih menutup mulutnya.
"Benarkah. Apa tugas saya tidak ada lagi?" Tanya Aqila bingung, karena dirinya baru beberapa jam di sini.
"Iya. Setelah makan siang kamu boleh pulang. Dengan syarat kamu temani saya makan siang," ungkap laki-laki bertubuh atletis itu. Aqila mengangguk paham.
Sebenarnya wanita cantik itu sangat ingin pulang karena ibunya yang dirawat atas permintaan Juna kemarin tidak ada yang menemani.
Aqila menadahkan tangannya. Matanya menatap manik mata Juna lekat, seolah sedang mengiba.
"Apa?" Tanya Juna, merasa heran pada tingkah sekretaris barunya.
"Saya sudah bekerja hari ini. Jadi mana gaji saya?" Pintanya. Tangan gadis itu masih terulur. Juna menahan tawa, gadis polos di depannya rupanya masih tak paham, kerja di perusahaan tak bisa mengambil gaji harian.
Laki-laki bertubuh atletis itu membuka laci kerjanya, mencari beberapa lembar uang pecahan seratus ribu lalu memberikan pada Aqila.
"Banyak banget, Pak?" Matanya memandang uang di tangannya tanpa berkedip.
"Itu sekalian untuk besok," jelas Juna. Sebenarnya ia tak ingin Aqila tersinggung dengan uang yang sedikit banyak nominalnya itu.
"Tapi, Pak ...." Suaranya terputus saat tangan laki-laki bertubuh atletis itu menempel di bibir ranum Aqila.
Beberapa mata memandang mereka dengan tatapan iri, Juna yang dingin bisa sedekat itu pada orang baru yang ia kenal. Mereka belum tahu jika Aqila sebagai sekretarisnya, jika mereka tahu mungkin akan beredar gosip miring tentang mereka di kantor.
____
Di rumah sakit.
Wanita lemah itu tersenyum bahagia memandang suaminya yang tertidur sambil memegang tangannya, perlahan tangan itu merenggang dan berpindah mengelus rambut sang suami.
"Mas, aku sebentar lagi akan menjadi Ibu." Lirihnya, tangannya terus saja mengusap lembut rambut sang suami.
Berlahan laki-laki berwajah Turki itu membuka matanya.
"Kamu sudah sadar, Sayang?" Menangkupkan kedua tangannya di pipi istrinya saat ini. Yang ditanya hanya tersenyum kecil.
"Aku akan menjadi ibu kan, Mas?" Wanita berhijab syar'i itu tersenyum lalu meraih kedua tangan Rosan dan menciuminya.
"Tapi kata dokter, kandungan kamu lemah, sayang. Jika dalam satu Minggu janin tidak berkembang maka harus di kuret," jelas Rosan dengan mata berembun. Bagaimana ia sadar dan paham kegundahan istrinya saat ini, ia pun sama gundahnya saat ini.
"Ga mau di kuret, aku mencintainya juga mencintaimu," ungkapnya. Wanita cantik itu mulai sesugukan. Rosan membelai kepala yang berbalut hijab itu lembut.
__ADS_1
"Iya sayang, aku tau itu. Tapi semua demi keselamatan kamu," kata Rosan dengan tatapan sendu, di tariknya wajah istrinya agar menatap wajahnya sempurna.
"Aku akan berusaha agar janin ini berkembang, Mas," rintihnya. Tubuh itu tergugu, secepatnya Rosan memeluk tubuh rapuh itu, walau sejatinya dua insan manusia itu saat ini sama rapuhnya.
"Makan dulu yuk! Dari tadi kamu belum makan," ajak Rosan sambil melonggarkan pelukannya.
"Iya, sama ayam ya, Mas," pinta wanita berhijab itu.
"Yakin sama ayam? Biasanya kamu ga doyan."
"Yakin. Kayaknya enak banget."
"Ya. Tunggu di sini," ujar Rosan. Walau sebenarnya orang sakit di anjurkan makan makanan yang lembut tapi ini permintaan orang yang sedang hamil jadi Rosan harus menurutinya.
Kenapa duka tak pernah bertepi. Terlebih saat dua insan manusia tengah berada di dalam iman yang teguh. Selalu ada guncangan yang membuat jiwa rapuh.
Tak lama laki-laki berwajah Turki itu kembali dengan menenteng kantung plastik berisi nasi. Senyumnya merekah mendekati sang pujaan hati.
"Kita makan sekarang atau nanti?" Tanya Rosan. Mengingat ini hari kedua dirinya dan istri berada di ruang rawat rumah sakit.
"Nanti aja, selesai USG," kata Adiba. Mata itu lekat memandang setiap inci wajah sang suami. Terkadang Tuhan menguji hambanya, menguji seberapa sabar hambanya, seberapa ikhlas menerima apa yang telah ia takdir kan.
"Adiba ...." Rosan menatap manik mata istrinya itu dengan tatapan sendu, ada rasa bersalah tersembunyi di relung hatinya.
"Maafkan laki-laki lemah ini. Jika bukan karena aku seperti ini, tidak mungkin kamu seperti ini," lontarnya. Mata laki-laki itu memerah menahan tangis.
"Aku baik. Bahkan sangat baik. Ini takdir Allah, jika Allah berkehendak maka apa pun akan terjadi. Bahkan yang mustahil menurut kita pun akan terjadi," terang Adiba. Dirinya berharap agar laki-laki bergelar suami itu paham kondisinya.
"Aku ... Hanya ...." Suaranya tertahan saat dokter dan perawat memasuki ruangan mereka dan beberapa alat.
"Kita periksa dulu kondisi ibunya dan setelah itu kita USG," jelas dokter, tangannya memeriksa Adiba dengan tenang. Sementara Rosan terlihat cemas.
Perawat memapah Adiba untuk duduk di kursi roda lalu mendorongnya masuk ruangan lain dan melakukan USG. Rosan ikut masuk dan menyaksikan dokter memeriksa istri yang teramat ia sayangi.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" Tanpa rasa sabar Rosan terlebih dulu menanyakan kabar istrinya.
"Istri anda baik-baik saja. Janin yang ibu Adiba kandung juga menunjukkan sedikit perkembangan. Ibu Adiba butuh support dari anda," jelas dokter lalu memberikan resep vitamin agar Rosan menebus di apoteker rumah sakit.
Mereka kembali keruangan. Ada rasa bahagia terselip di sana, ternyata Tuhan mendengar doa di sepertiga malamnya. Tuhan masih memberikan kesempatan untuk dirinya. Tanpa terasa mata abu milik Rosan meneteskan bulir bening. Walau pada awal pernikahan dirinya dengan dengan Adiba tanpa landasan cinta namun seiring berjalannya waktu rasa cinta itu tumbuh dan semakin takut kehilangan istrinya.
Bersambung....
__ADS_1