KETIKA CASANOVA JATUH CINTA

KETIKA CASANOVA JATUH CINTA
Bab 23


__ADS_3

Pagi menyapa, kicauan burung saling bersahutan, mentari hangat memasuki jendela kamar Juna, matanya terbuka perlahan karena cahaya yang begitu menyilaukan.


"Aqila udah bangun belum ya," gumam Juna sambil beranjak dari ranjang. Menguyur tubuhnya dengan air hangat, mengganti pakaian sederhana untuk pergi jalan bersama Aqila. Rencananya hari ini ia tak akan masuk kantor, ingin mengajak Aqila berjalan sebentar agar rasa cinta itu tumbuh dan mekar di hati Aqila.


Juna tergesa turun kelantai bawah setelah dirinya bersih dan wangi, aroma sabun dan lotion masih tercium di tubuhnya. Tangannya meraih handle pintu kamar tidur yang di tempati Aqila, namun suara Rani memanggilnya menghentikan geraknya.


"Kamu mau ngapain?" Rani mengernyit heran melihat tingkah putranya seperti orang linglung.


"Mora di sini, Ma," ujar Juna dengan raut serius, namun Rani malah menempelkan tangannya di jidat Juna.


"Ga panas," kata Rani.


"Ya emang. Mama lihat sendiri, aku aja pertama bertemu dia rasanya ga percaya, Ma. Tapi ya kenyataan Mora masih hidup. Nanti malam Juna akan jelaskan, Ma. Sekarang Mama lihat dulu," jelas Juna membuat Rani bingung sambil memijat pelipisnya.


Juna membuka handle pintu kamar, percikan air terdengar dalam kamar mandi, wanita cantik itu sedang membersihkan dirinya, laki-laki bertubuh atletis itu rasanya tak ingin keluar dari kamar itu, ingin segera mendekap dan menggauli istri sahnya itu. Sementara Rani keluar dan menyeret anaknya juga.


"Ga sopan!" Rani menolak kepala Juna pelan. Laki-laki bertubuh atletis itu tersenyum malu. Tak lama Aqila keluar dari dalam kamar dan memandang Rani sangat lama begitu juga Rani.


"Udah pandangannya? Aku cemburu." Suara Juna membuat keduanya mengalihkan pandangan kearah laki-laki bertubuh atletis itu.


"Mora," desis Rani, ia mendekat lalu menangkupkan tangannya di muka Aqila.


"Mama," kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir Aqila.


"Kamu panggil saya Mama?" Tanya Rani dengan linangan air mata yang terus saja berjatuhan. Aqila menggeleng pelan. Sungguh dirinya tak ingat apa pun saat ini.


"Pak, Juna bilang kalo ada mamanya di sini. Saya memastikan Anda adalah Mamanya Pak Juna," jawab Aqila santai. Rasa sesak di dada Rani begitu dalam, begitu juga dengan Juna.


Orang yang teramat sakit kini tak lagi merasakan sakit, derita yang mendera jiwanya tuhan hapuskan demi masa depan yang baik.


Juna tak ingin terlarut dalam suasana sedih, segera ia menggandeng tangan Rani dan Aqila untuk ke dapur dan ikut makan bersama.


Rani terus saja melirik Aqila hingga wanita yang di pandang salah tingkah. Yasna yang mengira Rani membenci Aqila merasa ada hal besar yang harus ia lakukan.


Yasna meletakkan sedoknya dan menuju ke wastafel meletakkan piring.


"Kok cepat banget ,Yas?" Tanya Rani pada wanita yang kini sudah jadi anak angkatnya, itu pun karena permintaan Yasna yang mengiba.


"Udah kenyang, Ma," jawabnya singkat.


"Aw...." Yasna menjatuhkan tubuhnya dekat wastafel membuat Juna dan Rani panik.

__ADS_1


"Kenapa?" Mereka tergesa mendekati Yasna yang tergeletak di lantai dan terus mengaduh.


" Licin jadi jatuh deh. Sakit!" Tangannya terus mengusap kakinya yang padahal tak sakit sama sekali, padahal dulu Mora yang tak dapat melihat saja tak pernah terjatuh di lantai dekat wastafel.


"Jun, bawa dia ke kamar," titah Rani dengan wajah panik.


"Aw.... Aku ga bisa berdiri," dustanya. Kembali mengaduh agar Juna simpati tapi Juna mantap tidak suka, terlebih ada Aqila yang memandang mereka, walau tatapan Aqila biasa saja tapi Juna tak ingin menyakiti hati istrinya.


"Gendong," rengek Yasna sambil memelas menatap Rani.


"Ya udah. Sana gendong bawa ke kamar," kata Rani, walaupun sedikit tak suka dia memerintahkan anaknya demi orang lain yang entah siapa tapi Rani terpaksa karena Yasna mengaku sakit. Senyum kemenangan tersungging dari bibir tebal Yasna, merasa dirinya sukses membuat Aqila cemburu.


Tiba di dalam kamar Yasna semakin mempererat pelukannya. Juna menjatuhkan tubuh Yasna dengan kasar.


"Aw. Sakit," ucap Yasna dengan kata manja yang terlalu dibuat-buat.


"Ga usah banyak tingkah. Saya paling tidak suka diperintah!" Kata Juna dengan tatapan nyalang, walau dirinya telah bertaubat tapi sangat tidak suka sama orang yang mengatur dirinya selain ibunya.


"Ih. Gitu aja marah sih, Mas." Yasna mengerucutkan bibir tebalnya membuat Juna jengkel.


"Sudah ya. Nanti dokter kesini," kata Juna pada wanita yang sama sekali tak pernah ia suka.


"Mau mas aja yang pijitin. Ga usah pake dokter." Lagi-lagi Yasna merengek saat melihat Aqila berada di ambang pintu. Tangan Yasna dengan cepat menarik tangan Juna hingga Juna jatuh terjerembab kedalam pelukan Yasna, tanpa ada pertahanan maka tubuh itu begitu saja limbung kearah Yasna.


Wanita berbibir tebal itu begitu kesal pada Juna yang meninggalkannya tanpa aba-aba. Tapi satu sisi dirinya merasa senang karena telah berhasil membuat Aqila merasa bahwa Yasna adalah kekasih Juna, senyum kemenangan ia sungging.


"Belum apa-apa, masih ada adegan lainnya yang akan kamu lihat Aqila, berhentilah mengganggu Junaku," desisnya.


Di dapur.


Aqila sedang bercerita banyak bersama bik Inah sementara Rani sudaha berangkat kerja katanya ada pemotretan beberapa busana desain terbaru.


"Bik," celetuk Juna mengagetkan kedua wanita beda usia itu.


"Kebiasaan suka ngagetin," kata bik Inah menegang dadanya begitu juga Aqila.


"Itu si Yasna kok gatal banget," ucap Juna mengacak rambutnya kasar.


"Gatal gimana sih, Den?" Bik Inah menatap wajah Juna dengan heran.


"Pegang-pegang. Ih jijik," kata Juna menirukan artis tik tok yang lagi viral di media sosial. Bik Inah dan Aqila terbahak melihat aksi Juna yang seperti laki-laki memakai lipstik.

__ADS_1


"Qila. Yuk jalan-jalan," ajak Juna menatap kearah pujaan hatinya.


"Ajak mbak Yasna juga?" Tanya Aqila, hatinya sudah mantap jika Yasna ikut maka dirinya akan pulang saja.


"Ikut dong," celetuk Yasna yang tiba-tiba berada di belakang Juna.


"Tidak. Ini acara saya bersama sama Aqila," jelas Juna melirik tak suka kearah wanita berbibir tebal itu.


"Ih. Lihat aku udah sembuh," kata Yasna sambil menari-nari dan berputar di depan Juna, membuat laki-laki bertubuh atletis itu merasa kesal.


Bik Inah dan Aqila mengidikkan bahunya, heran dengan tingkah Yasna yang selalu cari perhatian sama Juna. Sebenarnya bik Inah tahu kalau Yasna sering cari perhatian sama Juna, bahkan meminta tolong mengusir kecoak di kamarnya padahal tidak ada kecoak sama sekali.


"Tetap ga bisa," kata Juna lagi.


Bibirnya yang mengerucut dua senti dan menghentakkan kakinya Yasna berlalu kedalam kamar meninggalkan mereka.


"Udah, Den. Biarkan aja itu ondel-ondel," kata bik Inah, wanita paruh baya itu tak pernah suka pada Yasna karena malas dan kasar pada bik Inah. Mendengar kata diakhiri kalimat yang dilontarkan bik Inah membuat Aqila dan Juna saling pandang dan mengulum senyum.


"Bik. Aqila pamit, mungkin sekalian ngurus rumah mau di kontrakan, karena kata pak Juna Aqila mau di jadikan asisten pribadinya juga di rumah," jelas Aqila pada wanita paruh baya yang sebenarnya sangat menyayanginya. Beberapa detik pandangan bik Inah beralih pada Juna, laki-laki bertubuh atletis itu tersenyum dan mengangguk.


"Hati-hati, Neng. Balik kesini nanti apa besok?" Tanya bik Inah serius. Baru pertama bertemu dengan sosok Mora pada diri Aqila wanita paruh baya itu sudah begitu bahagia dan nyaman.


"Besok. Insha Allah," jawab Aqila.


"Loh. Jangan besok, tapi nanti," potong Juna langsung, padahal bik Inah sudah membuka mulutnya ingin berbicara.


"Ga bisa. Emang di pikir gampang nyari orang buat ngontrak?"


"Ya justru susah. Makanya sambil nungguin yang ngontrak kamu tinggal di sini terus," kata Juna sambil tersenyum yang begitu manis. Aqila menimbang-nimbang ucapan Juna.


"Iya deh. Gimana baiknya." Aqila pasrah, Juna seperti memaksa Aqila untuk bekerja padanya. Tapi Juna melakukan ini semua demi keselamatan istrinya yang sudah lama dipisahkan oleh keadaan.


Juna dan Aqila meninggalkan bik Inah sendiri di dapur.


Di luar beberapa tetangga menatap aneh pada Aqila, namun wanita itu biasa saja.


"Sayang masuk. Jangan bengong," kata Juna pada Aqila yang masih berdiri sedangkan Juna sudah dalam mobilnya. Aqila masih saja diam.


"Sayang," pekik Juna lagi membuat Aqila seketika menoleh karena terkejut.


"Apa? Sayang?" Tanya Aqila mengernyitkan dahinya. Diantara Mereka tidak ada ikatan pacaran seperti pada pasangan umumnya, Aqila merasa heran jika Juna memanggilnya sayang.

__ADS_1


Laki-laki bertubuh atletis itu menempelkan jari di bibirnya agar Aqila diam dan segera masuk. Tanpa banyak bicara Aqila masuk dan Juna langsung melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya dan Yasna yang mematung memandangnya.


Bersambung....


__ADS_2