KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 54


__ADS_3

Hanya dua jam beristirahat Juna kembali menyusuri jalan, mencari keberadaan Mora yang tak ada jejak sama sekali, bahkan polisi tak menghubungi dirinya.


Berkali-kali Juna menghela napas kasar, sedih dan kecewa ia rasakan sekaligus pada dia wanita yang sama-sama berarti dalam hidup mereka saat ini.


"Mora, berikan petunjuk keberadaan dirimu," lirih Juna saat duduk di halte bus, berharap menemukan keberadaan Mora di sini.


Ia baru ingat sekarang jika dirinya punya teman yang pandai melacak keberadaan seseorang, Juna merogoh sakunya lalu mengambil gawainya, beberapa kali menelpon namun tak terhubung.


"Sial!" Juna berdecak kesal lalu berjalan menuju mobilnya yang berada di sebrang jalan.


Kali ini ia akan memutuskan datang kerumah sahabatnya terbih dahulu untuk meminta tolong melacak keberadaan Mora. Ia berharap ada titik terang setelah ini.


.


.


.


____


Di tempat lain Mora sedang berjalan mencari pekerjaan di rumah makan kadan di toko-toko kecil pinggir jalan, maklum ia tak memiliki ijazah sekolah, pandai membaca saja karena orang tua angkatnya yang mengajarnya.


"Bersabarlah, Sayang," lirih wanita hamil itu menyentuh perutnya yang terasa nyeri bagian bawah karena terlalu lama di bawa berjalan.


Dahaga dan lapar saat ini yang ia rasakan, tak dapat ia tolak godaan es kelapa dan aroma nasi uduk yang tercium begitu nikmat.


"Kita makan dulu, setelahnya berjuang kembali," gumamnya Sabil mengusap perutnya yang sedikit mulai terlihat.


Wanita hamil itu memesan satu porsi nasi dan segelas es kelapa muda lalu duduk bersebelahan di samping laki-laki bertubuh tinggi memakai kaca mata hitam.


"Mau makan ya, Mbak?" Laki-laki bertubuh tinggi itu menatap kearah Mora yang hanya mengangguk pelan.


"Kenapa sendiri, Mbak? Suaminya kemana?" Laki-laki bertubuh tinggi itu memberondong beberapa pertanyaan.


"Saya lagi cari kerjaan, Mas," kata Mora pelan, karena ia begitu lelah berjalan beberapa meter.


"Kok tega ya suaminya biarin istrinya cari kerjaan mana lagi hamil gini," ucap laki-laki bertubuh tinggi itu lembut, kemudian ia melepaskan sarung tangannya, sepertinya ia pemotor.


"Namanya juga kehidupan, Mas. Harus berjuang bersama," kata Mora dengan dada yang sesak, ia menyadari dirinya saat ini bersalah karena tak berjuang mempertahankan cintanya bersama Juna.


Sejenak laki-laki berkacamata itu terkekeh, makanan Mora terhidang di depannya saat ini, wanita hamil itu menyantapnya dengan rakus membuat laki-laki yang berada di sampingnya mengeleng tak percaya.


Beberapa saat makanan yang Mora santap sudah tak bersisa, wanita hamil itu mengeluarkan angin dari mulutnya pelan.


Mora bangkit dari duduknya namun laki-laki itu menahannya.


"Biar saya yang bayar, Mbak," ucap laki-laki bertubuh tinggi itu sambil mendekat kearah kasir.


"Tidak usah, Mas. Kita baru kenal, saya tidak mau merepotkan," kata Mora namun laki-laki itu menggeleng dan tetap bersikeras untuk membayar makanan Mora.


Mereka keluar bersama dari dalam rumah makan sederhana di pinggir jalan itu, seperti sepasang suami istri jika di lihat sekilas.


"Ada kerjaan mau ga, Mbak?" Laki-laki bertubuh tinggi itu melepaskan kacamatanya lalu mengulurkan tangan kedepan Mora.

__ADS_1


"Sebelumnya perkenalkan nama saya, Alif. Jangan berpikir buruk, saya butuh seseorang yang keibuan untuk mengasuh putra saya," sambungnya lalu ia menghela napas panjang karena takut Mora berpikir macam-macam dan menuduh dirinya orang jahat.


"Jika aku bekerja jadi asisten rumah tangga sekaligus penjaga anak maka aku tidak sanggup, Mas," jelas Mora, wanita hamil itu membenarkan pashmina yang ia pakai.


"Tidak. Hanya menjaga putra saya, kamu tinggal bersama saya. Untuk pekerjaan lainnya ada asisten rumah tangga yang mengerjakan semuanya," papar Alif lalu menuju berjalan sedikit menghindar dari rumah makan itu dan mereka duduk di bawah pohon sekedar berbincang sebentar.


"Saya mau kalau begitu, Mas. Tapi ...." Mora sebentar berpikir tentang kontrakan yang telah ia bayar lunas setahun sementara baru di tempati satu malam.


"Kenapa? Maaf bisa sebutkan nama kamu?" Laki-laki bertubuh tinggi itu menatap Mora lekat, sementara Mora menepuk jidatnya dan terkekeh pelan.


"Namaku Mora Cantika, panggil saja Mora," ucap wanita hamil itu pelan. "Jika aku bekerja sama kamu, Mas. Bagaimana dengan rumah yang baru saja ...." Mora menjeda ucapannya karena menyadari bahwa ia tadi mengatakan memiliki suami.


"Memang kenapa?" Alif mengernyitkan dahinya, tidak mengerti dengan ucapan Mora yang menggantung.


"Tidak ada, aku setuju untuk jadi pengasuh puramu, tapi aku harus mengambil pakaianku dulu di rumah," jelas Mora, sementara laki-laki bertubuh tinggi itu hanya mengangguk pelan, menerima keputusan Mora.


Laki-laki bertubuh tinggi itu mengantarkan Mora menuju kontrakannya dengan menggunakan motor besar miliknya.


Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah kontrakan yang baru saja Mora kontrak kemarin, jujur sayang untuk di tinggalkan dan membuang sejumlah uang yang di bayarkan, namun sisi lain ia ingin merahasiakan pada Alif jika ia benar-benar memiliki suami yang bertanggung jawab.


"Perjuangan kita belum berakhir, Nak. Kamu harus kuat Juna kecil," lirih Mora sambil tersenyum, tangannya mengusap lembut perutnya sekilas lalu naik motor besar yang di kendarai oleh Alif.


Dua jam perjalanan akhirnya Mora sampai di rumah besar tiga lantai yang begitu mewah, Mora kagum, rumah ini jauh lebih besar daripada rumah mertuanya.


Sesaat setelah Mora turun dari motor anak kecil berusia dua tahun kurang berjalan tertatih menghampiri mereka. Alif tersenyum lalu berlutut agar balita itu memeluknya.


"Anak papa udah mam?" Alif melonggarkan pelukannya lalu mengendong tubuh balita itu, tangan kiri Alif memegang tangan Mora mengajaknya masuk kedalam rumah, karena dari tadi Mora hanya mematung.


"Mama ... Mama ...." Tangan balita itu berusah menggapai Mora yang berjalan di belakang Alif.


"Mama," panggil bocah berusia kurang dari dua tahun itu langsung memeluk kaki Mora yang masih berdiri.


Wanita hamil itu melonggarkan tangan bocah kecil yang bernama Farid itu, Mora berjongkok mensejajarkan diri. Air matanya luruh mengingat bocah kecil yang merindukan sosok ibu dedepannya saat ini. Seperti dirinya yang selalu rindu pada sosok ibu yang tak pernah ia lihat sama sekali.


"Maaf ya, Mora. Farid memang mengira wanita berhijab adalah Ibunya," kata Alif lalu mengusap kepala anaknya dengan lembut.


"Tidak apa-apa, Mas. Saya senang jika Farid menganggap saya ibunya," ucap Mora mengusap pipi Farid lalu mengecup pipi gembil milik balita kurang dari dua tahun itu.


Alif memanggil asisten rumah tangganya, menjelaskan pada wanita paruh baya yang telah bekerja padanya tentang apa saja yang harus di lakukan Mora dan menunjukkan letak kamar Mora.


.


.


.


___


Sementara di rumah sahabatnya Juna sedang menjelaskan pakaian terakhir saat Mora hilang.


"Lu telat banget ngabarin sama gue, Bro. Yakin istri lu ga ganti baju udah dua hari?" Laki-laki berambut ikal di depannya berdecak kesal.


"Ya, maaf. Aku pikir nemu cari sendiri," kata Juna penuh penyesalan.

__ADS_1


"Aku akan usahakan lacak ponselnya," tutur laki-laki berambut ikal itu, berikan nomornya.


"Nomornya ga aktif," jelas Juna mamandang mata sahabatnya itu penuh keraguan.


"Setidaknya kita bisa lacak terakhir nomor itu dibuang di mana," papar laki-laki berambut ikal itu.


Juna menyebutkan nomor ponsel Mora yang sudah tidak aktif, sahabatnya memasukkan nomor ponsel Mora kedalam laptop untuk di lacak keberadaannya.


"Fantastis!" Laki-laki berambut ikal itu begitu kagum pada wanita pemberani seperti Mora.


"Ada apa, Syaki?" Tanya Juna dengan raut bingung dan penasaran.


"Tidak ... Istri lu nyalinya sangat besar, sepertinya dia benar-benar terpukul karena sikap lu, dari Jakarta ke Lampung naik jalur darat sendiri pula, lu masih gatal makanya dia minggat kali," seloroh sahabatnya itu sambil terkekeh memandang wajah Juna yang melihat kearahnya dengan mimik wajah tidak suka.


"Sialan lu," pekik Juna sambil menepuk pundak Syaki kuat. "Aku sudah ga bejat lagi," sambung Juna dengan wajah begitu serius.


"Kita kesana sekarang atau besok?" Laki-laki berambut ikal itu menaik turunkan alisnya membuat Juna semakin kesal.


"Terserah gimana baiknya," kata Juna, laki-laki bertubuh atletis itu memandang kearah lain berusaha menyembunyikan luka di hatinya, ia tak ingin terlihat cengeng di depan Syaki yang sering memperolok dirinya.


"Kita berangkat malam ini!" Laki-laki berambut ikal itu bangkit dari duduknya lalu menyambar jacket kulit miliknya yang mnejadi ciri khasnya sebagai hackers.


Juna menatap punggung sahabatnya sambil tersenyum, tak pernah ada penolakan dari Syaki yang membuat dirinya kecewa.


.


.


Dalam mobil begitu hening, Syaki dan Juna larut dalam pikirannya masing-masing, mereka membelah jalanan yang sedikit padat karena senja mulai menyapa dengan cahaya kekuningan di ujung langit.


"Apa kamu begitu mencintai wanita yang menjadi istrimu itu?" Suara Syaki memecah keheningan diantara mereka.


"Tentu, aku begitu mencintai istriku. Rasa seperuh jiwaku telah ia bawa pergi," jelas Juna dengan mata berkaca-kaca.


"Sejak kapan Juna si psikopat jadi bucin dan cengeng," kata laki-laki berambut ikal itu, setelahnya ia tergelak, sementara Juna menatap tak suka kearah sahabatnya itu.


"Dia sedang mengandung, cobaan yang dia terima semua gara-gara aku," ucap Juna membuat sahabatnya menghentikan tawanya lalu menatap nanar kearah Juna.


"Yang sabar, Bro. Walaupun gue ga tau rasanya jadi lu, tapi gue yakin itu menyakiti hati lu. Saran gue ...." Laki-laki berambut ikal itu menjeda ucapannya lalu menoleh sekilas kearah Juna kemudian fokus nenatap kearah jalan.


"Apa?"


"Jauhi orang-orang yang membuat lu dan keluarga kecil lu kecewa dan terpuruk, termasuk orang yang telah melahirkan lu," papar laki-laki berambut ikal itu sambil fokus menyetir.


"Nyokap sakit. Mau tidak mau harus bertahan," lirih Juna pelan.


Bagaikan buah simalakama posisi laki-laki bertubuh atletis itu saat ini.


"Gue cuma kasih saran, jika orang tua tega melihat anaknya terpuruk itu bukan bentuk kasih sayang," ungkap Syaki sambil mengusap wajahnya kasar, laki-laki berambut ikal itu mengingat bagaimana dirinya mengasingkan diri dulu hingga saat ini ia tidak pernah bertemu dengan orang tuanya.


.


.

__ADS_1


Juna terus berdoa dalam hati agar bisa menemukan Mora dan membawa wanita yang ia cintai hidup bersama.


__ADS_2