KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 25


__ADS_3

Malam ini gemercik gerimis kecil membasahi bumi, laki-laki tuna netra dengan dukanya sedang bersedih, hatinya hancur juga masa depannya yang entah kemana akan ia bawa.


Tubuh tegap dan tinggi itu basah kuyup, gemelut panjang dalam kehidupan belum berakhir. Gerimis menandakan hatinya sedang pilu, pengorbanan cinta yang berakhir duka, sekedar menatap fotonya saja sudah tak bisa apa lagi menyentuhnya.


Adzan isya berkumandang, manusia yang sadar akan dosanya itu melangkah kedalam masjid. Melaksanakan salat dengan tenang setelahnya memohon ampun pada sang maha cipta, kini laki-laki tuna netra itu menyadari betapa Allah mencemburui hamba-Nya yang terlalu mencintai mahluk-Nya.


Kini bajunya sudah kering di badan, hidup di jalanan tanpa ada yang mempedulikan sangatlah menyakitkan. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa tahun silam, dirinya begitu menyesali perbuatannya yang telah ia lakukan terhadap Mora Cantika, cinta yang membutakan mata hatinya.


"Maafin aku, Mora," lirihnya. Tubuh itu tergugu di halte bus. Rencana dirinya akan pergi meninggalkan kota yang penuh kenangan walau hanya kenangan pahit dan getir, entah kemana tujuannya saat ini. Laki-laki itu berharap semoga Allah dan wanita yang bia cintai meridhoi setiap langkahnya.


"Mas mau kemana?" Tanya supir bus menyentuh bahu laki-laki tuna netra itu pelan.


"Kemana saja, Mas. Saya butuh suasana berbeda," paparnya. Suasana hatinya tak baik, ikatan batin yang kuat ia ciptakan melalui bola mata miliknya.


"Bismillah, aku ikhlas mencintaimu dan aku kembali ikhlas kamu bersama orang yang mencintaimu melebihi aku," desisnya, setelah bokongnya duduk di bangku penumpang.


____


Suasana yang cerah, mata hari terbit menyinari bumi dengan bahagia, sebahagia hati insan manusia yang sedang dimabuk asmara saat ini.


Dengan suasana keluarga begitu hangat. Juna telah menceritakan segalanya bahkan surat yang Narsih tinggalkan dan cerita laki-laki tuna netra itu yang Juna temui diam-diam tanpa sepengetahuan Aqila.


Roby menceritakan segalanya pada Juna tanpa terlewatkan sedikit pun, laki-laki bertubuh tegap itu berpesan tak akan menemui Aqila lagi. Roby menitip Aqila pada Juna agar kejadian serupa tak akan terulang kembali.


"Pak. Juna bangun!" Suara ketukan pintu begitu keras membuyarkan lamunan Juna pada cerita yang Roby jalankan begitu mulus dengan mendiang ibu angkat Aqila.


"Ya. Sebentar." Bergegas dirinya mengenakan kemeja dan celana abu-abu untuk berangkat bke kantor. Sebelumnya ia sudah mandi sebelum melaksanakan salat subuh.


"Masuk," ucap Juna, karena memang pintu tak pernah ia kunci.


"Udah wangi aja," kata Aqila lalu mendekat dan mengendus Juna.


"Kayak kucing lagi nyium bau ikan asin." Juna terkekeh pelan.


"Habisnya wangi, jangan-jangan ramuan untuk memeletku," seloroh Aqila diikuti tawa Juna. Ternyata Aqila sudah berani bercanda dengan Juna, benih-benih cinta bitu seakan mulia tumbuh.

__ADS_1


Tanpa di pelet bakal klepek- klepek kayak ikan di darat," ungkap Juna sambil memainkan kedua alisnya menggoda Aqila.


"Ke ge eran banget. Emang Lee Minho sampai aku klepek-klepek?" Tanya Aqila menjauh dari tubuh Juna. Tangan kekar itu dengan sigap menarik pinggang ramping Aqila agar wanita cantik itu jatuh dalam pelukannya.


"Ehem ... Maaf ganggu," celetuk Yasna yang berada di ambang pintu. Ondel-ondel yang disebutkan oleh bik Inah sedang mengintai mereka dan memandang tak suka.


Aqila secepatnya melonggarkan pelukan Juna agar menjauh, namun tangan kekar itu sangat sulit dilepaskan dan menahan tubuh Aqila agar bertahan beberapa saat lagi dalam pelukannya.


"Ada apa Yasna?" Tanya Juna datar.


"Maaf. Mama nyuruh makan tuh! Sampe sini malah lihat adegan delapan belas plus," jawab Yasna memiringkan bibirnya tak suka.


"Ini kamar saya, apa pun yang saya lakukan hak saya. Paham! Ga suka jangan lihat dan segera pergi," kata Juna dengan ekspresi datar. Setelah kejadian Yasna menarik tubuh Juna dalam pelukan Yasna Juna sekarang lebih datar pada Yasna agar wanita itu tak menganggap bahwa Juna menyukai dirinya jika Juna bersikap manis sedikit.


Yasna menghentakkan kakinya kesal dan berlalu, hentakan kakinya masih terdengar saat menuruni anak tangga, wanita itu sangat kesal sepertinya.


"Kamu suka jika terus begini?" Tanya Juna pada Aqila yang masih menempel padalah Juna telah melepaskan tangannya dari pinggul Aqila.


"Ga kok. Cuma anu ... Eum...." Suara Aqila terputus saat satu kecupan mendarat di bibir ranum Aqila. Wanita berambut lurus itu mendorong tubuh Juna agar kecupannya segera berakhir.


"Percaya diri anda terlalu tinggi pak Juna Andara," kata Aqila menantang. Laki-laki bertubuh atletis itu pantang jika ditantang.


Juna menuju kearah pintu, Aqila setengah berlari mengikuti Juna, ternyata malah pintu kamar di kunci oleh laki-laki bertubuh atletis itu. Mata Aqila membola seakan tak percaya apa yang telah Juna lakukan saat ini, mengingat mereka harus kekantor hari ini.


Laki-laki bertubuh atletis itu mengendong Aqila dan menjatuhkan tubuh mengil itu dengan lembut di atas ranjang, hasrat keduanya sedang diuji saat ini, seberapa kuat Aqila menyembunyikan hasrat liarnya pada lawan jenis.


"Mas. Kita ada meeting," kata Aqila berusaha menghentikan Juna yang semakin mendekat pada wajah cantik Aqila.


"Meeting bisa di batalkan. Tapi tantanganmu tadi membuatku ingin...." Tangan Aqila menempel di bibir Juna, lalu mengecup pipi Juna dan segera berlari kearah pintu, membukanya dan menuruni tangga dengan tergesa. Juna mengulum senyum, wanita polos itu kini kalah telak.


Bergegas laki-laki bertubuh atletis itu keluar kamar dan menuju dapur. Tatapan menja Aqila membuat Juna semakin mencintai wanita itu.


"Ma, tau ga sih. Mereka kayak pengantin baru tadi pas terciduk sama aku," papar Yasna, mengadu pada ibu kandungnya Juna berharap sedikit didukung oleh wanita modis itu.


"Kamu lihat mereka dalam keadaan tak berpakaian saling menindih?" Tanya Rani mengejek. Bik Inah yang mendengar menutup mulutnya, wanita itu tak sanggup menahan tawa, sementara Aqila dan Juna saling melempar pandangan.

__ADS_1


"Buka ih. Mereka kayak pelukan gitu," jelas Yasna dengan serius.


"Ya memang kenapa. Kamu cemburu?" Tanya Rani sambil mengunyah roti yang hampir habis.


"Ya enggak. Cuma heran aja, mereka kan belum nikah," kata Yasna, ia berusaha menjauhkan Juna dari Aqila malah dirinya sendiri yang terkena sindiran dari Rani.


"Besok mama nikahkan mereka," ucap Rani sekenanya membuat Aqila tersedak.


"Pelan-pelan Sayang," kata Rani lalu meninggalkan meja makan setela menyodorkan segelas susu hangat pada Aqila. Sebenarnya Rani sangat ingin peduli pada Aqila tapi ada Yasna yang juga butuh perhatian. Merasa kasihan juga walaupun kelakuan Yasna sering membuat Rani jengkel.


Pernah Rani mengajak Yasna ikut pemotretan namun Yasna menolak dengan alasan lemas. Sebenarnya banyak model lain, tapi Rani berniat membuat Yasna terkenal dengan mengajaknya menjadi model pakaian miliknya. Apa boleh buat rejeki dan ketenaran yang di tolak demi kenyamanan agar tidak lelah.


Makanan Aqila dan Juna juga sudah habis, sepasang kekasih halal itu berangkat kekantor bersamaan, tinggal Yasna sendirian di meja makan, sementara bik Inah pergi izin membeli keju dan selai di supermarket terdekat.


Mengendap-endap Yasna naik kelantai atas menuju ke kamar Juna dan mencari-cari dan membuka laptop milik Juna yang terpampang wajah Aqila sambil tersenyum manis. Kebencian Yasna semakin bertambah pada Aqila. Tak ada apa pun yang ia ambil dari kamar Juna karena ia tak ingin diusir nantinya dari rumah mewah ini.


"Ingat Qila. Aku ga akan tinggal diam jika Junaku juga kamu rebut seperti kamu merebut ibuku," gumam Yasna sambil mengepalkan tangannya.


Tangan Yasna menekan panggilan pada ponselnya setelah dirinya berada di kamarnya.


"Hey. Apa kabar?" Basa-basi Yasna pada seseorang di seberang sana.


"Baik. Tapi kantong sedang krisis," jawanya lalu terbahak.


"Mau duit ga?"


"Mau lah."


Ada syaratnya."


Setelahnya menceritakan apa yang harus laki-laki itu lakukan untuk mendapatkan uang dari Yasna.


Terkadang orang rela menjadikan yang haram menjadi halal hanya karena uang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2